Love Shot

Love Shot
Memancing Keributan



Smartphone Freya terus saja bergetar, Freya melirik sekilas notifikasi pesan masuk dari King Ansel Cullen. Freya mengabaikan pesan dari Ansel, membaca pesannya saja Freya enggan apalagi jika dirinya harus membalas pesan dari Ansel.


Jam istrahat Freya habiskan di mejanya. Freya malas melangkahkan kakinya, berkat kemping dadakan seluruh badannya terasa nyeri ditambah Freya harus mengejar ketinggalan penginputan program ke game yang sedang Freya dan teman-teman lain kerjakan.


Flora datang hanya mengantarkan beberapa roti, snack ringan dan minuman isotonik juga air putih. Flora juga sepertinya sedang dikejar deadline karena tidak biasanya dia melewatkan merecoki jam istrahat Freya.


Waktu bergerak tiap detik, menit, jam berlalu begitu saja tidak ada yang memperhatikan semuanya seperti dihipnotis oleh target dan deadline sampai langit senja menyadarkan mereka untuk meninggalkan pekerjaan dan kembali ke rumah mereka masing-masih.


Ansel duduk di kursi tunggu samping


ruangan luas dengan kursi rapi berderet mendekat pada meja kayu panjang dihiasi proyektor di atas nya.


Sepertinya ini ruang meeting ... dilihat dari luar gedung ini terlihat sempit tapi setelah masuk lumayan besar juga. Terlihat bersih dan rapi karena semua dibatasi oleh kaca transparan. Lantai dasar ini mungkin seukuran dengan ruang kerjaku. Mereka pintar menempatkan furniture di ruang yang tidak terlalu luas.


"Ley !" sapa Ansel melihat Liam keluar dari salah satu ruangan.


Liam berjalan menghampiri Ansel, "Ansel sedang apa kamu disini ? bagaimana kamu bisa masuk ? siapa yang membiarkan kamu masuk ?" rentetan pertanyaan keluar dari bibir Liam.


"Aku kesini untuk menemui Freya. Masuk ke sini bukan hal sulit untukku," Ansel menunjukan tanda pengenal yang tergantung dilehernya.


"Bagaimana kamu mendapatka tanda pengenal sebagai pemilik gedung ?" tanya Liam bingung.


"Kebetulan sepupuku pemilik seluruh lantai di gedung ini. Aku tinggal memintanya untuk membuatkan aku ID yang bisa masuk tanpa hambatan ke lantai manapun yang ada di gedung ini," jelas Ansel.


"Jangan menyombongkan diri. Memang siapa pemilik gedung ini ?" tanya Liam mencurigai ID Ansel.


Bisa saja ID yang di pakai Ansel itu palsu. Dengan uang apapun bisa dipalsukan termasuk cinta ...


"Kamu pikir aku penipu. Pemilik gedung ini sepupuku Wardhana. King Wardhana kamu tahu ?" jelas Ansel ngotot.


"Terserahlah ... aku juga tidak kenal siapa itu Kingβ€” Wardhana," ujar Liam.


"Ini aku beri kamu kartu akses agar bisa masuk ke gedung ku," Ansel memberikan undangan pernikahan dengan Freya, "Aku harap kamu bisa hadir ley,"


Para karyawan yang lain berhenti sejenak karena melihat Ansel sedang berbincang dengan Liam. Beberapa netizen kepo ada yang berpura-pura sedang mengobrol, ada juga yang sedang memainkan smarphone padahal mereka hanya tidak ingin melewatkan momen langka saat mantan pacar dan calon suami berbincang akur.


Freya berjalan lunglai diseret Flora keluar dari salah satu ruangan. Flora berlari menyeret Freya yang tidak bersemangat untuk pulang saat melihat Ansel sedang mengobrol dengan Liam.


"Halo Ansel, aku Flora sahabat terbaik Freya," Flora mengulurkan tangan, mempekenalkan dirinya sendiri pada Ansel.


"Ya aku sudah tahu Flo," Ansel mejabat tangan Flora sekilas, "Kenapa Freya kamu sakit ? wajahmu pucat ?"


Flora mendorong Freya ke arah Ansel. Ansel menahan tubuh Freya yang terhuyung bergerak ke arahnya.


"Aku tidak apa-apa. Hanya sendi-sendi badanku agak sedikit ngilu. Mungkin akibat aku jarang olah raga jadi sekali mendaki langsung tubuhku sakit semua," jelas Freya.


"Mau ku gendong lagi ?" tawar Ansel.


Freya menggeleng menolak tawaran Ansel. "Tidak perlu aku masih sanggup berjalan."


"Wait ... gendong lagi ? apa Freya pernah di gendong sebelumnya ?" tanya Flora sengaja supaya Liam merasa kesal.


"Ya, waktu naik gunung. Freya tidak kuat mendaki jadi aku gendong," jelas Ansel dengan bangga.


"Memang dia itu lemah dan manja," Flora melirik ke arah Liam, "Syukurlah sekarang ada pria kuat yang bisa terus menjaga sahabatku,"


Liam hanya dia. Meskipun dirinya sangat kesal mendengar ucapan Flora yang menusuk langsung ke jantungnya.


"Flo ini undangan untukmu, meskipun kamu sudah pasti jadi bridesmaid di acara pernikahanku tapi kamu tetap membutuhkan ini untuk masuk ke acara resepsi. Sekalian bagikan ke teman-teman yang lain," pinta Ansel.


"Siap," jawab Flora menerima kotak besar berisi undangan.


Freya melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan dengan wajah cemberut seperti di bawa paksa.


"Ley apa itu panggilan spesial dari Ansel ? sepertinya kalian sangat akrab ?" tanya Flora pada Liam.


"Sudahlah, aku malas berbicara denganmu," ujar Liam melangkah ke pintu keluar.


"It's ok kalau tidak mau jawab aku juga tidak terlalu penasaran," Flora menggerakkan tangannya memberi istrahat pada para netizens agar mendekat.


"Jangan berebut ya ... tenang semua kebagian," Flora membagikan undangan satu persatu, "Asri dandan yang cantik siapa tahu nanti lusa kamu ketemu shahrukh khan."


"Haha ... siapp ! nenk Flo bisa wae," Asri memukul pundak Flora kemudian berlalu.


***


Saat perjalanan pulang Freya sudah melihat Ibu Liam dari kejauhan sedang berkumpul, sambil bergosip dengan ibu-ibu komplek.


Freya menundukan badannya, bersembunyi agar tidak terlihat oleh ibunya Liam. Ansel melihat gelagat yang mencurigakan dari Freya. Ansel dengan sengaja menghentikan mobilnya di dekat kerumunan ibu-ibu komplek.


Ansel hendak turun, Freya menahan tangan Ansel. "Jangan turun, itu ada ibunya Liam," ujar Freya pelan.


Ternyata ada ibunya Liam ... tidak perlu takut Freya aku akan menegaskan siapa dirimu sekarang agar ibunya Liam tidak bisa merendahkan dirimu lagi.


"Tidak apa aku hanya ingin beli es kelapa saja. Aku hanya sebentar tidak enak juga tidak membawa apapun saat menemui ibu," ujar Ansel membuat alasan.


Freya melepaskan tangan Ansel. Freya menenangkan dirinya.


Tenang Freya jangan berpikiran buruk ... positif thinking, Ansel hanya membeli es kelapa muda. Ibu-ibu komplek juga tidak mengenali Ansel.


"Bu aku pesan es nya empat," ujar Ansel.


"Sabar ya a, ngantri ni." Bu tukang es sibuk melayani pelanggan.


Ansel duduk di bangku menunggu. Ibu-ibu komplek mulai tertarik dengan penampilan Ansel yang rapi. Mereka penasaran siapa Ansel.


"A bukan orang sini ?" tanya salah satu ibu.


"Bukan bu, saya kesini mau berkunjung ke rumah calon mertua," ujar Ansel memancing ibu-ibu kepo.


"Owh pantes tapi saya sering nongkrong di sini tapi jarang kelihatan. Baru pertama kali berkunjung ya A ?" tanya ibu berdaster.


"Ini yang ke dua kali. Kunjungan pertama malam sih, terus pagi-pagi buta saya pulangnya jadi mungkin ibu-ibu gak lihat saya," jelas Ansel mulai memancing keributan.


"Nginep ?" tanya ibu Liam.


"Ya kalau datang malam, pulang pagi pasti menginaplah bu," jawab Ansel.


"Ya ampun, nginep di rumah perempuan ? kenapa tidak berkunjung siang hari A ?" tanya ibu Liam lagi.


Ansel menjeda jawabannya. Dirinya ingin tertawa mendengar pertanyaan ibu-ibu yang kepo akan dirinya.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.