
"Dulu saya datang malam karena saya masih selingkuhan. Sekarang pacar saya sudah memilih saya. Jadi saya tidak perlu ragu bisa berkunjung kapanpun saya mau," ujar Ansel.
"Aduh A, ganteng-ganteng mau aja jadi selingkuhan." ujar salah satu ibu-ibu.
"Iya gimana lagi bu saya sudah cinta mati sama pacar saya. Tapi untung saja dia memilih saya, tentu saja dari awal saya memang sudah yakin pasti saya yang akan dipilih. Dari segi wajah dan penampilan saya lebih unggul, dari segi kekayaan saya jauh diatas dia, apalagi silsilah keluarga, keluarga saya masih keturunan raja," ujar Ansel menyombongkan diri.
"Wah beruntung ya pacarnya. Memang kerja dimana ?" tanya ibu Liam.
Ansel memberikan selembar kartu nama. Ibu-ibu langsung antusias membaca.
"Punten nya a nunggu bentar lagi, ini anak-anak diduluin dulu suka nangis kalau gak langsung di buatin," ujar ibu penjual es.
"Iya bu santai aja," ujar Ansel.
Freya mengintip dari kaca mobil.
Ansel ... kenapa malah ngobrol sama ibu-ibu komplek sih. Aduh tukang es nya juga kenapa gak dikasi-kasi pesenan Ansel. Jantungku rasanya mau keluar dari rongganya kalau begini terus ...
"Wah anda direktur The King Entertainment. Disana banyak artis-artis ya. Kalau gak salah si Daniel pacarnya si Amor juga kerja disana," jelas ibu Liam.
Memang itu saat yang di tunggu-tunggu oleh Ansel.
"Iya Daniel kerja di sana. Daniel itu calon adik ipar saya. Tentu saja saya sering bertemu dengan adik ipar saat bekerja." Ansel berdiri melangkah menuju mobil.
Pintu mobil dibuka, Freya kaget tersadar dari lamunannya saat Ansel masuk. Ansel mengambil beberapa lembar undangan lalu keluar lagi menghampiri ibu-ibu komplek.
Freya menyadari apa yang diambil Ansel dari mobil. Freya langsung reflek berlari keluar mengejar Ansel. Saat langkahnya sudah tepat di belakang Ansel dengan sigap Freya melingkarkan tangan ke pinggang Ansel.
Usaha Freya berhasil Ansel menghentikan langkah kakinya. Tubuh Ansel rasanya membeku merespon pelukan mesra dari Freya yang tiba-tiba.
Ansel salah mengartikan pelukan Freya sama seperti ibu-ibu komplek. Dimata ibu-ibu komplek Freya bukan terlihat menahan langkah Ansel namun Freya sedang memamerkan kemesraan mereka dengan memeluk Ansel dari belakang.
"Wah ternyata nenk Freya dari tadi ada di mobil ya," ucap Ibu berdaster merah.
Freya tersadar dari tingkahnya yang sudah diluar batas memeluk Ansel dari belakang di depan ibu-ibu komplek. Wajah Freya memerah. Ansel menyadari rasa malu Freya. Ansel berbalik dan merangkul Freya menyembunyikan wajah Freya di dadanya.
Freya tidak menolak perlakuan Ansel. Dirinya kali ini benar-benar malu.
"Iya saya tidak mengizinkannya keluar, diluar banyak nyamuk. Saya takut kulit mulusnya tergores padahal lusa kami akan menikah. Ini saya bagikan undangannya saya harap ibu-ibu bisa menyaksikan momen bahagia kami," ujar Ansel membagikan undangan.
Freya mencubit pinggang Ansel dengan posisi masih bersembunyi didada Ansel.
Ansel bergeming otot pinggang Ansel sama sekali tidak merasakan cubitan dari Freya.
Ibu-ibu menerima undangan yang diberikan Ansel. Mereka masih tidak percaya saat membaca undangan yang diberikan oleh Ansel.
"Bu disini masih ada kapling kosong ?" tanya Ansel.
"Ada A kebetulan ada satu lagi, ukuran rumahnya seperti ini," Ibu-ibu menunjuk rumah disamping kios es.
"Owh kecil ya, itu hanya cukup untuk membuat satu ruang kamar mandi saja. Sepertinya saya harus membeli seluruh komplek, bila ingin membuat rumah disini," ujar Ansel.
Ibu-ibu komplek hanya mengaga mendengar ucapan Ansel.
"Ini A esnya." penjual es memberikan kantong plastik berisi es pesanan Ansel.
Ansel menerima dan mengeluarkan dua lembar uang seratur ribuan. "Ini bu uangnya, ambil saja kembaliannya sekalian membayar es yang sedang diminum ibu-ibu juga. Saya permisi dulu. Saya tunggu kehadirannya lusa. Ayo sayang ibu pasti sudah menunggu,"
Ansel memutar badan dengan Freya masih bersembunyi di dadanya. Menuju mobil kemudian berlalu.
"Aduh Nenk Freya dapat rejeki nomplok habis putus dari Liam," ujar salah satu ibu.
"Apanya rejeki nomplok paling nikahnya juga cuma seumur jagung aja. Selingkuh tetap selingkuh," ujar ibu Liam.
"Sudahlah saya pulang dulu permisi," ujar ibu Liam berlalu tidak terima anaknya diremehkan.
"Si ibu sensitif ya," ujar ibu-ibu komplek.
***
Dirumah Freya sudah ada keluarga Daniel. Mereka sedang berterima kasih berkat bantuan Freya wajah anaknya sebentar lagi akan menghiasai film layar lebar.
Ibu Anisa sangat senang dengan kedatangan keluarga Daniel. Dirinya sangat bangga Freya bisa menemukan pria seperti Ansel yang bisa menularkan hal baik untuk setiap anggota keluarganya.
Freya masuk disusul dengan Ansel dibelakang. Kedatangan Ansel disambut gembira oleh Anisa. Anisa melewati Freya dan langsung merangkul tangan Ansel. Freya hanya mematung melihat ibunya sangat perhatian pada Ansel.
Ansel sudah duduk di samping ibu Freya. Freya sendiri masih berdiri tidak ada tempat lagi untuknya duduk.
"Sini !" Ansel menepuk pahanya, mengisyaratkan agar Freya duduk di pangkuannya.
Freya bergeming baginya hari ini sungguh hari yang sangat menguras tenaga rasanya arwahnya sebentar lagi akan terlepas dari raganya.
Ansel berdiri dan menarik Freya mendudukannya dipangkuan Ansel. Semua orang hanya tersenyum melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Freya dan Ansel.
"Kak Freya ini apa ?" tanya Amor.
"Itu es kelapa muda. Maaf aku hanya membeli empat tidak tahu kalau di sini sedang ada tamu," jawab Ansel.
"Tidak apa-apa ... padahal tidak perlu membawa apapun saat ke sini, ibu sudah senang," ujar Anisa.
Ini kesempatan untuk Freya terbebas dari pangkuan Ansel. "Biar aku yang tuang ke gelas," ujar Freya mengambil bungkusan es dan pergi ke dapur.
"Direktur perkenalkan ini papah dan mamah Daniel," ujar Daniel memperkenalkan keluarganya.
Ansel menyalami keluarga Daniel. "Tidak perlu manggil direktur Daniel. Sekarang kita bukan ada di tempat kerja. Panggil saja aku kak Ansel tidak perlu sungkan, sebentar lagi kita akan menjadi saudara," ujar Ansel.
Daniel tersenyum, " Baik kak Ansel."
"Nak Ansel terima kasih banyak sudah membantu Daniel," ucap ibu Daniel.
"Membantu apa ?" Ansel berlagak tidak tahu.
"Itu berkat kak Ansel aku bisa membintangi Film layar lebar," jelas Daniel.
"Oh itu ... Itu belum ada apa-apanya. Bila Daniel mau, Saya bisa menjadikan Daniel sebagai manager di The King Entertainment," ujar Ansel.
Daniel kaget mendengar ucapan Ansel. Daniel tidak habis pikir Ansel bisa dengan mudah mengutarakan keinginannya tanpa rasa ragu di depan umum. Daniel semakin mengagumi calon kakak iparnya itu.
"Terima kasih banyak atas tawarannya. Tapi untuk saat ini Daniel ingin mengapai cita-cita Daniel untuk menjadi aktor terkenal terlebih dahulu kak," jelas Daniel.
"Baik bila itu sudah menjadi keputusanmu saya tidak akan memaksa. Datang saja padaku bila suatu saat kamu berubah pikiran. Mungkin saat ini peranku hanya bisa membantu mewujudkan cita-citamu saja," ujar Ansel.
Anisa sangat berterima kasih pada Ansel karena sudah sangat perhatian pada Daniel. Keluarga Freya dan keluarga Daniel sangat mendukung dan antusias membicarakan persiapan pernikahan Freya Ansel lusa yang akan diadakan disalah satu hotel mewah milik keluarga King.
Freya menyajikan es ke meja lalu berlalu ke ruang tv merebahkan tubuhnya di karpet. Freya tidak tertarik mendengarkan perbincangan mereka. Freya menutup matanya.
Aku kira ini akan mudah karena kamu akan menahan ku ... Tapi apa yang aku dapatkan. Kamu hanya bisa marah tanpa melakukan aksi apapun. Liam aku berharap lusa kamu tidak menghadiri resepsi pernikahanku. Bila kamu hadir mungkin aku tak akan sanggup berdiri dengan anggung di samping Ansel.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.