Love Shot

Love Shot
Kasih Sayang Tuan Muda



recepcionis menekan tombol kemudian langsung tersambung kepada Wardhana. recepcionis merbicara formal lalu menyerahkan telponnya pada Haidar.


"Halo wardhana, ini aku Haidar. Bisakah kamu menemuiku di lobi hotel King satu, aku butuh bantuanmu," ujar Haidar kemudian menutup telponnya.


Tak lama pria muda berbadan tegap, bermata coklat menghampiri Haidar. "Haidar, apa yang bisa aku bantu ?"


"Wardahana aku kehilangn smartphone dan dompetku serta kunci mobil. Parahnya aku tidak mengingat satu nomer telepon siapapun. Jadi aku akan merepotkan mu," ujar Haidar.


"Santai Man ... untuk hari ini aku akan meninggalkan semua kesibukanku. Kamu memilih orang yang tepat, aku bisa menjadi telpon, mobil serta dompetmu," ujar Wardhana menyeringai.


"Sorry aku membuat jadwal kencanmu berantakan." akhirnya Haidar bisa tersenyum, dirinya merasa tenang sudah ada wardhana yang bisa diandalkan.


"Hahaha, kencan bisa dijadwalkan ulang kapan saja. Aku akan melakukan hal yang penting lebih dulu. Kita akan kemana sekarang ?" tanya Wardhana.


"Antar aku ke tempat Ansel," pinta Haidar.


Wardana berjalan beriringan dengan Haidar menuju mobil bergegas ke tempat Ansel.


***


Rasa pegal membelenggu pudak Freya. Seharian terus mengelus tangan kiri Ansel membuat tangan Freya kesemutan. Freya beranjak ke dapur meningalkan Ansel sendirian di kamar karen cacing di perutnya sudah berdemo minta diisi.


Freya merenggangkan tangannya melepaskan rasa pegal. Freya membuka pintu kulkas mencari sesuatu yang bisa mendiamkan cacing di dalam perutnya.


"Nyonya mencari apa ?" tanya seorang wanita seumuran ibunya.


"Saya mencari ini, Freya iniโ€”" tujuk Freya pada potongan brownis coklat.


"Nyonya mau makan apa ? biar saya buatkan," ujar pelayan.


"Tidak perlu ... ini juga sudah cukup. Oh ya nama ibu siapa ?" tanya Freya duduk di meja makan.


"Jangan panggil ibu nyonya, panggil Bibi Ima saja," jawab Ima.


Freya mengangguk menikmati potongan demi potongan brownis coklat bertabur irisan kacang almon.


"Nyonya silahkan tulis makanan yang nyonya sukai dan makanan yang tidak boleh dihidang kan di rumah ini. Cantumkan juga bila ada makanan yang membuat nyonya alergi." Ima menyorkan buku catatan pada Freya.


"Bisa dikatakan aku pemakan apapun juga tidak ada makanan yang membuatku alergi. Namun aku lebih menyukai makanan yang dimasak sederhana, tidak terlalu banyak rempah juga jangan terlalu asin. Aku lebih menyukai masakan yang hambar daripada masakan yang asin. Aku suka kecap manis, tapi jika masakannya tidak cocok dengan kecap manis bisa tambah gula sedikit," jelas Freya.


"Baik nyonya ... sudah saya catat pesan dari nyonya, saya akan menjadikan itu sebagai pedoman masakan saya mulai sekarang. Lalu bagaimana dengan jam makannya, apa ada yang perlu dirubah ?" tanya Ima.


Freya tersenyum kecut, dirinya agak kaget mengetahui kalau disini ada jam makannya juga. "Memang sampai jam berapa aku boleh makan ?"


Ima sama kaget nya mendengar pertanyaan dari Freya. "Maaf bila ucapan saya tidak pantas. Tidak ada batasan untuk jam makan." Ima merasa gugup.


"Tidakโ€”," Freya menggoyangkan tangannya. "Tidak perlu meminta maaf. Saya hanya tidak mengerti apa itu jam makan," ujar Freya tersenyum kikuk.


"Jam makan itu waktu yang nyonya inginkan untuk menyantap makanan. Saat bangun tidur saya akan menyediakan segelas air putih dengan sandwich dengan toping alpukat, atau jus semangka segar atau kacang almon dan kurma sebagai cemilan di pagi hari atau olahan telur karena dalam telur terdapat lemak sehat yang bisa membuat kenyang lebih lama. Kandungan lainnya juga vitamin dan mineral termasuk zat besi, kolin, vitamin D dan vitamin B12," jelas Ima.


"Untuk sarapan siapkan segelas susu coklat hangat saja," ujar Freya.


"Setiap hari," jawab Freya singkat.


Ima mengangguk mengerti. "Untuk makan siang, Nyonya akan makan nasi atau hanya makan daging atau makan jagung atau hanya memakan kentang sebagai karbonhidrat ?"


"Masak nasi dan sayur. Tidak perlu memasak daging setiap hari," jawab Freya.


"Baik Nonya. Apa saya perlu menyiapkan cemilan buah atau salad untuk tambahan menu makan siang nyonya ?" tanya Ima.


"Tidak perlu ... aku akan meminta bila sewaktu-waktu aku menginginkannya saja. Dan untuk makan malam, samakan saja dengan menu makan siang karena mungkin aku tidak akan makan siang di rumah setiap hari. Aku akan lebih banyak menghabiskan waktu makan siang ku di tempat kerja," jawab Freya.


"Baik nyonya. Tapi bolehkan saya menyiapkan teh di malam hari. Saya akan membuatkan nyonya teh hijau karena mengandung teanin dan tein. Teanin bikin rileks dan tein bikin semangat. Mungkin bukan obat tidur, namun dengan minum teh bisa membuat tidur nyonya menjadi lebih rileks," ujar Ima.


"Tentu ... aku sangat berterima kasih bila bibi menambahkan gula ke dalam teh ku karena aku tidak suka rasa pahit teh," ujar Freya kembali menyantap kuenya.


Ima tersenyum gembira merasa bersyukur karena keinginannya langsung dikabulkan oleh nyonya muda. Ima juga merasa lega karena tuan muda yang sedari kecil dia rawat bisa menemukan istri sebaik Freya.


Ima berpikir walaupun tuan muda Ansel akan sulit mendapatkan cinta dari nyonya Freya, setidaknya nyonya Freya tidak akan membuat tuan muda Ansel meneteskan air mata kesakitan.


Ima terdiam, dirinya berpikir ulang. Dirinya teringat tuan muda Ansel sudah menunjukan sikap dingin, tidak peduli dengan kondisi sekitar sejak masih kecil. Bahkan tuan Ansel tidak menangis saat kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.


Tuan muda Ansel sudah memiliki kendali atas dirinya. Tuan muda Ansel sudah melewati masa-masa paling sulit dalam hidupnya tanpa kasih sayang yang lengkap. Tuan Ansel lebih memilih melewati masa sulit sendirian, padahal tuan Ansel mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari nyonya Elizabeth.


Kadang Ima tidak mengerti dengan jalan pikiran tuan mudanya. Tuan Ansel menjadi seorang pembangkan untuk menyembunyikan kepatuhan. Seorang yang egois untuk menyembunyikan kasihnya. Seorang yang mudah marah untuk menyembunyikan kebahagian.


Satu hal yang Ima lihat tidak disembunyikan tuan Ansel selama hidupnya. Rasa cinta tuan muda pada wanita yang dengan lahapnya memakan kue sambil duduk dihadapan Ima. Seorang wanita yang menunjukan tatapan sendu seperti kehidupannya dipenuhi dengan duri sampai tidak pernah merasakan kebahagiaan selama dirinya bernapas.


"Bi apa Ansel juga memiliki jadwal makan ?" tanya Freya mengusik Ima dari lamunan.


"Tuan muda tidak memiliki jam makan. Seringkali tuan muda makan diluar dengan tuan Haidar. Tuan muda hanya pulang ke rumah untuk tidur saja," jelas Ima.


"Lalu kenapa aku memiliki jam makan ?" tanya Freya merasa terganggu dibeda-bedakan dengan Ansel.


"Itu perintah tuan muda. Tuan muda memberi perintah agar kami hanya memperhatikan nyonya. Nyonya harus selalu makan dengan teratur dan kami harus memberi laporan kepada tuan muda secara berkala mengenai kegiatan yang dilakukan nyonya," jelas Ima.


"Jadi kalian seperti mata untuk Ansel," tukas Freya.


"Maaf nyonya tuan muda tidak bermaksud seperti itu. Tuan hanya ingin memastikan nyonya merasa nyaman saat berada disampingnya," jelas Ima.


"Baik ... tolong sampaikan pada tuan muda saat kalian mengumpulkan laporan secara berkala. Katakan bahwa nyonya merasa sangat tersentuh sampai kehilangan kata-kata karena kasih sayang dari tuan muda," ujar Freya merasa ngeri dengan sikap posesif Ansel.


Next \=>


๐Ÿ™Terima Kasih sudah mampir baca.


๐Ÿ™๐Ÿ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.