Love Shot

Love Shot
Kemesraan Dipenghujung Cuti



Semalam sesuatu telah terjadi. Ansel sudah merasakan apa itu kenikmatan surga dunia. Ansel menyeringai, dirinya puas akhirnya bisa menyombongkan diri kepada Haidar. Bisa menutup mulut Haidar yang selalu membanggakan dirinya karena sudah sering tidur dengan banyak wanita. Ansel mengernyit memikirkan bagaimana sahabatnya bisa dengan mudah berganti-ganti wanita. Tidak ada alasan lagi bagi Haidar untuk menjadikan Ansel sebagai bahan cemoohan. Ansel masih tersenyum mengagumi kulit punggung Freya yang putih. Sesekali dirinya menyentuh punggung mulus Freya. Ada pergerakan saat Ansel jahil menyentuh Freya. Namun, Freya hanya bergerak sedikit lalu melanjutkan lagi tidurnya.


Ada rona di pipi Ansel saat mengingat kejadian semalam, hasratnya juga ikut terusik kembali. Ansel tidak ingin membangunkan Freya, kali ini Ansel hanya memandangi Freya tanpa ada sentuhan fisik. Ansel membiarkan istrinya tidur lebih lama, beristrahat dari kelelahan yang menyelimuti tubuh rampingnya. Berkat hasrat Ansel yang menggebu semalam dirinya kehilangan kendali. Tidak mungkin Ansel harus menyiksa Freya kembali, meski itu siksaan yang dinikmati oleh Freya juga. Ansel turun perlahan, sebisa mungkin memperhalus gerakannya agar Freya tidak terganggu. Ansel berlalu ke kamar mandi, meredakan hasratnya yang bangkit kembali seorang diri.


Beberapa menit telah berlalu, Ansel keluar kamar mandi. Berganti dari jubah mandi ke baju tidur kimono. Ansel sengaja tidak memakai baju kebangsaannya alias kemeja. Ansel akan menunggu Freya memilihkan baju untuknya. Ansel berjalan ke arah Freya memberi kecupan mesra di pipi Freya sembari tangannya meraih smartphone di atas nakas.


Ada sesuatu yang lembut dan basah menyentuh pipi Freya, dirinya yang masih enggan membuka mata hanya mengelap pipi menghilangkan sensasi dingin dari sana kemudian menyamankan posisi dan tidur kembali. Ansel merasa gemas melihat tingkah istrinya. Ansel membenarkan selimut, menutupi tubuh Freya sambil mencium pipi Freya kembali. Freya melakukan hal yang sama lagi pada bekas kecupan suaminya. sudut bibir Ansel terangkat, dirinya menggelengkan kepala tidak percaya Freya menghapus bekas ciumannya kembali.


Ansel melangkah ke dapur sudah ada bi Ima menyambut kehadirannya. "Tuan mau saya buatkan sarapan ?"


"Buatkan aku roti bakar dengan selai coklat kacang serta segelas susu," pinta Ansel duduk di kursi makan seorang diri sambil tangannya mulai sibuk mengecek notifikasi di smartphone.


Ima mengguk segera melaksanakan titah tuan mudanya. Ima menyadari ketidak hadiran nyonya besarnya. Ima tidak ingin mengusik tuan muda yang sedang sarapan dengan rasa penasaran Ima.


"Bi siapkan juga sarapan untuk nyonya. Menu yang sama saja, hanya selai ganti dengan coklat strawberry dan segelas susu coklat sajikan di nampan. Aku akan membawanya ke kamar," Suruh Ansel menikmati sarapannya.


"Nyonya sakit tuan?" tanya Ima, memberanikan diri. Ima khawatir jika Freya sakit tanpa sepengetahuan Ima.


Ansel menjeda jawabannya. Ansel memikirkan dengan matang pertanyaan yang dilontarkan Ima. Bagaimana Ima bisa mengetahui kalau Freya kesakitan. Wajar bila sakit untuk pertama kalinya. Apakah Ima melihat adegan semalam atau mungkin karena Ima juga seorang perempuan jadi Ima mengerti keadaan Freya sekarang. Ansel membatin. Ansel berdehem meminta Ima sekalian menyiapkan obat pereda nyeri. Ima tidak protes langsung melaksanakan permintaan tuannya. Memang tidak ada kewajiban bagi tuan mudanya untuk menjawab pertanyaan dari Ima.


Ansel tidak menghabiskan rotinya, rasa laparnya tiba-tiba menghilang teringat Freya yang kesakitan berkat ulahnya. Ansel meneguk susu untuk meredakan kerongkongan yang terasa kering, kemudian segera bergegas menuju kamar dengan nampan berisi sarapan dan obat untuk Freya ditangan Ansel.


"Sayang, bangun. Ayo sarapan dulu, nanti bisa tidur lagi setelah sarapan!" Ansel mengelus pipi Freya lembut. Tidak ada tanda-tanda Freya merespon ucapan Ansel. Freya masih asyik bergelut dengan dunia mimpi. Ansel menyeka rambut Freya ke atas, mengelusnya dengan lembut. Ansel masih berusaha membangunkan Freya.


Ada pergerakan dari istrinya, Freya mulai mengucek mata, membukanya perlahan. Setelah sadar ada Ansel duduk dihadapan Freya. Freya juga bergerak duduk meski dirinya sedikit mengernyit merasakan ngilu di area sensitifnya. "Pagi sayang." Ansel menyecup kening Freya.


Freya masih terdiam, belum merespon sapaan dari Ansel. Nyawa Freya belum terkumpul sepenuhnya. "Mau minum?" Ansel menyodorkan segelas susu. Freya menerima, meneguknya sedikit dan memberikan kembali pada Ansel.


"Mau makan roti?" tawar Ansel.


"Tunggu sebentar, akan ku siapkan air hangat dulu," ujar Ansel.


"Tidak perlu, biarkan Anne saja yang meyiapkan keperluanku hari ini," Freya memicingkan mata memperhatikan pakaian Ansel. "Kenapa masih pakai baju tidur ?"


"Aku suka baju ini," sanggah Ansel.


"Benarkah?" tanya Freya tidak yakin dengan ucapan suaminya. Itu pasti hanya sebuah kebohongan karena seorang Ansel selalu memperhatikan kerapihannya.


"Aku akan berganti pakaian setelah memandikan dan memakaikan pakaian untuk istriku," ujar Ansel membantah kecurigaan Freya.


"Tidak perlu, biar Anne saja!" tolak Freya, dirinya tidak enak bila harus diurusi oleh Ansel. Freya lebih suka diurusi oleh Anne. Rasanya malu juga harus menampakan tubuh polos Freya kepada Ansel. Lebih baik dengan Anne karena Anne seorang perempuan juga sudah pasti Anne lebih telaten daripada Ansel.


"Aku tidak mau ada penolakan," ujar Ansel masih berbicara halus meski didalamnya terselip penegasan akan dirinya yang tetap ingin melakukan apapun sesuai keinginan Ansel tanpa memperdulikan Freya merasa keberatan atau tidak. Ansel tetap seorang yang egois.


Freya menunduk, tidak ada ucapan penolakan lagi dari bibir manisnya. Freya menyadari dibalik sikap lembut dari Ansel masih ada Ansel yang pemarah dibalik itu. Ansel mengecup kening Freya yang tertunduk takut, Ansel berbisik kalau dirinya tidak marah pada Freya. Ansel hanya ingin dirinya diberi kesempatan untuk mengurus Freya hari ini sebelum Freya kembali beraktifitas seperti biasanya besok. Ya itu alasan yang tepat, memang hari ini penghabisan masa cuti Freya. Freya tidak bisa menolak keinginan Ansel. Setidaknya besok dirinya bisa kembali ke kantor dan bercengkrama kembali dengan sahabatnya Flora.


Air hangat sudah siap, Ansel menggendong Freya ala bridal style. Freya merekatkan pelukan di leher Ansel. Freya takut jika Ansel terpeles hingga membuat Freya terjatuh dari gendongan Ansel. "Ansel perlahan," pinta Freya.


"Tentu saja ... aku tidak akan membuat Freya kesakitan," ujar Ansel. Ulahnya semalam tidak masuk hitungan. Ansel memasukan Freya perlan ke bathtub yang penuh dengan busa. Membantunya menggosok tubuh Freya dari ujung ranbut hingga ujung kaki. Muncul rona di pipi Freya saat Ansel mulai membantu dirinya mandi.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.