
Mata Freya mulai berkunang-kunang rasa ngantuk mulai merayap, entah sudah berapa lama ia memandangi layar monitor. Sudah dua kali Freya bolak balik ke kamar mandi hanya untuk sekedar mencuci muka. Namun, tetap saja rasa kantuk enggan menjauh.
"Lapar ... cari cemilan dulu sambil ngopi yu!" ajak Reja, menunggu respon dari rekan kerja yang lain.
"Tumben bang Reja lapar. Biasanya perut selalu full. Istri kemana istri ?" ledek Riko.
Reja memang satu-satu pria diruangan itu yang sudah lama menikah. Seorang bapak dari tiga orang buntut. Umurnya baru kepala empat tapi Reja sangat mempercayai ungkapan banyak anak banyak rejeki. "Istri gak masak hari ini ... jadi gak bawa bekal. Maklumlah lagi lemes-lemesnya kalau di minggu pertama," urai Reja.
"Ya ampun jadi lagi bang," celetuk Freya.
"Mantap emang bang Reja," tambah Riki.
Riko terkekeh, ternyata percakapannya dengan Reja sedang diperhatikan. Sampai Riki yang pendiam juga ikut nimbrung, kalau Freya sudah biasa karena dia satu-satunya wanita diruangan itu. Sudah dipastikan Freyalah yang paling sering membuka obrolan. "Fey biasanya kamu yang perhatian, hari ini kenapa? mentang-mentang udah punya suami."
"Lagi males gerak, iko," tukas Freya.
"Rrrriko, emang aku jeli yang ditaruh di kulkas," protes Riko.
Freya terkekeh. "Iklan, garing Rrrrriko."
Pintu terbuka pria tampan dengan setelan jas lengkap masuk ke ruang kerja Freya. Siapa lagi kalau bukan Ansel, sitampan yang misterius. Disusul Haidar dari belakang. Tangannya penuh membawa bungkusan makanan. Haidar menaruh semua bungkus makanan dan minuman di meja Freya, selanjutnya Haidar menekan-nekan telapak tangan yang memerah akibat bungkusan yang Haidar bawa. Freya sendiri masih bengong tidak percaya dengan apa yang ditangkap sepasang bola matanya. Freya melirik jam di smartphone jelas tertera tulisan dua puluh tiga lewat lima belas menit. Penuh tanya dipikiran Freya. Apa maksud Ansel datang ke tempat kerjanya. Padahal tadi siang Ansel sudah mengizinkan Freya untuk lembur.
"Ansel kenapa kesini ?" tanya Freya mendekati suaminya. Pelukan hangat diberikan Ansel untuk Freya.
"Hari ini aku harus sibuk. Aku berkunjung ke lokasi syuting film. Jadi maaf bila baru bisa mampir sekarang," ujar Ansel memberikan alasan.
Memang benar Ansel baru saja melihat syuting film yang pemeran utamanya Daniel. Namun, itu karena terpaksa. Haidar terus saja menjegalnya untuk menemui Freya. Padahal bila tidak dijegal Haidar, dari tadi siang Ansel sudah nongkrong di Dream Star. Ansel menuruti Haidar kali ini berkat ucapannya. Haidar menjelaskan, kalau ada beberapa trik dalam percintaan dan ini salah satunya. Ansel sebagai seorang suami yang cinta mati pada istri harus membiarkan istrinya menjalani aktivitas yang ia inginkan. Dengan mengekang Freya hanya akan membuat Ansel terlihat egois. Memang benar Ansel seorang yang egois, tapi tidak perlu sengaja ditunjukan juga. Ansel harus datang disaat istrinya mulai merasa kelelahan dan kelaparan. Haidar yakin kalau tengah malam adalah waktu yang tepat. Ansel pasti akan mendapatkan kesan yang baik dari Freya.
"Terima kasih," ujar Freya membalas pelukan Ansel. Dirinya memang sudah mulai kelelahan ditambah lagi kejadian pagi ini yang menguras banyak emosinya. Freya rasanya sudah tak mampu lagi membendung rasa harus berkat kunjungan Ansel.
"Ayo teman-teman kita makan. Tadi aku sengaja membeli ini diperjalanan. Aku harap selera kalian sama denganku," ajak Haidar. Tentu saja tiga R langsung mengerubungi Haidar. Mereka sudah kelaparan, ini seperti berkah yang datang dari langit. Makanan enak datang sendiri menghampiri mereka.
"Kenapa menangis," tanya Ansel menguraikan pelukan, menarik wajah Freya agar memudahkan Ansel menyeka air mata yang membasahi pipi Freya.
"Aku kangen," dalih Freya memeluk kembali Ansel.
Sudut bibir atas Ansel sedikit terangkat, hatinya berbunga-bunga mendengar penuturan dari istri tercinta. Ansel mengacungkan jempol pada Haidar, memberi penghargaan akan sarannya yang sangat luar biasa. Haidar menepuk dadanya dua kali. Tentu saja aku sangat mengerti wanita, untuk hal menaklukan hati Freya serahkan saja padaku. Gumam Haidar dalam hati. Haidar mengajak rekan kerja Freya makan dilobi bersama rekan kerja yang lain. Haidar memang membeli banyak makanan, cukup untuk semua karyawan Dream Star yang sedang lembur. Tiga R mengikuti ajakan dari Haidar. Mereka sudah tidak sabar untuk mengisi perut yang dari tadi sudah keroncongan. Haidar melangkah pergi menyusul tiga R. Membiarkan bos dan nyonya menikmati waktu mereka berdua. Tidak bisa dipungkiri, Haidar memang pria yang peka.
"Sayangku pasti capek ... ayo makan dulu," bujuk Ansel. Freya menggeleng, masih memeluk erat Ansel. Saat ini perutnya tidak lapar, Freya hanya butuh sandaran untuk menuangkan emosinya. "Aku suapi ya."
"Aku tidak lapar. Aku hanya mengantuk." ujar Freya.
"Baik aku tidak akan memaksa. Pejamkan saja mata Freya. Aku akan menjaga disini," bujuk Ansel.
"Bangunkan aku saat tiga R selesai makan," pinta Freya.
Ansel hanya mengangguk mengiyakan permintaan istrinya. Meski dirinya tidak tahu siapa itu tiga R. Ansel menduga mungkin tiga R yang dimaksud Freya itu tiga laki-laki yang bekerja satu ruangan dengannya. Tiga laki-laki yang ikut Haidar makan di lobi. Ansel mengelus punggung Freya lembut. Freya memejamkan mata. Suhu tubuh Ansel yang hangat membuat Freya nyaman. Ditambah lagi elusan demi elusan yang lembut dari Ansel membuat Freya dengan cepat sampai ke alam mimpi. Ansel mengecup pucuk kepala istrinya.
Krek ... pintu terbuka, seorang wanita masuk tanpa permisi.
"Freya kamu tidak makan?" teriak Flora.
"Ssssssst." Ansel mendekatkan telunjuk ke bibirnya. Mengisyaratkan agar Flora memelankan intonasi suara, karena akan menggangu Freya yang baru saja terlelap.
"Oopps ... maaf," ujar Flora berjalan mundur hendak kembali setelah melihat kemesraan sang pengantin baru dengan mata kepalanya sendiri. Aku iri dengan Freya, jadi kangen tidur dipangkuan Jonathanku. Grundel Flora dalam hati. Asri melihat Flora yang keluar tanpa Freya. Asri berjalan hendak memanggil Freya. Flora mencekal Asri sebelum membuat kehebohan jika melihat Freya yang sedang tidur dipangkuan Ansel. Flora paham betul bagaimana tabiat rekan kerja yang multitalentnya ini.
"Katanya Freya belum lapar. Biarkan Freya tidur dulu sebentar. Dia akan menyusul kalau kantuknya sudah pergi. Ayo ke sana, tadi saat lewat aku melihat pria tampan. Sepertinya salah satu karyawan The King Entertainment," ujar Flora mencoba mengalihkan perhatian Asri.
"Apa bentukkanya tak terlalu tinggi tapi tidak pendek, passlah, kulitnya putih, matanya indah kalau kata pujangga bagaikan mata air dipadang pasir yang gersang dan rambut, rambutnya dicat blonde kayak bule?" tanya Asri memastikan siapa yang dimaksud Flora.
"Ya benar!" jawab Flora seenaknya. Padahal dirinya hanya asal bicara saja.
"Wahh ...." mata Asri berbinar. "Itu Haidar Jarvis, wakil direktur The King Entertainment," Asri menghentikan langkahnya. "Wait ... ada Haidar Jarvis dapat dipastikan Direktur The King Entertainment juga ada. Dimana King Ansel Cullen?"
"Ayo segera temui Haidar, nanti keburu digaet rekan kerja yang lain," ajak Flora. Asri masih bergeming. "Aduh nenk geulis ... Gak usah pikirin suami orang. Mending pikirin yang single dulu," ujar Freya menarik Asri.
Asri berlari mendahului Flora. " Cepat atu Flo, santai baget. Takut kehabisan!" teriak Asri.
"Kehabisan makanannya atau Haidar ? dasar cewek sableng," gerutu Flora.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.