
Freya selesai memilih baju yang akan dikenakan Ansel. Sekarang giliran Ansel, mencoba satu persatu pakaian pilihan istri tercinta. Bola mata Freya bersinar, terpukau saat Ansel mengenakan pakaian pilihan Freya. Freya hanya memilih secara acak, dirinya tidak paham mengenai fasion. Namun, berkat tubuh Ansel yang tegap bagaikan model semua terlihat cocok melekat ditubuh Ansel. Freya lega, tidak perlu pusing memilih karena semua jenis pakaian cocok untuk suaminya.
Saat membayar di kasir, mata Freya membulat melihat enam nol dibelakang angka empat puluh lima. Hatinya tidak terima, hanya membeli satu set piyama, satu kemeja chambray macha, celana chino hitam serta dalaman saja harus mengeluarkan rupiah sebanyak itu. Bagi Freya yang orang kaya baru itu sangat berat, menggores nalurinya tentang uang. Freya tidak menyangka kalau harganya bisa semahal itu. Memang salahnya. Freya terlena ucapan Ansel, memintanya memilihkan pakaian tanpa melihat label harga. Jika tahu begitu, ia akan melihat label harga terlebih dahulu sebelum membeli produk seperti kebiasaannya. Bagi Freya semua bisa dipakai asal murah. Freya bertekat tidak akan mengulangi tingkah borosnya lagi.
Berlawanan dengan wajah Freya yang memucat, wajah Ansel berseri-seri. Rasa senang tidak bisa ia tutupi. Ansel senang, kali pertama berbelanja dengan istrinya. Ansel dengan santai menggesek kartu dan sukses melakukan pembayaran. Tangannya menenteng tas kanvas yang berisi pakaian, tangan lainnya yang kosong merangkul tangan Freya.
"Kita sudah menghambur-hamburkan banyak uang!" bisik Freya ke telinga Ansel. "Lain kali jangan belanja di tempat ini lagi. Disini harganya mahal-mahal," tambah Freya.
Ansel tersenyum mengetahui sebab wajah istrinya memucat. Ternyata hanya karena tadi mereka menghabiskan banyak uang. Bagi Ansel itu tidak seberapa bahkan lebih hemat dibandingkan saat dirinya berbelanja berdua dengan Jarvis. Mereka bisa menghamburkan uang sepuluh kali lipat dari sekarang. Jika mereka berbelanja, mereka tidak pernah memilih. Mereka hanya akan meminta barang yang harganya paling mahal di toko . Ansel beranggapan barang mahal sudah tentu kualitasnya bagus. Ada barang ada harga.
"Tak apa. Uangku masih sisa banyak," bisik Ansel menenangkan Freya.
Bukan ketenangan yang diterima Freya melainkan hanya rasa kesal mendengar dengan entengnya Ansel berucap setelah memboroskan banyak uang. "Aku tidak suka pemborosan," ujar Freya melepaskan cengkraman tangan Ansel. Freya mengerucutkan bibirnya. Ada satu sifat lagi dari Ansel yang bertentangan dengan sifat Freya.
"Maaf, aku tidak akan mengulangi keborosanku lagi," Ansel mengacungkan jari berjanji. "Freya mau beli apa lagi?"
Baru juga Ansel berjanji, sedetik kemudian ia sudah berniat melanggar. "Pulang," jawab Freya ketus.
"Aku tahu toko pakaian bayi yang ada disini. Ayo kita kesana dulu. Aku ingin belikan beberapa pakaian untuk Acila," rayu Ansel.
"Pasti harganya mahal?"
Ansel menggaruk jakunnya. Ansel berpikir, memang benar pakaian bayi harganya lebih mahal daripada harga pakaian orang dewasa. Tapi tidak perlu terlalu berhemat karena Ansel juga tidak mungkin langsung jatuh miskin hanya karena membelikan beberapa setel pakaian untuk Acila kecil. "Agak mahal sih ... tapi kita akan beli di toko temanku. Dia pasti akan memberikan diskon bila kita beli banyak."
"Baiklah, tapi kalau tidak dapat diskon jangan beli," ujar Freya.
Ansel menggagguk setuju dengan ucapan Freya. Mereka masuk ke toko perlengkapan bayi, Ansel membiarkan Freya memilih baju untuk Acila. Ketika Freya sedang sibuk memilih Ansel menghampiri salah satu pegawai toko. Ansel berkata akan membeli semua barang yang ada di tokonya. Pegawai itu langsung memanggil bos pemilik toko. Seorang wanita muda menghampiri Ansel. Ansel mengutarakan lagi maksudnya. Pemilik toko sangat senang. Ansel mengajukan permintaan untuk memberi diskon lima puluh persen untuk produk yang dipajang sebagai bonus karena sudah membeli semua produk. Pemilik toko menyetujui keinginan sederhana dari konsumennya. Pemilik toko langsung menggantungkan bacaan diskon lima puluh persen disetiap produk.
Ada beberapa orang yang melihat langsung menyerbu toko, tiba-tiba toko menjadi ramai. Pemilik toko panik melihat bejubel konsumen yang ada di toko. Ansel meredakan kepanikan dengan membayar dimuka setengah harga semua produk yang dipajang. Akhirnya pemilik toko tidak panik dan tersenyum puas karena hari ini ia mendapatkan durian runtuh.
Ansel menghampiri Freya yang masih memilih pakaian untuk Acila. "Belum ada yang cocok dengan Acila kecil?"
"Aku bingung harus pilih yang mana ... Semuanya bagus dan semua sedang diskon," ujar Freya yang masih asyik memilih tanpa melihat Ansel. Freya sedang fokus, memilah bersama ibu-ibu yang lain.
"Beli saja satu dari setiap produk, mumpung sedang diskon," saran Ansel.
Freya tersenyum kegirangan mendengar tawaran dari Ansel. Freya tidak ragu mengambil pakaian yang lucu untuk Acila. Mata Freya dibutakan tulisan diskon lima puluh persen. Hampir dua lusin Freya memilih baju, tangan Ansel penuh dengan baju bayi. Ansel puas melihat istri tercinta sangat bersemangat saat berbelanja tanpa harus merisaukan berapa banyak uang yang akan mereka keluarkan. Ansel hanya ingin Freya bahagia. Jika Freya tidak marah ingin rasanya Ansel berkata mencari uang menjadi tugas Ansel dan tugas Freya hanya untuk menghabiskan uang yang dihasilkan Ansel. Namun, Ansel memendamnya. Itu tindakan berbahaya, Ansel seperti bunuh diri. Bisa-bisa Ansel ditinggalkan Freya detik ini juga.
Freya sudah memilih beranjak ke kasir untuk membayar. Ansel menggesek kembali kartunya. Pemilik toko sangat berterima kasih atas kunjungan Ansel sampai memberikan kartu nama. Ansel menerima kartu namanya.
Wajah Freya merubah cemberut kembali, ia membisu sampai ke mobil.
"Kenapa pemilik toko memberikan kartu nama? bukankah Ansel bilang itu toko teman Ansel," lontar Freya.
"Pemiliknya sudah berganti," ujar Ansel membohongi Freya. Bagaimana bisa pemilik toko itu menjadi teman Ansel. Ansel tidak pernah punya teman. Meski ada beberapa yang mendekati Ansel, baginya tidak ada teman selain Jarvis.
"Owh ... dia cantik dan masih muda," tukas Freya.
"Ya," ujar Ansel sembarangan dirinya sedang fokus mengemudi.
"Jadi menurut Ansel pemilik toko itu juga cantik?" tanya Freya menegaskan maksudnya.
"Semua wanita cantik," jawab Ansel tidak menyadari maksud istrinya.
"Begitu ... jadi maksudnya Ansel menyukai setiap wanita karena mereka semua cantik," gerutu Freya.
"Bohong ...."
"Aku memang tampan, kaya, berkharisma tapi aku pria yang setia," tukas Ansel.
"Gombal ...."
"Bukan gombal, itu fakta. Freya harus tahu kisah dari keluarga King. Kami tidak mudah jatuh cinta. Jika hati kami sudah ditempati oleh seseorang. Orang itu akan menjadi cinta mati kami. Layaknya serigala yang hanya mencintai satu pasangan dalam hidupnya," jelas Ansel.
"Itukah yang menjadi dasar serigala menjadi logo The King Entertainment," terka Freya.
"Bukan, itu lambang keluarga. Setiap perushaan milik keluarga King pasti berlogo serigala," tukas Ansel.
Freya mengguk, "Ehh tunggu ... Ansel berkata semua keluarga King tapi Wardhana, ia memiliki banyak kekasih?" tanya Freya lagi.
"Wardhana sedang menyakiti hatinya sendiri. Dia seorang penipu ulung. Wardhana menipu hatinya. Dia sudah memiliki orang yang ia cintai hanya saja ia belum mampu meraihnya. Wardhana belum berani menyatakan cinta," terang Ansel.
"Benarkah? siapa?" tanya Freya penasaran.
"Kyra ... adiknya Jarvis," jawab Ansel singkat.
"Kenapa Wardhana belum menyatakan cinta kepada Kyra? apa ia takut ditolak oleh Kyra?" tanya Freya lagi.
"Penolakan menjadi hal yang pasti didapatkan oleh anggota keluarga King. Bukan karena itu, ada hal yang lebih rumit dibalik semuanya," papar Ansel.
"Hal rumit apa?" Freya masih penasaran.
"Freya tidak perlu tahu. Jangan terlalu akrab dengan Wardhana. Dia sangat berbahaya," ujar Ansel.
"Aku tidak akan tergoda oleh Wardhana," tukas Freya.
"Aku tahu."
"Lalu apa yang membuatnya berbahaya selain sifatnya yang playboy?" tanya Freya lagi.
"Aku tidak bisa mengatakannya. Lebih baik Freya tidak tahu apapun."
Freya kesal, Ansel menyembunyikan sesuatu dari Freya. "Mana kartu nama yang tadi?"
Ansel merogoh saku celana mengambil kartu nama kemudian memberikan pada Freya. Freya menekan tombol, kaca mobil sedikit terbuka. Freya membuang kartu nama pemilik toko perlengkapan bayi.
"Kenapa dibuang?" tanya Ansel.
"Aku tidak bisa mengatakannya. Lebih baik Ansel tidak tahu apapun," ujar Freya mencopy ucapan Ansel.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.