
Kyra menangkap sorot mata Ansel yang terarah padanya. Kyra langsung bergerak mundur perlahan lalu berlari meninggalkan Freya menanggapi tatapan Ansel yang mengerikan.
Kyra memang menyukai Ansel karena wajah Ansel yang tampan, perawakan Ansel yang tegap serta sikap Ansel yang dingin dan misterius.
Namun Kyra masih belum terbiasa dengan tatapan mata Ansel yang mengerikan seperti Kyra dapat melihat neraka dari bola mata Ansel.
"Kyra mau jagung bakar," tanya Freya memutar badannya ke samping.
Alangkah terkejutnya Freya tidak menemukan Kyra di samping badannya.
Kemana perginya gadis absurd, padahal tadi dia terus saja berceloteh tanpa henti seperti burung beo. Apa dia diculik setan gunung ?
Freya bergidik ngeri.
"Belum ngantuk ?" tanya Ansel.
Freya hanya menggeleng. Freya menerawang jauh ke belakang namun tidak ada tanda-tanda Liam maupun Haidar menyusul dari belakang.
"Mencari sesuatu ?" tanya Ansel lagi berjongkok dihadapan Freya yang sedang duduk bersila ditanah.
"Kemana dua pria yang pergi bersamamu tadi ?" Freya tidak menjawab pertanyaan dari Ansel malah balik bertanya.
"Owh mereka berdua. Mereka jatuh di jurang sebelah sana," ujar Ansel menunjukkan jari ke arah berlawanan dengan posisi Freya duduk.
Freya menoleh, mengikuti arah telunjuk tangan Ansel.
Cup ...
Ansel berhasil mencuri start, dirinya berhasil mencium pipi Freya.
Freya meringis.
Bisa-bisanya aku tertipu dan masuk ke dalam jebakan pria mesum ini ... Liam cepat kembali. Freya berteriak dalam hati
Freya menutupi bekas kecupan Ansel dengan tangannya. Ansel bergerak maju, Freya mundur dan hampir terjungkal untung Ansel menahan pinggang Freya.
"Rambutmu berantakan, kalau tidak diikat akan sulit disisir nantinya," ujar Ansel merapikan rambut Freya dan membatu mengikat cepol.
"Terima kasih," ujar Freya tertunduk malu.
Freya merasa malu karena sudah membayangkan Ansel bergerak maju karena akan mencium bibirnya hingga dirinya bergerak mundur sambil menutup mata hingga hampir terjungkal.
Ansel mengeluarkan kotak hitam kecil dari saku jaketnya. Saat kotak kecil itu dibuka terlihat cincin putih dengan rubi merah bersemayam di dalam kotak.
Freya menelaah model desain cincinnya. Freya terpukau desainnya simple namun sangat cantik. Cincin lingkaran seperti pada umumnya namun dengan aksen ditengah menyerupai bentuk mahkota ala putri-putri negeri dongeng. Bentuk mahkota ini terbentuk oleh ceruk yang dibuat pada badan cincin dan pada ceruk ini juga dibuat ceruk lain hingga hanya memunculkan tujuh dikiri dan tujuh dikanan permukaan berlian putih kecil saja. Ditengahnya ada batu rubi berwarna merah menyala ukurannya lebih besar dari berlian yang mengapit sebagai inti hiasan cincin.
"Cantiknya." terlontar begitu saja dari bibir Freya.
"Freya suka ?" tanya Ansel.
Freya hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ansel.
"Perlihatkan tangan kirimu padaku," Pinta Ansel.
Freya menyodorkan tangan kirinya pada Ansel. Alis Ansel tertarik ke atas, Ansel melihat guratan putih dijari manis Freya.
Freya berapa lama kamu memakai cincin dari Liam ... dan tak pernah melepaskannya sampai meninggalkan bekas. Meskipun ada guratan putih dijarimu, aku berharap itu hanya bekas cincin yang tertinggal saja bukan cinta Liam yang tertinggal disana.
Perlahan Ansel memasukan cincin ke jari manis Freya. Cincin masuk dengan mulus kemudian bertambat dengan pas di jari manis Freya.
"Wahh sangat pas," Celetuk Freya mengacungkan tangan lebih tinggi agar bisa melihat lebih jelas cincinnya.
Freya tersadar dengan tergesa menurunkan tangan dan menutup wajahnya.
Freya ... dasar murahan. Bagaimana bisa kamu dengan mudah menerima cincin dari Ansel. Tapi cincinnya sangat cantik aku suka. Bagaimana ini aku benar-benar tidak berdaya melihat barang berkilau ... cincin ini membuatku tidak sadarkan diri, aku harus meleburnya ke larva gunung berapi. Hmmppp ... tapi sayang ini sangat pas dijari manisku. Dan lagi inikan bukan film para kurcaci yang memperebutkan cincin. Ya Freya tidak perlu sampai meleburnya ke larva.
Hati dan pikiran Freya mulai tidak sinkron. Ansel menarik tangan kiri Freya lalu mengecup punggung tangannya.
Pikiran dan hati Freya sekarang bukan hanya tidak sinkron tapi sudah blank sepertinya butuh memori baru.
"Bagaimana bisa pas dijari manisku ?" terlontar pertanyaan dari bibir Freya.
"Memang aku memesan khusus untuk Freya. Aku sudah mengukur tangan Freya selagi Freya tertidur saat di rumah nenek Liza," Jelas Ansel melepaskan tangan Freya.
"Benarkah ?" tanya Ansel.
Freya hanya mengangguk mengiyakan, padahal desainnya sudah sesuai dengan selera Freya.
"Aku harus mengajukan komplain kalau perlu aku tutup saja tokonya sekalian. Mereka menipuku, mereka bilang desain itu sudah paling sederhana tanpa mengurangi kecantikannya. Dan pasti Freya suka," Jelas Ansel, merogoh smartphone hendak mengajukan komplain.
Freya bergegas mengambil smartphone dari tangan Ansel. "Aku hanya bercanda. Aku suka bahkan sangat-sangat suka. Ini cincin yang paling sederhana namun tetap cantik."
"Benarkah ? serius ?" tanya Ansel lagi.
"Ya sungguh. Haruskah aku bersumpah agar kamu yakin ?" tanya Freya merasa was-was bila nanti Ansel akan menyuruhnya bersumpah.
"Tidak perlu. Meski Freya berkata bohong sekalipun, aku akan selalu mempercayai semua ucapan Freya," ujar Ansel.
Freya menghela napas lega. "Terima kasih Ansel."
"Untuk ?" tanya Ansel.
"Karena sudah memberiku cincin dan mempercai ucapan ku," jelas Freya.
"Itu tidak seberapa aku akan memberikan semua yang aku milikku pada Freya," ujar Ansel mengelus rambut Freya.
"Tidak perlu, aku tidak suka hal-hal yang berlebihan," ucap Freya.
Ansel kamu harus mengerti ucapan ku. Jelas kita sangat bertentangan aku suka hal yang simple dan kamu suka hal yang luar biasa. Aku tak cocok untukmu. Ansel sadarlah ...
"Freya," ucap Ansel.
Freya tersentak dari lamunannya. ucapan Ansel mengangetkan dirinya.
"Kamu tidak fokus. Aku tidak suka kamu memikirkan hal lain saat bersamaku apalagi memikirkan pria lain," ujar Ansel menegaskan apa yang harus diperhatikan oleh Freya saat bersamanya.
Kegugupan melanda, Freya memang tidak bisa bersikap santai saat bersama Ansel.
"Ini batu rubi ?" tanya Freya tergagap mencari topik pembicaraan lain.
"Ya," jawab Ansel singkat.
Sepertinya Ansel marah ... pria ini memang sangat sensitif, begitu saja sudah marah. Ayo Freya cari topik lain lagi.
"Ansel apa arti batu rubi ?" tanya Freya.
"Kenapa tanya padaku, aku bukan tukang perhiasan cari saja artinya di internet," ujar Ansel ketus.
Topik ini juga salah, entah apa yang merasukimu Ansel ...
Freya menggigit ujung kuku jari jempolnya.
"Jangan menggigit kuku, di sana tempat kuman yang tidak terlihat. itu kotor !" Ansel menarik tangan Freya.
"Akuβ"
Ucapan Freya terpotong, bibirnya membeku. Ansel menarik tangan Freya hingga tubuhnya ikut terseret dan mendarat di dekapan Ansel.
Wajah Freya melekat di dada Ansel. Freya bisa mendengar debaran-debaran jantung Ansel.
Ternyata Ansel juga bisa gugup ... detak jantungnya cepat sekali padahal kegugupan tak nampak di wajah Ansel, Ansel terlihat biasa saja.
"Aku sengaja menambahkan batuan rubi yang memiliki warna merah menyala di cincin. Sebelumnya aku sudah mencari arti dari berbagai macam batu berharga. Karena tidak mungkin aku sembarangan memberikan cincin pada Freya. Batu rubi merah sebagai lambang dari sebuah ikatan persahabatan dan cinta yang sangat kuat. Tak hanya itu, batu Rubi juga dipercaya sebagai batu yang mampu membuka hati seseorang, sehingga pasangannya bisa masuk dan memberikan perasaan cintanya. Hingga pada akhirnya mereka saling menguatkan," Ansel menempelkan hidungnya ke kepala Freya, memejamkan matanya menikmati aroma sampo. "Mungkin itu hanya takhayul, kamu boleh menertawakan ku karena percaya dengan hal seperti itu. Aku hanya menuangkan harapanku melalui batu rubi itu. Apa ini terdengar konyol ?"
Freya menggelengkan kepalanya. "Itu terdengar romantis."
Sudut bibir Ansel tertarik ke atas mendengar perkataan Freya.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.