Love Shot

Love Shot
Acila Kecil



"Amor ... marahi Amor dulu, dia pasti menjadi penyebab aku dikucilkan," desak Freya pada suaminya.


Ansel berpindah dari menegelus rambut Freya menjadi mengelus-elus pundak seraya memeluk erat tubuh istrinya. Ansel merasa senang sekaligus kecewa. Bisa melihat ekspresi lain dari istrinya, Ansel senang Freya merasa kesal dan menjadikan Ansel sebagai senjata untuk menghilangkan rasa kesal. Disisi lain Ansel kecewa teringat ekspresi ketakutan dan senyuman yang dipaksakan dari Freya saat bersamanya. Ternyata jika Freya bersama keluarga, Freya menunjukan sikap seperti Freya yang sesungguhnya, Freya yang ceria, terbalik seratus delapan puluh derajat ketika bersamanya.


"Ampun kakak ipar, aku tidak lagi-lagi mengerjai kak Freya," ujar Amor mengangkat tangan ke atas. "Ini idenya Daniel untuk menjahili kak Freya."


Amor melirik kekasihnya, Daniel langsung gugup. Nyalinya menciut, takut Ansel lansung mengeluarkannya dari The King Entertainment. Bisa-bisanya Amor tidak berpikir panjang. Daniel bisa kehilangan masa kejayaannya, apalagi Daniel sudah punya mimpi. Bila dirinya sudah tak terkenal lagi, Daniel akan menagih janji Ansel akan menjadikannya manajer di The King Entertainment. Hancur sudah masa depannya. Daniel membatin.


"Maaaaff," gagap Daniel bertatapan dengan mata Ansel yang gelap.


"Tak apa," pungkas Ansel.


Freya mengerucutkan bibirnya, merasa belum puas. Dirinya masih kesal. Pasalnya Ansel bisa dengan mudah menerima permintaan maaf dari Daniel. Tempo hari saja Ansel tidak mau menerima maaf dari Haidar, padahal Haidar tidak bersalah sama sekali.


Tapi kali ini Ansel meloloskan Daniel yang sudah jelas bersalah bersekongkol dengan Amor untuk menjahili Freya.


"Ya sudahlah," gumam Freya mengurai pelukan Ansel.


Freya mendekati kasur tempat Amor sedang menyusui bayi kecil dan lucu. Freya menarik Daniel, menyingkirkannya agar ia bisa lebih jelas melihat bayi Amor. Daniel mundur memberikan Freya ruang untuk mendekati Amor, setidaknya impian untuk masa depan Amor serta anak perempuannya masih bisa terlaksana berkat Freya. Meski yang akan mewujudkan impian Daniel itu Ansel tapi karena Freyalah dirinya bisa dekat dengan Ansel, dan tidak lama lagi akan menjadi adik ipar mereka secara resmi.


"Amor, aku ingin menggendong bayimu!" pinta Freya menadahkan tangan menunggu bayi kecil beralih ke pangkuan Freya.


"Cila udah dulu ya miminya. Bibi mau gendong katanya," ujar Amor berbicara dengan bayi, menciumi gemas pipi merah bayinya.


"Mama ... jangan bibi," protes Freya.


"Mau gendong apa enggak ni ?!" Amor menggoda Freya. "Kalau gak mau dipanggil bibi jangan gendong," ledek Amor.


Freya tidak bisa menang melawan Amor, meski sudah ada Ansel yang sudah pasti selalu ada dipihak Freya, tetap saja itu tidak akan banyak membantu bila lawannya Amor.


"Iya, ayo bibi gendong," ujar Freya pasrah mengaku kalah.


Amor tersenyum menyerahkan bayinya kepangkuan Freya. Gendongan Freya yang masih ragu-ragu membuat banyinya tidak merasa nyaman. Rengekan kecil keluar dari mulut bayi cantik itu.


"Kak yang benar gendong nya, jangan ragu-ragu. Cila jadi takut. Coba kakak berdiri lalu timang-timang agar Cila merasa nyaman," saran Amor.


Freya menuruti saran dari Amor. Ajaibnya saran dari Amor manjur, bayinya merasa nyaman dan tidak menangis lagi.


"Cantiknya, anak siapa ini?" ujar Freya berbicara pada bayi.


"Tentu saja anakku, kecantikannya pasti menurun dari mamanya," puji Amor.


"Sepertinya bayimu mirip Daniel," Freya menatap wajah Amor. "Dede bayi cantik mirip papa ya ... jangan mirip mama, mama sangar," cloteh Freya.


Bayinya ikut tersenyum seperti mengerti ucapan Freya dan seperti mengiyakan kalau kecantikannya berasal dari gen papanya. Daniel juga tersenyum mendengar pujian calon kakak ipar perempuannya. "Namanya Acila kak," terang Daniel.


"Hallo Acila cantik," sapa Freya menimang-nimang.


Freya masih asyik berceloteh dengan Acila. Ansel hanya bisa memperhatikan dari jarak satu meter, takutnya bila dirinya mendekat bayi kecil yang sedang digendong Freya menjadi tidak nyaman dan menangis. Hal itu juga yang menjadi sumber Ansel tidak suka anak kecil. Mereka selalu menangis bila Ansel mendekat, padahal Ansel hanya diam. Seperti mereka bisa merasakan aura gelap dari tubuhnya.


"Acila, ini om Ansel," Freya menatap Ansel. "Halo om Ansel," ujar Freya bersuara seperti anak kecil.


"Bukan Om, tapi papa. Papa angkat," potong Amor.


Freya memoloti Amor, Freya geram bagaimana Amor bisa membeda-bedakan panggilannya dengan Ansel. jika dirinya dipanggil bibi memang panggilan untuk Ansel itu om. Jika Ansel dipanggil papa seharusnya Freya dipanggil mama. Bukankah rumus antonimnya begitu. Atau Amor kabur saat pelajaran bahasa. Gumam Freya dalam hati.


"Kenapa papa ?" tanya Ansel merasa janggal, mendapat panggilan papa dari seorang anak yang bukan darah dagingnya.


"Agar nanti kak Ansel ikut andil untuk merawat Acila. Kalau tidak bisa merawat Acila secara langsung tak apa, asal aliran dananya saja lancar," urai Amor disela senyumannya.


Ingin rasanya melempar bayi yang ada di gendongan Freya kembali pada ibunya yang mata duitan. Namun, Freya tak tega melihat keimutan malaikat kecil yang sedang tertidur di gendongannya. Freya hanya bisa menghembuskan napas melepaskan emosinya bersama karbon dioksida yang menguap. "Buatnya aja gak minta bantuan. Masa ngerawatnya minta bantuan," goda Freya.


Ibu Anisa tertawa terbahak-bahak mendengar ledekan anak sulungnya, kali ini Freya yang menang anak bungsunya tak bisa mengelak ucapan Freya. "Dasar nakal," ujar Ibu Anisa menepuk kepala anak bungsunya. Amor dibuat blusing dengan ucapan Freya.


"Tidak perlu panggil papa. Nanti anakku cemburu. Aku juga tidak bisa merawat karena aku hanya akan memberikan kasih sayang pada anakku. Namun, aku bisa menjamin kalau Daniel tidak akan kekurang uang untuk memenuhi semua kebutuhan Acila selama dirinya menjadi adik iparku dan bernaung di The King Entertainment," jelas Ansel.


Kali ini Freya yang tersenyum, Freya tahu kalau Amor hanya bercanda tapi Ansel menanggapi ucapan Amor dengan serius. Freya menyadari kalau Ansel tipikal orang yang selalu serius, dirinya tidak akan mudah mengumbar janji bila janji itu tak akan mungkin bisa ia tepati. Freya merasa yakin kalau pilihannya benar, setidaknya terus berada didekat Ansel tidak akan membuatnya patah hati karena terhianati. Meskipun Ansel bukan pria yang dicintainya tapi Freya yakin kelak akan ada, cinta karena terbiasa bersama dan saling membutuhkan.


"Mau gendong?" tawar Freya pada Ansel.


"Tidak, aku takut bayinya tidak nyaman saat denganku," tolak Ansel.


"Mau pegang tangannya? atau mau cium?" tanya Freya lagi.


Ansel masih menggeleng, tidak mau ulah nya mengganggu Acila yang sedang tertidur. Melihatnya dari dekat tanpa membuat Acila menangis saja sudah sangat disyukuri Ansel.


"Omnya gak sayang Akila, hik ... hik," rengek Freya berbicara seperti anak kecil.


Ansel menyentuh jemari Acila perlahan seperti takut tangan Acila akan hancur bila bersentuhan dengan tangan Ansel. Grep, Acila menggenggam jari telunjuk Ansel. Dada Ansel tersontak diiringi dengan gemuruh. "Kalau Acila sudah agak besar boleh aku gendong?"


"Kenapa harus menunggu Acila tumbuh agak besar, sekarang juga tidak apa," ujar Freya perlahan memberikan Acila ke gendongan Ansel. Ansel menerima Acila meski tangannya sedikit gemetar.


"Santai saja," ucapa Freya menenangkan Ansel.


Ansel mengangguk merekatkan gendongannya, menyentuh pipi Acila masih dengan telunjuknya. Acila tersenyum dengan mata masih tertutup memperlihatkan lesung pipit di pipinya.


"Wahh Acila ganjen, senyum sambil tidur. Tahu aja kalau lagi digendong om tampan," Goda Freya, menhujani punggung tangan Acila dengan kecupan.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.