Love Shot

Love Shot
Lawan atau Kawan



Haidar termenung kepalanya berdenyut, efek otak yang tidak pernah digunakan sekarang harus berpikir sangat keras. Dirinya harus segera menemukan dalang dibalik peristiwa yang membuat Ansel terluka parah saat pernikahannya.


"Bisakah kalian diam !" Haidar berdiri melipatkan tangannya di atas dada. "Bila mau main kejar-kejaran sana di luar jangan disini," bentak Haidar memarahi Wardhana dan Kyra yang sedang berlarian didalam rumah.


Kyra berlari menaiki tangga menuju kamar mendengar bentakan dari kakaknya sedangkan Wardhana hanya berdiri mematung mendengar bentakan dari Haidar.


Wardhana baru tahu ternyata seorang Haidar Jarvis juga bisa marah. Wardhana sekarang paham kalau saat ini bukan saatnya untuk bercanda. Masalah yang dihadapi Haidar sepertinya sangat berat sampai Haidar memarahi dirinya.


Wardhana tidak menanggapi kecurigaan Ansel padanya. Karena memang selama ini Ansel dan Wardhana tidak terlalu dekat. Wardhana tidak menyalahkan Ansel bila dirinya dibenci oleh Ansel. Bahkan menurut Wardhana itu hal wajar jika mengingat tragedi yang telah terjadi akibat ulah dari papah nya.


Selama ini Wardhana menghindari Ansel karena kejadian itu, bukan hanya karena nenek Liza membeda-bedakan kasih sayang terhadap Ansel dan Wardhana tapi dirinya takut bila Ansel mengetahui kejadian dahulu, kemudian Ansel berencana membalas dendam.


Apalagi setahu Wardhana seorang Ansel tidak mempunyai rasa bersalah, jika Ansel berencana balas dendam pasti akan sangat mengerikan. Merasakan aura mengerikan dari Ansel saja bulu kuduk Wardhana sudah berdiri apalagi harus beradu badan dengan Ansel bisa-bisa Wardhana mati berdiri.


Namun disisi lain Wardhana juga harus waspada pada Ansel karena hanya dirinya yang mengetahui cerita lengkap tragedi yang menewaskan orang tua Ansel. Wardhana takut bila Ansel melakukan hal yang sama seperti papah nya dan melenyapkan Wardhana dari dunia ini hanya karena haus cinta dari istrinya.


Wardhana menyingkirkan semua pikiran buruknya, dirinya fokus kembali pada Haidar.


"Haidar apa kejadian di hotel ku kemarin itu serius ?" tanya Wardhana ragu.


"Kamu kira itu hanya lelucon. Bagaimana mungkin itu hanya candaan bila King Ansel Cullen sampai hampir kehilangan nyawanya karena kejadian itu. Seharusnya kamu yang lebih tahu rincian kejadiannya karena kamu ada di lokasi dan kejadian itupun terjadi di hotelmu," Haidar menatap Wardaha penuh curiga. "Apa kamu dalang dari kejadian itu ?"


reflek Wardhana mengangkat tangannya ke udara menanggapi tatapan penuh curiga dari Haidar. "Bukan ... Bukan aku pelakunya, mana mungkin aku melakukan itu pada Ansel."


"Mana mungkin ?! itu mungkin saja bahkan papahmu juga melakukan hal yang sama pada orang tuan Ansel," cibir Haidar.


Terasa ada yang memukul belakang kepala Wardhana mendengar cibiran dari Haidar. Kepalanya terasa berat, kakinya tiba-tiba lemas. Wardhana duduk di kursi berhadapan dengan Haidar, tampak jelas kepanikan hingga wajah Wardhana memucat. Wardhana tidak menyangka kalau bukan hanya dirinya yang mengetahui mengenai tragedi yang terjadi dahulu ternyata Haidar juga mengetahuinya.


"Bagaimana kamu bisa tahu ? Apa Ansel juga tahu ?" tanya Wardhana mulai ketakutan.


"Tidak penting dari mana aku mengetahui cerita tentang tragedi itu, yang jelas saat ini Ansel tidak tahu. Tapi bila nanti terbukti bila kamu dalang dibalik semua ini. Aku tidak akan ragu untuk menceritakan kebenaran mengenai kematian orang tuanya pada Ansel," ujar Haidar mengancam Wardhana.


"Haidar benar-benar bukan aku pelakunya. Meski itu memang hotel ku. Aku tidak punya keberanian sebesar itu. Aku tidak tahu apapun. Aku bersumpah," Wardhana mengangkat tangannya. "Tapi kalau papah ... mungkin saja. Melenyapkan Ansel bukan sesuatu yang sulit bagi papah," tambahnya.


Haidar menjeda ucapannya meski bibirnya sudah gatal ingin memarahi Wardhana habis-habisan karena sikap bodohnya yang selalu tidak tahu apapun. Namun Haidar menenangkan emosinya tidak ada gunanya terus menyudutkan Wardhana.


Haidar berpikir ucapan Wardhana masuk akal. Selama mengenal Wardhana meski dia seorang pemain tapi Wardhana seorang pria yang jujur bahkan dirinya mengakui kalau memiliki banyak wanita simpanan kepada setiap wanita incarannya.


"Jika terbukti ini perbuatan papahmu ... kamu akan berdiri dipihak siapa, Ansel atau papahmu ?" Haidar menatap Wardhana yang sedang duduk menundukkan kepala seperti ayam yang kalah bertarung. "Jika kamu memilih papahmu kamu jadi musuhku, tapi jika kamu memilih Ansel bantu aku mencari bukti untuk menjatuhkan papahmu. Kamu tinggal memilih akan menjadi lawan atau kawan."


Wardhana hanya membatu, dirinya sedang dalam dilema di satu sisi ada papah nya yang selalu dia hormati, disisi lainnya ada Ansel. Ansel yang tidak bersalah dirinya hanya korban kejahatan papahnya.


"Bagaimana ? aku tidak punya banyak waktu ?" tanya Haidar mendesak Wardhana.


"Bisakah beri aku sedikit waktu. Bisa saja bukan papahku juga pelakunya," ucap Wardhana.


"Aku beri kamu waktu 5 detik ...


Lima ...


Empat ...


Tiga ...


Satu ...


"Ansel," teriak Wardhana. "Aku akan memihak Ansel. Aku akan membantu mencari bukti, tapi aku melakukan ini bukan karena aku ingin menjatuhkan papahku. Aku hanya ingin menebus rasa bersalahku pada Ansel dan aku ingin menghadapi rasa takutku untuk mengungkapkan kebenaran."


Haidar tersenyum, rasanya beban dipundaknya sedikit berkurang. Haidar percaya dengan bantuan dari Wardhana mengungkap misteri kecelakaan saat pernikahan Ansel pasti menjadi lebih mudah.


"Oke aku pegang ucapanmu." ujar Haidar.


"Haidar tapi untuk sementara izinkan aku untuk tinggal disini," pinta Wardhana.


"Untuk apa kamu tinggal di sini ?" tanya Haidar merasa curiga lagi kepada Wardhana.


"Aku tidak bisa pulang ke apartemen ku karena papah menempatkan penyadap disana," jelas Wardhana.


"Yang benar saja ... apa papahmu tidak percaya bahkan pada anaknya sendiri ?" tanya Haidar penasaran.


"Papah memantauku untuk melindungi ku juga mengontrol kehidupan pribadiku. Aku anak laki-laki satu-satunya yang papah punya. Semua bisnis papah yang putih maupun yang hitam akan diwariskan padaku. Jadi aku perlu perhatian ekstra," jelas Wardhana.


Haidar hanya bergidik ngeri mendengar penjelasan Wardhana. Haidar tidak menyangka kalau kehidupan Wardhana tidak sebebas dirinya padahal sepenglihatan Haidar, Wardhana seperti sangat bebas melakukan semua yang dia inginkan padahal dia juga seorang King yang terikat penuh oleh peraturan keluarga.


"Aku mengizinkanmu tinggal disini tapi jangan menggoda adikku. Aku sudah punya calon yang lebih pantas untuknya." ujar Haidar.


Wardhana mengernyit, dirinya merasa kecewa mendengar ucapan Haidar. Padahal selama ini dia menjadi playboy dan mempunyai banyak wanita hanya untuk mengelabui papahnya supaya tidak mengganggu Kyra.


"Siapa ? Ansel ?" tanya Wardhana.


"Ngaco kamu, mana mungkin aku menjodohkan Kyra dengan pria yang sudah beristri. Sekarang Kyra sedang mengejar-ngejar seorang pria. Dilihat dari sepak terjang Kyra, aku yakin hanya pria ini yang bisa meluruskan kehidupan adikku yang penuh dengan belokan, turunan dan tanjakan," jelas Haidar.


"Owh syukurlah kalau bukan Ansel," Wardhana pindah posisi duduk disebelah Haidar. "Bolehkah aku meminta imbalan jika memang terbukti papahku yang bersalah dan kita berhasil mendapatkan bukti tersebut lalu kita menjatuhkan papahku ... bolehkah aku menikah dengan Kyra."


Bola mata Haidar hampir keluar mendengar ucapan Wardhana. Haidar sangat kaget seorang pemain sekelas Wardhana meminta adiknya untuk dijadikan istri. Haidar tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya rumah tangga mereka kelak.


"Aku tidak bisa menjanjikan hal itu. Tapi jika Kyra bersedia menikah denganmu aku tidak akan menjadi penghalang," ujar Haidar.


"Baiklah ... terima kasih kakak ipar," ujar Wardhana tersenyum ceria.


/plak ...


Haidar menepis tangan Wardhana yang merangkul pundaknya.


"Jangan gegabah bung ... menjadi adik ipar ku tidak semudah seperti mencari teman kencan semalam," ujar Haidar.


"Huuuuh." Wardhana menghela napas memikirkan jalan terjal dan berliku yang harus dirinya lewati.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.