
Matahari sudah hampir berada di atas kepala, sinarnya yang terik menyinari kamar Liam menambah panas suasana hatinya. Liam sudah bangun dari pagi namun dirinya enggan melakukan aktifitas apapun. Liam berharap hari ini hanya mimpi belaka.
Ingin rasanya Liam berteriak sekencang-kencangnya sampai membuat geger satu komplek untuk melampiaskan rasa sesak di dadanya. Apadaya ... pikiran Liam masih waras membuat hatinya yang harus lebih mengalah.
Liam menutup matanya dengan tangan melindungi dari silaunya cahaya sang mentari. Tetesan-tetesan air keluar dari sudut mata Liam.
Aku belum siap untuk hari ini ... mungkin tidak akan pernah siap untuk hari seperti ini.
Hari saat Freya terlihat sangat cantik, memakai gaun putih dengan mahkota menghiasi kepalanya. Berjalan beriringan menuju pelamin sambil bergandengan tangan. Namun yang menggenggam tangan Freya bukan tanganku tapi tangan pria lain. Aku tidak ingin pergi ke sana ... jangan cengeng seperti anak perempuan Liam !Kamu harus jadi anak laki-laki yang kuat. Ayah pasti sedang mengawasiku dari atas sana. Ayah pinjamkan aku sedikit kekuatanmu untuk melewati hari ini.
"Liam, mau jam berapa berangkat ke pesta pernikahan Freya ?" ibu Liam berteriak dari balik pintu.
Liam bangun segera menyeka air matanya. Liam menampar pipinya sekali, menyadarkan dirinya agar segera bangkit dari rasa sakitnya patah hati.
"Sebentar lagi bu. Ibu bersiaplah dahulu, ibu suka lama kalau berdandan," ujar Liam membuka pintu melihat ibunya yang masih duduk menonton tv.
"Iya !" Ibu berjalan menghampiri Liam, mengelus pipi anaknya. "Jadilah pria yang kuat anakku, dan tetaplah berada di samping ibu karena ibu hanya punya Liam di dunia ini."
Mendengar ucapan ibunya pertahanan Liam goyah, tubuhnya tak bertenaga. Liam menangis memeluk ibunya.
"Liam sedang berusaha menjadi anak ibu yang kuat. Mungkin ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan ibu saat membesarkan Liam seorang diri," ujar Liam terisak.
"Liam memang anak ibu yang paling baik. Mandilah dan bersiap. Kamu harus menunjukan pada Freya kalau hari ini tidak ada pengaruhnya pada kehidupanmu," ujar ibu Liam melepaskan pelukannya.
Dengan gontai Liam berjalan ke kamar mandi. Liam mengguyur tubuhnya dengan air dingin, memejamkan matanya di bawah kucuran air shower.
Semua ini pasti berlalu meski mungkin harus membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melupakanmu ... Freya. Mungkin ini sudah takdirku, aku harus menerimanya dengan hati yang lapang.
***
Haidar sampai ke ballroom hotel menerawang ke segala penjuru mencari keberadaan Liam. Tak nampak batang hidung Liam sama sekali. Haidar membuka satu kancing jasnya kemudian duduk di dekat nenek Liza.
"Siapa yang kamu cari nak ?" tanya nenek Liza.
"Mencari mantan pacar Freya. Bos memberi mandat jika Ley memakai jas aku harus membukanya. Khusus hari ini Ley dilarang keras terlihat lebih tampan dari cucu kesayangan nenek," ujar Liam menyeringai.
"Ansel terlalu berlebihan. Memangnya ada orang yang bisa mengalahkan ketampanan cucu-cucuku," ucap nenek Liza terkekeh.
"Tentu saja tidak ada, tapi Liam itu mempunyai aura malaikat, saat dia tersenyum seperti keluar cahaya dari tubuhnya membuat hati siapa saja yang melihatnya terasa hangat. Sepertinya Ley tidak akan hadir saat akad, mungkin dia hanya akan hadir saat pesta perjamuan saja. Itu bangus berarti dia pria yang peka," jelas Haidar dengan mata berbinar.
"Kamu terlalu berlebihan. Jangan bilang kamu mengagap Ley sebagai malaikat karena ada Ansel yang beraura gelap seperti setan ?" tanya nenek Liza.
Haidar menyeringai lalu menggangguk membenarkan dugaan nenek Liza. Nenek liza hanya menggeleng sambil tertawa melihat tingkah lucu Haidar.
"Ibu, bagaimana kabar ibu ?" sapa Abhimata berjongkok memberi salam pada Elizabeth.
"Baik ... Abhi sendirian saja ? dimana anggota keluargamu ?" tanya nenek Liza.
Haidar berdiri, memberi salam pada Abhimata kemudian berlalu meninggalkan nenek Liza dan Abhimata. Haidar memberi ruang agar mereka bisa berbincang kembali setelah lama tidak bertemu.
"Aku kesini bersama Istriku, Saras sedang ke toilet dulu. Alia tidak bisa hadir karena dia sedang mendampingi suaminya berobat ke luar negeri. Kalau si kembar Kamila dan Kamili mereka sedang ujian akhir jadi tidak bisa ikut. Ibu sudah bertemu dengan Wardhana ?" Abhimata duduk di samping ibunya.
"Wardhana ?! dia belum menyapa ibu. Mungkin dia masih sibuk karena dia yang mempersiapkan semua keperluan pernikahan Ansel. Meskipun mendadak dan hanya menyisakan waktu sedikit, syukurlah Wardhana bisa menyiapkan semuanya dengan sempurna dan Indar." Nenek Liza memuji cucunya.
"Aku senang bila sekarang ibu sudah memperhatikan anakku. Aku yang bersalah ... aku mohon pada ibu jangan libatkan mereka. Bila ibu belum bisa memaafkanku itu memang karmaku karena telah mencelakai adikku abi tapi ibu sudah cukup menjauhkan diri dan tidak bersimpati pada anak-anakku. Saras sangat sedih karena sikap ibu," ujar Abhimata.
"Jangan bahas itu di sini Abhi. Ini momen bahagia yang sangat cucuku nantikan jangan membuat moodku rusak hanya karena kesalahanmu," ujar nenek Liza memperingati Abhimata.
"Arthur cucu nenek yang tampan." Nenek Liza memeluk Arthur.
Hanya Arthur dan Ansel yang ibu anggap cucu. Anak-anakku ibu anggap apa ?
Abhimata terdiam sorot matanya mengungkapkan kekecawaan yang mendalam pada ibunya.
"Kak Abhi, aku kangen !" Angela memberikan pelukan hangat pada Abhimata.
"Kakak juga kangen pada adikku yang cengeng," Abhi melepaskan pelukannya, Angela masih bergelayut manja merangkul tangan Abhi. "Apa kabar Leon ? lama tidak bertemu."
"Baik kak. Aku kira kakak tidak akan hadir karena selama ini sepertinya kakak tidak tertarik dengan keluarga King lagi," ujar Leon.
"Sepertinya aku harus meluruskan pemahamanmu Leon. Aku bukan tidak tertarik dengan keluarga King tapi lebih tepatnya aku tidak dianggap sebagai keluarga King lagi," jelas Abhimata.
Leon hanya terdiam tidak ingin terlibat lebih dalam dengan urusan keluarga King meski dirinya merupakan salah satu menantu di keluarga King.
Penghulu, para saksi dan kerabat terdekat dari keluarga King serta keluarga Freya sudah hadir namun Ansel belum terlihat hadir.
"Halo ... Nenek, tante, om, Arthur kecil," sapa pria tampan berbadan tegap dan bermata coklat terang.
"Halo sang penakluk kaum hawa, keponakanku yang paling keren King Wardhana," ujar Angela memeluk gemas Wardhana.
"Hentikan tante!" Wardana berusaha melepaskan pelukan Angela, "Aku bukan anak kecil lagi, jangan memelukku sembarangan. Jika ada salah satu pacarku yang lihat bisa gawat."
"Owh ... salah satu berarti pacarmu lebih dari satu ya," goda Angela.
Wardhana hanya menyeringai. Semuanya hanya tersenyum melihat keakraban Wardhana dan Angela. Angela memang selalu bisa membawa senyuman bagi keluarga King.
"Wardhana di mana Ansel ? Acara akan segera dimulai," ucap nenek Liza.
"Hari ini aku sangat sibuk jadi belum bertemu dengan Ansel. Seharusnya nenek bertanya pada Haidar karena mereka seperti kembar siam yang tidak bisa terpisahkan," jelas Wardhana.
"Kemana juga perginya Haidar," Nenek Liza mencari Haidar namun tak juga melihat haidar. Nenek liza menghubungi Haidar dan Ansel bergantian namun tidak ada yang mengangkat telepon darinya. Nenek Liza mulai panik.
"Wardhana coba kamu cek ke kamar Ansel," pinta nenek Liza.
Wardhana bergegas berlari menuju kamar Ansel. Ibu Freya menghampiri nenek Liza menanyakan keberadaan Ansel karena Freya sudah siap. Nenek Liza meminta ibu Freya untuk menunggu sejenak karena nenek Liza beralasan Ansel masih belum selesai bersiap.
Ibu Freya percaya lalu berlalu untuk menghampiri anaknya. Wardhana menelpon Angela memberi kabar bahwa Ansel tidak ada di kamarnya. Tubuh nenek Liza terhuyung hampir jatuh. Abhimata merangkul pundak ibunya. Nenek Liza menepis tangan Abhimata dan terduduk dengan wajah yang memucat.
"Abhi apa ini perbuatanmu ?" tanya nenek Liza mencurigai Abhimata.
"Serendah itukah aku di mata ibu." Abhimata melangkah menarik tangan istrinya yang baru kembali dari kamar mandi kemudian berlalu meninggalkan ballroom.
"Ibu tenang dulu ... bila ibu terlihat panik keluarga dari mempelai wanita pasti lebih panik." Angela menenangkan ibunya. "Leon coba minta bantuan Inder dan bawahannya untuk mencari Ansel. Arthur tetap di sini sama mamah, Papah akan mencari om Ansel dulu."
Leon bergegas menelepon dan berjalan keluar dari ballroom.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.