
Seorang wanita muda duduk bersandar di meja kebesarannya, sambil sesekali melihat Sang penunjuk waktu yang betah melekat di dinding kantor. "Aku iri pada seseorang ... sudah dapat jatah honeymoon, masih ditambah libur dua hari sebelum festival. Aku merindukan belayan kasih sayang dari cintaku." Flora berceloteh mengasihani dirinya yang butuh vitamin c. C untuk cinta dari Sang pujaan hati Jonathan, sekertaris paling sibuk yang pernah Flora temui dalam hidupnya sekaligus seorang pria muda berparas rupawan yang mampu menundukan seorang gadis bar-bar seperti Flora.
Tak berbeda dengan Flora rekan seperjuangan juga sedang uring-uringan tak karuan. Asri tidak banyak mengeluh disela pekerjaannya seperti Flora. Asri lebih patah, dirinya sudah tidak sanggup lagi fokus pada pekerjaan. Saat ini pikirannya melayang jauh menembus batas nalar, memikirkan seorang pria berambut blonde yang mencuri perhatiannya sejak kemarin sore. Ini keajaiban semesta, atma Asri tak menyatu dengan raga. Sudah lama Asri yang pernah terluka tidak pernah lagi mendamba seorang pria. Semua berubah hanya dengan sekali sentuhan di dada ia menjadi gila.
Seharian ini tidak ada kabar dari Sang ahli menombak hati, arti nama Haidar Jarvis. Asri mengulang-ulang mengukir nama itu di halaman note book. Sudah satu halaman ia habiskan hanya dengan menulis nama Haidar Jarvis. Biasanya dengan mencoret-coret kertas perasaannya akan membaik, rasa tertekan akan segera menghilang dari pikirannya. Kali ini cara itu tidak berhasil. Asri menyadari sesuatu, hatinya sudah mulai pulih. Satu pertanda yang ia rasakan saat ini bukan rasa tertekan melainkan rasa rindu. Rindu ingin bertemu, rindu ingin diperhatikan hingga rindu mendapat sentuhan dari pria.
Smartphone Asri bergetar. Asri bersemangat mencari tahu pesan dari siapakah itu. Bibir Asri mengerucut enggan tersenyum, bukan pesan dari pria yang ia tunggu. Ternyata pesan dari mantan suami. Asri membaca perlahan kutipan pesan yang tertera di smartphone. Terlihat Sang mantan sangat berniat untuk mengiriminya pesan. Tulisannya sangat panjang dan rapat, bagai sebuah kisah yang bergulir tanpa ada jeda iklan. Asri menyerap informasi, pria yang telah membuatnya terluka ingin bertemu katanya rindu. Asri menyeringai, ia merasa heran bagaimana mereka masih sepemikiran sama-sama sedang merindukan seseorang.
Tanpa basa-basi Asri membalas ya. Asri bukan seorang pengecut dalam percintaan. Meski luka itu masih ada bukan berarti dirinya harus menghindari Albert. Pria yang memperkenalkan untuk pertama kali apa itu moderenisasi. Pria yang menjadi cinta pertama bagi gadis desa yang belum tahu apa-apa. Kerinduan Asri pada Haidar sejenak teralihkan. Dirinya bersiap memoles lipstik red berry ke bibir kecilnya. "Partner, pekerjaan udah beres. Neng geulis mau on the way dulu." Asri memasukan Smartphone ke tas bersiap berangkat.
"Mau ketemu siapa? tumben itu bibir dipoles dulu."
"Kasih tahu gak ya?" goda Asri.
"Gak usah. Gak ngaruh juga sama kehidupan Flora yang cantik jelita."
"Neng Asri nu geulis pisan mau ketemu Sang mantan suami," jelas Asri.
"Ngapain ketemu mantan, jangan bikin penyakit deh. Kalau Neng geulis sakit aku bisa berabe. Neng geulis suka gak masuk tiga hari kalau patah hati," ledek Flora.
"Tenang, Neng geulis udah bawa senjata. Semprotan berisi cairan cabe. Bila Sang mantan macam-macam Neng geulis semprot matanya pakai ini. Biar dia ngerasain gimana sakitnya luka yang ia toreh di hati Neng geulis hingga perih di mata. Biar dia nyaho, tuman!"
Flora mengacungkan dua jempolnya sambil terbahak mendengar ucapan tidak masuk akal dari partnernya. Asri menepuk dadanya, bangga dengan ucapan yang ia lontarkan kemudian menghilang seraya dengan pintu tertutup. Selepas kepergian Asri ruangan jadi sepi. Flora mengirim pesan pada Liam, memintanya untuk menemaninya lembur. Tidak ada jawaban dari Liam. Pesan Flora hanya dibaca saja. Flora kesal pesannya diabaikan Liam, bibirnya masih mengoceh mengutuk Liam.
"Hati-hati ... ucapan itu doa. Kalau ada malaikat yang lewat di aminin dan terjadilah," ujar Liam berjalan masuk membawa laptop yang terbuka.
"Emang aku salah apa?"
"Liat aja nanti kamu kemakan omonganmu sendiri." Liam menarik kursi duduk berhadapan dengan Flora.
"Mana ada. Kalau di aminin malaikat paling kamu yang rugi. Gak bakal ada cewek di dunia ini yang mau jadi istri seorang Liam," debat Flora.
"Marah boy?"
Liam mengangguk. Flora hanya mengernyit lalu fokus melanjutkan pekerjaannya yang sudah hampir rampung.
"Cuma nanya itu saja?"
Flora membalas dengan anggukan. Liam terbahak. Flora memang gadis yang berbeda.
"Harusnya minta maaf karena sudah membuat aku marah."
"Memang hubungan kita sudah sampai ke tahap itu ya? meminta maaf. Seorang Flora yang cantik jelita hanya meminta maaf kepada orang yang spesial di hatinya," sanggah Flora.
"Ooo ... Maaf."
"Jadi kamu yang minta maaf?!" Flora menatap wajah tampan Liam.
Liam membalas tatapan Flora. "Karena kamu spesial di hati aku."
Gebebuk ... Mouse portabel jatuh ke bawah meja. Flora langsung berjongkok. Mengambil kesempatan baginya untuk menenangkan jantung yang syok mendengar ucapan Liam sembari mengabil mouse. Flora menarik napas panjang. "Jonathan ... Jonathan ... bagaimana ini, ucapan Liam breng**k membuat jantungku berdisko," umpat Flora dalam hati.
Nextnya besok pada jam yang samaπ \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.