
"Hanya sampai disitu saja, aku tidak mengetahui kejadian selanjutnya," ujar Asri masih mengingat-ingat ciri-ciri dua orang pria yang membawa Haidar pergi. Asri sangat tertarik, otaknya mulai bereaksi. Kali ini otaknya harus berfungsi untuk memecahkan misteri bukan hanya berfungsi saat mencari bahan gosip. Tubuh Asri bergetar, ada aliran semangat menjalar ke otaknya. Asri sangat senang dirinya menjadi bagian potongan puzzle tragedi di pernikahan Freya.
"Apa tidak ada keanehan lain atau petunjuk lain kemana aku dibawa pergi ?" tanya Haidar, dalam hatinya yakin kalau Asri pasti tahu sesuatu. Pirasat Haidar biasanya tepat.
"Tidak ada yang mencurigakan. Saat itu banyak tersaji minuman beralkohol sudah sewajarnya banyak yang tumbang karenanya tapi tungguโ" Asri langsung berdiri dari duduknya, saat Asri mengingat sesuatu. Haidar ikut berdiri berharap Asri mendapatkan petunjuk.
"Saat di toilet aku mendengar suara perempuan berbincang lewat telpon. Kalau telingaku tidak salah dengar perempuan itu berkata biarkan jendelanya tetap terbuka, pastikan ular itu keluar dengan sendirinya dan tetap kurung sang burung kalau perlu patahkan sayapnya bila dia berusaha melarikan diri dari sangkar. Saat itu aku langsung keluar karena aku takut ada ular. Apa itu kode atau semacam sandi agar tidak dicurigai oleh orang lain ?" Asri menatap penuh harap Haidar. Asri sangat berharap kalau itu bisa dijadikan sebuah petunjuk.
"Itu sempurna," seringai Haidar.
Asri hanya bengong, penuh pertanyaan dalam benak Asri. Apa yang sempurna dan kenapa Haidar bisa menyebutkan kata sempurna dengan raut wajah gembira seperti sudah tahu siapa penyebab tragedi di pernikahan Freya.
Haidar duduk, dirinya menyeruput kopi dengan santai. Beban dikepalanya serasa terangkat ke udara. Kekhawatirannya sirna, awalnya Haidar sangat khawatir kalau dalang dibalik semua ini nenek Liza karena nenek Liza punya niat untuk menjauhkan Ansel dari Freya. Akhirnya Haidar lega, untunglah bukan nenek Liza. Memang tidak mungkin juga nenek Liza sampai melukai cucu kesayangannya demi menjauhkan Ansel dari Freya.
Saat ini Haidar hanya perlu menyelidiki siapa wanita itu. Haidar teringat cerita nenek Liza kalau anaknya Abhimata tidak terima dicurigai sebagai pelaku dibalik kecelakaan yang menimpa Ansel. Nenek Liza menambahkan kalau Abhi memang pernah melakukan hal yang keji tapi Abhi bukan seorang pecundang, Abhi tidak pernah berbohong pada ibunya. Bila dia melakukan kejahan Abhi tidak pernah menutupi kejahatan tersebut dari orang terdekatnya.
Itu artinya Abhimata juga bukan penyebab tragedi itu. Haidar memacu otaknya lebih keras, mengingat siapa saja yang tidak ia jumpai saat di ballroom. Haidar menaruh cangkir kopinya dengan tergesa kemudian berpamitan pada Asri dan meninggalkan Asri sendirian.
Asri masih mematung, baru kali ini bibir cerewetnya membaku. Asri tidak bisa menghadang kepergian Haidar. Asri merasa Haidar seperti sedang tergesa untuk memastikan sesuatu. Meski ada sedikit rasa kecewa karena Haidar langsung pergi tanpa memberikan informasi apapun padanya, setidaknya Asri sudah mengantongi nomer Haidar.
Bila susana sudah terlihat agak kondusip Asri akan menghubungi Haidar dan mengeluarkan semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Saat ini Asri hanya bisa membuat drap pertanyaan yang nantinya akan ia lontarkan pada Haidar.
Asri hendak membayar, tapi sudah dibayar oleh Haidar. Asri hanya bisa tersenyum menerima kekalahannya pagi ini. Asri melayangkan kepalan ke udara menyemati dirinya agar tetap bersemangat untuk hari ini.
***
Freya memainkan smartphonenya mencuri waktu disela kesibukannya menjadi seorang istri merangkap sebagai koki dan perawat. Freya mendapat pesan dari sahabatnya Flora. Freya hanya tersenyum saat membaca pesan dari sahabatnya. Itu seperti bukan pesan lebih mirip surat protes dan pengajuan proposal untuk mempercepat masa libur Freya. Dirinya hanya bisa membalas pesan dari Flora dengan emoji tertawa sampai menangis.
Freya memang sudah merindukan Flora, wajar saja karena sudah hampir seminggu mereka tidak bertatap muka. Freya juga merindukan kursi singga sananya di kantor. Namun, Freya masih ragu masuk kerja. Hatinya belum siap bertatap muka dengan Liam. Freya terus menipu hatinya, Freya selalu mengingatkan dirinya untuk tetap berada di sisi Ansel. Menyadarkan pikirannya agar selalu rasional apalagi sekarang Ansel masih butuh perawatan dari Freya.
Supnya sudah siap, Freya dengan hati-hati menyajikannya di mangkuk dan membawanya ke kamar dengan sekotak obat dan segelas air putih. Freya menarik napas dalam lalu mengeluarkannya dari mulut perlahan. Freya mempersiapkan dirinya kemudian masuk ke dalam kamar.
Ansel sudah selesai membersihkan diri, terlihat dari pakaian Ansel yang sudah berubah. Sekarang Ansel memakai kaos warna hitam dan celana drawsting pants dengan warna senada.
"Aku buatkan sup, mungkin tidak seenak buatan nenek Liza. Setidaknya ini masih layak untuk dimakan," ujar Freya mulai menyuapi suaminya. Ansel hanya diam tidak merespon ucapan Freya. Ansel menerima suapan demi suapan sup yang disodorkan Freya.
Sup di mangkuk sudah ludes. Saatnya minum obat. Freya menaruh mangkuk kosong di nakas. Membuka kotak putih kecil tempat bersarangnya beberapa butir obat. Freya bersiap menghaluskan obatnya dengan bantuan dua sendok lalu menambahkan sedikit air. Freya menyodorkan sendok nya ke depan mulut Ansel. Mulut Ansel masih tertutup enggan terbuka.
"Apa ini cara baru minum obat ?" Ansel menahan tangan Freya. "Aku lebih suka cara minum obat seperti semalam." Ansel hanya ingin menggoda istrinya. Ansel sangat takjub pada Freya, istri kesayangannya sampai memikirkan beribu cara untuk memudahkannya meminum obat. Kekanakan memang, tapi tidak ada salahnya bila Ansel melakukan hal itu pada istrinya.
Freya memasukan sendok berisi obat yang sudah dihaluskan ke mulut, menelannya dengan cepat dan langsung meneguk air putih. "Tukan obatnya mudah ditelan dan tidak nyangkut lagi ke kerongkongan," jelas Freya membuka mulutnya memperlihatkan kalau obat sudah menghilang dengan mudah dari mulutnya.
Ansel sudah tidak kuat mempertahankan sikap seriusnya. Kekehan keluar dari mulut Ansel. Dirinya tertawa sambil menepuk-nepuk kepala Freya. Mata Freya membulat, kebingungan dengan reaksi yang ditunjukan Ansel.
"Aku yakin sekarang," ucap Ansel disela kekehannya. "Tapi tetap saja aku tidak ingin melakukan bila tidak ada imbalan."
Freya menghela napas, dirinya mulai putus asa. Cara apalagi yang harus dirinya lakukan agar Ansel mau meminum obatnya. Freya heran ada pasien pembangkang seperti Ansel. Pantas saja dokter Afandi sudah lepas tangan dan menyerahkan kewajibannya pada Freya. Ternyata memang sulit membujuk Ansel, padahal ini demi kesembuhannya sendiri.
"Sudah menemukan imbalan yang pantas untukku ?" tanya Ansel lagi melihat Freya masih membeku. "Ini hal yang paling ekstrim yang pernah aku lakukan. Sebaiknya aku mendapatkan imbalan yang bagus untuk ini."
"Ini tidak ekstrim, tidak akan membuat Ansel terluka," kilah Freya. Ansel masih menunggu imbalannya, tidak menerima sanggahan Freya.
Freya menjeda ucapannya lalu berbisik ditelingan Ansel "Mau pijat plus-plus ?"
Ansel terkekeh kembali. Bagaimana seorang Freya bisa berpikir nakal seperti itu. Dalam hati Ansel bersorak menantikannya. "Kenapa harus berbisik ... disini tidak ada orang lain hanya ada kita berdua ?"
"Kata orang dinding juga memiliki mata dan telinga," Freya menoleh kanan-kiri. "Apa itu tidak menarik ?" tanya Freya pelan. Freya sudah tidak punya ide lain lagi.
"Baik ... ayo buatkan obatnya. Aku akan meminumnya untuk sayangku."
Freya segera menghaluskan obat, sebelum Ansel berubah pikiran. Menyuapi ke muluh Ansel. Ansel mengernyit saat rasa pahit melewati pangkal lidah. Ansel meneguk sisa air yang diminum Freya.
"Sekarang imbalannya !" Ansel sudah bersiap menarik bajunya. Bajunya sudah terangkat setengah perut dan dada Ansel sudah terlihat.
Freya mengambil nampan saat Ansel masih kesulitan membuka bajunya. "Imbalannya nanti kalau kaki Ansel sudah sembuh," teriak Freya berlari keluar dari kamar.
Sudah susah payah Ansel membuka bajunya, ternyata dirinya hanya ditipu istrinya. "Aku harus membuang semua T-shit model ini, kemeja memang yang paling cocok untukku," Ansel melempar bajunya. "Freya ... sudah berani menipuku. Semakin berani ... Freya semakin menggemaskan." Ansel menutup wajahnya dengan tangan, menyembunyikan ekspresi malu bercampur senang karena berhasil ditipu Freya. Ansel tertawa melakukan hal bodoh seperti Freya padahal dia hanya sendirian di kamar tidak mungkin dinding punya mata dan menertawakannya.
Next \=>
๐Terima Kasih sudah mampir baca.
๐๐ Jangan lupa like + Komentar + Vote
๐๐๐ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.