Love Shot

Love Shot
Enggan Berpisah



"Cucu menantu nenek memang yang terbaik," puji Elizabeth pada Freya.


Freya hanya tersenyum diplomatis menanggapi pujian dari nenek Liza. Freya terjebak diantara ibu-ibu yang sedang memamerkan menantu mereka.


Freya kembali mengingat awal dirinya masuk perangkap nenek Liza.


Freya membangunkan Ansel, mengajaknya untuk pulang ke rumah. Ansel sangat gembira istrinya tidak jadi lembur dua hari. Diperjalanan Ansel berpapasan dengan Liam. Ansel bermaksud menyapa Liam tapi Freya mengeratkan rangkulan tangannya, tidak memberikan Ansel menyapa Liam. Akhirnya Ansel dan Freya hanya melewati Liam, seperti orang yang tak pernah saling mengenal.


Freya masih merangkul tangan Ansel hingga Ansel membukakan pintu mobil untuk Istrinya. "Ada masalah dengan Ley?" Ansel membantu Freya memakai sabuk pengaman


Freya menggeleng, tidak ingin menceritakan kejadian dipagi hari yang membuat mood Freya buruk. Ansel masih menatap, menunggu jawaban Freya. Ansel tidak akan melajukan kuda besinya sebelum Freya bercerita. Menceritakan penyebab sikapnya yang aneh pada Liam. Freya mengacuhkan Liam. Memang itu yang Ansel harapkan. Namun, bila hal itu terjadi secara tiba-tiba tanpa sebab bukan kelegaan yang Ansel dapatkan melainkan rasa curiga. Diamnya Freya membangkitkan percikan api cemburu di hati Ansel. Semakin Freya bungkam, semakin gelap pikiran Ansel.


Freya menyadari tatapan curiga dari Ansel. Tidak ada yang bisa dirinya sembunyikan dari Ansel. Selama ini Ansel selalu menerima semua perkataan Freya walaupun itu hanya sebuah kebohongan. Ansel seperti penunjuk waktu, tetap berjalan meskipun settingannya salah.


"Aku hanya lelah ... ingin segera istrahat," dalih Freya.


Ansel mengelus rambut Freya kemudian melajukan kuda besi miliknya. Hati Ansel masih belum puas mendengar jawaban dari Freya. Ansel tahu kalau jawaban Freya bukan kebohongan. Ansel yakin jawaban Freya hanya dalih agar Freya bisa lolos darinya. Tidak mau menceritakan sikapnya yang berubah pada Liam. Apa daya Ansel hanya bisa menerima untuk saat ini.


Ansel tidak ingin bila hubungannya yang sudah mengalami banyak kemajuan berkat saran dari Haidar harus ternodai oleh egonya. Bila memaksa Freya untuk bercerita, mungkin api cemburu dalam hati Ansel akan padam. Namun, hubungan mereka pasti akan mundur beberapa langkah ke belakang. Kembali ke titik awal yang penuh dengan rasa ketidak nyamanan. Seorang bijak mengatakan wanita terbuat dari tulang rusuk yang bengkok, jika diluruskan dengan keras akan patah. Begitu juga Freya, Ansel harus lebih giat memupuk kesabaran yang selama ini tidur dalam diri Ansel untuk menghadapi istrinya.


Smartphone Freya bergetar, tertulis nama nenek Liza disana. Freya menatap Ansel, meminta bantuan untuk mengambil keputusan. Ansel mengangguk memberi isyrat agar Freya mengangkat telpon dari nenek Liza. Freya mengencangkan suara telpon. Awalnya nenek Liza menanyakan kabar cucu menantunya, selanjutnya nenek Liza mengutarakan maksudnya menghubungi Freya. Nenek Liza bermaksud meminta bantuan Freya untuk menemaninya ke acara kumpul-kumpul dengan para sahabatnya.


Ansel menjawab mewakili Freya. Dirinya tidak mengizinkan Freya ikut. Ansel sudah tahu kalau acara kumpul-kumpul pasti menjadi ajang pamer. Ansel tidak ingin Freya ikut terlibat dengan hal yang tidak perlu. Nenek Liza masih memaksa ingin Freya ikut. Nenek Liza beralasan kalau hanya Freya cucu menantu yang dekat dengan nenek. Ansel tetap menolak, Ansel mengingatkan kalau tante Saras juga menantu nenek. Ansel menyuruh neneknya untuk mengajak tante Saras saja tidak perlu Freya. Nenek Liza masih tidak mau kalah, kali ini terdengar suara isakan dari seberang telpon. Ansel tidak terpengaruh, Ansel sudah tahu kalau neneknya hanya berakting. Namun, lain dengan Freya. Freya yang belum tahu sifat nenek Liza menanggapi berbeda. Freya merasa iba pada nenek Liza hingga menyetujui keinginan nenek untuk menemani ke acara kumpul-kumpul bersama sahabatnya.


Ansel kesal pada nenek Liza. Ansel tidak ingin Freya lebih memilih bersama nenek daripada beristirahat dengan dirinya di rumah. Meski Freya sudah menjelaskan kalau hanya sebentar saja bersama nenek tidak akan sampai menghabiskan waktu seharian. Ditambah lagi besok Freya libur. Freya berjanji akan memberikan hari liburnya untuk Ansel. Freya akan ikut kemanapun Ansel membawanya sebagai pengganti Ansel yang sudah rela menemaninya lembur hingga tidur di sopa. Ansel menerima janji dari istrinya, meski tetap saja ada rasa kesal dalam hati. Ansel harus mengantar Freya ke tempat berkumpul nenek Liza dengan sahabatnya.


Nenek Liza tak bisa diam menghadapi cucunya yang protektif, hingga tidak mau melepaskan Freya. Nenek Liza berjalan mendekat, kemudian menjewer telinga cucu kesayangannya.


"Lepaskan Freya!" Elizabeth menarik telinga Ansel sampai merah. "Nenek janji akan mengembalikan Freya dengan utuh," omel Elizabet pada Ansel. Sangat sulit memisahkan Ansel dengan Freya, bagai kuku dengan kulit. Nenek Liza tidak habis akal. Nenek berbisik sesuatu ke telinga Ansel.


Entah apa yang dibisikan nenek Liza. Freya sama sekali tidak bisa mendengar ucapan nenek Liza. Namun, bisakan nenek berhasil membuat Ansel mengurai pelukan. Meski dengan wajah yang cemberut. Bukan pergi Ansel masih mematung enggan meninggalkan ruangan meski sudah diusir nenek Liza. Lama kelamaan Freya juga risi melihat tingkah kekanakan Ansel. Akhirnya Freya mengambil inisiatif. Freya berjinjit melaih pipi Ansel kemudian menempelkan bibirnya ke pipi Ansel. Satu kecupan berhasil mendarat dengan manis di pipi Ansel. Ansel masih membeku, Ansel kaget istri tercinta menciumnya di depan umum. Freya tidak menyia-nyiakan kesempatan, mendorong tubuh Ansel hingga keluar dari pintu. Freya melampaikan tangan lalu menutup pintu dengan cepat sebelum Ansel sadar dan memaksa masuk kembali.


Freya masih berdiri. Tangannya menahan gagang pintu. Freya takut jika Ansel akan masuk kembali. Ternyata dugaan Freya meleset, tidak ada tanda-tanda dari Ansel. Freya menghembuskan napas, mengumpulkan energi untuk ikut berbincang-bincang dengan teman nenek Liza. Meski hatinya terasa berat tapi ini sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri. Bukan hanya melayani suami saja, melainkan harus menjaga ikatan keharmonisan dengan keluarga suaminya. Bila sebelum Freya menjadi istri Ansel, hubungan Ansel dan nenek Liza agak renggang. Ini kesempatan Freya, dirinya akan menjadi lem perekat hubungan nenek dengan cucunya.


Pikiran Freya kembali saat nenek Liza memperkenalkannya pada sahabat-sahabatnya.


"Freya sangat cantik, pantas saja Ansel tadi tidak mau melepaskan. Maaf ya kami menganggu masa honeymoon kalian," ujar Maorin salah satu sahabat nenek Liza.


"Tidak salah nenek Liza sangat memuji-muji cucu menantunya," timpal Kamila, sahabat nenek Liza yang lainnya.


Freya hanya bisa tersenyum diplomatis. Sepertinya sepulang dari acara kumpul-kumpul Freya harus membeli pelembab bibir. Bibirnya pasti pecah-pecah karena terus dipaksa tersenyum.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.