Love Shot

Love Shot
Kembalinya Sahabat Karib



Semuanya berantakan, bukan hanya ruangan kerja Liam saja yang berantakan tapi hatinya juga ikut berserakan. Liam meluruskan kakinya, menenangkan jatungnya yang terus berdebar. Kejadian yang Liam lewati hari ini sangat menguras tenaga juga hatinya, membuatnya merasakan hal aneh.


Liam menghela napas saat mencabut pecahan kaca di telapak tangan. Lukanya memang tidak dalam, hanya saja darahnya masih menetes dari sana. Liam belum mampu berdiri, hanya duduk dengan meja kerja sebagai sandaraannya. Liam menarik dasi membukanya dengan paksa, menekan luka di telapak tangan kemudian melilitkan dasi hitam untuk mengurangi tetesan darah ke lantai. Liam masih enggan bergerak bahkan hanya untuk mengambil tisu saja rasanya enggan apalagi untuk membereskan ruang kerja yang kacau berantakan seperti terkena gempa bumi.


Liam menengadah sambil memejamkan matanya. Akhir-akhir ini dirinya menjadi pria yang melankolis, matanya mudah memanas kemudian butiran air mengalir dari sana. Tidak ada lagi seseorang yang bisa dijadikan tumpuan saat dirinya terluka dan merasa sedih. Liam membutuhkan perhatian, dirinya merasa kesepian seperti tidak ada yang peduli pada keadaannya. Disaat kemalangan menimpanya, dirinya merindukan seseorang. Seseorang yang selama ini selalu memperhatikannya melibihi memperhatikan dirinya sendiri. Siapa lagi kalau bukan Freya. Air mata Liam menetes saat mengingat kenangan pahit yang telah berhasil Freya dan dirinya lewati.


"Cengeng," ujar Flora berjongkok di hadapan Liam.


Liam tersentak membuka matanya kemudian tergesa menyeka air matanya dengan kasar sampai noda merah menempel di pipi Liam. Flora menahan tangan Liam saat Liam akan menyeka air matanya lagi.


"Menangis saja ... aku sudah biasa melihatmu menangis bahkan sudah melihatmu menangis bombai sampai hidungmu basah karena ingus," cemooh Flora. Flora tidak tahu cara menenangkan seorang pria yang menangis. Flora hanya bisa menghardik membuat pria itu makin sedih. Meski mereka sudah berteman sejak kecil Flora tidak pernah menenangkan Liam saat Liam bersedih, sebab kebanyakan Floralah yang menjadi penyebab Liam menangis. Akan lebih mudah jika yang ada dihadapannya Freya, Flora tinggal mengajaknya shopping atau makan banyak ketika sahabatnya itu menangis. Cara itu sangat ampuh, tangisan Freya biasanya langsung berhenti.


"Coba aku lihat tanganmu," Flora membuka gulungan dasi yang melilit luka Liam. "Ini luka ringan, berhentilah menangis." Flora menyeka darah di telapak tangan Liam lalu menempelkan plester bergambar dinosaurus untuk menutupi lukanya. "Sudah, sebentar lagi juga sembuh. Jangan katakan pada ibuku kalau aku melukaimu."


Flora mengancam Liam. Flora sering dimarahi oleh ibunya hanya karena membuat Liam menangis. Sebelum mengenal Freya hanya Liam satu-satunya teman Flora. Flora sangat senang menindas Liam sampai Liam menangis meski akhirnya Flora akan dapat omelan dari orang tuanya.


Maklum ibunya sangat ingin punya anak laki-laki tapi mereka hanya dianugrahi anak perempuan maka dari itu ibunya menjadikan Liam anak laki-laki kesayangannya. Apalagi ayah Flora selalu membanding-bandingkan dan membanggakan Liam membuat Flora makin benci dan sangat cemburu pada Liam.


Orang tua Flora selalu membuat Flora terus menempel dengan Liam. Apalagi setelah ayah Liam meninggal, orang tua Flora sangat mengkhwatirkan Liam melebihi anak perempuan mereka. Almarhum ayah Liam merupakan teman dekat ayah Flora jadi setelah ayah Liam meninggal ayah Flora menjadi sosok ayah pengganti almarhum.


Flora masih bersyukur ayahnya hanya sebagai pengganti sosok ayah Liam bukan menjadi ayah tiri Liam. Liam memandangi plester yang ditempelkan Flora. "Tidak ada yang polos. Ini seperti anak ingusan," protes Liam.


"Sudah untung aku tempelkan. Kalau tidak mau ya sudah aku cabut kembali. Kemarikan tanganmu," pinta Flora bermaksud meraih tangan Liam.


Liam mengangkat tangannya. "Bilang saja kalau tidak ada yang lain tidak perlu mengambil kembali barang yang sudah diberikan." Liam berdiri kakinya melangkah mengambil bungkusan makanan yang dijatuhkannya tadi. "Mau makan bersama ... aku beli sea food."


"Itu sudah jatuh !" Flora menatap jijik Liam yang membuka bungkusan makanannya.


"Hanya plastinya yang jatuh. Kotaknya belum terbuka sedikitpun," ujar Liam membuka kotak makanannya.


Mata Flora berbinar melihat sekantung sea food yang dikeluarkan Liam. Flora mendekat duduk dengan manis di kursi berhadapan dengan Liam. Liam mengeluarkan menu makan siangnya. "Kenapa kembali kesini ?" tanya Liam memberikan sarung tangan plastik pada Flora.


"Aku takut kamu melapor pada ibuku," sanggah Flora menyembunyikan maksud sebenarnya kenapa dia kembali ke ruang kerja Liam. Sebenarnya dirinya bermaksud akan meminta maaf dan membantu Liam membersihkan pecahan kaca sehingga ruangannya bisa kembali terlihat rapi seperti sedia kala.


"Memangnya aku pernah mengadukanmu pada ayah dan ibu ?! rasanya aku tidak pernah melakukan hal seperri yang kamu tuduhkan kepadaku," ujar Liam memasukan daging kerang ke mulutnya.


Ada kelegaan dalam hatinya, rasanya sudah lama Liam tidak makan siang sambil mengobrolkan hal yang tidak penting dengan Flora. Tidak bisa dipungkiri semenjak dirinya menjalin kasih dengan Freya, dan Flora menjalin kasih dengan Jonathan persahabatannya mereka menjadi renggang. mereka menjaga jarak aman agar tidak ada kecemburuan yang timbul di hati pasangan mereka masing-masin karena kedekatan mereka.


"Bagaimana Jonathan ?" tanya Liam ingin mengetahui sudah sejauh mana hubungan mereka.


"Syukurlah dia tidak sepertiku," ujar Liam mengakui kalau dirinya memang pria yang tidak punya hati.


"Liam bukakan kerangnya untukku, ini sangat sulit," pinta Flora menyodorkan kerang dara pada Liam. Flora mengalihkan pembicaraan yang membuat Liam melow kembali. Flora tidak menyangka dengan mudah Liam mengiyakan ledekannya membuat Flora merasa jadi orang jahat disini.


"Makan saja lobster, udang, wortel dan jangung jika kamu tidak bisa membukanya," ledek Liam meneringai.


"Haruskah aku hubungi Jonathanku hanya untuk membantuku membuka kerang," gerutu Flora kesal permintaanya tidak dikabulkan Liam.


Liam berdecak tidak percaya Flora harus membawa-bawa Jonathan hanya karena tidak bisa melakukan hal mudah. Akhirnya Liam membukakan kerang lalu menyodorkan pada teman kecilnya. Flora membuka mulut menerima suapa dari Liam kemudian terkekeh.


"Lagi ... lagi !" pinta Flora.


Kali ini Liam mengabulkan permintaan Flora, dirinya terus membuka kerang lalu memasukannya ke mulut Flora sampai pipi chubby Flora semakin mebgembung penuh dengan kerang.


"Khamuuu massshhh sedich ?" tanya Flora di selam mengunyah makanannya.


"Telan dulu makananmu jika berbicara !" Liam menyeka saus yang menempel di pipi Flora. "Itu pertanyaan retoris, kamu juga sudah tahu jawabannya."


Flora hanya mengangguk-angguk mengerti. Sejenak dirinya melupakan rasa stresnya. "Ini enak, aku suka. Lain kali traktir aku lagi makanan seperti ini."


"Memang ada makanan yang tidak kamu sukai ?! habiskan saja dulu makanan yang ada dihadapanmu," ucap Liam membuka sarung tangan plastiknya.


"Kenapa berhenti, kamu sudah kenyang ?" tanya Flora merasa tidak enak kalau hanya dirinya saja yang masih makan.


"Makan saja dengan tenang tidak perlu menghiraukan aku. Melihatmu saja, aku sudah kenyang. Habiskan kerangnya, sudah aku bukankan semua. Aku mau cuci tangan dulu," ujar Liam melangkah menuju kamar mandi.


"Jangan hanya cuci tangan, cuci juga wajahmu. Pipimu dipenuhi darah," teriak Flora mengingatkan Liam. Dirinya masih menikmati kerang-kerang yang sudah dibuka Liam.


Liam mendengus, melihat bayangannya dicermin. Ada noda darah yang mengering di pipinya. "Flo kamu masih saja suka menindasku. Kenapa kamu selalu hadir saat penampilanku kacau dan tak pernah membenarkannya. Kamu tidak berubah sedikitpun." Liam tersenyum membasuh wajah tampannya. Ada sedikit rasa hangat menjalar perlahan ke hatinya berkat kembalinya sahabat karib yang selalu bisa diajak Liam untuk mengobrol dengan santai bukan lagi musuh yang selalu menyulut emosinya.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.