Love Shot

Love Shot
Drama di Pagi Hari



Hembusan karbondioksida menerpa leher Freya. Terasa hangat Freya berbalik mendekat kearah asal hawa panas dengan mata masih tertutup, tangannya perlahan menarik selimut. Freya menyamankan posisi tidurnya, tubuhnya yang kedinginan mulai terasa hangat dan sangat nyaman.


Aroma mint menusuk hidung Freya membuat dirinya penasaran siapa siempunya wangi ini. Freya membuka mata, sesosok pria terbaring di sampingnya. Freya membuka selimut yang mengurung dirinya. Mengangkat kepala menatap pria tampan yang sedang terlelap.


Ansel tertidur dengan tangan masih melingkar di perut Freya seakan menguncinya supaya Freya tidak kabur saat mata Ansel terpejam.


Freya menatap sang penunjuk waktu, ternyata masih pagi. Freya juga masih enggan memulai aktivitas, dirinya betah lama-lama berbaring di kasur. Namun, tidak bisa dipungkiri tubuh Freya sudah tidak kuat bertahan hidungnya sudah memerah. Efek Freya belum terbiasa tidur dengan pendingin ruangan. Dengan terpaksa Freya harus bangun dan berendam air hangat untuk meredakan rasa dingin.


Freya membuka satu persatu kuncian jemari Ansel kemudian melangkah perlahan masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Dua puluh menit berlalu Freya keluar dari kamar mandi, dirinya hanya memakai handuk. Freya lupa kalau di kamar ini tidak ada pakaian satupun.


Tubuh Ansel bergerak, menandakan Ansel akan segera membuka mata. Freya reflek berjongkok dengan niat bersembunyi supaya Ansel tidak melihat tubuhnya yang nyaris telanjang.


"Kenapa berjongkok ?" Ansel sudah bangun ketika Freya beranjak pergi ke kamar mandi, Ansel hanya belum membuka mata sepenuhnya. Ansel sudah memperhatikan tubuh putih istrinya yang hanya memakai handuk dari tadi. Otaknya mulai memikirkan hal aneh, rasanya dirinya ingin menjadi handuk supaya bisa melekat ke tubuh Freya dengan mudah.


"Sepertinya tadi ada yang jatuh," jawab Freya mencari alasan, menutupi rasa malu karena Ansel memergokinya.


"Jatuh ?" Ansel bergerak dari ranjang, ikut berjongkok membantu Freya mencari barang yang terjatuh. "Apa antingmu jatuh?" tanya Ansel menyentuh telinga Freya.


Freya gugup menyadari kalau Ansel ikut berjongkok dan membantunya mencari benda yang tak ada. Freya memang tidak memakai anting-anting. "Aku tidak memakai anting-anting. Sepertinya yang jatuh tadi hanya air."


Ansel tidak merespon ucapan Freya, Ansel masih menatap Freya dengan serius. Freya juga menatap Ansel yang sedang berjongkok dengan sempurna. "Apa kakimu sudah tidak sakit ?"


Ansel berdiri lalu duduk perlahan kembali ke kasur. Ansel lupa kalau kakinya digip. Sebenarnya saat bangun tidur Ansel sudah tidak merasakan rasa sakit lagi, sepertinya kakinya sudah sembuh. Ansel pura-pura meringis, Ansel tidak ingin kehilangan perhatian dari Freya. Ansel juga ingin minum obat lagi, minum obat dengan cara Freya.


"Ini sakit," ujar Ansel meringis menyentuh kakinya.


"Sarapan dulu, nanti minum obat lagi ya," ujar Freya.


Yes, Ansel bersorak dalam hati memang kata-kata itu yang ditunggu oleh Ansel. "Minum obatnya seperti semalam lagi ya."


Freya mengerutkan jidatnya. Memikirkan Freya harus mencium Ansel sebagai upah setiap Ansel minum obat. "Tapi minum sendiri dulu, baru aku cium setelah obatnya ditelan."


Ansel hanya diam tidak merespon ucapan Freya. "Obatnya sangat pahit, juga ada sensasi pedas. Lidahku kebas setelah meminum obatnya," keluh Freya.


Ansel masih terdiam, Ansel menunggu alasan apalagi yang Freya akan ucapkan. Ansel ingin tersenyum saat melihat Freya merajuk menghentak-hentakan kakinya saat hanya memakai handuk. Ansel berharap handuknya lepas. Ansel tetap menahan tawanya, hanya menampakkan wajah seriusnya.


"Itu ... baiklah aku akan melakukan seperti yang semalam," ujar Freya menunduk pasrah.


Ansel mengelus rambut Freya dan mengecup singkat kepala Freya. "Istri yang penurut."


Freya hanya meringis menunjukan senyuman terpaksanya. Kalau saja pria yang ada di hadapannya bukan suami yang harus dirinya patuhi dan hormati mulai dari sekarang, dirinya tidak mungkin menuruti permintaan yang tidak masuk akal. Memberi obat dari mulut ke mulut.


Anne membawa pakaian untuk Freya, Ansel menyuruhnya meletakan di kursi baca. Freya berbisik pada Ansel karena ada pelayan laki-laki masuk, padahal dirinya saat ini hanya memakai handuk.


"Itu Sam, pelayanku. Dia akan membantuku mandi. Apa Freya ingin menggantikan Sam untuk membantuku membersihkan diri," ujar Ansel menjawab bisikan Freya. Ansel memang ingin dibantu Freya mandi, namun jika kebohongannya terbongkar itu bisa menjadi masalah. Jika mandi sendiri, Freya juga akan mencurigai Ansel.


"Tidak, biar Sam saja yang membantu Ansel mandi. Tapi bisakah kamu keluar dulu Sam ... aku mau berpakaian," ujar Freya dan Sam menggaguk mengerti, kemudian keluar dari kamar dengan Anne dan dua pelayan yang lain.


"Ansel bisa berbalik sebentar," pinta Freya. Melihat kondisi kaki Ansel, dirinya tidak mungkin mengusir Ansel keluar dari kamar.


"Kenapa harus berbalik ?! itu sudah hakku untuk melihat semuanya," ujar Ansel tidak ingin mengabulkan permintaan Freya.


Freya meringis lagi, pagi ini Ansel sangat menyebalkan. Sampai memakai pakaian saja harus penuh drama. Freya hanya bisa mengalah, tidak ada untungnya berdebat hal sepele dengan Ansel. Freya meraih pakai nya di kursi lalu berlari masuk ke kamar mandi.


"Ansel sangat menyebalkan," umpat Freya di dalam kamar mandi. Dirinya geram pada Ansel, melayang pukulan ke udara melampiaskan rasa kesalnya.


Freya keluar dengan wajah yang ditekuk, dalam hatinya terus mengomel apalagi keinginan suaminya kali ini. Baru juga dua hari melayani Ansel, Freya sudah kewalahan dengan ke inginan Ansel yang tidak pernah ada habisnya.


"Duduk disini," pinta Ansel.


Freya menuruti Ansel, duduk di samping Ansel. Ansel meraih sisir yang diberikan Anne, lalu menyisir rambut Freya dengan lembut.


"Ansel kapan jadwal cek up lagi ?" tanya Freya, membuka pembicaraan untuk meredakan rasa malunya karena dilihat para pelayan.


"Minggu depan," jawab Ansel singkat, masih fokus menyisir rambut Freya kemudian menerima aksesoris rambut yang dibawa Anne. Ansel mengambil beberapa helai rambut Freya, mendekatkannya ke hidung, menikmati aroma shampoo dari rambut Freya. "Selesai, sayangku makin cantik."


"Terima kasih," ujar Freya membalas pujian dari Ansel. "Aku akan mengecek sarapan. Sam tolong bantu tuan mandi."


Freya keluar dari kamar, berdiri mematung dibalik pintu. Mengusap-usap pipinya yang merona. Baru juga Freya mandi, tapi dirinya sudah kepanasan kembali.


"Untung aku bisa kabur. Kalau terus disana, mungkin sudah keluar asap dari kepalaku. Kenapa lagi Ansel harus bersikap semanis itu, dan harus memujiku di depan banyak orang. Akukan jadi merasa malu. Meski senang juga." Celoteh Freya berjalan menuju dapur.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.