
Selepas kepergian Kyra. Suasana jadi hening menyisakan dua pria maskulin yang terdiam menjadi pusat perhatian mata para gadis pengunjung cafe. Dua pria ini sesekali membalas lirikan nakal dari kumpulan wanita yang sedang bergerombol, asyik tersenyum dan berbisik-bisik.
Wardhana menyeringai. "Aku yakin mereka sedang berbisik. Pria berambut blonde yang sedang duduk di meja nomor tujuh sangat tampan, aku ingin mendapatkan nomer teleponnya."
"Entahlah aku yakin kalau mereka berbisik, Pria yang berjambang tipis, selaras dengan bibirnya juga tipis yang sedang duduk di meja nomor tujuh itu sangat menggairahkan. Aku ingin menjadi teman kencannya malam ini," kekeh Haidar.
"Sorry aku sudah punya teman kencan untuk malam ini sampai seminggu ke depan," elak Wardhana.
"Kontak teleponku juga sudah mencapai limit, tidak bisa menyimpan kontak baru lagi," ledek Haidar.
Mereka tertawa terbahak-bahak, merasa lucu dengan kepercayaan diri tingkat dewa yang mereka miliki. Mereka sepemikiran bila membicarakan tentang makhluk indah. Sedikit humor mampu mencairkan suasana. Dirasa cukup, Wardhana mulai berbicara serius. Mengutarakan niatnya meminta waktu bertemu di jam padatnya dengan Haidar. Wardhana memberitahu keinginannya untuk memasukan teman kecilnya sebagai asisten pribadi untuk Freya.
Bila menyangkut wanita mungkin Haidar termasuk katagori pria yang mudah berucap ya, bila diajak kencan. Namun, bila mengenai bos dan nyonya bos Haidar harus tetap waspada. Haidar tidak bisa tergesa dengan mudah menyetujui usulan Wardhana. Haidar harus tahu dahulu sebab akibat Wardhana memasukan orang untuk berada di dekat nyonya bos.
"Teman kecilmu wanita? seorang Wardhana memiliki teman kecil?"
"Setan saja ingin punya teman, makanya menggoda manusia. Apalagi aku, seorang manusia tulen. Tentu saja aku punya teman. Meskipun ... sudahlah, setuju atau tidak?" Wardhana tidak ingin bercerita tentang penghianatan Feby. Wardhana tidak boleh membuat Haidar curiga dengan tujuan dirinya memasukan Feby.
"Apa keuntungan untuk kita?" Haidar masih ragu, apalagi Wardhana seperti menyembunyikan cerita mengenai sahabat kecilnya itu.
"Feby itu jago bela diri. Dia juga perempuan yang rapi. Dia bisa melindungi Freya tanpa Freya curiga kalau Feby diutus untuk melindunginya bukan sebagai pembantu biasa. Kita harus sedia payung sebelum hujan. Kamu tahu sendiri, keluargaku tidak mungkin membiarkan Ansel bahagia. Mereka ingin melenyapkan Ansel. Jika tidak bisa melenyapkan Ansel, mereka akan membuat Ansel terluka. Membuat Ansel terluka itu mudah. Salah satunya dengan mencelakai kelemahan Ansel. Dulu Ansel memang tidak memiliki kelemahan. Sepupuku itu tidak dapat di sentuh dari sela manapun. Tapi sekarang berbeda. Freya kelemahan terbesar Ansel."
Haidar mengangguk setuju serta memikirkan dengan seksama perkataan Wardhana. Tidak ada celah untuknya menolak permintaan Wardhana. Ucapannya masuk akal, memang hanya seorang Wardhana yang mengerti bagaimana cara menyakiti seseorang. "Baiklah, aku akan mengutarakan keinginanmu pada Ansel."
"Jangan! maksudku jadikan Feby sebagai orangmu. Jangan mengucapkan namaku pada Ansel. Aku tidak ingin Ansel mencurigai Feby. Seperti perkataanmu tugasku hanya melindungi Freya dari jauh. Jika kamu terang-terangan mengucapkan niat baikku pada sepupu, itu tidak akan pernah disetujui," beber Wardhana.
"Baiklah-baiklah. Aku akan membuat Feby menjadi orangku sesuai permintaanmu. Akhir-akhir ini kamu semakin banyak permintaan mengingatkanku pada kucing manisku di rumah."
"Hehe ... tentu saja, adik iparmu ini memang sudah sehati dengan kucing manis berambut pendek yang ada di rumah kak Haidar," ledek Wardhana. Dirinya merasa lega, selangkah demi selangkah rencananya mulai dijalankan untuk bisa mewujudkan impian. Bila dirinya selalu menahan rasa kali ini Wardhana tidak mau kalah. Cinta terbalas memang sulit bagi anggota keluarga King. Namun, setidaknya ia juga ingin merasakan kebahagiaan cinta bertepuk sebelah tangan, mendapatkan orang yang dicintainya. Tidak melulu kepedihan cinta dalam diam ataupun cinta bertepuk sebelah tangan. Wardhana tersadar dengan perjuangan Ansel mendapatkan Freya.
Haidar meninggalkan Wardhana yang sedang menerawang seorang diri. Dirinya mendapatkan pesan, tugas baru dari bosnya.
***
"Sayang, mau makan sesuatu?"
"Aku minta maaf, aku tidak akan melakukan hal yang membuat Freya merasa tersinggung. Aku tidak akan memamerkan kekayaan yang aku miliki lagi," ujar Ansel merebahkan kepala ke perut Freya yang sedang terbaring.
"Aku tidak ingin berdebat mengenai hal itu lagi Ansel. Hari ini kamu tidak kerja?" Freya mengelus rambut Ansel.
"Aku tidak ingin mencari uang lagi. Aku ingin di rumah saja bersama Freya."
Freya terkekeh, ucapan Ansel yang serius terdengar lucu saat masuk ke gendang telinga Freya. Baru kali ini dirinya mendengar ada seseorang yang frustasi hingga tidak mau mencari uang lagi. Freya lupa, memang ini bisa saja terjadi bagi seorang King Ansel Cullen yang kekayaannya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Bila dirinya menjadi Ansel, kemungkinan ia juga hanya ingin rebahan di rumah. Tidak perlu memeras keringat, uangpun masih mengalir bagai air mengalir dengan deras dari hulu ke hilir.
"Apa ucapanku lucu?"
"Tentu saja, Ansel sangat lucu di mataku. Sini aku peluk!"
Ansel berpindah posisi, sekarang dirinya sudah ada di samping tubuh istrinya. Membiarkan tubuhnya di peluk oleh Freya. Ansel masih bingung apa yang sebenarnya terjadi. Semalam Freya sangat emosional sampai melampiaskan emosinya pada Ansel. Sekarang Freya menjadi lebih manja, juga berani meminta pelukan terlebih dahulu. Ansel masih bingung, haruskan ia bersyukur atau bersedih merasa di permainkan oleh istri tercintanya.
Freya menghirup Aroma mentol yang tercium dari ketiak Ansel. "Ini wangi mentol? apa ini parpum baru? aku suka."
"Apa masih tercium, padahal aku sudah mencuci bersih. Itu aroma krim cukurku."
"Benarkah? dimana Ansel menaruhnya?"
"Dikamar bawah," jawab Ansel.
"Ayo ambil!" pinta Freya.
Ansel menekan tombol telpon, meminta seseorang mengantarkan krim cukur ke kamar atas. Tak perlu waktu lama Anne datang dengan krim cukur di tangan. Anne menyerahkan benda yang di bawanya pada Ansel, kemudian Anne segera berlalu keluar untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Anne tidak ingin mengganggu kemesraan majikannya. Freya meraih krim cukur dari tangan Ansel. Menyemprotkannya perlahan ke tangan lalu menempelkannya ke pipi, dagu hingga leher Ansel. Ansel hanya bisa membatu saat ketidak tahuan akan sikap Freya menyerang saraf otak. Pipi, dagu hingga leher Ansel sudah penuhi dengan krim putih beraroma mentol. Freya meminta Ansel untuk tidur terlentang. Ansel tidak protes, langsung menuruti perintah istrinya. Freya tersenyum kegirangan, telungkup di atas tubuh suaminya. Freya memandangi wajah Ansel sambil menikmati wajah tampan suaminya seeta aroma mentol yang sangat kuat dari krim cukur milik suaminya.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.