Love Shot

Love Shot
Perkelahian di Tempat Kerja



Flora hanya tersenyum kecut saat membaca pesan balasan dari Freya. Sikepala kuning yang sedang menunjukan gigi putihnya sambil meneteskan air mata berhasil membuat Flora berdecak sedih. Flora pasrah jika keluhan yang dirinya ungkapkan tidak dianggap serius oleh Freya. Salahnya juga selalu menggoda Freya sehingga saat dia tidak bermaksud bercanda, Freya mengabaikannya.


Flora berjalan ke ruang bos sekaligus teman kecilnya bermaksud mengajukan serentetan keluhan kembali. Sesampainya disana Flora menyisir ruangan mencari keberadaan Liam. Bukan Liam yang dia temukan, hanya ada seorang gadis duduk disana.


"Maaf, apa anda sedang menunggu CEO ?" tanya Flora sopan pada gadis yang sedang duduk di sopa sambil memainkan smartphone. Flora bersikap sopan kepada tamu yang ada di ruang kerja Liam.


"Ya, kak Liam sedang keluar sebentar untuk beli makan siang. Kak Liam menyuruhku menunggu disini," ujar Kyra tidak menatap orang yang mengajaknya bicara, masih asyik memainkan game di smartphonnya.


Flora tersadar, gadis yang sedang duduk dihadapannya dan bersikap tidak sopan ini hanya seorang pelakor bukan seorang tamu penting maupun investor. Mengapa dia bisa melupakan wajah Kyra. Menyesal dirinya sudah berbicara sopan padanya. "Owh saya tidak menyangka kalau yang sedang duduk dihadapan saya ini tunangan CEO," cibir Flora.


"Ya ... santai saja. Kamu bawahan Kak Liam ?" tanya Kyra kali ini dirinya menatap Flora.


Flora mendengus, baru kali ini ada yang berani menyebutnya bawahan. Flora lebih suka disebut sebagai rekan kerja bukan bawahan. Keinginan Flora tidak berlebihan karena dirinya merupakan salah satu pendiri Dream Star bersama Freya dan Liam. Jika Flora ingin bisa saja dirinya yang jadi CEO Dream Star bukan Liam.


"Saya belum memperkenalkan diri saya dengan benar. Saya Flora, pemegam saham terbanyak disini setelah CEO juga kebetulan saya teman bermain Liam semenjak dia dalam kandungan ibunya," papar Flora menjelaskan siapa dirinya.


Kyra tidak tertarik dengan penjelasan Flora. Siapapun Flora, seberapa dekat dan sepenting apakah Flora dikehidupan Liam, Kyra tidak peduli. Yang jelas semua itu tidak akan mempengaruhi hubungan Kyra dengan Liam. Hubungan kontrak yang sudah tertulis dan mempunyai kekuatan hukum. "Ada perlu apa mencari tunanganku ?"


Muncul kerutan di dahi Flora. Dirinya bingung sekaligus kesal penjelasan yang dirinya utarakan tidak ditanggapi Kyra. Bukannya bersikap lebih sopan pada Flora, Kyra malah menegaskan siapa dirinya dengan mengucapkan kata tunanganku pada Flora.


"Tunangan," Flora menyeringai. "Ternyata kamu, wanita itu. Wanita penyebab kehancuran hubungan diantara dua sahabatku."


"Kehancuran ?! rasanya kakak salah menilai. Aku bukan penyebab kehancuran. Memang hubungan mereka sudah retak sejak awal," cemooh Kyra. Kyra tersenyum puas dengan ucapan yang terlontar dari mulutnya.


Flora mengepalkan tangan disamping jahitan roknya. Flora ingin sekali melayangkan bogem ke wajah wanita yang tak tahu malu itu. Namun, Flora menahan emosinya. Kali ini Flora harus berpikir dulu sebelum bertindak. Flora harus menjaga martabat sahabatnya. Bila dirinya menyerang Kyra, itu menandakan kalau Freya sudah kalah dari Kyra. Flora harus menunjukan Freyalah pemenang sebenarnya dari kisah percintaan yang memeras emosi ini. Flora mengurai kepalan tangannya dan duduk manis menyilangkan kaki dihadapan Kyra.


"Aku lupa, hubungan mereka memang tidak pantas. Mana mungkin gadis secantik Freya hanya mendapatkan seorang CEO perusahan kecil seperti Liam. Meskipun mereka berdua temanku tapi bila ada yang lebih baik untuk Freyaku tersayang, Why not," Senyuman terukir di wajah Flora. "Sudahlah tidak perlu membahas Freya lagi. Aku jadi merasa sedih, teringat dia mengabaikan pesanku karena sedang asyik memadu kasih dengan Ansel."


Kyra berdiri dari duduknya. Api cemburu membakar hati Kyra membayangkan Freya dan Ansel sedang memadu kasih hingga melupakan semua orang seperti ucapan Flora. "Dasar Freya plakor," hardik Kyra.


"Disini tiba-tiba panas ya," cemooh Flora, mengibaskan tangannya ke wajah sabil menyeringai.


"Aku jahat ?!" Flora menunjuk wajahnya, terkekeh melihat reaksi Kyra. "Dasar anak kecil."


Kyra tidak terima dirinya terus digoda Flora, apalagi mendengar ucapan anak kecil keluar dari mulut Flora. Kyra sangat keberatan dengan itu, hanya kakaknya yang boleh memanggilnya dengan sebutan anak kecil. Kyra melangkah maju langsung menarik rambut Flora.


Flora menjerit kesakitan rambutnya dijambak Kyra. Flora tidak mau kalah, tangannya meronta dan berhasil menarik rambut Kyra dengan sekuat tenaga. Mereka saling menjerit sambil saling mencaci.


Liam membuka pintu, beberapa detik otaknya membeku tak berfungsi melihat perkelahian antara Kyra dan Flora. Barulah dirinya tersadar saat mendengar suara bendak pecah. Hiasan kaca dimeja Liam hancur bersentuhan dengan lantai akibat getaran saat Flora mendorong Kyra hingga membentur meja. Liam menjatuhkan bungkusan makanan ditangannya berlari melerai mereka.


Liam mencengkram pinggang Flora yang masih menekan Kyra. Liam mengangkat tubuh Flora agar melepaskan Kyra. Flora memberontak masih belum puas menindas Kyra. Ini kesempatan bagi Flora untuk melampiaskan rasa stres karena pekerja pada wanita yang menyebalkan seperti Kyra.


Liam menurunkan Flora, kemudian memunggungi Flora dan menenangkan Kyra yang masih mengerang kesal karena kalah kuat dari Flora. Kyra menepis tangan Liam yang mencoba meraih tangannya agar tidak meronta. Liam berbalik ke arah Flora yang sedari tadi terus memeukul-mukul punggung Liam karena kesal terus dihadang Liam saat dirinya akan bergerak maju untuk memberi pelajaran lagi pada Kyra.


Kyra mendorong Liam sekuat tenaga. Liam yang tidak siap terdorong sampai menubruk Flora. Tubuhnya menimpa tubuh Flora. Kyra langsung menyambar tas dan kabur keluar saat ada kesempatan. Dirinya tidak mau mendengarkan omelan dari Liam.


Liam bangkit sambil meringis bibirnya terluka akibat berbenturan dengan bibir Flora. Flora masih tergeletak dilantai dengan wajah syok.


"Kamu tidak apa-apa ?" tanya Liam mengulurkan tangan bermaksud membantu Flora duduk. Flora mengabaikan uluran tangan Liam. Kakinya menendang lantai sampai badannya bergerak mundur membuat jarak dengan Liam kemudian berdiri dan kabur kembali ke ruang kerjanya. Flora meninggalkan Liam yang masih terduduk sambil meringis memeriksa darah yang keluar dari luka ditangannya akibat ada pecahan kaca yang menancap disana.


Flora duduk dikursinya merogoh kaca dari tas. Dirinya langsung menjerit saat melihat ada gumpalan kemerahan di bibirnya akibat benturan dengan bibir Liam. "Bibir seksiku terluka ... Bagaimana kalau Jonathan curiga. ahhhh ... kenapa lagi dengan dadaku. Kenapa berdebar-debar hanya karena sibreng**k Liam," gerutu Flora menghentak-hentakan kaki ke lantai.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.