Love Shot

Love Shot
Kata Suka yang Pertama



Tiga puluh dua menit lima puluh tujuh detik berlalu. Ansel menghitung detik demi detik perputaran waktu seiring dengan irama debaran di dada. Junior miliknya terusik hingga bangkit. Ansel masih menahan hasrat, mengingat Freya baru saja sembuh dari demam. Sangat tersiksa dirasakan Ansel, menyisakan keringat bercucuran dari pelipis. Pasalnya Freya, Sang istri tercinta masih betah bertengger di atas tubuh suaminya. Sesekali Freya menyeka keringat di pelipis Ansel. Ansel mulai merasa tidak nyaman dengan keadaannya saat ini. Bukan hanya karena himpitan beban tubuh Freya yang mengusik sisi buas Ansel juga ditambah krim putih yang berantakan di sekitar pipi, dagu hingga leher sudah mulai mengering. Rasanya Ansel sudah tidak tahan ingin menggaruk leher yang gatal.


"Masih belum puas menghirup aroma mentol?" tanya Ansel mulai frustrasi.


Freya mengangguk semangat. Ansel menghela napas tidak tega mengucapkan keluhan tidak nyaman dengan rasa menggelitik menjalal di seluruh tubuh. Freya tersenyum tipis melihat ekspresi wajah suaminya yang frustasi.


Ansel mencari topik percakapan untuk mengalihkan pikirannya yang sudah tak karuan. "Sayang kapan terakhir menstruasi?" Ansel mengernyit, ia kaget dengan pertanyaan tidak pantas yang meluncur dengan mudah dari bibir sensualnya.


"Tiga hari sebelum akad," jawab Freya singkat.


Ansel menghela napas lagi. Hari ini rasanya Ansel sudah tak terhitung menghembuskan banyak karbondioksida. Jawaban Freya selalu tak terduga membuat jantungnya terus berdenyut karena rasa khawatir membuat Freya marah kembali. Namun, Ansel masih penasaran untuk menanyakan hal itu. Mungkin saja jawaban Freya bisa menambah peluang harapannya mendapatkan bayi kecil miliknya sendiri. "Lalu kapan menstruasi lagi?"


Freya memutar bola mata, menghitung dalam hati. Ansel menggienggitt ujung bibir, bersiap mendapat amarah dari istrinya akibat terlalu banyak bertanya. Freya menjeda jawabannya sejenak, setelah ia yakin baru Freya berbicara. "Paling cepat kurang dari dua minggu lagi. Kenapa menanyakan hal itu?" Freya menarik laci, mengeluarkan tisu basah miliknya. Ia bermaksud mengelap krim yang sudah mulai mengering dari wajah suaminya.


Ansel selamat lagi. Freya masih menjawab pertanyaan dengan santai. Ansel harus bersabar, Ansel bersedia menunggu dua minggu lagi. Bila memaksa Freya untuk mengecek sekarang Ansel meragukan hasilnya. Takut hasilnya tidak sesuai perkataan Afandi. Ansel tidak ingin dirinya terlalu berharap juga tidak ingin Freya salah sangka, mengira Ansel mendesak Freya untuk secepatnya memiliki keturunan. "Jika saat itu kamu telat menstruasi, kita ke dokter ya!"


Freya mengangguk. Freya tidak terlalu memikirkan ucapan Ansel. Freya masih terhanyut aroma mentol. Aroma mentol yang menyentuh indra penciuman menimbulkan efek hangat. Rasanya tenggorokan hingga paru-paru merasa lega. Meski begitu, Freya tidak tega melihat Ansel tersiksa. Freya kembali fakus membersihkan wajah Ansel. Freya terkejut dengan bercak kemerahan yang timbul di wajah Ansel selepas krim menempel di tisu basah. Sepertinya Ansel mengalami alergi karena terlalu lama menggunakan krim cukur tanpa segera dibilas air bersih.


"Aduh, ini berbekas. Apa ini gatal?" Freya panik.


"Gatal sedikit."


"Ada bintik merah. Ansel sepertinya alergi. Bagaimana ini? kita harus telpon dokter Afandi." Freya makin panik melihat bercak-bercak di pipi, dagu dan leher Ansel.


"Tidak perlu. Ini akan hilang sendiri. Tidak perlu menghubungi Afandi. Bisa besar kepala dia, dalam satu hari sampai dua kali dipanggil ke rumah."


Freya tidak tega melihat Ansel namun, Freya juga tidak bisa memaksa Ansel menuruti semua perkataannya. Akhirnya Freya meminta Anne mencari obat gatal yang tersedia di rumah. Anne membawa bedak tabur. Memang hanya itu yang tersedia, itu juga milik Anne. Freya mengerti Ansel menghindari obat, jadi sudah sewajarnya bila di rumah ini tidak tersedia. Freya mengoleskan bedak tabur pereda gatal di sekitar pipi, dagu hingga leher Ansel. Freya dapat merasakan rasa hangat yang menempel di tangan. Freya juga mencium aroma mentol dari bedak tabur.


"Ansel bolehkah aku taburkan bedaknya ke dada?"


"Dada?" Ansel mengernyit, ulah apalagi yang akan diperbuat Freya padanya.


"Iya, disini!" Freya menepuk-nepuk dada Ansel.


Ansel menggeleng. Ansel tidak mau tubuhnya ditaburi bedak, Ansel bukan bayi ataupun balita. "Ayo makan, aku lapar!" ajak Ansel, mencoba mengalihkan perhatian istri tercinta.


Freya teringat sesuatu, Freya mengangkat sikut, mencium aroma dari badannya. Freya dari kemarin sore belum mandi, bagaimana dirinya bisa menempel bagai lem super pada tubuh Ansel yang beraroma wangi. Freya merasa malu, Ansel pasti bisa mencium aroma keringat dari tubuh Freya. "Aku ingin mandi, tubuhku bau keringat."


"Tidak boleh mandi. Sayangku baru saja sembuh dari demam. Bagaimana kalau demannya kembali setelah mandi." Ansel mendekatkan hidung ke pundak Freya, menghirup napas dengan panjang. "Sayangku masih wangi," bisik Ansel.


"Asam ... asam menyegarkan bagai jeruk," sanggah Ansel mendekap tubuh Freya. Menggendongnya menuruni anak tangga menuju ruang makan.


"Aku tidak ingin makan."


Ansel mendudukan Freya di kursi. "Tapi Freya tidak menolak saat ku gendong."


"Aku tadi terkejut saat tiba-tiba tubuhku."


"Lalu?" Ansel menyanggah kepalanya dengan tangan, sembari menunggu Ima menyiapkan makanan untuk mereka.


"Aku ... tidak bisa berontak."


"Karena?" tanya Ansel lagi.


"Alasannya sudah jelas. Karena aku takut jatuh kalau berontak. Bagaimana nanti kalau Ansel menjatuhkanku saat menuruni anak tangga."


"Lalu?"


"Tak ada lagi."


"Serius ... Aku merasa bukan hanya karena itu," goda Ansel.


"Aku suka di gendong Ansel," ujar Freya tertunduk.


Ansel berdehem menyembunyikan rasa gatal di sudut bibirnya. Ansel tidak bisa tersenyum di hadapan para pelayan. Sungguh Freya membuat hati Ansel berbunga, Ansel makin gemas karenanya. Ansel mengecup pucuk kepala Freya, memberi penghargaan atas kejujuran Freya. Ansel bertekad dalam hati suatu saat akan muncul pengakuan lain dari bibir manis Freya. Mungkin saat ini Freya baru menyukai sebagian kecil dari perhatian Ansel pada Freya. Kelak Freya akan menyukai Ansel seutuhnya.


"Makan dulu, nanti aku gendong lagi," bisik Ansel.


"Sedikit saja ya, makannya," tawar Freya.


Nextnya besok pada jam yang samaπŸ˜… \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.