Love Shot

Love Shot
Desakan Deadline



Tiga puluh menit sudah terlewati begitu saja, Flora masih berkutat dengan deadline. Dari pagi dirinya belum juga dapat inspirasi alhasil dirinya hanya menghasilkan sketsa kasar skin untuk game barunya di drawing pad.


Festival seni hanya tinggal menghitung hari. Flora yang selalu ceria juga akhirnya down berkat tekanan pekerjaan. Flora ditinggal satu-satunya sahabat yang membuat hari-hari terasa berarti seperti Freya dan kehilangan partner multitalenta seperti Asri.


"Kemana kalian saat aku butuh ... Freya sahabatku, Asri partner multitalenta ku," teriak Flora menggema di ruang kerjanya yang kosong, dirinya sudah tidak tahan melampiaskan rasa kesal yang menumpuk.


Freya masih dalam masa cuti nikah jadi tidak mungkin Freya ada di kantor sekarang. Flora ingin mengajak Freya pergi ke luar saat jam santaipun dirinya merasa sungkan. Flora menyadari sahabatnya sekarang sudah menikah, ditambah suaminya belum sembuh jadi tidak mungkin Flora meminta Freya datang hanya untuk menghibur dirinya apalagi membantu pekerjaan Flora.


Karena Freya tidak ada di tempat jadi Asri ditunjuk Liam untuk menggantikan posisi Freya yang kosong untuk sementara sampai Freya kembali dari masa cuti dan kembali melakukan aktivitas seperti biasa.


Flora sangat kesal pada Liam. Flora merasa Liam memang punya dendam kesumat padanya. Liam menjadikan kesempatan ini untuk membalas dendam pada Flora. Liam sengaja menunjuk Asri, partner yang paling di andalkan oleh Flora untuk menggantikan Freya.


Sebenarnya Liam bukan hanya membalas dendam pada Flora. Memang diantara karyawan hanya Asri yang mengerti programer game yang sedang di kerjakan Freya. Asri juga sudah terbukti seorang karyawan yang multitalenta, Asri selalu bisa mengerjakan apapun dengan sempurna di manapun dirinya di tempatkan.


Memang tingkat stess di minggu ini meningkat. Semua orang sangat sibuk mempersiapkan launching upgrade game yang menjadi andalan Dream Star.


Mereka harus menyelesaikan semua sebelum dari H alias hari festival seni yang diadakan setiap dua tahun sekali. Dream Star tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan menjadi salah satu peserta dalam festival seni tahun ini.


Flora bergegas ke tempat makan yang ada dilantai dasar gedung. Flora duduk didepan Liam yang sedang tidak berselera makan, hanya mengaduk-aduk makanannya saja.


"Liam kembalikan partnerku," ujar Flora melipatkan tangannya di atas dada.


"Untuk apa ?" tanya Liam tidak memperhatikan Flora.


"Tentu saja untuk membantuku menyelesaikan pekerjaanku," jawab Flora ketus.


"Asri sedang menyelesaikan pekerjaan Freya," ujar Liam.


"Aku tidak mau tahu ... pokoknya aku minta orang untuk membantuku titik." Flora menggebrak meja membuat Liam memperhatikannya.


"Akan aku pikirkan," ujar Liam singkat. Liam tidak berselera meladeni Flora adu mulut. Saat ini Liam sedang berusaha menenangkan hatinya yang dibuat remuk redam oleh Freya. Jika bertengkar dengan Flora hanya akan menambah beban di hati Liam.


"Akan dipikirkan ?! Aku tidak ingin hanya wacana darimu. Aku sudah muak dengan janji-janji. Segeralah bertindak. Atau bawa Freya kembali bekerja secepatnya," ujar Flora kesal mendengar ucapan Liam.


"Kalau Aku bisa ... aku ingin membawanya kembali bekerja saat ini juga. Tapi itu tidak mungkin, aku akan dianggap tidak propesional dalam bekerja. Orang lain akan melihat aku sebagai atasan yang tak manusiawi," Liam menggelengkan kepala. "Kamu pikir hanya kamu yang kesulitan saat ini. Dewasalah Flo, bertanggung jawablah dengan pekerjaanmu. Saat ini bukan hanya dirimu saja yang sibuk, semua orang juga sedang sibuk," ujar Liam berusaha terus bersikap tenang saat berbicara dengan Flora.


"Kamu pikir aku tidak dewasa dan tidak bertanggung jawab. Apa kamu tidak bercermin, siapa yang lebih pantas mendapatkan nasihat seperti itu diantara dirimu dan diriku," Flora meminum jus jeruk Liam, meneguknya sampai tandas. "Siapa yang selama ini bekerja keras di balik layar Dream Star. Kamu diam ... semuanya berkat Freya. Freya mengerjakan semuanya, dari hal kecil sampai hal besar tanpa melupakanmu. Dan apa yang Freya dapat, kamu membuangnya." Flora mengomeli Liam.


Liam tidak bisa menyanggah omelan Flora yang ditunjukan kepadanya. Liam hanya bisa diam menerima karena semua omelan yang terlontar dari bibir Flora memang kenyataan.


"Baik aku akan menghubungi Freya untuk memintanya kembali secepatnya, tapi aku tidak bisa menjamin kalau dia mau membantuku. Kamu tahu sendiri Flo, aku sudah terlalu sering membuat Freya kecewa," ujar Liam.


"Nah begitu, berusaha dahulu jangan langsung menyerah. Ini baru CEOku. Oya kenapa kamu tidak makan ?" tanya Flora.


"Aku tidak lapar ... kamu mau ?" tanya Liam.


"Boleh, perutku sudah keroncongan dari tadi. Berbicara sebentar saja denganmu sudah sangat penguras energi." Flora menerima makanan dari Liam dan menyantapnya.


Liam segera menghubungi Freya.


***


Freya sedang mempersiapkan makanan dan obat untuk suaminya di dapur. Freya tidak mengetahui jika Liam menghubunginya.


Smartphone Freya berdering, Ansel yang sedang memarahi Haidar habis-habisan di kamar sampai menghentikan sejenak amarahnya.


Ansel Menoleh ke arah suara dering berasal. Ansel meminta Haidar mengambilkan smartphone milik Freya. Haidar mengabulkan permintaan Ansel, dirinya mengambil smartphone kemudian memberikannya pada Ansel.


Ansel mengernyit melihat siapa yang menelpon. Tertera dengan jelas tulisan MY HEART calling di layar smartphone. Rasanya Ansel ingin membanting smartphone Freya saat itu juga, namun itu hanya angan Ansel mengurungkan niatnya karena itu menyangkut Freya.


Ansel akan mencoba lebih bersabar saat menghadapi Freya. Ansel berpikir mungkin saja Freya lupa belum mengganti nama kontaknya. Ansel harus banyak memaklumi karena baru empat hari mereka menjadi pasangan suami istri.


Ansel hendak mengangkat panggilan dari Liam, ternyata membutuhkan sidik jari Freya untuk membuka kunci smartphone.


"Jarvis keluar dari kamarku. Kita bicara mengenai hal ini nanti saja. Jika kamu merasa tidak melakukan kesalahan padaku, jika kamu memang bukan dalang dibalik insiden yang terjadi saat pernikahanku buktikan padaku. Aku butuh bukti yang jelas bukan hanya omong kosong yang tak berdasar," Ansel menoleh ke arah Wardahana. "Tolong panggilkan istriku ... jangan muncul dihadapanku sebelum semua terungkap. Jangan kira aku juga tidak mencurigaimu ... King Wardhana."


Haidar dan Wardhana bergegas keluar dari kamar Ansel. Wajah mereka pucatpasi, mereka syok dengan respon Ansel yang tidak mempercayai sedikitpun penjelasan mereka. Sebelum pulang, Wardhana menyampaikan pesan Ansel pada Freya agar Freya bergegas menemui Ansel di kamar.


Rasa takut melanda Freya setelah melihat wajah pucat Wardhana dan Haidar. Freya takut bertemu dengan Ansel. Freya melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar sambil mengumpulkan sedikit demi sedikit keberanian dihatinya.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.