Love Shot

Love Shot
Sisi Lemah Ansel



Melihat reaksi Ansel yang tak terduga, terbersit pikiran jahil di benak Freya. "Wajahmu panas ... aku akan segera telpon dokter Afandi ya."


Ansel yang sedang melayang terjatuh seketika mendengar ucapan Freya. "Jangan lakukan itu," Ansel mengernyit menutupi pipinya yang memerah dengan tangan. "Wajahku panas karena ciuman yang benar dari sayangku bukan karena aku sakit."


Freya tersenyum mendengar ucapan Ansel. Hatinya berbunga-bunga mendapatkan pujian dari Ansel. Jika pendengaran Freya tidak salah, Ansel dengan jelas menyebutkan ciuman yang benar. Freya menyimpulkan bahwa itu pujian pertama yang dilontarkan suaminya.


"Memang ciumanku sudah benar ?" tanya Freya memastikan kebenaran ucapan Ansel yang masuk ke telinga Freya.


"Benar ... bagiku ini ciuman yang paling benar," ujar Ansel.


Freya terdiam tidak merespon ucapan Ansel. Dirinya masih memperhatikan wajah tampan Ansel, entah apa yang terjadi rasanya hari ini Ansel berada dipuncak ketampanannya.


Ansel perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Freya. Ansel ingin serasakan kembali sensasi yang luar biasa saat bibirnya menyentuh bibir lembut Freya.


Tinggal satu gerakan lagi supaya Ansel bisa mencecap manisnya bibir Freya. Hasrat Ansel tertahan tangan Freya yang dengan sigap menutup bibir Ansel karena terdengan suara ketukan pintu.


Si*al ... siapa yang berani mengganggu padahal tinggal selangkah lagi .


Ansel mengumpat dalam hati merasa kesal. Terdengar suara seseorang berbicara dibalik pintu.


Ima meminta izin dari balik pintu untuk memasukin kamar tuannya. Ima membawa makanan dan obat yang sudah disiapkan Freya namun masih tertinggal di dapur. Awalnya Ima ragu untuk mengantarkannya langsung takut tuan mudanya marah. Namun setelah lama menunggu Freya tidak juga kembali ke dapur. Akhirnya Ima berinisiatif untuk mengantarkan makanan dan obat itu ke kamar tuan muda Ansel.


Dengan terpaksa Ansel mengizinkan salah satu pembantunya masuk ke dalam.


"Maaf tuan saya mengganggu. Saya mengantarkan bubur dan obat yang sudah nyonya siapkan untuk tuan," ujar Ima menyerahkan nampan berisi semangkuk bubur, air putih dan kotak putih kecil tempat menyimpan obat.


Ansel langsung melemparkan pandangan yang tajam pada Ima. Ansel sangat marah aktifitasnya terganggu hanya untuk makan dan minum obat saja. Padahal itu bukan hal yang penting jika bersama Freya rasa laparnya hilang berganti rasa haus akan kasih sayang dari Freya.


Freya melihat Ima yang menunduk sambil gemetar ketakutan "Iya tadi aku lupa bi. Terima kasih, bibi boleh kembali," ujar Freya menerima nampan dari Ima.


Ima keluar dari kamar Ansel. Ima merasa lega bisa selamat dari amukan tuan mudanya karena sudah lancang mengganggu hanya untuk memberikan hal yang sangat dibenci tuannya.


Freya menoleh ke Ansel, pandangan Ansel yang mengeluarkan aura menakutkan meredup kembali menjadi tatapan manis penuh cinta meski Ansel tidak tersenyum, semua orang pasti mengetahui tatapan seorang King Ansel Cullen yang sedang dimabuk cinta.


Freya fokus kembali pada Ansel, mulai sekarang menjadi tanggung jawab Freya untuk memastikan Ansel makan dan minum obat secara teratur.


"Aku belum lapar," ujar Ansel menolak suapan bubur dari Freya.


"Sudah seharian ini Ansel belum makan. Ansel tidak bisa minum obat bila belum makan. Ayo aaaaaa ... aku suapi," pinta Freya.


"Aku tidak suka bubur!" Ansel menahan sendokan bubur yang mendekat ke mulutnya.


Ansel tersentak mendengar ucapan Freya yang menyebutkan dirinya sebagai suamiku. Sesaat Ansel merasa tersentuh dan hampir terhanyut oleh rayuan Freya. Ansel langsung tersadar saat melihat kotak putih kecil di samping nampan yang tergeletak dipangkuan Freya.


"Memang benar ... aku akan memakan apapun yang Freya siapkan untukku. Tapi bubur ... itu terlihat menjijikan. Belum masuk ke mulut saja aku sudah merasa mual," jelas Ansel mencari alasan agar Freya tidak memaksanya lagi untuk makan.


Freya menarik kembali sendok yang berisi bubur dan menaruhnya di mangkuk. Freya merasa sedih ternyata Ansel tidak suka bubur padahal Freya sudah bersusah payah seharian ini saat Ansel tidur untuk membuat bubur pertama kalinya untuk Ansel.


Freya juga menyadari kalau dirinya salah tidak mengecek terlebih dahulu makanan apa yang dibenci dan disukai Ansel. Freya merasa dikhianati oleh Ima karena Ima tidak mengatakan maupun mencegah saat Freya membuat bubur, padahal Ima sudah bertahun-tahun bekerja dengan Ansel. Freya berpikir seharusnya Ima sudah tahu tentang makan yang tidak disukai tuannya dan memberitahu Freya terlebih dahulu. Freya merasa tidak diterima sebagai nyonya di rumah Ansel.


Kenyataannya Ansel memang sulit jika berhadapan dengan obat. Bukan bubur yang Ansel tidak suka melainkan Ansel tidak suka mengkonsumsi obat. Ansel lebih baik disuntik daripada harus mengkonsumsi obat-obatan. Ansel tidak suka bau dan rasa pahitnya, rasanya seperti obat itu tersangkut di kerongkongan membembuat rasa pahitnya bertahan lama hingga menimbulkan rasa mual.


Ansel tidak mau sisi lemahnya diketahui Freya. Ansel juga tidak ingin ditertawakan lagi oleh Freya karena dirinya sulit minum obat. Oleh sebab itu harus mencari alasan yang tepat agar dirinya terhindar dari yang namanya obat.


Ansel berpikir bila dirinya memakan habis bubur dari Freya setelah itu dirinya pasti disuruh meminum obatnya juga.


"Aku tidak tahu kalau Ansel tidak suka bubur," ucap Freya pelan.


"Buatkan aku makanan yang lain saja, makanan yang lembek ... puding mungkin," ujar Ansel mencoba mereda rasa kecewa yang terlihat jelas dari Freya.


Kalau begitu tunggu sebentar akan aku buatkan puding. Ansel suka puding rasa apa ?" tanya Freya bersemangat kembali.


Ansel menjeda jawabannya. Ansel tidak ingin terus menolak perhatian dari Freya. Ansel mencari ide jahat tanpa dicurigai istrinya. "Aku suka puding peach dengan irisan kiwi, stroberi, dan anggur di dalamnya."


Freya menjeda jawabannya. Freya sedang berpikir bagaimana cara membuat puding yang disebutkan Ansel. "Baiklah ... tunggu sebentar akan aku buatkan." Freya membawa nampan berisi mangkuk bubur dan meninggalkan segelas air putih serta kotak obat dinakas. Freya berjalan menuju dapur sambil memikirkan pesanan Ansel.


Ansel menghela napas lega melihat Freya menghilang di balik pintu.


Aku harus mencari alasan apalagi supaya bisa terhindar dari obat tanpa membuat Freya curiga. Bila aku terus menolak makanan dari Freya ... Freya pasti sedih. Aku tidak mungkin membuat Freya kecewa. Ini semua karena Afa ... dia pasti sengaja. Afa sudah tahu kalau aku tidak bisa mengkonsumsi obat, bisa-bisanya sekarang dia memberikanku berbagai jenis obat.


Ansel mengambil kotak putih, memeriksa isinya lalu melempar kotaknya dengan sekuat tenaga hingga keluar dari jendela kamar yang terbuka.


Bye obat ...


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.