
Sang Surya sudah berada di atas kepala, Freya masih mondar-mandir di depan pintu ruang rahasia suaminya. Semua orang menunggu hari ini, festival mulai sejak pagi. Freya masih terjebak di rumah. Sudah ratusan panggilan serta puluhan pesan masuk ke smartphone Freya, tapi sayang ia belum bisa menerima panggilan dari siapapun apalagi membalas pesan. Dari mulai Ansel membuka mata sampai hampir jam makan siang mood Ansel belum juga membaik.
Freya masih belum berani meminta izin pada suaminya untuk pergi kerja. Memang alsan Ansel masuk akal, Ansel mengkhawatirkan kondisi Freya. Kemarin Freya sempat demam, meski hari ini demam sudah tidak terdeteksi di tubuh Freya, tetap saja Ansel ngotot melarang istri tercinta untuk pergi kerja. Padahal Freya sudah bilang jika pekerjaan hari ini tidak berat hanya memantau dan menjawab pertanyaan dari pengunjung saja. Ansel tetap tidak mau mendengarkan Freya, bahkan Ansel merampas smartphone milik Freya.
Kaki Freya gemetar, lelah mondar-mandir. Akhirnya Freya menyerah duduk bersandar di tembok di sebelah pintu. Freya sedang sensitif, tiba-tiba air hangat menetes dari ujung mata. Sekarang sudah saatnya makan siang. Ansel keluar dari pintu, melihat Freya yang sedang dusuk bersandar sambil berurai air mata. Sangat menyedihkan. Dada Ansel berdenyut. Freya yang menangis, tapi dirinya yang merasakan sesak di dada. Ansel bejongkok mensejajarkan posisi dengan Freya. Ansel menyeka air mata Freya. "Sayang, kenapa menangis?"
Freya masih tersedu-sedu. Pertanyaan retoris dari Ansel membuatnya semakin sedih. Freya tidak ingin menjawab pertanyaan yang Ansel sendiri sudah tahu pasti jawabannya, penyebab Freya menangis karena dirinya tidak diizinkan pergi ke festival.
"Aku hanya tidak ingin istriku kelelahan hingga jatuh sakit," ujar Ansel memberi penghiburan.
"Aku sudah sembuh," jawab Freya disela tangisnya.
"Besok aku antar ke festival, hari ini aku aja jadwal meeting lagi."
"Aku ingin hari ini. Aku bisa pergi sendiri, tidak perlu Ansel antar," rajuk Freya.
"Freya aku tidak suka dibantah. Ayo, makan!"
Freya menggeleng, Freya bertekad akan mogok makan sampai Ansel mengizinkannya pergi ke festival. Freya tidak peduli kalau Ansel menganggapnya kekanakan. Cara apapun akan Freya tempuh agar bisa pergi menyusul Flora ke festival.
"Ayo sayangku, aku gendong," ujar Ansel merentangkan tangannya.
Rentangan tangan Ansel, bahu Ansel memang sangat menggoda. Meski keinginannya sangat kuat untuk pergi, tapi ia juga tidak bisa menolak godaan Ansel. Freya juga bingung akan dirinya. Freya beranjak memeluk bahu Ansel, melingkarkan kaki di pinggang suaminya. Dengan mudahnya Ansel mengangkat Freya. Bagi Ansel Freya seringan bulu.
"Aku ingin makan ayam pedas di festival," bisik Freya.
"Tidak boleh ... makanan di rumah lebih higienis. Aku bisa menyuruh Ima untuk memasak ayah pedas," ujar Ansel mendekap Freya menuruni anak tangga.
Freya mencoba memancing Ansel dengan hal lain. "Aku tidak akan bertanggung jawab kalau anak kita nanti ngiler karena Papanya tidak menuruti keinginannya saat masih ada di dalam perut mamah."
Ansel menghentikan langkahnya. Ansel terpengaruh dengan kata anak kita. "Anak kita?"
Freya mengganguk. Ansel langsung menelpon Haidar untuk membatalkan meeting sore ini. Ansel bergegas menggendong Freya masuk ke mobil. Ansel akan menuruti semua keinginan calon bayinya. Freya tersenyum, informasi dari Haidar sangat berguna. Pagi-pagi sekali Haidar menelpon, memastikan kondisi Freya. Haidar juga bercerita mengenai diagnosa yang diucapakan dokter Afandi. Freya tidak bermaksud menipu suaminya, Freya hanya coba-coba. Ternyata reaksi Ansel sangat membahagiakan, ia langsung menuruti keinginan Freya.
Hanya membutuhkan dua puluh menit mereka sudah sampai di festival. Ansel mengenggan tangan Freya, mencari tempat duduk untuk istrinya. Freya melihat Flora yang sedang duduk berdua dengan Liam. Ansel menuntun Freya menghampiri dan menyapa mereka.
"Sahabatku kenapa baru datang?" tanya Flora.
"Freya kemarin sakit jadi tidak aku izinkan ia bekerja. Kami kesini karena calon bayi kami ingin makan ayam pedas," tukas Ansel.
"Bayi ... ingin makan ayam pedas?" Flora memelototi sahabatnya. Freya mengedipkan mata supaya Flora tidak banyak bicara.
"Kamu mau makan ayam pedas Freya? sebentar aku belikan," ujar Liam berdiri.
Ansel menahan tangan Liam. "Kamu di sini saja. Aku Papa bayinya jadi biar aku yang membelinya," ujar Ansel kemudian berlalu pergi setelah mencium kening istrinya.
Flora terbahak sambil bertepuk tangan. "Hebat ... hebat ... Freyaku sudah ada kemajuan, sudah berani menipu Ansel."
"Aku tidak menipu ... bisa saja itu terjadi. Aku hanya manfaatkan kungkinan yang ada," sanggah Freya.
"Kamu benar hamil anak Ansel?" tanya Liam.
"Aku harap sih positif, pulang dari sini rencananya aku akan cek ke dokter," ujar Freya.
"Selamat ya," ujar Liam mengeulurkan tangan.
Freya menanggapi uluran tangan Liam. Hatinya merasa hangat sekaligus lega. Tidak ada lagi alasan bagi Freya untuk membenci Liam. Bila mereka tidak berjodoh, mereka tetap harus melanjutkan hidup masing-masing. Tidak ada dendam, mereka masih bisa berteman. "Terima kasih Om Liam."
"Tentu saja Om, kamu mau dipanggil ayah? kamu sudah tidak betah hidup di dunia ini. Berani cari gara-gara sama Papa Ansel," ledek Flora.
Liam terkekeh merasa lucu dengan kebodohan dirimu yang merasa kaget saat Freya memanggilnya Om. Sekaligus merasa lega karena mereka masih bisa bersama, tertawa bersama. Kenangan pahit, manis di masa lalu biarlah hanya menjadi kenangan tidak perlu di ungkit lagi. Saat ini Freya sudah menjadi nyonya Cullen dan akan mengandung buah hatinya bersama Ansel. Liam mendoakan Kebahagiaan untuk wanita yang pernah mengisi hatinya. Kini Liam sedang mencoba bangkit dari kesedihan mencoba menyusun kembali kisah asmara dengan teman kecilnya, meski sekarang hanya jadi selingkuhan alis pacar yang tidak resmi Liam tidak perduli status pacar itu tidak penting. Yang terpenting kelak di buku nikah Flora nama Liamlah yang terukir di sana.
Ansel datang membawa pesanan istri tercinta. "Aku ketinggalan berita seru?"
"Ya, Ansel bayimu nanti panggi Ayah padaku," goda Liam.
"Kamu ... mau ku kirim ke rumah sakit atau langsung ke Akhirat?" bentak Ansel.
Semuanya terkekeh mereka sudah menduga respon Ansel. Suami Freya memang tidak bisa diajak bercanda. Freya menenangkan suaminya. Ansel kembali tenang.
"Maksudku nanti panggil aku Ayah mertua," ujar Liam.
"Bisa saja. Tapi kamukan masih jomlo. Bagaimana kamu bisa menjodohkan anakmu dengan anakku. Pasangan saja belum punya," cibir Ansel.
Kali ini Liam yang menjadi bahan tertawaan. "Siapa bilang. Aku akan menikah dengan Flora."
Freya kaget, menyemburkan jus jerunya ke wajah Flora. "Ihhhhh ... Ansel istrimu jorok. menyemburkan minuman ke wajahku."
Ini momen yang lucu tapi tidak ada yang tertawa. Ansel membantu Freya mengelap sisa jus yang ada di sekitar mulut. Liam membantu Freya membasuh wajahnya dengan sebotol air mineral lalu mengeringkannya dengan tisu.
"Benarkah Flo?" tanya Freya.
"Itu belum tentu. Liam kamu baru jadi selingkuhan belum tentu ia bisa mengalahkan Jonathan," jelas Flora.
"Selingkuhan? wah Flo ternyata kamu pemain," puji Ansel.
"Terima kasih atas pujiannya Ansel. Liam hampir defresi karena kehilangan istrimu jadi aku menghiburnya dan membantu mencegahnya defresi jadi aku membagi sedikit kasih sayangku untuk Liam," ujar Flora.
Freya tersenyum, tidak ada amarah dari hatinya. Freya merasa ikut bahagia bila mereka benar akan menikah. Flora gadis yang ceria bisa membuat Liam bahagia dan Liam pria yang teratur, Liam pasti bisa membahagiakan Flora. "Bukankah Liam sudah bertunangan dengan Kyra?"
"Itu hanya karena uang. Jika uangnya di kembalikan Kyra tidak bisa mengikat Ley lagi," ujar Ansel.
"Ternyata Ansel juga tahu masalah itu. Aku tidak menyangka suami dan mantan pacar Freya saling curhat. Kalian memang pria-pria gentel. Empat jempol untuk kalian," ledek Flora.
"Aku bisa melunasi hutangmu pada Kyra," tawar Ansel.
Freya hanya mendengarkan Freya bahkan baru tahu kalau Liam terjebak dengan Kyra karena uang. "Ansel!" Freya menatap Ansel, suaminya mulai menyombongkan kekayaannya lagi.
"Aku menarik kata-kataku. Kamu lunasi sendiri hutangmu Ley," tukas Ansel.
"Hey ... tidak salah bila calon besan saling membantu satu sama lain," ujar Liam.
"Woy kalian terlalu jauh menghayal bagaimana kalau anak kalian satu gender," protes Flora.
Nextnya besok pada jam yang samaπ \=>
π mampir juga ke kisah "Cinta itu Kamu"
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.