
Tok ... tok ... tok
Seseorang mengetuk pintu kamar Wardhana. Dirinya mengerang, tidak suka ada seseorang yang mengganggu tidurnya. Wardhana mengabaikan suara ketukan pintu, dirinya lebih memilih menyumpal telinga dengan bantal dan menutup mata kembali. Suara ketukan di pintu semakin lama terdengar semakin kencang, dengan terpaksa Wardhana bangkit dari tidurnya. Berjalan lunglai sambil menguap, tangan membuka pintu. Tampak gadis mungil berambut pendek berdiri disana.
"Pagi Kyra," sapa Wardhana memamerkan barisan gigi putih yang rapi.
"Pagi ?! malu sama ayam, ini udah siang. Ditunggu ka Haidar di bawah," ujar Kyra menyampaikan pesan dari Haidar. Kyra melangkah hendak kembali ke kamar. Langkahnya terhenti Wardhana mencekal tangan Kyra.
"Ra ...." sapa Wardhana lagi.
"Kenapa bos mafia?" Kyra menoleh ke arah Wardhana tanpa membalikan badan.
Wardhana tertegun mendengar sapaan Kyra. Mungkin maksud Kyra hanya bercanda tapi sangat menusuk ke hati Wardhana. Hatinya tergores ucapan Kyra. Semua pria ingin terlihat baik dihadapan wanita yang dicintainya. Begitu juga Wardhana, seburuk apapun tingkah laku seorang King Wardhana dirinya tidak ingin disebut seperti itu. Meski perkataan Kyra itu kenyataan, cepat lambat Wardhana akan menggantikan papah mengurus bisnis gelap mereka.
"Kenapa diam? baper ya ...." goda Kyra mengoyang-goyangkan tangan Wardhana yang mencengkram tangan Kyra.
Wardhana tersenyum, pikirannya langsung bisa ditebak oleh Kyra. Memang Wardhana membutuhkan gadis yang selalu ceria seperti Kyra, hanya Kyra yang bisa membuat kehidupan yang Wardhana jalani menjadi lebih berwarna. Kehidupan yang selalu dikelilingi oleh kegelapan, kegelapan yang bisa kapan saja menelannya sampai tak tersisa.
"Jantungku berdebar-debar," balas Wardhana menarik telapak tangan Kyra supaya menyentuh dadanya.
"Masa?" Kyra tidak bisa merasakan debaran, akhirnya mendekatkan telinga ke dada Wardhana. Tentu saja ulah Kyra yang sembrono langsung membuat Wardhana blusing. "Ahh benar ... berdebar-debar. Tentu saja berdebar-debar, bos kan hidup."
Wardhana terkekeh, "Gadis bodoh," cemooh Wardhana menekan kepala Kyra hingga lebih melekat ke dadanya yang berotot.
"Bodoh tapi cantik kan," ujar Kyra memukul-mukul dada Wardhana supaya bisa meloloskan diri dari sana.
"Cantik, sangat cantik." puji Wardhana.
"Bos menjadi orang keseribu yang mengucapkan itu," Kyra mendorong tubuh Wardhana. "Tidak kreatif," cela Kyra berlari masuk ke kamarnya.
Wardhana tak sanggup mengejar Kyra, bukan karena dirinya kalah dari Kyra. Wardhana hanya sedang senang saja, melangkah menuruni anak tangga dengan siulan gembira. Berbeda dengan Wardhana, awan gelap masih engan menjauh dari kepala Haidar. Wardhana berdiri menatap iba calon kakak ipar yang sedang kesusahan.
Bila bisa memilih dirinya tak ingin dilahirkan dalam keluarga antagonis, Wardhana hanya ingin menjadi peran piguran saja. Hidup tentram tanpa dihantui rasa takut dan selalu waspada bersiap jika suatu saat musuh kembali menyerang. Wardhana menghela napas. "Apa kamu ingin aku memberikan pelajaran pada kak Ibran? jika kamu memberi perintah aku akan melakukannya. Papah tidak akan curiga melainkan bangga, papah akan menganggap ini hanya persaingan untuk mendapatkan posisi penerus"
Haidar menggeleng, meski Haidar sangat ingin memerintahkan Wardhana menghajar Ibran tapi itu sia-sia. Haidar menyadari bahwa perkataan Ansel benar, suatu saat nanti akan muncul kobaran api yang besar dan menghanguskan semuanya hingga tak tersisa bila terus saling memercikan kebencian seperti memercikan korek di tumpukan kertas. Haidar memang pantas dibentak Ansel karena terus mendesak agar Ansel mengizinkannya membalas semua perbuatan pada anggota keluarga Wardhana.
"Kita hanya disuruh melindungi bu bos," jawab Haidar singkat.
Ada sedikit kelegaan dalam hati Wardhana. Wardhana bersyukur Ansel tidak bermaksud membalas perbuatan kak perempuan dan kakak iparnya. Wardhana sangat berterima kasih sudah hadir seorang gadis seperti Freya dalam kehidupan gelap sepupunya. Wardhana takjub seorang gadis lemah bisa membuat seorang Ansel yang tak memiliki rasa takut menjadi seorang pengecut. Cinta memang bisa merubah segalanya. Batin Wardhana terus menggerutu.
"Sebaiknya besok kamu sudah tidak ada disini. Kita harus kembali ke tempat kita masing-masing. Kembali menjadi keluarga yang hanya mengenal nama dan rupa tapi tak akrab," urai Haidar. Ini sudah menjadi keputusan yang tepat. Keberadaan Wardhana didekat Haidar, Kyra, Ansel dan Freya hanya akan menjadi bom waktu. Lebih baik Wardhana melindungi Freya dari jauh, Wardhana harus sebisa mungkin kembali memantau keluarganya agar tidak mendekati keluarga Ansel. Sedikit saja celah terbuka, keluarga Wardhana tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat sebuah tragedi. Seperti saat pernikahan Ansel, Haidar meminta bantuan Wardhana. Kakak ipar dan kakak perempuan Wardhana langsung melancarkan aksi jahatnya.
Wardhana terduduk, sekali lagi semua diluar kehendak dan kendalinya. Wardhana mengira ada sedikit harapan. Harapan agar sesaat bisa terlepas dari jeratan gelap keluarganya, menikmati sedikit kegembiraan saat dirinya mersakan debaran-debaran yang membuat hatinya menghangat berkat kehadiran Kyra. "Sepertinya waktuku sudah habis berdiri ditempat terang bersama kalian, saatnya aku kembali ke kegelapan," ucap Wardhana memaksakan senyuman di bibirnya.
"Kamu masih bisa tidur disini untuk malam ini. Atau mau menonton film horror bersama Kyra. Tenang ... aku tidak akan mengganggu, aku sudah ada jadwal kencan malam ini," ujar Haidar kali ini memberi kesempatan Wardhana untuk berpamitan pada Kyra. Untuk sedikit menebus rasa bersalahnya karena dulu dirinya tidak memberi kesempatan Wardhana untuk mengungkapkan rasa cinta pada adiknya. Haidar tidak salah, semua kakak pasti ingin memberikan yang terbaik untuk adik kecilnya termasuk pasangan. Haidar tidak mungkin dengan mudah memberi restu pada Wardhana yang kelak akan menjadi sang pewaris dunia gelap.
Wardhana masih terdiam, dadanya terasa sesak mendengar tawaran Haidar. Wardhana tahu persis Haidar sedang mengasihani dirinya. Air mata mengumpul disudut mata, Wardhana segera menyekanya kasar sebelum menetes ke pipi. Wardhana tidak ingin mendapat tatapan iba dari Haidar. "Tidak perlu, sekarang saja aku pulang. Karena bagi Kyra aku hanya seorang bos mafia yang tak pernah ada didalam hatinya." Wardhana bergegas mengambil kunci mobil dan jaket yang ia tinggalkan di kamar. "Aku pulang."
"Tunggu ... bagaimana dengan cintamu? setidaknya kamu harus ungkapkan selagi aku memberimu kesempatan. Cinta dalam diam itu menyakitkan," ujar Haidar.
"Memang cinta dalam diam itu sakit tapi akan lebih menyakitkan jika melihat orang yang kita cintai tersakiti karena cinta kita," ucap Wardhana kemudian menghilang di balik pintu.
Haidar tidak mencegah Wardhana pulang.Batin Haidar menangis sambil bertepuk tangan, dirinya sangat bangga memiliki junior yang keren seperti Wardhana. Jika kehidupan kedua itu ada, Haidar berharap Wardhana diberi kesempatan untuk bisa menyatakan cinta pada Kyra.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.