
"Jarvis kita mendapatkan naskah dari siapa?" tanya Ansel disela perjalanan menuju kantor.
"Lyssi bos," jawab Haidar singkat.
"Lyssi nama yang tidak asing di telingaku. Namun aku tidak ingat siapa Lyssi. Apa aku pernah mengenal Lyssi ?" tanya Ansel lagi.
"Ya bos pernah bertemu dua sampai tiga kali dengan Lyssi saat aku membawanya berlibur bersama." Haidar masih fokus mengemudi.
"Owh jadi dia salah satu mantan pacarmu. Kalau aku tudak keliru sepertinya mantanmu tidak ada yang namanya Lyssi ?" Ansel masih mengingat-ingat yang mana Lyssi.
"Bukan mantan pacar hanya teman dekat saja," jelas Haidar membetulkan pemahaman Ansel.
"Hanya teman dekat tapi beberapa kali tidur bersama. Apa itu arti dekat ?" jidat Ansel berkerut memikirkan perkataan Haidar.
"haha ... itu bukan dekat tapi intim," ucap Haidar menertawakan pertanyaan bosnya.
"Aku serius bertanya ... Apa harus tidur bersama dulu baru bisa di bilang dekat ?" Ansel menunggu jawaban Haidar. Bila Haidar berkata ya, Ansel akan mencoba memperaktekannya dengan Freya. Cara apapun akan Ansel lakukan agar dapat selangkah lebih dekat dengan Freya.
"Bos pasti menunggu kata iya dariku kan ... hahaha ... jangan berpikir aneh bos," goda Haidar.
"Si*l harusnya aku tidak bertanya padamun" Ansel mendengus kesal.
"Arti dekat bukan karena kita pernah beberapa kali tidur bersama. Tapi Lyssi itu teman masa kecilku, Lyssi hanya nama pena saja. Nama aslinya Lyna Saraswati. Aku tidak menyangka dia bisa menulis bahkan dia penulis novel best seller, aku kira dia hanya seorang gadis kutu buku saja," jelas Haidar.
"Ooo aku ingat Lyna yang tinggi dan sering bergaya tomboy. Apa judul novelnya ?" tanya Ansel sudah ingat siapa Lyna.
"Benar yang itu. Judul novelnya jerat sang mantan, bergenre romantis," jawab Haidar.
"Sepertinya judul novel itu ditujukan padamu," cibir Ansel.
"Benarkah, nanti coba bos baca novelnya. Menurut bos aku jadi siapa disana ? ceritanya sangat seru menguras emosi pembaca. Aku seorang yang anti novel romantis juga membacanya sampai tuntas. Meski itu endorse," Haidar tersenyum, "inti ceritanya tentang rumah tangga tanpa cinta namun terikat oleh harta lalu mantannya jadi pebinor," jelas Haidar.
"Konflik rumah tangga. Kenapa tidak dijadikan drama saja kenapa harus film ? ehh pebinor itu apa ? peran pembantu ?" tanya Ansel.
"Lyssi lebih tertarik ke tontonan yang singkat namun melekat dihati jadi dirinya memilih film. Pebinor itu pemeran antagonis, dinovel jerat sang mantan. Pebinornya jadi second lead male namun karakternya kuat. Tugasnya memercikan konflik. Pebinor itu perebut bini orang bos." Jelas Haidar.
"Seperti Liam." ucap Ansel.
"Belum tentu, Liam mungkin bukan pebinor tapi pasangan sejatinya Freya. Bagaimana kalau sebenarnya pebinor itu bos dalam kisah cinta Freya," goda Haidar.
Ansel memukul pundak Haidar. Dirinya tidak terima disebut pebinor.
"Aww ...." Haidar meringis kesakitan lalu menghentikan laju mobil, "untung kita sudah sampai bisa-bisa terjadi kecelakaan tadi."
Haidar berjalan disamping Ansel menuju ruang meeting. Sesampainya di ruang meeting mata Ansel memindai satu persatu orang yang sudah duduk rapi di sana. Ansel tidak menemukan seseorang yang dicari olehnya.
"Aku tidak melihat Daniel," ujar Ansel.
"Daniel tidak aku ajak berpartisipasi, dia kan bintang baru belum banyak dikenal masyarakat," bisik Haidar.
"Kamu selalu melakukan ini setiap ada projek film baru ?" tanya Ansel.
"Tentu saja bos. Para aktor dan aktris juga sangat banyak membantu untuk menaikan tingkat penjualan film," jelas Haidar.
"Undang Daniel, aku ingin dia memerankan pebinornya." Ansel lansung menyebutkan keinginannya.
"Bukankah ini novel pertama mu yang difilmkan. Kamu pasti butuh banyak sponsor Lyssi. Aku akan mensponsori film ini secara penuh asalkan kamu mengikuti caraku menjadikan Daniel sebagai pebinornya." Ansel memberi penawaran pada Lyssi.
"Memang benar aku butuh sponsor tapi bagaimana kalau kita merugi karena pilihan aktor yang salah," ujar Lyssi ragu.
"Kerugian akan menjadi tanggung jawabku. Yang datang padamu hanya akan ada keuntungan saja meski hasil akhir dari film ini merugi. Bagaimana ? kamu juga bebas memilih aktor dan aktris lainnya selagi mereka bernaung di The King Entertainment." ujar Ansel, dirinya harus menjadikan Daniel lebih terkenal dari sebelumnya.
Jika mengambil hati Freya masih sulit bagiku ... aku akan mengambil hati orang-orang disekitarnya terlebih dulu. Daniel adalah orang yang tepat. Dia akan menjadi adik ipar Freya. Dan sepertinya ibu Freya bahkan lebih mendengarkan perkataan Daniel daripada ucapan anaknya sendiri. Aku akan membuat Daniel berhutang budi padaku.
"Bagaimana apa kamu tidak tergiur dengan penawaranku. Asal kamu tahu saja, tidak akan ada tawar menawar denganku lagi. Bila kamu setuju dengan ke inginanku, aku akan berada di belakangmu dengan dukungan penuh. Namun jika kamu menolak jangan harap kamu bisa memakai artis dan aktor yang bernaung di The King Entertainment," ujar Ansel mengancam Lyssi.
Lyssi terdiam sejenak, dirinya sudah tidak bisa membantah keinginan Ansel. "Baiklah kita lakukan sesuai keinginan bos."
"Jarvis hubungi manager Daniel suruh mereka kesini untuk mengikuti meeting sekarang juga," pinta Ansel.
Haidar langsung melaksanakan perintah dari Ansel. Peserta meeting riuh bergunjing. Mereka membicarakan apa tujuan Ansel sangat kekeh ingin memasukan Daniel ke projek film kali ini.
Ansel bisa mendengar selentingan-selentingan yang mereka bicarakan. Namun Ansel tidak peduli, dirinya lebih memilih berkirim pesan dengan Freya sambil menunggu kehadiran Daniel.
Ansel : Freya sepertinya aku tidak bisa makan siang denganmu. 11.30
Ansel : Aku agak sedikit sibuk. 11.40
Ansel : Tapi aku akan tetap menjemputmu. 11.41
Ansel : Hubungi aku jika kamu sudah mau pulang. 12.10
Ansel : Jangan lupa makan, ingat sehat itu mahal. 12:25
Tidak ada satu pesanpun yang dibalas Freya.
Ansel masih memandangi smartphone nya berharap ada balasan dari Freya.
Tak lama waktu berselang pintu terbuka, masuk dua orang yang sedang ditunggu oleh Ansel. Mereka adalah Andi manager Daniel dan tentu saja aktornya Daniel.
Ansel berdiri menyambut Daniel, "Apa kabar ? lama tak jumpa."
"Kabar saya sangat baik setelah mendapat telepon dari wakil direktur. Terima kasih bos sudah mempercayakan peran ini pada saya. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan bos," ujar Daniel.
"Santai saja, tidak perlu sungkan. Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga. Bukankah tidak salah bila kita harus saling mendukung satu sama lain, adik ipar," ujar Ansel menepuk pundak Daniel.
Tubuh Daniel bergetar ada gelombang ke gembiraan yang meluap. Daniel sangat senang direktur yang sangat dihormati menyebutkan dirinya sebagai adik ipar.
"Terima kasih bayak kakak ... ipar," ucap Daniel ragu.
Peserta meeting hanya bisa terperangah mendengan percakapan direktur mereka yang dingin namun berbincang ramah dengan Daniel sampai menyebutnya adik ipar. Ditambah lagi Ansel tidak keberatan di panggil kakak ipar oleh Daniel.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.