
Freya tertidur di pangkuan Ansel, pikirannya lelah meratapi nasib. Masih sulit bagi Freya mensejajarkan dirinya dengan seorang yang sudah bergelimang harta sejak dalam kandungan. Tempat Freya bukan bersama orang seperti Ansel. Mungkin bagi Ansel pekerjaan Freya tidak penting, kekayaan Ansel sudah bisa lebih dari cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan istrinya, bahkan Ansel sanggup mengabulkan semua keinginan Freya.
Namun, bagi Freya pekerjaannya saat ini adalah harapan yang sudah ia perjuangkan dari nol. Dari Dream start Freya mendapatkan gaji pertamanya. Memang tidak sebanyak gaji Ansel saat ini, tapi Freya sudah berhemat hingga akhirnya bisa memasukan Amor ke sekolah kedokteran yang biayanya terhitung sangat mahal bagi seorang Freya.
Ia harus menahan hasratnya untuk berbelanja barang mewah seperti rekan wanita lainnya. Hanya mendengarkan dan tersenyum saat mereka mengobrolkan tentang model terbaru saja mata Freya sudah berbinar karenanya. Berkat Flora, Freya bisa merasakan tangan gemetaran saat memiliki barang mewah yang tidak mungkin Freya beli meski ada sisa dari gajinya. Perlu berpikir ribuan kali untuk menghamburkan uang tabungannya hanya demi tren yang terus berganti setiap minggunya. Freya menunggu saat Flora mengajaknya berbelanja, barang-barang seperti tas, baju kebanyakan Freya dapatkan secara gratis dari sahabatnya Flora.
Ansel seperti Flora, tidak pernah memperdulikan banyaknya uang yang mereka habiskan untuk memuaskan hasrat duniawi. Itu wajar karena mereka tidak pernah merasakan bagaimana menahan lapar dari pagi sampai siang hari karena jatah makan hanya sekali sehari, tidak pernah di hukum guru olahraga lari sepuluh kali keliling lapangan basket karena tidak bisa membeli seragam olahraga baru sesuai tingkat saat pergantian kelas. Tidak ada benjolan dijari tengah dan telunjuk mereka akibat harus menyalin buku modul karena tidak sanggup membeli yang asli.
Meski pikirannya kalut tetap saja Freya bisa tertidur di pangkuan suaminya. Ansel masih melanjutkan menyalurkan hoby sekaligus pekerjaan yang ia anggap sebagai lembur. Ansel melupakan waktu. Dipenghujung malam sebelum fajar mata Ansel tidak lagi bisa menahan rasa kantuk hingga tertutup sendiri. Smartphone Freya bergetar lama, alarm yang ia setting sudah berbunyi. Freya mematikan alarm, merenggangkan tangannya, hingga tidak sengaja bersentuhan dengan tangan Ansel. Sebuah buku jatuh dari tangan Ansel mengeluarkan suara saat menimpa lantai. Freya menutup mulut, ia merasa was-was kecerobohannya akan membangunkan Ansel.
Freya mendongak, mata Ansel masih terpejam. Tidur Ansel tidak terusik sama sekali, Ansel masih betah tidur dengan posisi duduk sambil memangku Freya. Freya turun perlahan, memastikan tidak menganggu tidur Ansel. Freya tidak menyangka tidur di pangkuan Ansel begitu nyaman. Freya mengambil buku di lantai menaruhnya di meja lalu mengecup pipi Ansel perlahan, kemudian Freya berjalan dengan ujung jari kaki saja supaya tidak menimbulkan suara, Freya keluar menuju kamarnya untuk bersiap berangkat bekerja. Percakapan semalam dengan Ansel menyisakan rasa ketidak puasan dalam hati Freya. Ia bermaksud akan berangkat kerja di antar supir tanpa membangunkan suaminya.
***
Ingar bingar masih menyelimuti Festival. Tiga orang wanita termenung, duduk di kursi membentuk segitiga sama kaki. Mereka memandangi lantai yang tidak berpola, tidak ada percakapan yang terlontar dari bibir mereka. Mereka seperti sedang terjebak di dimensi lain, tanpa tersentuh kegaduhan yang tercipta dari keramaian.
Mereka menatap langit-langit sambil menghela napas bersamaan. "Aku ...." ucap mereka kompak.
"Kenapa kamu Asri? ikut-ikutan galau," selidik Flora.
"Aku jatuh cinta," ujar Asri tertunduk kembali.
"Kalau kamu kenapa lagi? bukannya Freyaku sedang bahagia-bahagianya."
"Aku harus berhenti kerja," keluh Freya.
"Kalian itu ... Asri kalau kamu jatuh cinta kenapa harus galau. Seperti ABG (anak baru gede) saja. Kamu itu single, jadi tidak akan ada masalah kalau kamu mengambil pacar. Dan untuk Freyaku sampai kapanpun jangan berhenti bekerja. Kalau Ansel beralasan karena takut kandunganmu kenapa-kenapa itu hanya kekhawatiran yang berlebihan. Jika babymu sudah lahir kita bisa buat taman bermain di dalam kantor," ujar Flora.
"Neng Freya lagi ngisi ... syukurlah, baik-baik keponakan ateu di dalam perut mama. Mengambil pacar, emang apa diambil-ambil. Ngaco ni Neng Flora yang cantiknya di bawah Asri. Aku kasih tahu sama kalian aja, kayaknya Asri jatuh cinta sama Haidar," terang Asri.
"Udah tahu," ujar Freya dan Flora kompak.
"Iiihhhhh kalian ko bisa tahu ... padahal itu secret." Asri menunjukan deretan gigi putihnya.
"Orang buta aja tiba-tiba bisa lihat. Kamu terang-terangan banget ngejar Haidar. Sampai pegang-pegang dada di kantor," ledek Flora.
"Masa ... aku ketinggalan informasi. Parah ni Asri yang ngaku lebih cantik dari Flora. Aku aja belum sampai begitu di kantor," timpal Freya.
"Ahhhhh ... enggak gitu. Kalian rese ah. Dengerin ya Neng Asri mau jelasin. Memang tangannya Haidar nempel di dada aku tapi Haidar cuma nahan aku biar gak jatuh," terang Asri mengebu-gebu.
"Yah sayang tanggung banget, padahal itu kalau ruangannya luas ... pas ditahan gitu terus jatuh kelantai terus guling-guling kayak kucing kawin. Bisa menang banyak neng geulis," Ledek Flora lagi.
"Ogah masa Asri disamain sama kucing. Emang kucing kalau kawin guling-guling gitu? Setahu Asri, bukannya kalau mandi baru guling-guling di pasir?"
"Aku gak tahu ... Flo?" Freya mengangkat tangan, melirikkan mata ke arah Flora.
"Aku bukan kucing mana aku tahu. Ko malah ngebahas kucing si. Aku kayaknya mau diputusin Jonathan," ujar Flora.
"Salah sendiri. Kalau tidak mau terbakar jangan bermain api," timpal Freya.
"Wowww ...." mata Asri berbinar, mode kepo netizen ON.
"Wawww ... harusnya what? kaget, dulu waktu ujian bahasa inggris neng Asri dapat nilai berapa? heran saya, neng Asri bisa didaulat jadi karyawan multitalent," ucap Flora geram pada Asri.
"Emang mau bilang Wowww amazing," timpal Asri.
"Wahh udah berani neng Asri sama seorang Flora," timpal Freya, menyulut pertengkaran.
Flora membulatkan mata, menatap Asri dengan penuh Amarah. Asri tersenyum, "Bercanda ... bercanda. Mana berani Asri sama Flora. Kenapa bisa diputusin emang salah Flora apa?"
Freya menyodorkan tangan, mengganggukan kepala, mempersilahkan Flora menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Liam hingga membuat Jonathan yang berhati sebaik malaikat bisa meradang karenanya. Flora mulai bercerita awal mula ia terpeleset hingga tercebur ke kubangan perselingkuhan dengan Liam.
"Belum juga sebulan udah ketahuan. yah neng Flora mah amatir," Ledek Asri tersenyum puas, akhirnya ia bisa mensmash seorang Flora.
"Fre minta nomer dukun santet online ... ni bocah ingusan udah mulai bertingkah!" Flora mulai tersulut.
"Aku gak punya nomer dukun, tapa kalau nomer bos pembunuh bayaran ada. Minta tolong dia aja. Bayar lima ribu juga masih kembali empat ribu lima ratus buat melenyapkan neng Asri," timpal Freya ikut meledek Asri.
"Wadaw ... nyawa Asri cuma dihargai lima ratus rupiah. Parah ... beda kalau udah jadi nyonya bos. Kenalan nenk Freya udah merambah ke dunia nitam, bentar lagi bisa-bisa banyak kenalan dari dunia gaib juga," ujar Asri.
Freya terkekeh, amarah Flora seketika sirna.
Next \=>
π₯° baca juga Cinta itu Kamu ya ...
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.