Love Shot

Love Shot
Gombalan



Ansel masih menerima suapan demi suapan dari Freya hingga makanan ludes tanpa tersisa di piring.


"Mau tambah?" tanya Freya menawarkan diri, merasa puas Ansel bisa makan dengan lahap. Memang sejauh yang Freya lihat, Ansel selalu menghabiskan semua makanan asal disuapi. Manja, Freya tersenyum mengingat sikap suaminya yang kekanakan.


"Ayo pulang!" ajak Ansel. Ia sudah tidak mood berada di kerumunan para wanita.


Tidak enak bila pulang duluan sebelum acara berakhir. Namun, Ansel sedang berada di titik gusar pada dirinya sendiri. Ansel tidak ingin sendirian tapi Ansel juga tidak ingin ada dikeramaian. Ansel hanya ingin bersama Freya, bermanja-manja kepada istri tercintanya. Freya menaruh piring kosong di meja.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Freya menanggapi ajakan Ansel untuk pulang. Freya memang ingin secepatnya pulang tapi tidak baik bila harus meninggalkan acara yang diadakan nenek khusus untuk Freya.


Ansel menjatuhkan kepala ke pundak Freya. Kepalanya tidak pusing hanya terasa sedikit berat akibat kemarahan yang tidak langsung Ansel lampiaskan. "Ansel sakit?" tanya Freya lagi, menyentuh pipi Ansel yang terasa sedingin es.


Ansel memejamkan mata, berpikir untuk mengutarakan beban pikirannya kepada Freya. Ansel bingung harus bercerita dari mana kepada istrinya. Jika harus menceritakan semuanya Ansel takut membuat Freya khawatir. "Aku ingin bertemu Acila." Akhirnya hanya ucapan itu yang bisa keluar dari bibir Ansel.


"Acila?!" Freya mengernyit tidak percaya dengan suara yang masuk ke gendang telinga.


"Acila kecil, aku kecanduan menyentuh tangan kecil itu lagi," tukas Ansel menjabarkan alasan ingin bertemu dengan anak dari adik iparnya.


Freya tersenyum, "Sepertinya ini sudah akut. Haruskah kita pindah ke rumah ibu untuk mengobati rasa rindu yang sudah mendekati stadium akhir," goda Freya, ia gemas melihat Ansel yang selalu bersikap arogan sedang merajuk seperti anak kecil kepada Freya.


"Jangan pindah ke rumah ibu. Nanti sulit minta jatah," ucap Ansel singkat.


Ucapan singkat Ansel berhasil menggoreskan senyuman di wajah Elizabeth. Bukan bermaksud menguping percakapan sepasang pengantin baru ini. Karena jarak mereka dekat dan indra pendengaran Elizabeth masih baik, jadi percakapan mereka mengusik rasa penasaran Elizabeth untuk memfokuskan telinga ke percakapan mereka, meski perhatiannya ia arahkan ke salah satu sahabat yang sedang bercerita kentang cucu perempuannya. Elizabeth baru tahu kalau cucu yang paling ia sayang ternyata tidak tahu malu. Membahas hal yang vulgar di tempat umum.


Kekehan muncul dari bibir Freya, "Kemarin sudah dapat jatah, memang masih kurang?" bisik Freya.


"Bukan kurang tapi tidak cukup. Aku juga ingin punya bayi yang lucu. Tidak menangis saat berdekatan denganku karena bayi itu darah dagingku. Aku Papanya," oceh Ansel.


Freya heran apa bedanya kurang dengan tidak cukup. Jika saja mereka hanya sedang berduaan mungkin Freya sudah melayangkan kecupan ke bibir Ansel yang sedang merajuk itu. Membuatnya berhenti mengoceh hal biasa tapi terdengar rancu saat diucapakan oleh seorang King Ansel Cullen. "Jadi, tuan King Ansel Cullen butuh bantuan apa dari istrinya?"


Ansel mengangkat kepala. Seketika kepalanya terasa ringan hingga bisa ditegakkan kembali setelah mendengar kata istrinya. Ansel sudah tidak perlu merajuk dan menghakimi dirinya lagi. Ansel tidak peduli dengan tingkah anak kecil yang telah mengores hatinya. Setidaknya sekarang Ansel sudah punya Freya, kelak Ansel akan memiliki selusin anak-anak kecilnya sendiri dengan bantuan Freya.


"Jangan katakan meminta bantuan untuk membuat selusin bayi," bisik Freya pelan.


Ansel tidak menahan guratan kegembiraan dari wajahnya hingga bibir atas terangkat. Merasa makin takjub pada Freya bisa membaca pikiran Ansel. "Aku tidak boleh mengucapkan itu?" goda Ansel.


Freya segera menutup bibir Ansel. Mencegah Ansel berucap hal vulgar. Freya bisa mati dehidrasi. Akibat rasa panas berlebih yang menjalar ke wajah Freya jika sampai Ansel mengucapkan permintaan yang wajar diminta seorang suami pada istrinya. Namun, tetap saja ini bukan saatnya membahas itu. "Aku tidak akan melepaskan tanganku, jika Ansel masih membahas tentang itu."


Ansel mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah mengajak damai istrinya. Freya bisa garang juga pada Ansel. Bukan takut pada Freya, Ansel semakin ingin membuat Freya marah. Freya berdamai dengan suaminya, melepaskan tangan yang menutupi bibir Ansel.


"Love you," celetuk Ansel.


Freya menutup wajahnya, merasa malu dengan tingkah suami yang mengucapkan kata cinta dengan mudah saat mereka di depan umum. Meski tidak bisa dipungkiri hatinya berbunga karena ucapan Ansel.


Freya menarik lengan Ansel, mereka harus secepatnya meninggalkan ruang meeting fans club. Sebelum Ansel melontarkan gombalan-gombalan lainnya yang membuat hati Freya melayang. Bisa serangan jantung para fans yang tertarik karena sikap dingin Ansel mendengar gombalan dari idola mereka. Ansel pasrah saat ditarik Freya, hanya melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan pada nenek dan tantenya hingga mereka menghilang di balik pintu.


Para fans yang sedari tadi pura-pura sibuk mengobrol berubah mengheningkan cipta. Ruangan langsung hening dan penuh khidmat. Mereka sedang memproses ucapan yang terlontar dari bibir idola mereka, memastikan kalau indra pendengaran mereka tidak rusak. Menyamakan apa yang berhasil ditangkap telinga mereka. Angela syok mendapatkan keponakan yang selalu kalem kehilangan aura cool akibat memasuki masa pubernya yang terlambat.


***


Sampai di parkiran Freya menguraikan cengkraman tangan. Bergerak melingkarkan tangan ke pinggang suaminya. Rasa sesak mengurung dada Freya. Membuatnya membutuhkan pelukan dari Ansel.


"Terima kasih," ujar Freya lirih.


Terharu dengan sikap Ansel yang perlahan berubah menjadi lebih lembut padanya. Semakin Ansel menunjukan rasa cintanya pada Freya, semakin Freya merasa terbebani. Terbebani karena merasa serakah. Serakah dengan cinta yang dimiliki Ansel. Ingin rasanya segera membalas rasa cinta yang diberikan Ansel. Freya juga tidak mengerti betapa sulit mendapatkan itu. Padahal sangat mudah saat mencintai Liam. Freya mengusir pikiran yang tidak pantas membandingkan Liam dengan Ansel. Freya mengeratkan pelukan, berharap hatinya mencair akibat segitu eratnya pelukan Freya. Ansel mendekap serta mengecup puncak kepala Freya. Ansel mencari pengobatan untuk hatinya. Mereka saling mengobati satu sama lain.


"Ayo menginap satu hari di rumah ibu, besok aku juga libur kerja," ajak Freya masih memeluk Ansel. "Tapi ... Ansel besok kerja. Mampir sebentar saja, tidak perlu menginap."


"Kita menginap saja. Urusan pekerjaan biarkan Jarvis yang menghendel. Aku bosnya, sudah sewajarnya membuat pegawai lebih sibuk dariku," pungkas Ansel.


"Diktator ... kasihan Haidar," urai Freya merasa kasihan pada Haidar.


"Jangan sampai Jarvis dengar ... bisa besar kepala dia, mendapat rasa simpati dari nyonya bos," timpal Ansel.


"Nyonya bos?!" Freya mengingat, memang Haidar yang memberi julukan nyonya bos. Ansel meniru sebutan itu untuk istrinya.


"Masuk kedalam nyonya bos, kita harus membeli perlengkapan untuk menginap di rumah ibu," Anjur Ansel.


"Hanya sehari, tidak perlu membeli perlengkapan baru. Kita akan menginap di rumah bukan di hutan. Semua sudah tersedia di rumah ibu," protes Freya.


"Ya benar semua tersedia untuk nyonya bos. Haruskan aku telanjang di rumah ibu?" sindir Ansel.


Sekelebat bayangan dari ucapan Ansel mampir ke pikiran Freya. Mesum, Freya menyadarkan pikirannya. "Ayo kita belanja,"


Seru Freya mengaitkan sabuk pengaman.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.