Love Shot

Love Shot
Kegelapan Ansel



Ansel masih mematung sambil memegangi bekas kecupan Freya di pipi kirinya. Melihat istri tercinta melambaikan tangan sebagai salam perpisahan hingga menutup pintu dengan tergesa. Rasanya Ansel ingin mendobrak pintu kemudian membopong Freya keluar dari sana. Ingin rasanya membawanya pulang, menguncinya di kamar agar tidak ada yang menggangu mereka lagi. Itu pasti akan dilakukan oleh Ansel yang dulu. Ansel yang masih berapi-api. Akhir-akhir ini emosi Ansel mulai setabil. Ansel bisa mengontrol hawa panas yang biasanya mudah keluar dari dalam jiwanya. Membuat amarah Ansel mudah terpancing karenanya.


Bibirnya juga sudah tidak kaku, mungkin efek sering bersentuhan dengan bibir Freya yang manis. Juga akibat rasa bahagia yang terus timbul di hati Ansel. Hingga membuat bibirnya mudah di gerakan. Akhirnya Ansel bisa melihat senyuman di bibirnya sendiri lewat pantulan di kaca spion. Memandangi wajah yang memerah dengan bibir atasnya yang terangkat naik hingga memperlihatkan deretan gigi putih yang terlihat sempurna. Ansel beranjak meninggalkan resto dengan damai.


Ansel teringat Acila, rasanya ingin bertemu lagi dengan Acila kecil. Satu-satunya bayi yang tidak takut pada Ansel. Ansel berniat mampir ke tempat ibu mertua sembari menunggu Freya menghubunginya kembali untuk dijemput. Kebetulan tempat


tinggal mertua Ansel dekat dari resto, hanya butuh lima belas menit untuk sampai ke sana. Sebelum itu Ansel mampir ke toko boneka. Tidak pantas kalau datang hanya dengan tangan kosong. Ansel menghentikan kuda besi hitamnya disalah satu ruko yang berderet di persimpangan jalan. Ansel masuk ke salah satu toko. Pelayan menyambutnya dengan ramah. Ansel memasuki barisan boneka, dirinya bermaksud akan memilih dengan sepenuh hati boneka yang akan diberikan pada Acila.


Belum juga Ansel mengambil boneka, sudah ada satu anak kecil yang menangis. Ansel tidak sengaja bersentuhan dengan tangan mungil saat hendak mengambil boneka beruang putih. Ansel mundur membiarkan anak perempuan berambut hitam sepinggang itu menangis. Ansel masih mundur sampai menabrak anak perempuan yang sedang menggendong boneka kuda bertanduk yang lebih besar dari ukuran tubuhnya. Anak itu terjatuh dan menangis. Ansel tidak bisa berkata apapun saat para wanita dewasa melayangkan tatapan menghakimi pada Ansel. Memang ia telah membuat dua gadis kecil menangis tapi itu hanya kecelakaan. Ansel tidak bisa menjelaskan apapun. Ansel hanya bisa bergegas berjalan ke kasir. Mengambil sembarang boneka yang ada di samping meja kasir kemudian membayarnya. Ansel tidak ingin berlama-lama di dalam, Ansel bisa mendengar bisikan wanita dewasa yang menyebutkan dirinya tampan tapi tak berpeAnsel teringat Acila, rasanya ingin bertemu lagi dengan Acila kecil. Satu-satunya bayi yang tidak takut pada Ansel.rasaan. Ada juga yang menyebutkan dirinya penjahat. Cibiran mereka sangat jelas terdengar.


Ansel sudah masuk kembali ke kuda besi hitam miliknya. Melemparkan bungkusan boneka sembarang ke kursi penumpang belakang. Ansel membenci dirinya, bagaimana bibirnya tiba-tiba kelu hingga tenggorokannya ikut terasa tercekat hanya untuk mengucapkan sebuah kata maaf. Kata yang mudah diucapkan saat berhadapan dengan Freya. Mungkin Ansel hanya bisa mengucapkan kata maaf pada Freya.


"Anak-anak cengeng," umpat Ansel mengeluarkan kekesalannya. Ansel jadi ragu untuk menemui Acila. Ada keraguan dihati Ansel. Ragu jika Acila akan menerimanya. Ansel berpikiran buruk, bisa saja Acila tidak menangis berada didekat Ansel karena saat itu ada Freya bersamanya. Namun, bagaimana dengan sekarang. Saat ini Ansel tidak sedang bersama Freya. Ansel yakin Acila kecil sama seperti anak-anak kecil lainnya. Menangis tanpa sebab yang jelas, hanya karena keberadaan Ansel.


Ansel tidak sedih hanya ada sedikit rasa sesak di dadanya. Ansel mengurungkan niatnya untuk bertemu Acila kecil. Ansel hanya memandangi anak-anak yang bermain di taman seberang jalan bersama orang tua mereka. Ansel bermaksud akan menunggu Freya disana. Ansel sedang tidak ingin pulang ke rumah. Ansel merasa heran dengan memori otaknya. Bagaimana dirinya tidak bisa mengingat kenangan bersama orang tuanya. Ansel hanya bisa mengingat kenangan saat nenek Elizabet menangis histeris sambil memeluknya saat orang tuan Ansel dimakamkan.


Ansel merdecak tidak percaya bahkan wajah ayah dan ibunya sudah samar-samar hingga perlahan memudar dari ingatannya. Ansel melupakan wajah orang tuanya. Dirinya pantas masuk ke golongan anak durhaka. Ansel masih memandangi anak-anak yang sedang bermain dari kursi pengemudi. Tidak ada niatan untuk ikut bermain sepak bola bersama mereka. Ansel mencoba mengingat kembali memori masa kecilnya. Aneh tidak ada yang dirinya ingat. Semua kenangan bersama orang tua Ansel sudah hilang.


Saat melihat seorang anak menendang bola ke gawang semua bersorak ikut gembira. Ansel masih bergeming. Sepertinya dirinya tidak mungkin melakukan hal yang sama seperti anak laki-laki itu. Ansel tidak suka keributan, sepak bola terlalu berisik baginya.


Ansel masih memikirkan kenangan masa kecilnya. Permainan apa yang suka Ansel mainkan bersama orang tuanya. Nenek bercerita Abhimana suka memancing. Itu lebih masuk akal, mungkin saja mereka menghabiskan waktu bersama untuk melakukan hal itu. Lalu bagaimana Ansel menghabiskan waktu dengan ibu. Bermain petak umpet, itu juga berisik. Ansel tidak akan tertarik dengan permainan itu. Itu terlalu kekanakan, bukan style Ansel. Mungkin menghabiskan waktu membaca cerita bersama. Itu lebih masuk akal juga lebih bermanfaat.


Disela kesendirian Ansel merenungkan penyebab tumbuhnya rasa cinta pada Freya. Sudah jelas Ansel tertarik karena Freya gadis yang berbicara seadanya. Tidak membicarakan hal yang kurang penting. Bagi pria yang serius seperti Ansel tidak ada wanita yang jelek. Mereka semua cantik dengan daya tarik yang berbeda. Aneh saja, bagaikan baru mendapatkan keberuntungan dalam hidup bisa memperistri Freya. Padahal semua orang mengganggap Ansel sudah beruntung sejak dilahirkan.


Ansel teringat selama ini ia hanya terbuai dengan dunianya sendiri. Dunia yang hanya dihuni oleh seorang Ansel. Dunia yang berjalan sesuai keinginannya. Tanpa memperdulikan lingkungan sekitar. Jika saja Ansel bertemu dengan Freya lebih cepat, mungkin dirinya tidak akan menjadi pria yang banyak dibenci oleh orang lain. Sebagai pria yang arogan dan egois, hal itu sudah menjadi bayaran yang harus Ansel dapatkan.


Ansel tidak memiliki rasa takut. Jika esok dirinya harus tiada Ansel hanya akan menghadapi ajal dengan tangan terbuka. Sekarang rasa takut sudah mendarah daging dengannya. Ansel ketakutan setiap saat bahkan ketika dirinya tidur. Mimpi buruk terus menghampirinya. Dirinya selalu bermimpi hal yang sama. Mati ditikam oleh Wardhana. Sebelumnya Ansel tidak pernah memperdulikan mimpi. Baginya mimpi hanya bunga tidur tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan nyata.


Ansel akan melepaskan semua hasrat untuk menguak misteri kematian orang tua Ansel termasuk uji coba pembuhunahan yang terjadi saat pesta pernikahannya. Ansel bukan tidak memiliki bukti. Ansel hanya takut saat mereka terusik, mereka akan semakin lebih beebahaya. Ansel takut nyawanya menghilang dengan sia-sia. Apalagi jika mereka mulai mengincar Freya. Jika istrinya sampai terluka hingga menghilang dari dunia ini. Sudah dipastikan Ansel juga akan menyusul Freya.


Saat ini dirinya akan hidup dalam kegelapan. Tidak akan melihat, mendengar ataupun menanggapi ancaman dari orang yang membenci dirinya. Dirinya hanya akan bersiap, membangun benteng sekuat-kuatnya untuk melindungi seorang wanita dengan tatapan sendu. Freya Aileen Cullen.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.