Love Shot

Love Shot
Ansel yang Menggemaskan



Freya membuka pintu perlahan-lahan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Usahanya sia-sia baru juga kakinya melangkah masuk sepasang bola mata coklat sudah mengawasi gerak-gerik Freya. Pandang Freya lansung tertuju pada Ansel yang sedang duduk bersandar di ranjang sambil mengawasi kedatangan Freya. Freya bergeming tak kuasa melangkahkan kaki menuju Ansel.


"Sayang, kemari !" Ansel meminta Freya lebih mendekat.


Dengan berat hati Freya melangkahkan kaki menuju Ansel meski tangannya bergetar serta keringat dingin sudah membasahi punggung Freya.


"Buka kunci smartphonenya !" pinta Ansel.


Freya tidak berbicara apapun, hanya menuruti permintaan Ansel. Freya meletakan jari telunjuknya ke sensor, smartphonenya terbuka.


"Aku akan mendaftarkan sidik jariku juga sebagai penguncinya," ujar Ansel.


Freya hanya diam, membiarkan Ansel melakukan apapun yang Ansel inginkan asalkan Ansel tidak memarahi Freya.


"Tadi ada panggilan masuk dari MY HEART," ujar Ansel dengan tatapan curiga.


Freya semakin membeku. Bagaimana dirinya bisa lupa mengganti nama kontak Liam. Freya tidak tahu harus mengatakan alasan apa agar dirinya bisa selamat dari amarah Ansel.


"Itu Liamkan ?" tanya Ansel.


Freya hanya mengangguk. Melihat Freya mengiyakan ucapannya Ansel langsung merubah nama kontak Liam menjadi CEO Dream Star. Ansel mengetik kata suami tidak ada yang muncul, mengetik husband juga tidak ada kontak yang muncul.


"Kontakku kamu beri nama apa ?" tanya Ansel ketus.


"King Ansel Cullen," jawab Freya terbata.


Ansel mengetik namanya ternyata benar langsung muncul nomer kontak Ansel. Ansel langsung mengganti nama kontak King Ansel Cullen menjadi Suami dengan dua tanda hati mengikuti dari belakang.


"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Ley," ujar Ansel.


"Ley ?" tanya Freya merasa tidak pernah kenal dengan orang yang bernama ley.


"Liam," jelas Ansel. "Duduk di dekat ku ... sayang takut padaku ?"


"Ya," jawab Freya singkat kemudian duduk di samping Ansel.


Ansel tercengang dengan jawaban Freya. Meski banyak orang yang takut saat berhadapan dengan Ansel. Tetapi dirinya tidak pernah mengira akan ada yang berkata sejujur Freya.


"Ya untuk apa ?" tanya Ansel menggoda Freya.


Freya tidak memahami godaan Ansel, Freya begitu gugup seperti sedang diintrogasi setelah melakukan dosa besar. "Ya untuk keduanya," ujar Freya pelan.


"Tidak perlu takut padaku," Ansel memeluk Freya. "Kamu satu-satunya orang di dunia ini yang tidak akan pernah aku lukai. Aku akan melindungi Freya dengan nyawaku" bisik Ansel.


Freya masih terdiam, pikirannya menerawang jauh ke masa lalu. Pelukan Ansel membuat Freya teringat kembali pada Liam. Freya menyukai saat diam dalam dekapan Liam. Saat dirinya merasa lelah pelukan Liam sangat ampuh untuk mengusir jauh rasa lelah dan sekaligus membuat Freya bersemangat kembali.


Mata Freya mulai terasa perih, kilasan-kilasan kenangan indah bersama Liam menusuk matanya. Sebutir air mata mendarat ke kemeja Ansel, menyerap dengan sempurna hingga meninggalkan bekas lingkaran.


Freya mengigit bibir bawahnya, mencoba sekuat tenaga menahan gejolak kesedihan yang memenuhi rongga dada.


Ansel melepaskan pelukannya. Ansel menyentuh dagu Freya membuatnya mendongak dan menatap Ansel. Guratan kesedihan terlihat jelas dari mata Freya yang memerah.


"Jangan terus menggodaku dengan menggigit bibirmu di depanku," ujar Ansel.


Mata Freya membulat mendengar ucapan Ansel. Dirinya tidak bermaksud menggoda Ansel.


Freya tersenyum, baru kali ini Ansel terlihat lucu dimata Freya. Kesedihannya langsung menguap begitu saja. Freya menyadari kekakuan dan ketidak tahuan Ansel bagaimana memulai berciuman.


Ansel terlihat bingung melihat Freya yang tersenyum. Senyuman di bibir Freya lenyap dengan sekejap berganti rasa gugup saat Ansel mengelus pipi Freya dengan lembut.


Ansel memiringkan kepalanya, kali ini Ansel memilih sisi yang berlawanan agar hidung mereka tidak bertemu kembali. Ansel mendekatkan bibirnya ke bibir Freya lagi.


Namun Itu bukan ciuman karena Ansel hanya mendekatkan bibirnya ke bibir Freya tanpa melakukan apapun.


Ansel terdiam dengan posisi yang tepat, Ansel menunggu respon Freya. Setelah beberapa detik berlalu Freya masih terdiam dan tidak menunjukan respon penolakan. Ansel mengambil kesimpulan kalau Freya menerima dirinya.


Ansel mencecap perlahan bibir bawah Freya, menikmati kelembutan bibir merah Freya. Baru sebentar Ansel sudah menghentikan aksinya karena hidung mereka bertemu kembali.


Freya sudah tidak tahan menahan sensasi menggelitik dipipinya, akhirnya Freya terkekeh melihat Ansel yang terdiam binggung.


Baru kali ini Ansel merasa kesal melihat Freya tersenyum. Rasanya Ansel ingin menarik hidung Freya agar tidak mengganggu lagi.


"Apa ini lucu ?! Haruskan ku singkirkan ini agar tidak mengganggu," ujar Ansel mencubit pelan hidung Freya.


Freya menggeleng melepaskan cubitan Ansel di hidungnya sambil terus terkekeh.


"Itu tidak akan mengganggu kalau caranya benar ... He," ucap Freya disela tawanya.


Alis Ansel terangkat sebelah mendengar ucapan Freya. Freya tersadar saat tatapannya bertemu dengan mata Ansel yang sedang menatapnya kesal. Freya tersadar kalau ucapannya sudah berlebihan. Freya langsung menghentikan tawanya dan menutup mulut ember nya dengan telapak tangan.


"Kenapa berhenti ?" Ansel mendekatkan wajahnya kembali. "Coba jelaskan bagaimana cara yang benar !"


"Aku tidak tahu apa caraku benar atau tidak ?" Goda Freya memajukan wajahnya hingga hanya tersisa jarak beberapa inchi dengan wajah Ansel.


"Bagaimana bisa tahu kalau belum dicoba." Ansel menantang Freya.


"Tutup matanya !" pinta Freya.


Ansel mengabulkan permintaan Freya. Ansel menutup mata perlahan muncul debaran-debaran di dadanya. Ansel merasa ini lebih mendebarkan daripada menonton film horor.


Freya memiringkan sedikit kepalanya ke kanan. Freya memilih sisi yang berlawanan dengan Ansel. Freya mendekatkan bibirnya ke bibir Ansel perlahan. Entah apa yang merasuki Freya, namun saat ini Freya sangat tertarik dengan bibir seksi Ansel.


Freya merangkul pundak Ansel, menyamankan posisinya agar hidung mereka tidak beradu dan mulai memberikan ciuman lembut secara perlahan.


Freya mengunci bibirnya, sehingga bibir bawah Ansel berada di antara dua bibir Freya. Kemudian, Freya menyapukan ujung lidahnya dengan ringan pada bibir bawah Ansel. Freya melakukan satu gerakan yang halus dan cepat sehingga kontak yang terjadi berlangsung tidak lebih dari satu detik lalu Freya melepaskan cecapannya.


Ansel membuka matanya perlahan, jiwa Ansel terbang tinggi berkat ciuman yang diberikan Freya. Rasanya Ansel kehilangan kesadarannya, tubuhnya bergetar hebat. Ansel tidak menyangka kalau dirinya sudah melakukan french kiss dengan wanita yang sangat ia cintai.


Freya memandangi wajah tampan Ansel yang membeku. Baru kali ini dirinya melihat dengan jelas semburat kemerahan diwajah Ansel menjalar hingga ke telinga. Freya memindahkan posisi tangan dari pundak ke pipi Ansel.


Freya tersenyum kembali saat merasakan hawa panas dari pipi Ansel. Aura menyeramkan benar-benar menghilang dari King Ansel Cullen menyisakan Ansel yang menggemaskan.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.