
Warna jingga kemerahan memenuhi langit perlahan berubah menjadi gelap. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat Freya masih belum menyelesaikan berkeliling rumah Ansel dengan Anne sebagai tur guidenya. Banyak hal yang menarik dirumah ini. Bagi seorang dari keluarga sederhana seperti Freya rumah ini terlalu besar jika hanya dihuni oleh Ansel seorang diri. Walaupun memang tidak bisa dikatakan seorang diri karena ada beberapa pelayan setia menemani serta membantu Ansel untuk merawat rumah ini.
Sekrang Freya percaya dengan ucapan Ansel kalau rumah satu petak hanya cukup untuk membuat kamar mandi saja, Ansel butuh tanah satu komplek penuh jika ingin membuat rumah baru. Freya tersenyum teringat betapa sombong suaminya kala itu. Sombong tanda mampu gumamnya.
Freya berhenti di depan pintu ruangan paling sudut di lantai dua. Freya masih termenung di depan pintu. Freya merasa ragu untuk masuk ke sana. Karena pintunya sangat berbeda dengan pintu-pintu yang ada di rumah Ansel. Pintu hanya terbuat dari kayu biasa tidak ada ukiran seperti pintu lainnya ataupun gagang pintu. Pintu tidak dikunci, tinggal didorong saja langsung terbuka.
"Ini ruangan kesukaan tuan muda," ujar Anne berbicara pelan.
"Benarkah ?" Freya ragu dengan ucapan Anne, jika ruangan yang akan dia masuki adalah ruang kesukaan Ansel. Kenapa seperti pintu gudang. "Ini gudang ?"
Anne hanya mengguk mengiyakan ucapan nyonyanya. Freya semakin merasa aneh bagaimana bisa gudang menjadi ruangan ke sukaan Ansel. Menurut cerita Anne tidak ada yang boleh masuk ke sana selain tuannya dan petugas kebersihan yang ditunjuk lansung oleh Ansel. Tentu saja Semua mematuhi perintah tuannya, bahkan meski pintu tidak dikunci tidak akan ada yang berani masuk. Freya sudah memaksa Anne tapi Anne tetap dengan pendiriannya. Anne tidak bisa dan tidak mau ikut masuk.
Freya terpaksa masuk seorang diri, dadanya berdebar. Awal memasuki ruangan Freya disuguhi lorong gelap yang panjang.
Tuk ... Tuk ...
Freya bergidik mendengar suara langkah kakinya sendiri yang menggema di lorong. Freya sesekali menoleh ke belakang, menyakinkan dirinya kalau bunyi ketukan itu memang bunyi yang dihasilkan dari kakinya meski Freya tidak memakai sandal berhak. Freya memastikan tidak ada yang membuntuti dari belakang. Freya hampir terjatuh tak menyadari perbedaan tinggi lantai, tangannya tak sengaja menyentuh dinding. Kemudian lampu menyala menampakan semua benda yang ada diruangan.
Ada deretan buku berjejer rapi disana. Freya melangkah mendekati salah satu rak. Freya mengamati, lalu mengambil salah satu buku. Freya meluruskan kakinya, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang sudah tersedia disana. Freya membuka halaman pertama, ada gambar dua bintang, tanggal serta tanda-tangan seseorang. Freya yakin itu tulisan Ansel serta tanda tangannya karena dibawaknya tertulis King Ansel Cullen.
Freya tersenyum saat membuka halaman berikutnya disana ada catatan yang ditulis suaminya. Freya tersenyum karena mengetahui salah satu hal yang disembunyikan Ansel. Ruangan ini tak lagi menyeramkan, diluar perkiraan Freya bukan hal yang mengerikan yang disembunyikan Ansel. Suaminya hanya menyembunyikan ratusan novel romantis disana.
Mungkin ini juga ada hubungan dengan pekerjaan Ansel sebagai seorang direktur The King Entertaiment. Berkat catatan yang ditinggalkan Ansel senyuman terus terukir dibibir Freya. Disetiap lembar ada saja hal janggal ditemukan Freya. Ada beberapa perkataan ditandai dengan pensil warna, ada juga yang hanya diberi garis bawah lalu Freya menemukan dibebera lembar ada kertas note menempel disana.
Ansel sepertinya sedang meneliti tentang apa itu cinta. Ansel selalu memberi catatan pada setiap narasi yang menurutnya janggal. Suaminya sudah seperti editor. Ada satu halaman dibuku itu, membuat Freya merasa tersentuh. Bukan karena isi ceritanya namun karena kali ini bukan kertas note melainkan sepucuk surat yang diselipkan disana. Freya membuka suratnya.
****Dear Cinta ...
Tidak ada yang aku ketahui tentangmu, meski telah ku baca ratusan kisah yang menceritakan dan mengagungkan namamu. Namun, tetap saja aku tidak mengerti dirimu. Aku bukan penyair bukan pula seorang pujangga. Aku hanya seseorang yang berharap bertemu dengan mu.
Jika hanya karena mu, bisa membuat seorang pria yang banyak merayu wanita dalam kesehariannya. Bisa berubah ketika mereka ingin tidur, mereka hanya akan memikirkan satu wanita yang mereka sukai. Melakukan segalanya demi menjangkaumu dengan cara putih maupun hitam.
Itu terdengar asing bagiku ...
Aku seorang Pria ...
Bagaimana aku bisa merayu banyak wanita jika aku tidak mengenalmu. Saat aku ingin tidur tidak ada bayangan satupun wanita disana.
Ini aneh ... atau aku yang aneh ?!
Bagiku yang seorang egois dalam kehidupan, dirimulah satu-satunya yang aneh.
Cinta**** ...
Freya menutup bukunya, dirinya tersentuh dengan kepolosan Ansel disela kesepiannya. Freya tak mampu merampungkan bacaanya. Freya bergegas keluar membawa buku dalam dekapannya. Anne yang sejak tadi menunggu dengan setia majikannya, terkaget saat Freya keluar dan tergesa melangkah. Banyak pertanyaan dalam benak Anne. Sayang Anne tidak bisa mengungkapkan isi hatinya karena Freya lebih dulu menyuruh Anne untuk kembali dan beristirahat karena Freya juga akan segera istirahat.
Padahal tinggal satu langkah lagi Freya sudah bisa masuk ke kamar Ansel yang sekarang menjadi kamar mereka berdua. Freya dikejutkan dengan suaran bentakan Ansel. Freya mendekatkan telinga ke pintu berharap bisa mendengar percakapan di dalam. Namun, tidak ada suara yang bisa Freya dengar. Pintu terbuka, Haidar keluar dari sana. Haidar sangat terburu-buru sampai tidak sadar kalau Freya berdiri disampaing pintu.
Freya melangkah masuk.
"Apalagi ?" bentak Ansel tanpa melihat siapa yang masuk ke kamar, matanya masih tertuju ke layar smartphone.
Freya membatu, sederet pertanyaan tentang ruang rahasia Ansel langsung menghilang dari pikirannya. Bentakan Ansel membuat ciut keberanian Freya. Rasa tersentuhnya dengan kepolosan Ansel ikut berguguran berkat kemarahan Ansel. Freya menyembunyikn buku yang ia bawa, melemparkannya perlahan ke bawah nakas.
Ansel mengalihkan pandangannya karena tidak ada jawaban dari lawan bicaranya. Ansel ikut terdiam saat melihat Freya yang ada diruangan bukan Haidar. Menyesal Ansel telah membentak istrinya sampai wajah Freya memucat. "Kemari !"
Freya masih enggan melangkah, dirinya masih takut dengan Ansel. "Ucapanku bukan untuk sayang, tadi untuk Haidar. Mendekatlah !" bujuk Ansel.
Freya melangkah masuk ke dalam selimut, meringkuk didalam sana menghindari tatapan Ansel yang menyeramkan. Freya memejamkan mata berharap Ansel tidak mengusiknya.
"Maaf," bisik Ansel.
Tubuh Freya bergetar, air matanya mengalir. Teringat kembali sisi Ansel yang polos dan kesepian. Freya bingung harus bagaimana dirinya menghadapi Ansel. Freya tidak tahu kenapa dirinya menangis. Ansel menarik selimutnya, memperhatiakan Freya yang masih menutupi wajah dengan tangan. Ansel mendekati Freya membisikan lagi kata maaf dengan lembut ditelinga Freya. Kali ini Freya tidak bisa lagi menahan luapan emosi. Isakan meluncur dengan mulus dari bibirnya.
Freya menggeleng, tidak tahu jawaban apa yang harus dirinya ucapakan.
"Aku membuatmu takut ?" Ansel menunggu reaksi Freya.
"Bisakah tidak marah-marah," Freya terisak, air mata masih mengalir dari sudut matanya. "Aku takut."
"Akuโ" Ansel tidak bisa melanjutkan ucapanya. "Maaf," ucap Ansel.
Maaf karena tidak sengaja membentak Freya dan maaf karena aku tidak bisa berjanji tidak akan marah-marah lagi.
Ansel mengkungkung tubuh Freya, menyeka air matanya perlahan. Mengecup bergantian kedua pipi Freya.
Freya mengangkat pinggang, merangkul leher Ansel. "Maaf, aku membuat Ansel ikut kebingungan bersamaku. Ada rasa kecewa karena sikapmu selalu berubah-ubah. Membuat keyakinanku ikut terombang ambing karenanya. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan darimu."
Ansel melepaskan rangkulan Freya. "Aku akan memberikan segalanya yang ku punya."
Ansel mendekatkan bibirnya mencecap manisnya bibir Freya. Hati Freya memang masih bingung. Namun, tubuhnya dengan jelas menunjukan kalau dirinya menginginkan bibir Ansel. Freya membalas pagutan Ansel. Napas Ansel mulai memburu. Ansel melepaskan pagutannya menyadari Freya kehabisan oksigen, Ansel memberi waktu untuk Freya bernapas. Ansel mengecup bibir Freya kembali, matanya terpejam menikmati hasrat yang mulai membara.
"Kakinya," ucap Freya disela ciuman membuyarkan semuanya.
"Tak apa," ujar Ansel berpindah mencecap leher putih Freya.
Freya membiarkan Ansel menikmati lehernya. Mata Freya hanya tertuju pada kaki Ansel. Gip menghilang dari sana tanpa sepengetahuan Freya. "Bagaimana gipnya bisa menghilang ?"
Freya menahan bibir Ansel, membuatnya berhenti memberi tanda kepemilikan di leher Freya. Ansel berdecak, tidak senang aksinya dicegal Freya. "Afandi yang melepasnya. Sewaktu Freya pergi dengan Anne. Kakiku sudah benar-benar pulih. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau."
"Bagaimana bisa ?" tanya Freya kurang puas dengan jawaban Ansel.
"Ssssstt ... aku tidak ingin menerangkan bagaimana cara Afandi membuka gipnya. Yang jelas itu tidak menarik. Kita akan melakukan hal yang lebih menarik, jadi jangan menanyakan hal apapun disaat seperti ini," pungkas Ansel.
"Aku penasarโ," Freya tidak bisa meneruskan ucapanya. Mata Freya terpaku melihat Ansel dengan sekali tarikan berhasil membuat kemejanya terbuka, meski kancing bertebaran. Ansel menyeringai memandangi wajah cantik Freya.
"Aku tidak perlu tahu apa yang Freya inginkan dariku. Yang harus Freya tahu, malam ini aku menginginkan Freya menjadi milikku seutuhnya. Ini bukan pertanyaan, juga bukan penawaran. Tidak perlu dijawab apalagi ditawar. Ini hanya pemberitahuan agar sayangku tidak kaget," pesan Ansel sebelum mencecap kembali manisnya bibir Freya.
Ansel sudah tahu cara berciuman yang benar dari Freya, bahkan sekarang Ansel sudah menjadi seorang ahli mencecap bibir istrinya. Badan Ansel bergetar, napasnya memburu. Hasrat sudah menguasai tubuh. Ansel menenangkan pikirannya, melepaskan perlahan namun pasti helai demi helai pakaian Freya.
Ansel tersenyum saat Freya menarik selimut untuk menutupi dirinya. "Aku sudah kesusahan membukanya. Kenapa ditutupi lagi ?" goda Ansel.
"Aku kedinginan," dalih Freya.
Ansel mematikan pendingin. "Sudah tidak dingin sekarang."
Freya mengeluarkan kepala dari dalam selimut. "Ini terlalu terang," kilah Freya.
Ansel mematikan lampu. "Sudah gelap," ujar Ansel.
"Aku ngantuk," tutur Freya.
Ansel terkekeh, mendengar Freya terus memberi alasan. "Mengantuk ya ...."
Ansel menarik selimut membuangnya ke lantai, benda itu sangat mengganggu. Ansel menghujani istrinya dengan kecupan. Freya menggeliat geli. Freya tidak menolak apapun yang dilakukan suaminya. Ansel yang tidak mendapatkan penolakan apapun dari Freya, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Malam ini, menjadi malam yang paling mendebarkan bagi keduanya.
Next \=>
๐Terima Kasih sudah mampir baca.
๐๐ Jangan lupa like + Komentar + Vote
๐๐๐ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.