Love Shot

Love Shot
Awal Pertemuan



Freya memandangi punggung tegap suaminya. Ansel yang sedang sibuk membelah kerumunan bertujuan memberi jalan untuk istri tercinta. Kegugupan yang sempat membuat Freya terganggu kini sirna.


Ini bukan kali pertama Ansel menuntun jalanku ... Namun, ini kali pertama aku memperhatikan Ansel dari belakang. Apa semua pria setinggi ini? dari belakang saja Ansel tetap terlihat keren. Badannya yang tegap dengan mudah mengusir kerumunan hingga memudahkanku berjalan. Terima kasih Ansel.


Freya mengeratkan genggaman tangannya. Freya tersenyum dalan hati saat para gadis menatap kagum ke arah suaminya itu. Ia merasa bangga kalau pria tampan yang sedang bergandengan tangan dengannya ini sudah jadi milik sah seorang Freya Aileen.


***


Seorang gadis manis sedang sibuk memilih anting-anting hingga tidak menyadari ketidak hadiran teman prianya. Menjadi kebiasaan buruk Aurora, bila sudah asyik dengan satu hal ia bisa melupakan apapun. Terjadi lagi hari ini, Aurora baru tersadar Jonathan menghilang saat ia butuh bantuan membawakan bungkusan belanjaan. Aurora berteriak memanggil nama Jonathan. Karena festival sedang ramai pengunjung panggilan Aurora tidak sampai ke telinga Jonathan.


Bodohnya Aurora tidak meminta nomor Jonathan saat mereka bersama tadi. Bila Aurora menghubungi Papanya sudah dapat dipastikan Aurora tidak akan diizinkan berkeliling lagi, orang tuanya akan mengirim orang untuk menjemput Aurora pulang. Aurora masih tidak ingin pulang. Akhirnya Aurora hanya bisa menunggu dengan pasrah. Untaian doa terus ia rapalkan dalam hati berharap Jonathan segera menemukan dirinya. Gadis manis itu berjongkok sambil menggambar lingkaran di tanah. Aurora tersentak saat sesosok pria ikut berjongkok di hadapannya.


"Nona, sudah selesai berbelanja?"


Suara barito nan lembut berhasil mengusir kegundahan di hati Aurora. "Sekertaris Jo, aku kira aku tersesat. Syukurlah kamu menemukanku."


"Saya minta maaf ... tadi saya melihat kumpulan orang yang saya kenali hingga tanpa sadar meninggalkan nona dan menghampiri mereka," ujar Jonathan.


Jonathan mengulurkan tangan membantu Aurora berdiri, lalu menepuk-nepuk perlahan ujung rok Aurora untuk menghilangkan debu yang menempel di sana. Aurora menyukai sikap Jonathan. Seniornya saat Sekolah Menengah Atas ini selalu terlihat sempurna. Sayang Aurora tidak pernah menyatakan rasa sukanya pada Jonathan. Aurora tahu dirinya tidak pantas untuk seorang pria seperti Jonathan. Sang Ketua OSIS yang menjadi Idola setiap gadis. Aurora menyimpan rasa sukanya dengan rapat, hanya mengagumi Jonathan dari kejauhan.


Bertahun-tahun berlalu, Aurora tidak menyangka kalau dirinya bisa bertemu lagi dengan Jonathan. Aurora sudah berusaha dengan begitu keras untuk melupakan pria yang dikaguminya. Namun, takdir berkata lain disaat Aurora hampir melupakan Jonathan semesta mempertemukan mereka kembali. Luapan kebahagiaan memenuhi rongga di hati, rasanya semua bisa dirasakan oleh Aurora. Bila saat ini ia dijemput oleh malaikat maut yang tampan seperti lee dong wook, Aurora sudah siap ikut pergi dan tidak akan ada rasa penyesalan dikemudian hari.


Mata Aurora membulat saat jemari hangat Jonathan menyentuh tangan Aurora. Ini kontak fisik pertama kali dirinya dengan Jonathan meski Jonathan hanya membantunya berdiri, tetap saja ini anugrah terindah bagi Aurora.Tidak sampai disitu setelah Aurora berdiri tegak jemari Jonathan dengan cepat berpindah ke ujung rok Flared skirt pink yang menempel di pinggang sampai lutut Aurora. Mengelus-elusnya dengan lembut. Aurora tersentuh dengan sikap manis yang dilakukan Jonathan meski Aurora tahu Jonathan hanya membantunya menyingkarkam debu. Anggap saja Jonathan sedang bersikap romantis pada Aurora.


"Sekertaris Jo, terima kasih," ucap Aurora tersenyuman semanis mungkin.


Debu sudah menghilang dari ujung rok Aurora, Jonathan menegakan kembali tubuhnya. "Nona, mungkin anda canggung bila berkeliling hanya bersama saya. Bagaimana kalau kita bergabung dengan kenalan saya?" tawar Jonathan.


Senyuman sirna dari bibir manis Aurora. Ia merasa sedih mengetahui kenyataan kalau saat ini hanya Aurora yang merasa bahagia, sedangkan Jonathan merasa canggung dan tidak nyaman saat bersamanya. Aurora masih ingin bersama Jonathan lebih lama, dengan berat hati menyetujui keinginan Jonathan. "Baiklah ... jika itu membuat Sekertaris Jo, lebih nyaman."


Aurora membuntuti Jonathan dari belakang, hampir saja hidung mancung Aurora menubruk punggung Jonathan, saat Jonathan berhenti dengan tiba-tiba. Untung saja Aurora cepat menekan tanah hingga berhenti dengan jarak dua buku jari telunjuk orang dewasa. Jonathan menghentikan langkahnya karena mereka sudah sampai di meja Liam dan Flora. Jonathan mengelap kursi dengan tisu kemudian mempersilahkan Aurora duduk. Flora memicingkan mata, tidak senang dengan tingkah Aurora yang angkuh.


"Kemana Pak Ansel dan Freya?" tanya Jonathan.


"Mereka pergi ... Freya sudah ada janji dengan dokter."


Flora menggeleng tidak mau memperpanjang pembahasan mengenai Freya. "Siapa ini? Miss Mysophobia," cibir Flora.


"Kenalkan nama saya Aurora." Aurora mengulurkan tangan.


Flora mengelap tangannya dengan tisu lalu meraih tangan Aurora sambil menyebutkan nama begitu juga dengan Liam. Aurora menahan emosi dengan sikap dua orang di depannya. Aurora tetap tersenyum ramah, meski ada rasa jengkel atas ucapan Flora. Aurora menghormati mereka karena Aurora dan Liam adalah teman Jonathan.


"Aku panggil apa Au atau Rora?" tanya Flora, ia merasa kesal melihat Aurora yang berlagak imut.


"Flo ...." gertak Jonathan.


Flora mengalah bila Jonathan sudah menggertak itu artinya ia tidak suka dengan tingkah Flora. "Iya sayang ... aku hanya bermaksud mengakrabkan diri saja. Maaf nona Aurora kalau sikap saya kelewatan."


Aurora terdiam kata sayang yang terucap dari bibir Flora membuat dadanya terasa sesak. Terbersit tanya di benak Aurora mengenai hubungan Jonathan dan Flora. Ditambah lagi Jonathan tidak menolak saat dipanggil sayang oleh gadis tidak sopan yang ada di hadapan Aurora.


"Nona, ingin makan sesuatu?" tanya Jonathan mencoba mengalihkan perhatian Aurora yang terus menatap Flora dengan seksama.


"Tidak usah Sekertaris Jo. Bukankah kita hanya akan sebentar disini? aku masih ingin berkeliling," ujar Aurora.


"Kalau mau berkeliling biar Liam saja yang mengantar. Liam sana antar nona!" Flora mengikut tangan Liam sambil mengedipkan mata memberi isyarat pada Liam agar membawa Aurora pergi dan membiarkan Jonathan berduaan dengannya.


Liam bergeming, kali ini Liam tidak akan menuruti permintaan Flora. Liam tidak akan membiarkan Flora hanya berduaan dengan Jonathan. Liam juga pacar Flora jadi Liam tidak akan memberi kesempatan mereka bermesraan berdua. Mulai sekarang Liam akan jadi badboy, menjadi pembinor diantara Flora dan Jonathan. "Tidak mau ... kenapa harus aku?! Bukannya Jonathan yang sedang lembur ... lalu aku juga harus ikutan repot karenanya. Sorry no way."


Flora memukul paha Liam. Liam mengaduh pukulan Flora memang tidak keras, tapi tetap saja terasa pedih di pahanya. Jonathan memicingkan mata, dirinya mencium hal yang tidak wajar akibat Liam mengaduh tapi bibirnya tersenyum gembira seperti bahagia karena disentuh oleh tangan kekasihnya. Flora kesal kenapa hari ini Liam tidak menuruti perintah darinya. Flora mencubit kecil-kecil paha Liam untuk melepaskan rasa kesal. Flora tidak menyadari mata elang Jonathan sedang mengawasinya.


Next \=>


πŸ₯° baca juga Cinta itu Kamu ya ...


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.