
"Apa ini sakit ?" tanya Freya lirih.
"Tidak sakit berkat sayangku," ujar Ansel.
Afandi memasuki kamar mulai mengeluarkan perlengkapan tempur yang dibawanya. Freya mundur selangkah untuk memudahkan dokter Afandi memeriksa keadaan Ansel.
Ansel menepuk kasur memberi isyarat pada Freya agar mendekat dan duduk di samping Ansel. Freya menaggapi isyarat yang diberikan Ansel, dirinya melangkah maju dan duduk di samping Ansel.
Afandi memberikan suntikan pereda mual dan pereda sakit di tangan kanan Ansel. Freya dapat melihat pipi Ansel sedikit terangkat saat jarum menembus urat nadi Ansel.
"Ini pendarahan dalam. Syukurlah Ansel sudah memuntahkan darah kotor yang mengendap. Freya tidak perlu khawatir ini memang gejala yang biasa untuk pasien yang terkena benturan," jelas Afandi membereskan perlengkapannya. "Oh ya Freya, jangan biarkan dia minum alkohol dan merokok dari sekarang sampai dua bulan ke depan. Suamimu yang keras kepala ini tidak mau mendengarkanku. Jika Freya yang berbicara kemungkinan besar pendengarannya akan berfungsi dengan baik dan mendengarkanmu. Jika dia tidak mendengarkanmu juga, tinggalkan saja dia sendiri. Pria yang tidak mendengar perkataan istrinya tidak pantas hidup dengan nyaman."
Ansel menatap Afandi dengan tatapan kemarahan, namun Ansel tidak bisa meluapkan amarah seperti biasanya. Badannya masih lemas akibat telah memuntahkan darah lumayan banyak.
"Baik dokter terima kasih saya akan memastikan Ansel menaati larangan anda. Dokter bagaimana dengan makanannya, apa ada makanan yang tidak boleh Ansel makan ?" tanya Freya pada Afandi.
"Tidak ada yang dilarang, Ansel boleh memakan apapun yang bisa dimakan. Tapi lebih baik jika untuk sementara Ansel memakan makanan yang lembek dulu," jelas Afandi.
"Baik dok, terima kasih. Biar saya antar dokter keluar," ujar Freya.
"Tidak perlu, rawat saja suamimu. Aku bisa keluar sendiri sebelum mata suamimu keluar dari tengkoraknya karena geram melihatku terus berada di sini," Afandi melirik Ansel. "Baiklah saya permisi."
Afandi menghilang di balik pintu. Freya mengerang dirinya lupa kalau sekarang dia hanya memakai pakaian dalam. Meskipun Freya masih memakai rok midi hitam, tapi atasannya Freya hanya memakai bra sport agak panjang sampai hampir menutupi pusar karena kemeja yang ia kenakan sudah Freya lepas tadi. Tetap saja bagi Freya itu tidak benar, dirinya merasa malu memperlihatkan bagian tubuhnya pada Afandi.
Pantas saja Ansel terus memelototi dokter Afandi ... karena syok aku sampai lupa dengan penampilanku. Bagaimana ini ... aku malu. Meskipun dokter Afandi tidak berbicara tentang penampilanku. Ahhhhh ....
Tanpa sadar Freya bersujud di samping Ansel. Freya menyembunyikan wajahnya frustasi. Ansel mengelus punggung Freya.
Freya bergidik ngeri merasakan sentuhan lembut di punggungnya. Freya mendongak mengangkat rambut yang menutupi wajahnya menahannya dengan telapak tangan.
"Sayangku semakin terlihat seksi meski berpakaian seadanya," ucap Ansel memberi penghiburan pada Freya yang terlihat frustasi.
Freya mengernyit, dirinya semakin down. Arwahnya seperti keluar dari tubuh mendengar kata seksi yang terlontar dari mulut Ansel. Ingin rasanya Freya menggali lubang untuk mengubur tubuhnya.
"Ansel bajuku di mana ?" tanya Freya mengalihkan pembicaraan yang mulai memasuki zona berbahaya.
"Baju Freya dan aku ada di salah satu ruangan di lantai dua. Karena kita hanya sementara tidur di kamar ini, sampai kakiku sembuh. Biarkan Anne yang mengambilkan dan membawanya kesini," ujar Ansel.
"Tidak perlu biar aku saja yang ambil. Bajuku dan bajumu nanti diletakan di mana ?" tanya Freya lagi, Freya bingung karena di kamar Ansel yang ini tidak ada lemari.
"Tidak perlu diletakan di kamar ini. Sudah ada ruang khusus tempat menyimpan semua pakaian mu dan pakaianku," jelas Ansel.
Freya hanya terdiam, dirinya belum paham maksud Ansel. Ansel menekan salah tombol di telpon lalu tersambung ke Anne.
"Anne bawakan pakainku dan nyonya," perintah Ansel.
"Baik tuan, akan saya siapkan," jawab suara wanita di sebrang telpon.
Ansel menutup panggilannya, selang beberapa menit Anne dan dua pelayan yang lain sudah membawa beberapa baju ke kamar.
"Silahkan nyonya pilih baju yang akan tuan kenakan," ujar Anne.
Kenapa Anne bertanya padaku ?! kenapa tidak menanyakan pada orangnya langsung. Anselkan ada dihapannya. Anne sangat Aneh.
"Sayang, pilihkan baju untukku !" pinta Ansel.
"Aku ?" tanya Freya menunjuk wajahnya.
"Ya, mulai hari ini semua keperluanku menjadi tanggung jawab sayangku sepenuhnya. Aku hanya akan memakai pakaian yang sayangku pilihkan dan memakan makanan yang sayangku siapkan," ujar Ansel.
Ya Ampun ... ini berlebihan. Bila semua aku yang lakukan, apa gunanya pelayan sebanyak ini. Ternyata ini maksud dari perkataan Anne bahwa aku akan sibuk untuk mengurusi semua keperluan Ansel sampai semua keperluanku terabaikan dan menjadi tugas Anne untuk menyiapkannya.
Meski hatinya belum bisa menerima peraturan yang dibuat Ansel secara sepihak dan semena-mena.Namun Freya tidak bermaksud untuk memberontak, dirinya akan mencoba bersabar dan menaati perkataan Ansel.
Freya memilih sembarang kemeja tangan pendek polos warna cream. Kemudian memakaikannya perlahan pada Ansel karena tangannya masih dibalut perban. Freya merapikan kerah kemeja Ansel dan mulai mengancingkan satu persatu kancing yang menempel dikemeja.
Cup ...
Ansel memcium pipi Freya, tangan kirinya menahan tengkuk Freya agar tidak merubah posisinya. Anne dan pelayan yang lain menunduk malu melihat kemesraan yang ditunjukan tuan mereka.
"Ansel, ada Anne dan pelayan lain di sini," ujar Freya pelan dengan bibir Ansel masih menempel di pipinya.
Ansel melepaskan ciumannya. "Mereka sama sekali tidak melihat kita."
Freya menoleh memastikan kebenaran perkataan Ansel. Freya mengamati Anne dan pelayan lain yang sedang menunduk diam seribu bahasa.
"Anne letakan pakaian nona !" Ansel menunjuk kasur, "Kalian boleh pergi."
"Baik tuan, kami permisi." Anne dan pelayan yang lain meninggalkan kamar.
Freya mengambil t-shit putih polos yang dibawakan Anne lalu memakainya.
"Ansel mau memakan sesuatu ? biar aku siapkan," ujar Freya.
"Tidak perlu, aku tidak lapar. Aku hanya mengantuk mungkin ini efek obat tapi mataku sulit menutup," Ansel bergeser meletakkan kepalanya di samping pinggang Freya. "Tanganku sakit. Elusanmu sepertinya bisa mengurangi sakitnya."
Meski terdengar tidak masuk akal dan hanya alasan Ansel saja minta dimanja istrinya, namun Freya melakukan sesuai perkataan Ansel. Freya mengelus-elus lembut tangan Ansel yang diperban mulai dari sikut sampai pergelangan tangan lalu kembali lagi ke sikut sampai ke pergelangan tangan begitu terus sampai Ansel terlelap.
Ansel menutup matanya merasa sangat nyaman dengan elusan Freya. Ansel berpikir ucapannya bekerja, memang Ansel hanya membutuhkan kasih sayang dari Freya untuk segera memulihkan kondisinya, elusan Freya merupakan obat terbaik untuknya. Ansel tidak merasakan denyutan lagi ditangan dan kakinya. Akhirnya Ansel bisa tertidur lelap dengan Freya masih mengelus-elus tangan Ansel.
Tidurlah Ansel ... untuk sekarang aku akan memanjakanmu semampuku sampai kamu sembuh. Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu karena fakta sebenarnya obat pereda rasa sakit yang disuntikan oleh dokter Afandi sudah mulai bekerja hingga rasa berdenyutan di tangan dan kaki Ansel sudah tidak terasa lagi bukan karena elusan dariku.
Freya memandangi Ansel yang terlelap, napasnya beraturan. Freya merasa Ansel lebih terlihat tampan saat tidur, mungkin ketika Ansel tertidur aura yang menakutkan dari Ansel meredup hingga Freya tidak takut lagi saat berdekatan dengan Ansel.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.