
"Tuan, maaf ... sebaiknya anda tidur di dalam," pinta Anne terbata.
Ansel membuka mata, memijat lehernya yang tetasa kaku. Sudah dua malam ia tidak tidur dengan benar. Kemarin masih lebih baik, tidur di sopa empuk. Kali ini lebih parah dari itu, semalam Ansel tidur terduduk beralaskan lantai yang dingin dengan dinding kamar sebagai sandaran. "Pukul berapa ini?"
"Pukul sembilan tuan," jawab Anne.
"Nyonya sudah sarapan?" tanya Ansel mengkhawatirkan istrinya.
"Nyonya dari pagi belum keluar dari kamar," ujar Anne. Dalam hati ia penasaran, ingin mengetahui penyebab tuan mudanya bisa tidur di luar kamar. Lucu juga melihatnya. Mungkin tuan ditolak nyonya saat minta enak-enak. Pikir Anne, menggigit bibir bawah menahan senyuman.
Ansel ingin masuk ke kamar, sekedar memastikan keadaan Freya. Tangannya sudah meraih gagang pintu. Namun, Ansel ragu untuk masuk. Ansel takut Freya masih marah. Ansel takut jika ia masuk, Freya akan semakin membenci dirinya. Ansel tidak tahu bagaimana membujuk hati wanita. Ansel mengurungkan niat untuk mengecek keadaan istrinya. Ansel pergi ke kamar dibawah untuk membersihkan badan. Untung saja pakaian yang di beli kemarin masih ada di mobil. Ansel jadi tidak perlu mengambil baju ganti dan mengusik Freya. Ansel akan pergi konsultasi pada guru cintanya. Seorang Hiadar Jarvis. Ansel akan melakukan apapun supaya Freya bisa meredakan amarah. Baru juga setengah hari Ansel diacuhkan Freya, rasanya Ansel sudah sangat merindu istrinya.
Ansel bergegas menuju gedung pencakar langit dengan tiga puluh tiga lantai. Beberapa karyawan menyapa Ansel ketika berpapasan, Ansel mengacuhkan mereka. Bergegas memasuki lift menuju lantai teratas. Ansel melewati ruangannya, masuk ke ruang kerja Haidar. "Jarvis, kita harus bicara!"
"Macha ... warna apa itu? bos habis dari mana? bagaimana bos bisa memakai baju warna macha?" goda Haidar, terkekeh dengan penampilan Ansel.
"Memang kenapa? warna macha juga bagus. Hijau itu menenangkan. Jangan bahas warna kemeja, aku sedang tidak mood bercanda," ujar Ansel mengambil novel bergenre thriller yang sedang dibaca Haidar. "Aku diacuhkan Freya."
"Bukankah sudah biasa!" ledek Haidar lagi.
Ansel memeukul kepala Haidar dengan novel thriller. Haidar meringis mengelus kepala yang dipukul bosnya. "Peace ... bagaimana ceritanya bosku bisa diacuhkan oleh nyonya bos tercinta? bukankah kemarin bos sudah bisa membanggakan diri, pasalanya bos sudah tidak perjaka," Haidar menyeringai, "Dimana perginya kesombongan mu itu bosku."
Ingin rasanya melem bibir Haidar agar tidak bisa lagi mengolok-ngolok Ansel. Memang dengan begitu cacian tidak akan keluar lagi dari sana tapi saran juga tidak akan muncul. Ansel hanya mengeratkan gigi, menahan amarah yang sudah sampai ke puncak kepala. "Terus saja bicara, aku memang membayarmu hanya untuk membual."
"Hahahahahaha ... katakan apa yang kamu inginkan dariku, anak muda?" bujuk Haidar.
"Aku hanya ingin berbaikan dengan istriku," ujar Ansel.
"Jika ingin berbaikan dengan istri, kenapa datang kesini. Harusnya bos mendatangi nyonya bos dan memohon belas kasih darinya," terang Haidar.
"Sebaiknya aku melompat saja dari sini," gertak Ansel mendekati jendela yang terbuka.
Haidar langsung menutup jendela, tidak terbayangkan bila Ansel nekat naik ke jendela dan serius melompat dari sana. Memang Ansel hanya membutuhkan waktu singkat sembuh dari luka hasil melompat dari lantai dua. Tapi ini berbeda jika melompat dari sini, di akan langsung masuk berita. Direktur The King Entertainment melompat dari kantornya sendiri akibat bertengkar dengan istri. Haidar segera menghapus bayangan mengerikan yang digambar otaknya. "Duduk dulu bos ... bos sudah datang ke tempat yang tepat. Tidak ada masalah percintaan yang tidak bisa diatasi oleh ku. Semua akan teratasi sesuai permintaan klien. Haidar melayani dengan romantis sampai cinta menyentuh hati anda."
"Itu sloga Love Shot. Meski memang dirimu yang membuatnya. Apa yang harus aku lakukan?"
Ansel menceritakan penyebab Freya marah besar pada Ansel. Pada dasarnya Ansel hanya ingin menjadi menantu yang bisa diandalkan. Meski memang tidak bisa dipungkiri ada maksud terselubung didalamnya. Ansel ingin mengikat Freya dengan harta. Ansel tahu kalau Freya tidak mencintainya dan mungkin tidak akan pernah mencintainya. Hal itu membuat rasa takut kehilangan Freya semakin membesar. Ansel sudah kehabisan strategis, Ansel harus cepat meredakan rasa takut akan kehilangan Freya. Ansel hanya memiliki banyak uang dan koneksi. Ansel tidak punya banyak kesabaran untuk meraih cinta Freya. Ansel menehaskan dirinya bahkan sudah memohon maaf sambil bersimpuh di depan istrinya tapi tetap saja Freya enggan memberi maaf pada Ansel.
Bulu kuduk Haidar berdiri, dirinya kaget sekaligus takut. Kaget karena bosnya yang angkuh sampai merendahkan diri dihadapan nyonya bos. Ada rasa takut menghantui Haidar. Ia teringat sebuah kutipan. Orang yang akan meninggal biasanya bersikap aneh. Bahkan mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Haidar melihat tanda-tanda itu pada bosnya. Haidar takut jika bosnya berumur pendek. "Bos tidak akan bunuh dirikan hanya karena wanita?"
"Ya, aku bisa melakukan itu ... hanya untuk Freya," gertak Ansel.
Haidar memeluk Ansel erat, "jangan bicara sembarangan bos. Jika ada malaikat mau yang mendengar. Bisa-bisa bos dituntun untuk segera mengakhiri nyawa bos. Aku mohon, jangan dengar apalagi mengikuti bila ada bisik-bisikan," ujar Haidar.
Ansel menguraikan pelukan Haidar, dirinya memandangi Haidar yang mulai gila. "Aku yang sedang pusing tapi kamu yang menjadi gila. Kamu terlalu sering baca novel thriller dan horror kamu jadi berbicara ngawur."
"Syukurlah kalau bos masih sadar," ucap Haidar mengelus-elus dadanya.
Haidar teringat janji temu dengan Wardhana. Haidar tidak bisa berlama-lama berbincang dengan bosnya. Haidar juga tidak mungkin membicarakan Wardhana disaat Ansel sedang galau. Ansel tidak akan marah hanya saja ia tidak akan menanggapi, jadi percuma bercerita tentang Wardhana pada bos. Haidar memberikan beberapa saran pada Ansel. Saran untuk meredakan amarah Freya, meski belum tentu itu berhasil untuk wanita seperti nyonya bos. Setelah Ansel mengerti mereka pergi, dengan kuda besi mereka masing-masing ke tujuan yang berbeda.
***
Ansel sampai ke rumah kembali. Perlu waktu dua jam hanya untuk mendapatkan saran dari pakar cinta. Ansel mempersiapka diri untuk bertemu dengan Freya. Istri tercinta masih tergung selimut. Ansel perlahan namun pasti menghampiri gulungan itu. Menarik perlahan agar isi dari gulungan dapat ia lihat. Freya terlihat, masih memejamka mata dengan wajah memerah. Ansel mengulurkan tangan, merapikan helaian mahkota yang menutupi wajah cantik istri tercinta. Tangan dingin Ansel bersentuhan dengan kulit pipi Freya yang panas. Ansel merasakan kembali, memastikan suhu tubuh Freya. Suhu tubuh Freya lebih panas daripada suhu tubuhnya. Ansel menekan tombol ditelpon, tidak lama Anne langsung datang menghadap.
"Apa suhu panas ini normal untuk wanita yang tidur dalam gulungan selimut?" tanya Ansel, meminta Anne memeriksa suhu tubuh Freya.
"Nyonya demam tuan ... saya akan menghubungi dokter Afandi. Sebelum itu saya akan mengganti pakaian nona yang basah karena keringat."
"Biar aku yang menghubungi Afandi, kamu ganti pakaian Freya saja," pinta Ansel.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.