
Jonathan tidak menduga Liam menjadikan restu sebagai pembenaran akan sikap liciknya. Jonathan mengakui memang hubungannya selama ini tidak di restui oleh keluarga Flora. Jonathan bukan tidak kaya, tapi keluarga Flora juga tidak gila harta. Jonathan memiliki karir yang bagus, tapi keluarga Flora tidak pernah mengukur seseorang dari pekerjaannya. Jonathan seorang pria idaman. Sayangnya, ia bukan calon menantu idaman Papa Flora. Papa Flora sudan menemukan sosok menantu idaman yang nyata ada pada Liam. Liam yang berbakti pada ibunya dan itu sudah terbukti.
"Alasanmu masuk akal. Yang aku anggap salah belum tentu salah untukmu. Aku tidak mundur ... jika kamu serius dengan Flora, silahkan lanjutkan. Aku hanya ingin ia bahagia meski bukan berada di sisiku. Keputusannya aku serahkan pada Flora. Yang jelas aku tidak bisa melihat wanitaku memandang spesial pria lain," tegas Jonathan.
"Sayang ... beri aku waktu," mohon Flora.
"Aku akan memberimu waktu selama yang kamu butuhkan. Namun, aku tidak bisa menemuimu sebelum kamu mengambil keputusan. Aku rasa sudah cukup. Silahkan habiskan kopi dan kudapannya, semua sudah aku bayar. Aku permisi. Mari Nona Aurora saya antar ke tempat tujuan berikutnya." Jonathan menenteng belanjaan Aurora, mempersilahkan Aurora untuk berjalan terlebih dahulu menuju mobil. Jonathan tidak menghiraukan Flora yang sedih.
Sesampainya di mobil, tangan Jonathan bergetar hebat rasa kesal, marah, kecewa berkumpul menjadi satu dalam hatinya. Jonathan tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa sesak yang mulai ia rasakan.
"Sekertaris Jo, tidak perlu memaksakan diri ... biar aku yang mengemudi. Mengemudi juga perlu konsentrasi, saya masih ingin hidup lama," ujar Aurora menyelipkan candaan dalam ucapannya berharap Jonathan sedikit terhibur.
"Maaf Nona jadi merasa tidak nyaman karena saya ... apa pipi nona masih sakit?" tanpa sadar Jonathan menyentuh pipi Aurora.
Wajah Aurora memerah akibat sentuhan tangan dari cinta pertama sepihaknya. Jonathan tersentak melihat perubahan wajah Aurora, langsung keluar dari mobil bermaksud berpindah tempat duduk juga menghindar dari tatapan Aurora. Jonathan membeku, perasaan canggung menyelimuti. Aurora hanya tersenyum manis melirik Jonathan dari kaca spion sambil melajukan kuda besi milik Jonathan.
Keadaan di cafee selepas kepergian Jonathan dan Aurora. Flora menangis tersedu sambil memukuli pundak Liam, sedangkan Liam hanya pasrah menerima amukan dari pujaan hatinya.
"Liam ... harusnya aku tidak termakan omonganmu. Lihat Jonathanku meninggalkanku. Kamu memang pria paling menyebalkan yang pernah aku temui," oceh Flora disela tangisannya.
"Teruslah membenciku karena benci dan cinta itu beda tipis. Mungkin hari ini kamu membenciku, itu artinya seluruh pikiranmu tertuju padaku. Besok kamu pasti cinta aku, karena seluruh hatimu dipenuhi diriku."
"Jangan gombal di saat begini. Tutup mulutmu!"
Liam menutup mulutnya dengan telapak tangan. Flora masih Sedih, memeluk Liam hingga air mata dan ingus bercampur menempel di kemeja Liam. Liam mengelus-elus pundak Flora berharap kesedihan wanitanya cepat berlalu.
***
"Ansel bagaimana kalau aku hamil?"
"Aku akan bertanggung jawab."
Freya mengerucutkan bibirnya, reaksi Ansel tidak mencerminkan seorang suami di terenovela. Freya terganggu dengan Ansel, suaminya itu asyik sendiri dengan buku bacaannya. Freya beranjak dari duduknya, berdiri di belakang kursi tempat Ansel sedang membaca buku. Freya mencuri pandang, menelaah buku apa yang sedang Ansel baca. Freya menggaruk kepala, mendapati Ansel sedang membaca novel romantis.
"Ansel?"
"Ya."
"Kamu sedang apa?"
"Aku sedang lembur," jawab Ansel sembari menutup halaman buku yang ia baca. Ansel mendongak memperhatikan istrinya yang semakin cantik setiap harinya.
"OOo ... aku tidak tahu kalau kamu sedang lembur. Aku kira kamu hanya sedang melakukan hobi saja. Sepertinya aku menganggu jam lemburmu."
"Aku sedang mengecek beberapa novel yang akan diangkat ke layar lebar. Aku sedang menyeleksi mereka. Kemari!" Ansel meminta Freya yang masih berdiri di belakang kursi untuk melangkah mendekati dirinya. Ansel ingin Freya duduk dipangkuannya. Freya bermalas-malasan duduk di pangkuan Ansel, menempelkan pipi ke dada bidang Ansel.
Freya mengangguk mengiyakan ucapan Ansel, Freya malas berbicara. Aroma khas dari tubuh Ansel menggoda Freya. Beberapa hari terakhir ini, indra penciuman Freya menjadi lebih sensitif apalagi saat mencium aroma yang berasal dari tubuh suaminya. Freya tidak bisa mengendalikan hasrat untuk terus menempel pada Ansel.
"Mau makan sesuatu?"
Freya menggeleng. "Aku sudah kenyang. teruskan saja kerjanya, aku mau pergi tidur." Freya menarik diri, tapi Ansel menahan pinggang Freya. "Kenapa?"
"Tetap disini, temani aku lembur."
Freya kembali ke posisi duduk di pangkuan Ansel. "Aku hanya akan menganggu ... dan lagi aku berat, posisi seperti ini pasti akan membuat kakimu tidak bisa bergerak lagi."
"Meski badanku tidak berotot seperti Wardhana, tapi aku juga pria yang kuat. Kakiku masih kuat menopang istri dan anakku. Sayang, aku tidak suka kamu bertemu dengan Ley."
Freya mendongak, memperhatikan wajah Ansel yang menunduk ke arahnya. "Kamu cemburu pada Liam?"
Ansel menjeda ucapannya. Tidak bisa dipungkiri percikan api cemburu terus muncul di hati Ansel. Meskipun saat ini Liam sudah bersama wanita lain, Ansel tetap saja kesal melihat istri tercintanya saling melemparkan senyuman ceria dengan pria lain. "Cemburu," tutur Ansel.
"Baik ... cemburu memang wajar karena Liam itu mantan kekasihku. Lalu bagaimana caraku supaya bisa meredakan cemburunya seorang Ansel?"
Ansel terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya. "Haruskah aku berhenti bekerja?"
Ansel bersemangat mengangguk, memang itu keinginan Ansel. Air mata Freya bercucuran, ia menyesali ucapannya. Kalimat yang keluar dari bibirnya sebenarnya bukan pertanyaan, Freya hanya ingin meyakinkan dirinya kalau suaminya tidak mendukung cita-cita yang dengan susah payah baru Freya dapatkan. Ansel melihat istrinya berurai air mata. Ansel tahu Freya sedih. Namun, Ansel harus sedikit memberi Freya penegasan kalau bekerja bersama mantan kekasih itu hanya akan terus membuat percikan cemburu dalam hatinya.
Freya mengacungkan jari telunjuknya. "Beri aku sedikit waktu!"
"Sampai kapan? sampai kamu melahirkan?"
Freya mengangguk, air mata masih bercucuran. "Tidak, tidak aku tidak mengizinkan. Jangan gunakan air mata untuk bernegosiasi denganku. Jangan buat hati nuraniku kembali terusik. Kamu tahu aku tidak bisa melihatmu menangis."
Freya menyatukan kedua telapak tangannya. Ia memohon pada Ansel untuk sedikit bermurah hati padanya. Ansel mengerang, meraih tangan Freya mendekatkan ke bibir. Ansel mengecup cepang punggung tangan istrinya. "Aku kalah. Lakukan sekukamu, tapi jangan halangi aku untuk melakukan apapun yang aku inginkan."
Freya menggangguk setuju dengan keinginan Ansel. "Jangan menangis, aku tidak berdaya bila melihat air keluar dari sudut matamu. Sayang, jangan cengeng kayak mama ya," ucap Ansel mengelus perut Freya.
Next \=>
🥰 baca juga Cinta itu Kamu ya ...
🙏Terima Kasih sudah mampir baca.
🙏🙏 Jangan lupa like + Komentar + Vote
🙏🙏🙏 Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.