Love Shot

Love Shot
Hari H Persiapan



Setelah hampir setengah hari waktu Freya gunakan akhirnya Freya selesai dirias. Freya sekarang sudah sangat cantik bahkan dirinyapun tidak percaya jika bayangan yang di pantulkan oleh cermin itu adalah Freya Aileen.


Freya berdiri di hadapan cermin berukuran besar mengagumi sertiap inci bagian tubuhnya.


"Ansel bilang ini gaun yang paling sederhana di toko. Harusnya aku tidak mempempercai Ansel. Kadar sedernaha yang dikatakan Ansel tetap saja mewah di mata ku." Freya memutar badannya melihat pantulan punggung, "Ya ampun dari belakang saja gaun ini terlihat sangat cantik. Aku banyak tertolong oleh gaunnya." Freya tersenyum berbicara sendiri.



Amor dan Flora masuk dengan memakai dress pink yang sama.


"Hayo mempelai wanita masih asyik mengagumi dirinya di depan cermin," ujar Amor mendekati Freya.


Freya hanya tersenyum malu ketahuan adiknya dirinya sedang menatap kagum dengan pantulan di cermin.


"OMG apakah ini nenk Freya yang biasanya main lumpur bersamaku ?" Flora menggoda Freya.


Freya hanya tersenyum mendengar godaan Flora. Freya juga belum yakin kalau ini dirinya. Freya serasa sedang bermimpi.


"Ini memang kakakku yang cantik," ujar Amor memeluk Freya.


"Hey aku juga mau berpelukan dengan princess Freya yang cantik," ucap Flora bergerak merangkul Freya.


Para gadis tersenyum gembira sambil berpelukan sejenak Freya melupakan beban di hatinya berkat kedatangan Flora dan Amor.


***


Di hotel King tempat Ansel bersemayam tidak kalah sibuk dengan hotel King tempat Freya tinggal meski kesibukan hanya terjadi di kamar yang Ansel tempati.


Haidar mengetuk beberapa kali pintu kamar mandi mengingatkan Ansel supaya segera menyelesaikan mandinya.


"Bos mandi atau pingsan lama sekali !" Teriak haidar protes pada Ansel.


Ansel masih berdiri di bawah guyuran shower. Dirinya sudah mendengar teriakan Haidar namun Ansel mengabaikannya, pasalnya Ansel masih saat gugup hari ini.


Ansel belum siap keluar dari kamar mandi. Ini baru pertama kali Ansel rasakan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, pikirannya juga kacau. Dirinya merasa sangat tidak tenang untuk hari ini.


Ansel terus mengguyur tubuhnya dengan air dingin berharap kerasionalan pikiran kembali padanya secepat mungkin.


Jarvis sangat berisik, membuat pikiranku semakin kacau. Ansel ada apa denganmu ? ini hari yang sangat membahagiakan namun kenapa pikiranmu tidak tenang. kegugupan Si*lan, bagaimana jika saat akad nanti aku tidak bisa mengucap ikrar dengan benar ....


"Bos buka pintunya !" Haidar mengetuk pintu lebih keras dari sebelumnya, "Haruskah ku dobrak saja ? Bos jawab ?"


Ansel bergegas mengambil handuk yang menggantung, mengelap bagian tubuhnya yang basah kemudian keluar dari kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka Ansel melangkah keluar dengan lilitan handuk di pinggang. Haidar menyeringai melihat bosnya tidak seperti biasanya.


"Kemana jubah mandi mu bos ? kenapa hanya memakai handuk ?" goda Haidar menyeringai.


"Handuk juga bisa menyerap air dengan sempurna, aku tidak perlu jubah mandi lagi," ujar Ansel sambil menggosokkan handuk kecil ke rambutnya.


"Cepat bersiap bos ! nanti bisa telat," ucap Haidar mengingatkan Ansel.


Ansel malah duduk di tepian ranjang king size tanpa melakukan aktifitas apapun. Haidar menyerahkan kemeja hitam pada Ansel.


"Mau ku bantu berpakaian ?" tanya Haidar.


"Tidak perlu aku bisa sendiri," ujar Ansel dengan perlahan memakai kemeja hitam polos.


Haidar mengangguk, menunggu bosnya selesai mengenakan kemeja. Ansel terdiam lagi.


"Bos apa dirimu lupa caranya berpakaian ? Apa ada yang mengganggu pikiranmu ? hari ini sikap bos tidak seperti biasanya," ujar Haidar khawatir melihat tingkah Ansel yang aneh.


"Aku hanya gugup. Perasaan ini sangat sulit aku kalahkan. Baru kali ini ku merasakannya. Seperti ada getaran listrik statis menjalar dari tubuhku menuju otak hingga menyebabkan pikiranku terganggu," jelas Ansel mengakui apa yang sedang dirinya rasakan.


"Aku tidak demam panggung. Aku tidak khawatir dengan banyak orang yang hadir." Ansel mulai mekai pakaiannya kembali.


"Lalu apa yang menyebabkan bos gugup ?" tanya Haidar mulai bingung.


"Ini rasa gembira yang terlalu meluap hingga aku tidak tahu cara melampiaskannya. Aku merasa tegang terus terbayang ketika aku akan mengucapkan ikrar dan duduk di samping wanita yang aku sukai itu membuat pikiranku menjadi tidak karuan," jelas Ansel.


Haidar terkekeh mendengar ucapan Ansel. Haidar tidak menyangka bosnya akan sekaku ini, Haidar memang mengetahui Ansel tidak pernah mengungkapkan perasan pada lawan jenis sebelum ini. Tapi sekalinya mengungkapkan perasaan, Ansel langsung down.


"Apa ini terlihat lucu ?!" protes Ansel melihat Haidar terkekeh.


"Tolong biarkan untuk hari ini saja aku menertawakan bos sampai puas," Haidar menyeringai. "Perlukah ku wakilkan saat ijab nanti ?"


"Apa kamu tidak waras ? tentu saja tidak mau, sebentar lagi aku juga bisa tenang." Ansel selesai berpakaian. "Bagaimana penampilanku ?"



"Bos tampan seperti biasanya. Jas warna putih gading sangat cocok untuk bos," puji Haidar.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan ? bagaimana kalau Freya tidak suka dengan penampilanku ? haruskah aku memakai kemeja hitam saja ?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Ansel.


"Ya lebih baik bos memakai kemeja hitam saja agar Freya suka," ujar Haidar.


"Benarkah ?" Ansel hendak mencopot jasnya.


"Hentikan bos ! aku hanya bercanda," Haidar merapikan jas yang di pakai Ansel. "Jika bos hanya memakai kemeja hitam saja, bos akan terlihat mirip dengan para pelayan laki-laki. Hari ini bos mempelai prianya. Bos harus berpenampilan lebih dari semua orang yang hadir di pesta. Kemana perginya Ansel yang glamor."


"Bagaimana kalau aku membuat Freya kecewa," keluh Ansel.


"Jangan khawatir bos. Setelah hari ini Freya akan menjadi milik bos seutuhnya. Jadi bos harus menjadi pria paling tampan."


Haidar memakaikan dasi kupu-kupu dengan hiasan berlian hitam ke kerah kemeja Ansel.


"Ini spesial aku pesan sendiri khusus untuk bos. Anggap saja ini sebagai kado pernikahan. Suka tidak suka, bos harus tetap memakainya."



Ansel hanya diam tidak menolak dengan pemberian Haidar untuknya.


"Sebagai pelengkap seikat bunga baby breath dan setangkai mawar putih." Haidar menyelipkannya di saku jas Ansel. "Aku berharap bos mendapatkan ketulusan cinta dan cinta yang abadi seperti makna mawar putih dan baby breath."


"Terima kasih Haidar aku akan berusaha sekuat tenaga supaya harapanmu bisa terjadi padaku," Ansel menepuk pundak Haidar. "Jarvis cari Ley untukku. Bila dia memakai jas ganti pakainya, dia hanya boleh memakai kemeja saja. Untuk hari ini aku tidak mau ley lebih tampan dariku."


Haidar tersenyum mendengar permintaan konyol dari Ansel. Namun Haidar tidak protes, Haidar beranjak pergi untuk mewujudkan permintaan Ansel.


Haidar sudah menghilang di balik pintu. Ansel berdiri di depan cermin melihat penampilannya.


"Tidak buruk ... pilihan Jarvis kali ini cocok dengan seleraku." Ansel berbicara sendiri.


Ansel membuka kulkas kecil di samping cermin, mengambil sebotol air mineral dan meminumnya. Baru juga Ansel meminum setengah tapi pandangan Ansel dengan sekejap menjadi buram dan kepalanya juga terasa berat. Ansel berjongkok menahan badannya yang sudah mulai tak bertenanga.


Kepalanya terasa semakin berat dan pusing. Akhirnya mata Ansel tertutup tubuhnya terhuyung jatuh ke lantai, Ansel sudah tak sadarkan diri.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.