Love Shot

Love Shot
Percikan



Freya turun mendahului Ansel. Freya masih agak sebal pada Ansel karena menyembunyikan sesuatu dari Freya, padahal Freya juga punya beberapa rahasia. Meski begitu, tetap saja terbersit rasa kesal di hati Freya. Freya bergeming, bergerak mundur memastikan kembali kebenaran alamat rumah yang pernah Freya tempati selama dua puluh enam tahun. Melihat nomor rumah yang menempel di gerbang masih sama, Freya yakin ini rumah ibu. Freya masuk ke rumah dua lantai yang masih dalam tahap renovasi. Terasa asing saat menapaki lantai kramik yang sudah berubah menjadi marmer. Freya disambut seorang wanita seumuran dengan ibunya. Freya bertanya-tanya siapa dia, sedang apa dia dirumah Freya.


Ansel membuntuti Freya dari belakang dengan menjingjing beberapa tas di tangan. Keluar Anisa dari arah dapur. Menyapa menantunya yang terlihat kerepotan membawa barang bawaan. Anisa menuntun mereka ke ruang tv. Disana ada Daniel sedang menggendong Acila kecil. Seperti biasa Amor semangat menyapa kakak iparnya, siapa sebenarnya menantu di rumah itu. Freya atau Ansel, pasalnya Freya selalu dinomor duakan bila sedang bersama Ansel.


"Daniel beli mobil baru?" tanya Freya. Daniel menggeleng. "Mobil unggu ... itu mobil mahal, milik Pak RT?" terka Freya. Setahu Freya hanya Pak RT yang suka parkir mobil seenaknya di depan rumah orang.


"Itu odyssey warna premium spice purple pearl," ujar Amor.


"Owh ... terlihat ungu bagiku," seringai Freya duduk didekat Amor. Ansel menghampiri Daniel yang sedang menggendong Acila kecil. Meminta untuk memindahkan Acila ke gendongan Ansel. Daniel memberikan Acila ke dalam gendongan kakak iparnya. Ansel sudah mulai terbiasa menggendong, terlihat dari Acila yang anteng saat digendong Ansel.


"Tidak penasaran milik siapa mobil yang terparkir di depan rumah?" goda Amor. Freya mengiyakan godaan Amor. Amor menunjuk Ansel yang sedang menggendong Acila.


"Ansel ?! aku belum pernah melihat mobil itu terparkit dirumah, jangan bercanda!" Freya melayangkan pandangan pada Ansel. "Itu mobilmu?"


Ansel menggeleng, "Itu milik ibu."


Freya terdiam, sepertinya sedang terjadi konspirasi. "Dari mana ibu mendapatkannya?"


"Dari Ansel. Waktu Amor akan keluar dari rumah sakit Ansel mengirim mobil beserta supir sebagai permintaan maaf karena tidak bisa ikut mengantar kepulangan Amor," jelas Anisa baru datang dengan membawa teh dan cemilan.


Freya menatap suaminya. Apalagi yang suaminya sembunyikan dibelakang Freya. "Wah ... jadi dari tuan sultan. Rumah ini juga sedang dalan tahap renovasi. Ibu dapat suntikan dana dari tuan sultan juga?"


"Aku ... hanya menyumbang sedikit," potong Ansel, segera kembali fokus pada Acila menghindari tatapan penuh curiga dari Freya.


Freya tidak bisa berkata apapun lagi. Pantas saja perlakuan mereka berbeda pada Ansel. Freya tidak melarang Ansel melakukan apapun, Freya hanya ingin Ansel berbicara kepadanya terlebih dahulu sebelum memberikan sesuatu pada keluarga Freya. Ansel terlalu baik hingga bisa dimanfaatkan oleh ibu, Amor dan Daniel. Ibu dan Amor juga tidak memberi informasi apapun pada Freya. Jika saja Ansel tidak rindu pada Acila kecil. Mungkin saja Freya tidak akan tahu. Freya selalu menjadi orang yang terakhir tahu. Freya tidak lagi mengenal keluarganya. Freya serasa telah dijual kepada Ansel. Sebagai gantinya keluarganya menjadi parasit bagi Ansel.


Freya merasa sendirian disaat sedang berkumpul dengan keluarganya sendiri. Freya teringat pada ibunya Liam. Ibu Liam tidak suka pada Freya karena Freya tidak punya apa-apa jika dibandingkan dengan Kyra. Freya kira keluarganya berbeda, ternyata sama saja. Hanya dirinya saja yang naif. Memandang rendah ibu Liam yang melihat seseorang dari harta mereka.


Mereka berbincang-bincang bersama. Freya sama sekali tidak bisa mencerna pembicaraan mereka. Hanya sesekali menjawab saat melontarkan pertanyaan padanya. Freya ingin pulang. Entah Freya harus pulang kemana. Rumah ini bukan rumah Freya lagi, memang bukan rumah Freya tapi rumah ibunya. Setidaknya dulu ada kamar kecil untuknya. Sekarang kamarnya sudah tidak ada berubah menjadi ruang tamu yang luas karena yang tadinya ruang tamu akan dijadikan garasi untuk menyimpang kuda besi ibu. "Bu dimana kamar Freya?"


"Aduh ... kalian mendadak datang, jadi belum ibu siapkan kamar. Rumahnya masih dalam tahap renovasi," ujar Anisa.


"Tak apa bu, lain kali saja menginapnya. Kalau rumah ini sudah selesai direnovasi," ujar Ansel menyerahkan Acila kecil yang tertidur ke pangkuan Amor.


"Nak Ansel, kalau tidak aral melintang akhir bulan ini Amor akan mengadakan resepsi pernikahan mereka. Tapi Amor belum mendapatkan gedung yang cocok. Menurut Ansel bagaimana baiknya?"


"Ibu tidak perlu sungkan, Daniel merupakan salah satu aktor yang bernaung di The King Entertainment juga sebagai kakak ipar, sudah sepantasnya aku menyiapkan gedung untuk resepsi pernikannya. Daniel tinggal utarakan saja pada Jarvis, biar dia yang mencarikan gedungnya. Untuk biaya biar The King Entertainment yang menanggung," ujar Ansel.


"Terima kasih, nak Ansel memang selalu bisa diandalkan," puji Anisa pada menantunya.


"Ansel ayo pulang aku lelah," pinta Freya.


"Semuanya kita pamit dulu. Lain kali kita pasti mampir lagi. Freya butuh istirahat. Dah Acila kecil," ujar Ansel mencium punggung tangan Acila.


Freya hanya diam tidak berpamitan seperti Ansel. Freya sudah jenuh, semakin lama Ansel ada di rumah ini. Pasti semakin banyak juga permintaan dari keluarganya. Sudah bisa ditebak Ansel pasti dengan senang hati mengabulkan setiap permintaan dari mereka.


Tidak ada percakapan apapun selama perjalanan bahkan ketika sampai dirumah Freya masih enggan berbicara dengan Ansel.


Freya meninggalkan Ansel sendirian di meja makan. Diamnya Freya Ansel anggap hanya karena efek kelelahan saja. Namun, setelah Freya berpamitan secara formal, Ansel menyadari ada yang tidak beres dengan istrinya. Ansel menyusul Freya, pintu kamar terkunci dari dalam. Ansel beberapa kali mengetuk, meminta Freya membuka pintu tapi tak ada tanda-tanda Freya akan membiarkan Ansel masuk. Ansel memanggil Sam memintanya mengambil kunci cadangan. Kunci sudah ditangan Ansel, tetap saja pintu tidak bisa dibuka. Pasalnya kunci menggantung dari dalam hingga Ansel tidak bisa memasukan kunci lagi dari luar.


"Freya buka pintu," bentak Ansel. Emosinya mulai terpancing, tidak mengerti dengan perubahan sikap Freya. Ansel menunggu sejenak, tetap tidak ada itikad baik dari Freya. Akhirnya Ansel menyuruh Sam mendobrak pintu. Sam mengambil ancang-ancang, menendang pintu sekuat tenaga hingga kuncian pintu rusak dan pintu terbuka. Ansel menyuruh Sam meninggalkannya. Ansel masuk ke kamar, terlihat Freya menggulung seluruh tubuhnya dengan selimut.


Ansel duduk di tepian kasur. Menyentuh tubuh yang dibalut selimut, Freya bergerak maju bermaksud menghindari sentuhan Ansel yang berikutnya, "Freya sakit?" tanya Ansel, hanya keheningan yang Ansel dapatkan. "Ada apa?" tanya Ansel lagi.


Freya masih tidak mau menjawab. Ansel menarik selimut dengan paksa, terlihat wajah Freya yang memerah serta rambutnya yang acak-acakan. Ansel mengulurkan tangan untuk merapihkan rambut Freya. Belum sampai jemarinya menyentuh rambut, Freya sudah lebih dulu menepis tangan Ansel. "Freya!" bentak Ansel tidak terima dengan penolakan istrinya. Freya terisak takut dengan bentakan Ansel.


"Maaf ... aku tidak bermaksud memarahimu, hanya saja aku tidak mengerti apa yang harus aku lalukan jika Freya mendiamkanku," ucap Ansel.


"Aku hanya sedang ingin sendiri. Aku sudah tidak punya tempat untuk tinggal. Bila di rumah ini juga tidak ada tempat untukku. Aku akan pergi," ujar Freya beranjak berdiri.


Ansel mendekap Freya, "Ini rumah Freya. Jika Freya tidak suka tinggal disini, kita bisa pindah ke tempat yang Freya inginkan. Tapi tidak sekarang, sudah malam. Besok aku akan mengantar Freya mencari rumah baru."


"Ini rumah Ansel bukan rumahku. Lepaskan Ansel," bentak Freya.


Ansel mengurai pelukannya, mengangkat kedua tangannya ke udara. Freya sedang emosi sekarang. "Apa salahku? apa ini karena mobil yang ku berikan pada ibu atau karena aku membantu ibu merenovasi rumah? katakan dimana salahku? agar aku bisa secepatnya memperbaikinya."


"Tuan King Ansel Cullen tidak salah apapun, hanya aku saja yang terlalu naif," lirih Freya.


"Maaf jika yang aku lakukan salah dan menyinggung harga diri Freya. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin diakui oleh keluarga istriku. Aku hanya ingin lebih mengikatmu. Aku takut Freya meninggalkanku. Jika cintaku belum bisa membuat hati Freya bergetar, aku berharap Freya bisa mempertimbangkan aku karena harta yang ku miliki," urai Ansel mengatakan dengan jujur tujuannya.


Freya bertepuk tangan, "Aku sedang berusaha sekuat tenaga agar bisa mencintaimu. Tidak bisakah kamu percaya perkataanku. Aku tidak akan meninggalkanmu meski pernikahan ini tidak dilandasi oleh cinta. Tidak perlu membuatku merasa rendah. Dengan membeli ku dengan hartamu."


Ansel berlutut, dirinya memohon ampun atas kesalahan yang telah ia perbuat.


"Aku ingin sendirian. Tinggalkan ruangan ini," ucap Freya.


"Maaf ... aku mengaku salah. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku," harap Ansel.


"Aku akan mempertimbangkannya tapi sekarang aku ingin sendiri," desak Freya. Ansel masih enggan beranjak, masih berlutut dihadapan Freya. "Bila Ansel tidak mau keluar, biar aku yang keluar," ancam Freya.


Ansel beranjak pergi meninggalkan kamar. Ansel masih berdiri di depan pintu. Memukul tembok dengan sekuat tenaga melampiaskan rasa kesal dengan tingkahnya yang ceroboh. Cintanya yang begitu besar pada Freya membuatnya gelap mata hingga melakukan hal bodoh. Bahkan di saat tersudurpun, air mata Ansel tidak menetes. Jika saja air matanya menetes, mungkin saja Freya merasakan kesungguhan dari kata maaf yang terlontar dari bibir Ansel.


"Si*l," umpat Ansel.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.