Love Shot

Love Shot
Hari H Selesai



Freya masih dengan sabar menunggu, sesekali dirinya mengecek media sosial untuk mengalihkan rasa khawatir yang mulai mengusik ketenangan jiwanya.


Freya mendengar selentingan. Ibunya dan Flora sedang berbisik membicarakan Ansel yang tiba-tiba menghilang. Semua orang sedang dikerahkan untuk mencari Ansel. Tapi sampai saat ini Ansel belum juga di temukan.


Freya mengerucutkan bibirnya. Dirinya merasa di permainkan Ansel.


Apa memang aku tidak ditakdirkan dengan Ansel ?! bukankah seharusnya aku lega bila Ansel tiba-tiba ragu menikah dengan ku dan akhirnya melarikan diri. Tapi apa ini, ada gejolak yang tidak bisa ku abaikan. Rasanya sangat kesal dan kecewa. Apa mungkin karena aku sudah melewati berbagai proses agar terlihat lebih cantik dari sebelumnya namun tidak bisa ku tunjukan pada Ansel.


***


Freya sangat cantik memakai gaun putih yang dipilihkan Ansel. Freya dengan anggun berjalan mendekati Ansel, langkah demi langkah membuat Ansel hanya bisa berdiri tertegun memandang Freya. Freya mendekati Ansel memberikan senyuman termanisnya, perlahan menyentuh pipi Ansel dengan lembut. Ansel menundukkan kepala, mencondongkan wajahnya ke arah Freya supaya bisa lebih mudah di sentuh. Freya tersenyum memberi pujian pada Ansel, mengelus-elus rambut Ansel. Mata Ansel terpejam menikmati sentuhan Freya.


Ada suara mendengung yang masuk ke telinga Ansel membuat kepalanya terasa sakit, mata Ansel terbuka. Dirinya tersadar kalau yang tadi itu hanya mimpi. Ansel mengumpulkan tenaga mencoba untuk duduk meski kepalanya masih terasa berat tapi kesadaran sudah sepenuhnya terkumpul. Ansel meminjat pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing. Ansel harus segera bangkit dan menyusul Freya.


Ansel berjalan lunglai ke dekat pintu, mencoba membuka pintu namun pintu tidak terbuka. Ansel mencari kartu untuk membuka kunci pintu, Ansel mencari ke setiap sudut ruangan. Ruangan sudah seperti kapal pecah namun Ansel belum juga menemukan kartunya.


Ansel duduk sejenak mengumpulkan kembali energinya yang sudah terkuras banyak untuk mencari kartu.


Bagaimana pintunya bisa terkunci dari luar ?! Aku juga tidak mungkin bisa mendobrak pintu dari besi. Si*l ada orang yang mencoba bermain denganku. Bila aku sudah mengetahui orangnya. Akanku buat hidup mereka seperti di neraka.


Ansel merogoh smartphone dari sakunya. Sulit dipercaya bahkan signalpun ikut tidak memihak pada dirinya. Ansel berdiri putus asa melihat keluar dari jendela kaca.


Hal Aneh terjadi saat Ansel menyentuhnya, jendela tidak terkunci. Ansel berencana keluar dari jendela namun tidak ada kain yang bisa di gunakan sebagai tali.


Sepertinya ini sudah di rencanakan dengan sangat matang karena pintu di kunci dari luar, tidak ada seprei bahkan tiraipun tidak ada hanya jendela yang tidak terkunci. Mereka sepertinya ingin aku melompat sendiri dari jendela. Sangat pintar ... semua orang akan berpikir kalau aku bunuh diri bukan di bunuh.


Ansel membuka kaus kaki, sepatu dan kemejanya bersiap keluar hendak merayap perlahan dengan kaki berpijak ke besi kecil pembatas jendela kaca.


Kaki Ansel mulai melangkah perlahan tubuhnya di rapatkan ke kaca, tangannya menggenggam besi kecil penahan jendela di atas kepalanya. Ansel menghentikan langkahnya saat angin kencang menerpa membuat tubuhnya ikut bergetar.


Rasa takut menyelimuti dirinya, Ansel bukan takut mati melainkan takut tidak bisa melihat Freya untuk yang terakhir kalinya. Selangkah lagi Ansel menuju balkon kamar di sebelah.


Ansel berteriak mengetuk pintu kamar, tidak ada satu orangpun yang keluar. Sepertinya kamar tidak berpenghuni. Ansel berjongkok sebentar mengelap keringat dingin yang menetes, memberi jeda untuk kakinya yang masih bergetar. Ansel melihat smartphonenya lagi, belum ada signal juga.


Benar-benar hotel ini tidak berpenghuni, Aku harus melompat dari sini sekarang. Aku sudah banyak membuang waktu dengan melakukan hal yang tidak berguna. Ini sudah tidak terlalu tinggi hanya tinggal dua lantai. Tapi bagaimana cara melompat agar mengurangi cidera. Sepertinya ini waktuku mempraktekan adegan berbahaya seperti di film-film action. Tanpa takut di marahi nenek. Aku akan melompat ke mobil itu ... hasilnya mungkin hanya mati atau aku akan cacat. Ini pilihan yang beresiko, tapi tidak ada salahnya mencoba.


Ansel mengumpulkan keberaniannya, mengambil ancang-ancang untuk melompat. Setelah menghitung dari satu sampai sepeluh, Ansel menarik napas panjang dan melompat.


Bruk ...


Terdengar bunyi keras hasil benturan tubuh Ansel dengan atap mobil. Ansel tergeletak menatap langit sore yang berawan. Ansel tersenyum, baru kali ini dirinya memandangi langit. Dan langit sore ini terlihat sangat indah. Mungkin itu sekilas rasa syukur karena dirinya masih hidup setelah melakukan aksi gila.


Ansel duduk menyeka darah yang menetes dari pelipisnya. Ansel menggerakan tangan kanannya ternyata terasa sangat sakit dan sangat berat saat di gerakan. Beruntung tangan kirinya masih bisa bergerak bebas. Ansel berjalan terseret-seret karena kaki kananya terkilir, namun masih bisa di gerakan berkat ada efek mati rasa saat pertama kali jatuh.


Ansel berjalan menuju ballroom orang-orang melihatnya langsung riuh mengkhawatirkan Ansel. Ansel hanya mengangkat tanganya memberi isyarat untuk tidak banyak bertanya dan membiarkan dirinya berjalan menuju ballroom karena dirinya sedang tidak ingin berbicara.


Pintu ballroom terbuka Ansel masuk dalam keadaan menyedihkan. Nenek Liza berlari menghampiri Ansel.


Ansel hanya menggeleng mengabaikan nenek Liza dan berjalan ke arah podium.


"Panggilkan Freya, katakan acaranya akan dimulai !" pinta Ansel pada Frola.


Flora yang masih menganga karena kaget melihat penampilan Ansel langsung berdiri dan berlari menuju ruangan Freya.


Freya berjalan cepat memasuki ballroom, diperjalanan Flora sudah menceritan dengan detail penampilan Ansel. Freya sudah berdiri di hadapan Ansel.


"Ansel kamu kenapa ?" tanya Freya penasaran.


"Bukan masalah aku hanya terjatuh, maaf penampilanku tidak sesuai denganmu," ujar Ansel menyentuh pipi Freya.


"Ansel kamu terluka, sebaiknya di obati dulu. Acara ini bisa kita lakukan setelahnya." Freya menyeka darah yang menetes dari pelipis Ansel.


"Ini bukan masalah besar, kita akan melanjutkan ijab dan menandatangi surat nikah, setelah itu baru aku akan pergi untuk di obati," jelas Ansel.


"Ayo segera laksanakan permintaan cucuku," teriak nenek Liza. "Cucuku sudah sudah kesakitan."


Ansel sudah mengucapkan ijab dengan lancar, saatnya menandatangi surat nikah. Ansel tidak bisa menggerakkan tangan kanannya. Ansel mengoleskan darah dari pelipis ke ibu jari tangan kanannya.


"Freya dekatkan surat nikahnya !" pinta Ansel.


Freya menuruti permintaan Ansel menyodorkan buku nikah ke dekat tangan kanan Ansel. Ansel menempelkan jempolnya ke buku nikah, tercetak jelas sidik jari berwarna merah di buku nikahnya.


"Sudah selesai semuanya ?" tanya Ansel.


Freya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ansel.


"Kemari !" Ansel merentangkan tangan kirinya.


Freya mendekatkan tubuhnya, Ansel meraih pinggang Freya.


"Istriku sangat cantik," bisik Ansel.


Mata Ansel tertutup, tubuhnya tumbang di dekapan Freya.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.