
Gelembung sabun menyentuh hidung Freya. Mungkin begini rasanya sewaktu dimandikan oleh ayahnya sewaktu kecil. Bedanya dulu Freya berandam diember sekarang lebih elegan berendam di bathtub. Freya tersenyum merasa lucu dengan pikirannya sendiri. Ansel membersihkan gelembung sabun dihudung Freya. Rasanya Freya sudah sangat bersih, Ansel menyelimuti tubuh Freya dengan handuk kemudian memangku Freya keluar dari kamar menaiki tangga, sesekali Freya merengek minta diturunkan. Freya masih malu bertatapan dengan Ansel apalagi saat berpapasan dengan beberapa pelayan ketika Freya masih dalam gendongan Ansel. Bukan Ansel namanya bila langsung luluh hanya karena rengekan Freya. Ansel masih menggendong manja Freya. Hari ini Ansel akan menjadi kendaraan bagi istrinya, siap mengantar istrinya kemanapun tujuan Freya.
Akhirnya kaki Freya menginjak lantai juga, Freya sampai di ruangan yang dua kali lebih luas daripada kamarnya dahulu. Pemandangan yang begitu menakjubkan, pikir Freya. Atribut kebesaran Ansel berjejer sangat rapi disana berdampingan dengan baju kebangsaan suaminya. Ansel membuka lemari, memilah-milah pakaian yang akan dikenakan istrinya.
"Ini bajuku, bagaimana ada disini?" Freya melangkah mendekati Ansel.
"Kemarin Sam mengambilnya dari rumah ibu," ujar Ansel masih fokus memilih baju untuk istrinya. Ansel sangat antusias, hatinya kegirangan punya kesempatan mendandani seseorang.
Mendengar nama ibu disebut Freya langsung teringat rumah. Sudah hampir satu minggu Freya tinggal di rumah Ansel, ibu maupun Amor tidak sekalipun berkunjung ataupun hanya menayakan kabar untuk basa-basi. Freya seperti sudah dilupakan, memang jika seorang wanita sudah menikah mereka menjadi tanggung jawab suaminya. Ada kesedihan di hati Freya. Lamunan Freya buyar melihat prilaku suaminnya. Freya menarik pakaian dalam yang sedang dipegang Ansel.
"Kalau ini aku bisa memilih sendiri," ujar Freya.
"Owh," ucap Ansel, membiarkan Freya melakukan hal yang diinginkannya. Ansel masih belum selesai memilih padahal Freya sudah mulai kedinginan. Bagaimana tidak kedinginan dirinya hanya berdiri dengan memakai pakaian dalam saja didalam handuk. Dalam hati Freya sangat ingin membentak Ansel, memarahinya karena bertingkah menjengkelkan hari ini. Apadaya Freya tidak berani berkata kasar pada suaminya.
"Tidak ada pakaian yang cocok," oceh Ansel.
Ingin rasanya Freya menarik sekuat tenaga rambut hitam nan lebat milik Ansel. Bagaimana tidak ada yang cocok, semua baju yang ada di lemari itu miliknya. Baju yang selama ini Freya pakai untuk menutupi tubuhnya. Tidak terhitung waktu yang Freya habiskan untuk berkeliling di mall hanya untuk mengumpulkan baju-baju itu. Emosi Freya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Aku memang lebih cocok tak pakai baju," gerutu Freya. "Aku pergi makan dulu." Freya menarik baju tidur kimono dilemari milik Ansel, kemudian memakainya. Freya berharap Ansel menghentikan langkah kaki Freya, dan membujuknya agar tidak marah. Namun, apa yang didapatkan Freya, Ansel hanya duduk santai di nakas kaca tempat Ansel menaruh koleksi jam tangan mewah, sambil asyik berbicara dengan seseorang di telpon. Freya yang tak dihiraukan oleh Ansel hanya bisa benar-benar menghilang dengan amarah serta kecewa dihatinya.
***
Setelah menunggu lama akhirnya Haidar membawakan pakaian yang cocok untuk Freya sesuai selera Ansel. Memang pilihan Ansel tidak salah, pakaiannya terlihat sangat peminin dan lucu. Kalau Amor melihat Freya memakai pakaian seperti ini pasti sudah ditertawakan oleh adiknya itu. Seharian ini rasanya Freya terus memikirkan rumah, rasanya ingin berkunjung kesana. Bila berkirim kabar lewat pesan atau telpon, takut Freya mungkin tidak bisa menahan kesedihannya karena merindukan mereka. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak, Freya menggelengkan kepala menghilangkan pikiran yang tidak baik.
Ansel sedang mengobrol dengan Haidar, sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang penting. Terlihat dari kerutan di jidat Haidar. Seperti biasa Freya tidak pernah dilibatkan. Freya hanya memperhatikan mereka dari kejauhan setidaknya sesekali Ansel mengalihkan pandangan ke arah Freya, mengecek apa yang sedang Freya lakukan diruang tv.
"Ayo ikut," Ansel menggenggam tangan Freya.
"Mau kemana?" tanya Freya, sepertinya ini sangat mendesak. Ansel sampai menggenggam tangan Freya dengan erat. Tak ada jawaban dari Ansel, Freya hanya mengikuti tanpa protes sedikitpun.
***
Mobil yang dinaiki Freya masuk ke parkiran rumah sakit, Freya tidak mencurigai apapun. Freya teringat pada dokter Afandi, mungkin saja Ansel memajukan jadwal pemeriksaan kakinya. Keanehan mulai terasa, jantung Freya berdebar saat mereka melewati ruangan dokter Afandi. Ansel menggenggam tangan Freya, meskipun mulut Ansel masih diam. Penuh tanya dalam pikiran Freya, apa yang akan dilakukan Ansel.
Ansel berjalan sambil berbicara dengan seorang pria ditelpon, seorang pria keluar dari salah satu ruangan pasien. Freya makin tidak mengerti sebenarnya siapa yang sakit. Kedatangan mereka ternyata sudah ditunggu oleh keluarga Freya.
"Sedang apa Daniel kamu disini?" tanya Freya masih bingung sebenarnya apa yang sedang mereka sembunyikan dari Freya.
"Kak, ayo masuk!" ajak Daniel.
Daniel mengabaikan pertanyaan Freya, didalam sudah ada Ibu sedang menangis. Freya tambah tidak mengerti apa yang terjadi.
Amor keluar dari kamar mandi dibantu suster.
"Amor apa yang terjadi ?" tanya Freya berlinang air mata.
"Kakak sama saja seperti ibu. Kalian lebay. Aku hanya melahirkan kenapa kalian sampai menangis, seperti aku meninggal saja," jelas Amor kembali berbaring dibantu Daniel.
Freya menghentikan air matanya. "Bagaimana kamu bisa melahirkan ?" tanya Freya lagi. Dirinya merasa janggal, bagaimana adiknya bisa melahirkan sangat cepat. Setahu Freya, bayi selama sembilan bulan di dalam kandungan hingga siap dilahirkan.
Amor terkekeh lucu dengan pertanyaan kakaknya, Amor seperti sedang berbicara dengan anak kecil. "Haruskah ku jelaskan prosesnya mulai aku merasa mulas sampai ketuban pecah dan bagaimana aku berjuang untuk melahirkan keponakan kakak."
Freya mengernyit, maksud pertanyaan yang dilontarkan Freya bukan itu. Namun, ucapan Amor mengusik rasa penasaran dalam dirinya muncul hingga Freya hanya mengganguk mengiyakan ucapan Amor.
"Aku cape," dalih Amor.
"Dasar adik gak ada akhlak," maki Freya merasa tertipu oleh adik perempuannya. Freya mencubit pundak Amor.
"Cila tolong mamah ... mamah dianiaya bibi," goda Amor pura-pura menangis.
"Bibi ?! kamu kira aku pembantu," debat Freya.
Entah dari mana datangnya, tahu-tahu Daniel sudah menggendong bayi. Dengan perlahan menyerahkan ke gendongan Amor. "Acila, haus ya ... ayo mimi cucu dulu ya."
Freya mundur dua langkah. Dirinya masih tidak percaya Amor benar-benar telah melahirkan seorang bayi. Untung saja Freya tidak pingsang saking terkejutnya. Ibu tidak menangis lagi, mendekat ke arah Amor dan mulai berbicara manis ke bayi yang di gendong Amor. Freya memberi tatapan menyedihkan ke arah suaminya, meminta penjelasan kenapa seperti hanya dirinya yang tidak tahu apapun. Freya bagaikan sudah tertidur ribuan tahun hingga tidak tahu apa yang sudah dirinya lewati. Seingatnya baru satu minggu dia menjadi nyonya Cullen. Freya melihat kalender dismartphone memastikan hitungannya benar. Bisa saja dirinya berpindah dimensi ke masa depan atau tiba-tiba amnesia seperti di drama-drama.
Freya menghela napas lega, tanggal di kalender sesuai dengan perhitungannya. Freya masih bingung, Jadi apa yang terjadi dihadapannya. Apa Freya sudah dikucilkan oleh keluarganya. Freya membatin. Freya melangkah mendekati Ansel menarik-narik lengan kemeja Ansel. "Sayang, mereka jahat. Mereka mengucilkanku. Ayo marahi mereka sampai mereka menangis," rengek Freya.
Daniel, Amor, Ibu tersenyum melihat tingkah Freya yang kekanakan sampai suster juga menutup bibirnya menahan tawa melihat tingkah Freya. "Iya sayang. Siapa dulu yang harus aku marahi, aku tidak bisa memarahi mereka sekaligus karena kesalahan meraka tidak sama," ujar Ansel, menanggapi rengekan Freya dengan serius.
Ruanganpun menjadi riuh dengan suara tawa, mereka tidak tahan melihat kemesraan dua pasutri yang tidak natural dihadapan mereka.
ย Next \=>
๐Terima Kasih sudah mampir baca.
๐๐ Jangan lupa like + Komentar + Vote
๐๐๐ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.