
Rasanya ada yang terus memperhatikan Freya. Mungkin itu hanya mimpi pikirnya. Seingat Freya dirinya sedang tidur manja dipangkuan Ansel. Freya mengeratkan pelukan ke tangan Ansel. Freya terperanjat, seketika membuka mata. Merasa tidurnya sudah terlalu lama. Dihadapannya sudah ada Riko dengan smartphone digenggaman tangan. Riko sedang mengabadikan moment yang jarang terjadi dan mungkin tak akan pernah terulang dua kali. Pipi Riko merona melihat kemesraan pengantin baru yang sedang tertidur. Rasa iri sudah pasti terbersit di hati Riko. Bukan iri karena rasa cemburu, melainkan ia iri ingin juga merasakan tidur sambil memangku mesra kekasih di ruang kerja. Freya melayangkan tatapan aneh dengan tingkah Riko.
"Ko, Riko aku sudah bilang jangan berulah. Kamu mengganggu tidur mereka!" ujar Reja mengomeli Riko. Kali ini Riko mendengarkan omelan Reja setelah Freya terbangun dari tidurnya. Riko kembali duduk di kursi dan melanjutkan pekerjaan.
Freya merenggangkan tangan hingga tak sengaja tidur Ansel terusik karenaya. Menghasikan gerakan kecil dari bibir Ansel. Namun, mata Ansel masih menutup. Saat tidur saja wajah Ansel tetap terlihat tegang. Alis Ansel terangkat, sepertinya Ansel sedang mimpi buruk. Wajar saja Ansel mimpi buruk, Ansel pasti tidak terbiasa tidur dengan posisi duduk di sopa. Freya mengelus rambut Ansel bermaksud membuat tidur Ansel sedikit lebih nyaman. Elusan Freya bereaksi alis Ansel kembali ke posisi semula. Kenyaman dirasakan Ansel dalam tidurnya. Freya menyelimuti Ansel dengan jas hitam yang sebekumnya diselimutkan Ansel ke tubuh Freya. Freya membiarkan Ansel tetap beristirahat.
Freya berdiri merenggangkan pinggang sampai terdengar suara dari tulang yang bergeser kembali ke tempatnya semula. Freya beranjak ke kursi singgasananya untuk menyelesaikan pekerjaaan. Tidur sebentar memang yang terbaik. Kini pikirannya terasa lega, beban di otak sudah benar-benar menghilang. Freya bisa kembali bersemangat melakukan aktifitas. Freya memutar otak kembali, memikirkan kelegaan yang Freya rasa kali ini berbeda dengan sebelumnya. Begini rasanya diperhatikan, ada gumpalan yang meluap-luap dalam sanubari. Ada rasa kebanggaan tersendiri dalam hati Freya. Membuat rongga paru-paru dipenuhi udara yang positif hingga saat Freya menghela napas bukan rasa penat yang ia rasakan melainkan ketenangan. Tenang karena ada seseorang yang sudah pasti selalu ada meski dirinya sedang sibuk sekalipun.
"Ki, buatin abang secangkir kopi!" teriak Reja meminta bantuan Riki.
Freya langsung melotot ke arah Reja. Ingin rasanya menyumpal mulut Reja dengan kaos kaki, agar mulutnya tak sanggup berteriak lagi. Memang itu tindakan yang sangat tidak sopan, apalagi umur Reja jauh lebih tua dari Freya. Freya hanya bisa menghela napas, masih untung teriakan Reja tidak mengganggu tidur Ansel. "Sssssttt ... ngomongnya gak usah teriak-teriak. Ini di kantor bang, bukan di hutan. Coba abang tengok ke sopa!" Freya menunjuk ke arah Ansel, pandangan Reja mengikuti arah jari telunjuk Freya. "Suami Freya lagi tidur, teriakan abang bisa mengganggu tidurnya."
"Siap laksanakan," ujar Reja pelan.
"Ki aku juga mau kopi hitam," bisik Riko.
"Kamu juga mau Freya?" tanya Riki beranjak dari duduknya. Freya hanya menggeleng, menolak tawaran Riki.
"Aku bisik-bisik ... kamu ngomong kencang. Dasar bocah gak ada akhlak. Pak suami lagi bobo tampan, kasiankan kalau bobonya keganggu. Pak suami pasti kecapean abis mangku istri tercinta," Goda Riko.
Reja menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara kekehan. Freya hanya tersenyum setuju dengan ucapan Riko. Riki yang merasa jijik mendengar ucapan Riko langsung beranjak ke ruangan kecil di samping ruangan kerja. Disana ada mesin kopi serta kulkas yang penuh dengan makanan ringan. Para karyawan Dream Star menyebut ruangan itu gudang harta karun. Memang tidak bisa dikatakan dapur karena tidak ada kompor disana. Terlebih lagi sebutan itu sangat pas. Hanya seorang Flora sang sultan Dream Star saja yang selalu mengisi kulkas dengan berbagai cemilan. Karyawan lainnya hanya berperan sebagai perompak yang menjarah timbunan harta sang sultan. Riki masuk membawa tiga cangkir kopi hitam bersama dengan beberapa bungkus keripik singkong rasa barbeque.
"Ki ini rasa barbeque ... nanti ketahuan sultan kalau kita yang ambil. Taruh lagi ganti rasa lain, rumput laut atau original," ujar Reja menyeruput kopi yang dibawa Riki.
Freya juga ikut mencomot keripik singkong rasa barbeque milik Flora. Freya juga setuju dengan penjelasan tidak masuk akal dari Riki. Sejak kemarin Freya merasa kalau Flora sangat bahagian. Tidak jelas apa yang membuatnya bahagia. Freya hanya menduga pasti Jonathan penyebabnya.
Freya mengingat Flora menarik paksa Liam. Seharusnya itu hal yang janggal karena setahu Freya, Liam itu musuh Flora. Sahabatnya selalu membuat gara-gara pada Liam. Jangankan menyentuh, menyapa Liam saja Flora tidak pernah. Yang membuatnya keheranan bukan karena sikap Flora pada Liam tapi kenapa dirinya tidak cemburu pada Flora. Freya itu tipe wanita pencemburu. Freya tidak suka melihat kekasihnya dengan wanita lain, meskipun itu sahabatnya sendiri. Pasti ada perasaan yang mengganjal dalam hatinya. Siang tadi dirinya merasa sedih karena teringat sudah tidak bisa bersama Liam lagi. Teringat Freya sudah seutuhnya menjadi milik Ansel. Bukan karena cemburu. Freya terus memikirkan perubahan dalam dirinya. Hingga matahari berada diatas kepalanya.
Program yang ia kerjakan juga sudah rampung. Freya menoleh ke arah Riko, ternyata Riko sudah tumbang. Kepalanya sudah menempel di meja. Sama halnya dengan Reja. Yang masih bertahan di ruangan ini tinggal si rajin Riki, meski penampilannya sudah tidak karuan seperti zombie.
"Ki, aku sudah selesai dengan tugasku. Apa kamu butuh bantuan?" tanya Freya menawari Riki.
"Tidak perlu Freya, sebentar lagi aku juga selesai. Sebenarnya lembur kali ini untuk tim JPG hanya saja untuk rasa kebersamaan kita ikut juga. Lumayan juga uang lemburannya... he," cengir Riki. "Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Tidak tega melihat direktur The King Entertainment harus tidur di sopa."
Freya mengangguk setuju dengan perkataan Riki. Freya juga tidak tega melihat suaminya. Freya membangunkan Ansel, mengajaknya untuk pulang ke rumah. Ansel sangat gembira istrinya tidak jadi lembur dua hari. Diperjalanan Ansel berpapasan dengan Liam. Ansel bermaksud menyapa Liam tapi Freya mengeratkan rangkulan tangannya, tidak memberikan Ansel menyapa Liam. Akhirnya Ansel dan Freya hanya melewati Liam, seperti orang yang tak pernah saling mengenal.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.