
Freya terbangun dari tidurnya, suara berisik mengusik rasa penasarannya. Freya keluar dari sarangnya menyelidiki dari mana asal keributan. Ternya keributan berasal dari kerabat jauh ibu Freya. Mereka sedang menyiapkan semua perlengkapan yang akan mereka bawa ke hotel.
Freya masih malas, melingkarkan tubuhnya di kursi ruang tv hendak kembali ke alam mimpi. Rasanya Freya tak ingin keluar dari alam mimpinya untuk hari ini dan seterusnya.
"Kak bangun kalau mau tidur nanti saja kalau sudah sampai di hotel. Sekarang kak Ansel sudah pulang tidak akan ada yang menggendong kak Freya ala bridal style lagi seperti semalam," ujar Amor berjongkok membangunkan Freya.
Freya duduk, mengucek matanya lalu menghela napas dan mengingat kejadian semalam. Freya ingat semalam dia memang rebahan dibkarpet ruang tv lalu tertidur karena kelelahan. Tapi anehnya saat bangun tidur esok harinya dirinya sudah ada di kasur kesayangan.
"Ternyata semalam aku ketiduran lalu Ansel menggendongku ke kamar. Benarkah ? aku tidak merasa ?" tanya Freya ragu dengan ucapan Amor, bisa saja dia sedang mengerjainya.
"Tentu saja tidak terasa kak Freya tidur seperti kebo. Sampai iler kakak menempel di baju kak Ansel," ujar Amor tersenyum.
"Jangan membual aku tidak ileran saat tidur," protes Freya.
"Menyesal aku ... tahu begini seharusnya kemarin aku merekamnya. Tapi kalau ku rekam pasti dipidanakan," ujar Amor.
"Dipidanakan ? bagaimana bisa ? memang apa yang salah ?" serentetan pertanyaan terurai dengan mulus dari mulut Freya.
"Semalam kami keasyikan mengobrol sampai tidak ingat kalau kak Freya menghilang. Untung kak Ansel sadar kalau kakak tidak ada, mungkin diantara kami memang hanya kak Ansel yang memikirkan kak Freya," Amor menyeringai, "Lalu kak Ansel menemukan kakak tergeletak di ruang tv. Dengan gentel kak Ansel memangku kakak dan memindahkan ke kamar. Selang waktu berlalu kak Ansel belum juga keluar dari kamar jadi aku menyusulnya dan apa yang aku lihatโ"
Amor menyeringai menjeda penuturannya. Melihat kearah Freya dengan tatapan penuh curiga.
"Memang kamu lihat apa ? kenapa kamu seperti mencurigai ku ?" tanya Freya menanggapi tatapan Amor.
"Katanya kakak mencintai kak Liam dan tidak akan pernah ada pria lain yang bisa mengisi hati kakak selain kak Liam. Ternyata perkataan kakak semuanya hanya tipuan. Semalam kakak memeluk kak Ansel lalu mencecap lehernya dengan ganas sampai menimbulkan bekas," tutur Amor.
"Aku ?!" Freya menunjuk wajahnya, "Bagaimana mungkin aku bisa memberikan tanda kismak pada Ansel. Padahal aku tidak sadarkan diri, aku sedang tidur."
"Entah kakak sedang memimpikan apa semalam. Yang jelas aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kakak sedang melakukan hal itu pada kak Ansel," ujar Amor kekeh, sangat yakin dengan penglihatannya.
"Lalu bagaimana respon Ansel ?" tanya Freya.
"Haruskah aku jelaskan posisi kak Ansel waktu itu ?" tanya Amora.
Freya mengangguk mengiyakan. Amor rebahan di karpet depan tv menarik bantal berbentuk kaki dari kursi. Dirinya memperaktekan adegan yang ia lihat kemarin.
Amor memposisikan dirinya menjadi Ansel dan bantal kaki sebagai Freya.
"Aku jadi kak Ansel, dia memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan. Lalu bantal ini sebagai kakak yang sedang menikmati leher putih kak Ansel dan tangan kakak menyentuh otot perut kak Ansel yang terbuka sedikit. Mata kak Ansel terpejam menikmati apa yang sedang kakak perbuat padanya. Dengan tangan kanan kak Ansel menahan kepalanya dan tangan kirinya menahan tengkuk kak Freya laluโ"
"Stop ! hentikan ucapanmu," Freya menjitak kepala Amor, "Adik tak tahu diuntung beraninya kamu mencoba menipuku, mengarang cerita palsu adegan berbahaya yang mustahil aku perbuat."
"Kakak tidak percaya ucapanku ? aku memang sering membohongi kakak tapi kali ini aku berkata jujur. Haruskah aku bersumpah ? kalau kakak tidak percaya coba tanyakang sendiri pada kak Ansel," protes Amor pada Freya.
"Apa kamu gila ?! untuk apa aku menanyakan hal yang memalukan kepada Ansel. Itu sama saja aku bunuh diri," Freya memukul-mukul kepalanya dengan bantal, "Memangnya semalam aku memimpikan apa ? kenapa aku tidak ingat, sepertinya semalam aku tidak bermimpi apapun," Freya berbicara sendiri frustasi.
"Santai saja kak ... kak Ansel juga biasa saja dengan santainya dia merapikan kemejanya lalu memberi kecupan selamat tidur dan menarik ku keluar agar tidak mengganggu tidur kakak," ujar Amor.
"Santai ? apa kamu mau aku bantai ?" Freya mulai kesal.
"Ampun ... lupakan ucapanku jika aku salah. Kalian bisa langsung reka adegan besok," ujar Amor berlari kabur menghindari Freya.
"Ammooorr ...," teriak Freya.
"Baik bu," ujar Freya menuruti perintah ibunya masuk ke kamar dan bersiap.
***
Sesampainya di hotel King. Freya sekeluarga sudah disambut para pekerja. Tak nampak tamu selain keluarga Freya dan teman-teman Freya. Memang Ansel sengaja menyewa seluruh kamar yang ada di hotel King untuk acara pernikahannya.
Meskipun tak ada tamu namun keadaan hotel sangat ramai banyak pekerja yang berlalu lalang sedang sibuk mengerjakan tugasnya.
Beberapa pekerja menuntun Freya dan keluarga ke resto mewah yang tersedia di hotel supaya Freya dan keluarga bisa menikmati makan siang dengan nyaman tanpa gangguan dari para pekerja yang sedang mendekorasi hotel.
Makanan mewah dan terlihat nikmat sudah tersaji di meja mereka. Perut Freya memang sudah keroncongan minta diisi tapi anehnya Freya kehilangan nafsu makannya. Freya hanya mengaduk-aduk makan yang ada di piringnya. Pikirannya masih menelusuri serpihan-serpihan ingatan kejadian semalam dan otaknya bekerja sangat keras untuk mengingat apa yang dimimpikan dirinya semalam.
"Beb nervous ya ?" tanya Flora.
"Ehh kapan kamu datang Flo ?" Freya balik bertanya.
"Bebeb bengong aja dari tadi sampai tidak sadar aku datang. Aku baru datang tadi. Gila ini pernikahan super mewah yang pernah aku hadiri. Makasih ya beb, berkat dirimu aku bisa merasakan fasilitas hotel King dengan gratis," ujar Flora tersenyum gembira.
Freya tersenyum diplomatis menanggapi ucapan terima kasih dari sahabatnya.
"Flo apa kamu pernah melupakan mimpi ?" tanya Freya.
"Mimpi ? cita-cita maksudmu ?" Flora balik bertanya masih bingung dengan pertanyaan dari Freya.
"Bukan mimpi yang itu, tapi mimpi bunga tidur. Apa kamu pernah bermimpi tapi esoknya kamu melupakan mimpi itu ?" tanya Freya lagi.
"Tentu saja pernah, mungkin bisa dikatakan juga sering sampai aku berkonsultasi dengan dokter. Karena kadang melupakan mimpi itu membuatku agak kesal," ujar Flora menikmati makanan yang tersaji.
"Benar aku juga sependapat denganmu sekarang aku sedang kesal karena tidak mengingat mimpiku semalam. Lalu apa hasil dari konsultasinya ?" tanya Freya penasaran.
"Hasilnya aku mengabaikan semua mimpi yang aku lupakan hehehe," ujar Flora.
"Bagaimana bisa kamu langsung menyerah. Itu bukan seperti Flo yang ku kenal," ucap Freya.
"Aku bukan menyerah hanya tersadar bahwa aku memang sangat butuh istirahat. Kata dokter ada beberapa orang yang melupakan mimpi mereka. Hal tersebut biasanya disebabkan karena pusat pemrosesan informasi di otak benar-benar beristirahat dan tidak bisa menyimpan memori baru," jelas Flora.
"Ya kamu benar Flo mungkin aku juga harus melupakan mimpiku karena memang akhir-akhir ini aku kurang istirahat karena merasa lebih stres dari biasanya," ujar Freya.
"Itu wajar beb, aku juga akan stres bila jadi dirimu. Aku yakin ini akan menjadi awal kebahagian untukmu," ujar Flora menyemangati Freya.
"Amin ... terima kasih Flo, kamu memang teman yang ter-tersegalanya untukku," ujar Freya memeluk hangat Flora.
Next \=>
๐Terima Kasih sudah mampir baca.
๐๐ Jangan lupa like + Komentar + Vote
๐๐๐ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.