
Cup ... Freya memberikan kecupan di pipi Ansel sebagai imbalan sudah mengantar Freya dengan selamat sampai tujuan. Freya turun dari mobil berjalan dengan santai menuju kantor. Angin berhembus menerpa wajah Freya. Mata Freya tertutup merasakan segarnya hembusan sang angin seraya menguatkan dirinya sebelum bertemu kembali dengan Liam serta rekan kerja yang lain. Freya berbalik sebelum memasuki pintu, melambaikan tangan pada suaminya. Memberi tanda bahwa Freya akan segera masuk. Ansel melajukan mobilnya setelah yakin Freya masuk ke dalam kantor.
Deg ... langkah Freya terhenti sepasang tangan mendekapnya dari belakang. Freya melirik kebawah, tangan putih bercat pink sedang melingkar diperut Freya.
"Kaget aku!" lontar Freya memukul tangan Flora. "Aku kira siapa yang memeluk dari belakang. jantungku hampir copot."
Flora hanya terkekeh, menurut Flora respon Freya terlalu berlebihan. Bukan kali ini saja Flora melakukan hal seperti itu pada sahabatnya. Mungkin Freya mengira orang yang memeluknya Ansel atau mungkin Liam.
"Kamu kira Ansel atau Liam ? ayo ngaku," goda Flora.
Freya mengabaikan ledekan dari sahabatnya, tetap fokus menuju ruangannya. Freya harus segera sampai ke ruang kerjanya sebelum berpapasan dengan Liam, Freya masih belum siap. Freya sengaja berangkat pagi dan mengabaikan rengekan Amor yang meminta Freya menemani saat ia keluar dari rumah sakit. Freya lupa kalau Flora salah satu karyawan atau lebih tepatnya karyawan yang selalu sampai ke kantor paling pagi berkat kekuatan cinta. Flora masih membuntuti Freya dari belakang sampai ke ruang kerja Freya.
"Kenapa terus mengikuti ? Aku tidak akan ikut kamu sarapan. Aku sudah sarapan dirumah," Freya duduk di kursi mulai menyalakan komputer. "Hus ... hus sana pergi," usir Freya.
"Aku masih kangen," rengek Flora, masih tidak mau perpisah dari Freya.
Freya hanya menggeleng, Freya tidak tegak mengusir sahabatnya yang sedang merengek. Freya mengecek beberapa email masuk tidak lupa melihat sudah sejauh mana progres game yang sedang mereka garap. Freya membiarkan Flora terus memandangi wajahnya. Meski lama kelamaan dirinya agak risih, bisa berlubang wajah Freya terus dipandangi Flora. "Ada yang aneh di wajah ku ?" tanya Freya.
Flora tersenyum, ternyata tingkahnya diketahui oleh Freya. Entah kenapa rasanya wajah Freya berubah. Wajah Freya seperti memancarkan aura yang luar biasa, membuatnya tertarik untuk memandanginya terus. "Kamu makin cantik," celetuk Flora.
"Terima kasih," Freya mengeluarkan selembar uang dari dompetnya. "Itu hadiah karena sudah memujiku di pagi hari."
Flora memasukan selembar uang bergambar bapak proklamator ke saku kemejanya. "Sama-sama nyonya. Wah nyonya sekarang royal. Abis buka amplop nikah ya," goda Flora lagi.
Freya tersenyum disela aktivitasnya. Freya mengeluarkan kartu kredit tanpa limit yang diberikan Ansel saat dimeja sarapan pagi ini. Freya pamer sedikit kepada Flora. Bukan pamer tapi Freya menyombongkong apa yang dimilikinya sekarang. Sombong tanda mampu, bisik hati Freya. Senyum Freya makin lebar melihat mata Flora yang berbinar. Sudah dipastikan pikiran Flora sudah berada di mall saat ini.
"Saya siap mengantar nyonya shopping kapan saja. Bila butuh bantuan untuk menghambu-hanburkan kekayaan suami anda, tidak perlu sungkan silahkan hubungi Flora yang cantik jelita. Saya stand by menunggu panggilan anda dua puluh empat jam," papar Flora bersemangat. Freya hanya mengacungkan kedua jempolnya setuju dengan ucapan Flora.
Flora menunggu reaksi mereka saat bertemu kembali. Tatapan sepasang mantan kekasih ini saling bertautan tapi tak ada satupun yang berbicara. Membuat suasana menjadi sangat canggung. Flora tidak suka terjebak diantara Freya dan Liam. "Aku akan ke ruang kerjaku," pungkas Flora mencoba meloloskan diri.
Flora melangkah perlahan menuju pintu, belum sampai tangannya memegang gagang pintu sebuah tangan sudah lebih dulu menggapai tangan Flora. Liam mencekal kepergian Flora. Flora mengernyit saat Liam menariknya berdiri tepat disamping Liam. Mulut Liam masih diam belum berucap apapun, tatapan matanya masih terarah pada Freya. Cengkraman tangan Liam mulai mengerat. Flora mengerti sahabatnya sedang meminta bantuan untuk meninggalkan tempat itu. "Aku ingat, kita harus mengecek berkas yang akan kita bahas siang ini," potong Freya menarik paksa Liam dengan sekuat tenaga agar tubuh Liam bergerak mengikutinya. Tubuh Liam sudah bergerak mengikuti langkah Flora tapi pandangannya tetap menuju Freya sampai mereka diruang kerja Liam.
Plak ... Flora menampar pipi Liam pelan, menyadarkan Liam dari kebekuannya. Pandangan Liam mulai fokus ke Flora, pertanda pikiran dan hatinya sudah mulai sinkron kembali. Tubuh Flora terdorong sampai berbenturan dengan tembok, kepala Liam jatuh ke pundak Flora disertai suara isakan. Liam menangis, tubuhnya bergetar. Sekarang gilaran Flora yang membeku. Ini kali kedua Liam menunjukan sisi rapuhnya di depan Flora. Pertama saat ayah Liam meninggal, yang kedua saat ini. Flora menggap sepele Liam karena Flora meyakini semu kesalahan Liam bila Liam tegas untuk mempertahankan Freya mungkin mereka masih bersama sampai saat ini. Ini diluar dugaan Flora ternyata Liam sangat terpukul dengan perpisahannya dengan Freya.
"Liam, kamu kuat. Aku yakin kamu pasti bisa melewati kesedihan seperti ini," ujar Flora menyemangati Liam, dirinya sendiri tidak menyangka bisa keluar kata-kata yang sesuai dengan keadaan saat ini dari mulutnya. Liam tidak berucap, Liam masih menangis. "Liam bajuku kotor kalau kamu terus menangis di pundakku."
Liam berdiri tegak. Terlihat tetesan air mata bercucuran dipipi Liam, wajahnya memerah akibat mengeluarkan luapan emosi yang tak terbendung. Maaf ucap Liam. Hanya itu yang bisa Liam ucapkan saat ini. Hati nurani Flora luluh menatap wajah sahabatnya yang sedang bersedih. Flora menyeka air mata Liam kemudian berjinjit merangkul pundak Liam. Meski Flora tidak yakin hal itu bisa menenangkan Liam setidaknya Flora sudah mempraktekan sikap yang selalu dilakukan Jonathan saat dirinya menangis. Biasanya cara ini ampuh bagi Flora. Liam membalas pelukan Flora, menahan pinggan Flora agar tetap menempel dengan dadanya. Liam sudah tak terisak, pelukan Flora perlahan membuat emosi yang tadi meluap-luap menjadi tenang kembali. Flora berontak dirinya teringat sahabatnya yang satu lagi pasti sedang menangis juga sekarang. Liam mengurai pelukannya.
"Aku harus menemui sahabatku. Freya juga butuh pelukanku," ujar Flora. Liam tidak membiarkan Flora pergi, dirinya memeluk kembali Freya.
"Freya sudah punya Ansel. Sedangkan aku ... aku yang lebih membutuhkanmu saat ini," bisik Liam.
Flora tidak bisa membantah ucapan Liam, Flora hanya bisa membalas pelukan Liam dan menepuk-nepuk pelan pundak Liam.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.