Love Shot

Love Shot
Selingkuhan



"Kenapa masih jongkok?"


"Aduh!" Flora tersentak, mengelus kepala yang berbenturan dengan meja. "Bisa diam tidak? kamu cerewet."


Liam menarik tubuh yang menempel di meja selepas mengintip Flora jongkok saat Flora beranjak berdiri dan kembali duduk di kursinya. Suasana menjadi hening. Liam menuruti titah sahabatnya sedangkan Flora masih menetralkan ritme jantungnya yang masih menggila karena ucapan Liam. Flora kembali fokus pada layar di hadapan. Liam sudah selesai dengan pekerjaannya. Liam masih menunggu Flora menyelesaikan pekerjaan.


Tanpa sadar mata Liam teralih ke wajah cantik Flora. Liam baru menyadari kalau Flora cukup cantik untuk gadis pemberontak. Liam yang sejak kecil menjadi teman Flora tidak pernah memperhatikan wajah Flora dengan seksama seperti saat ini. Pandangannya menyusuri setiap bagian wajah Flora. Liam terkesima dengan pesona yang keluar saat Flora fokus bekerja. Dulu Liam tidak menggap Flora wanita, ia hanya melihat Flora sebagai teman rasa bos. Ucapan dari Flora merupakan titah yang harus selalu di patuhi. Terbersit tanya dalam hati Liam, pasalnya Liam tidak tahu apa kesalahannya pada Flora hingga ia selalu dimusuhi Flora. Padahal seingat Liam dirinya tidak pernah membantah keinginan Flora, selalu menurut tanpa mengeluh bagai budak.


"Flo kenapa kamu membenciku?"


"Karena kamu pria pengecut, bod*h sampai melewatkan gadis sebaik sahabatku," jawab Flora tanpa melihat wajah Liam.


"Jika Freya membenciku itu wajar, tapi kamu tak punya hak membenciku."


"Kenapa? aku sahabat Freya. Wajar bila aku ikut marah karena hal itu."


"Itu tidak adil, aku juga sahabatmu."


"Mantan sahabat!" tegas Flora.


"Aku mantan pacar Freya. Namun, aku bukan mantanmu. Dalam sahabat tidak ada kata mantan karena kita tidak menjalin hubungan asmara. Atau kamu menganggap kedekatan kita melebihi seorang sahabat hingga kamu cemburu saat aku lebih memilih Freya dan menjalin asmara dengannya hingga kamu membenciku. Ayo mengaku saja," goda Liam.


Flora menggertakan gigi. Ingin rasanya ia menggit bibir Liam yang sangat bawel. Flora menghela napas, mungkin dirinya sudah mulai tidak waras hingga ia memperhatikan bibir Liam. "Kamu berharap ya? berharap memiliki hubungan sepesial pake kecupan dan cumbuan dengan Flora yang cantik jelita," ujar Flora membalas godaan Liam.


"Memang apa sepesialnya kecupan Flora yang cantik jelita? Dan untuk bercumbu ..."


Liam menyeringai mengarahkan tatapan mencibir ke dada Flora.


Tung ... Penghapus yang di lempar Flora memantul dari dahi Liam ke lantai. Flora terkekeh saat Liam menyentuh dahi dan bergegas mengambil penghapus yang tergelatak di lantai.


"Berani lempar ke wajahku yang cantik, kulaporin ke Papa. Terjadi kekerasan di tempat kerja," ancam Flora.


"Bilang saja sana sama Papa, paling aku cuma disuruh tanggung jawab. Dasar anak tukang ngadu, mentang-mentang punya Papa." Liam mengangkat tangan bermaksud membalas. Hendak melempar penghapus ke wajah Flora.


Flora memejamkan mata bersiap menerima balasan dari Liam. Melihat Flora yang sudah pasrah membuat Liam iba, hati nuraninya kalah dengan keimutan Flora. Liam membatalkan niat buruknya untuk balas dendam akan perbuatan Flora.


Cup.


Bibir Liam mendarat dengan lembut di dahi Flora. Mata Flora terbuka saat ia merasakan sentuhan lembut dari bibir tipis Liam, Flora tak menolak kecupan Liam. Flora menutup kembali matanya hingga Liam menarik kecupannya.


"Kalau sekarang masih berani lapor ke Papah?"


"Untuk apa? yang ada Papa kesenangan. Harapan Papa akan segera terwujud. Emmmp ...." Flora menutup bibir bocornya, sudah keceplosan mengucapkan kata yang dilarang. Papah Flora berharap Liam bisa menjadi anak laki-lakinya. Namun, Papah Flora tidak mengangkat Liam sebagai anak secara resmi karena beliau masih berharap jika kelak Liam dan Flora bisa berjodoh. Flora tipe anak pemberontak. Semakin dilarang, ia akan semakin tertarik dan sebaliknya jika diarahkan ia akan mencari jalan untuk membantah. Termasuk dengan keinginan Papanya untuk menjodohkan Liam dengan Flora, meski baru sebatas obrolan antara Flora dan kedua orang tuanya saja. Sejak itu sebisa mungkin Flora mencoba membuat harapan Papanya kandas.


"Papa berharap apa?" tanya Liam berpura-pura tidak tahu. Liam sudah tahu harapan beliau. Kareana Papa Flora yang sudah Liam anggap seperti Papanya sendiri meminta Liam untuk menjaga Flora karena Papa Flora bekerja di luar negeri sebagai duta besar. Namun, bukan menjaga sebagai seorang kakak. Lebih ke arah menjaga dan melindungi Flora sebagai calon suami.


"Berharap Liam menjadi budak Flora yang cantik jelita," jawab Flora asal.


"Jika itu keinginan Papa, sebagai seorang anak yang berbakti aku siap menjadi budak Flora yang cantik jelita."


"Idihhhh ... kayaknya Liam mulai depresi. Habis festival aku anter kamu konsultasi ke psikiater ya," cibir Flora.


"Aku gak gila."


"Lalu?"


"Wait ... maksud jodoh itu dipertemukan bukan dicari apa?"


"Aku sudah lelah mencari jodoh. Belum tentu wanita yang aku suka diterima oleh ibu. Hatiku tidak bisa merasakan sakit lagi, tapi pertemuan kita berbeda. Seolah sejak awal kita memang sudah ditakdirkan bersama. Jika kita bersama, Papa akan bahagia dan sudah dapat dipastikan ibu juga setuju," jelas Liam.


Jiwa Flora melayang meninggalkan raga. Otak Flora mati, tidak bisa memproses ucapan Liam. Flora gagal paham dengan arah pembicaraan sahabat kecilnya itu. Liam menjentikkan jari, memasukan kembali jiwa Flora yang melayang di udara.


"Bagaimana kalau kita menikah saja?" tawar Liam.


"Apa kamu gila? aku punya Jonathan dan kamu punya Kyra." bentak Flora.


"Tenang Flo ... mereka itu cuma pemeran pendukung dalam kisah kita. Memang kamu yakin kalau kamu bisa bahagia hidup tanpa restu orang tua. Dan untuk Kyra, aku hanya tinggal membayar hutang beserta bunganya pada gadis manja itu. It's simple baby."


"Simple ... aku tidak bisa sepertimu dengan mudah melepas pacar. Aku sudah dua tahun menjalin hubungan dengan Jonathan. Sejauh ini hubunganku baik-baik saja. Meskipun aku belum mengenalkan Jonathan kepada Papa karena Papa menolak semua pria kecuali kamu. Mungkin satu atau dua tahun lagi Papa akan lulu jika semua sahabatku sudah menikah dan aku sudah melewati usia menikah. Masalahnya cuma kamu. Cepat kamu juga menikah. Supaya Papa tidak ada alasan lagi untuk memaksakan kehendaknya."


"Sudah aku putuskan aku tidak akan menikah kecuali denganmu. Jonathan baru mengenalmu selama dua tahun, aku sudah menegenalmu selama dua puluh lima tahun." tukas Liam.


"Lamanya mengenal tidak bisa dijadikan takaran kecocokan seseorang apalagi dijadikan alasan untuk menikah. Aku tidak setuju."


"Baik ... aku akan membuktikan kalau jodohmu itu aku bukan Jonathan. Berikan aku izin untuk mengejarmu mulai saat ini," pinta Liam.


"Izin mengejar? kamu pikir aku maling."


"Ooo ... aku salah bicara. Mulai saat ini aku akan menjadi selingkuhanmu. Dengan begitu kamu bisa bandingkan kisah asmara bersama Jonathan dan kisah asmara bersamaku."


"Lalu?"


"Kapanpun ... kamu bebas untuk menentukan akhir dan menentukan siapa pemenangnya," ujar Liam.


"Baik aku akan menerimamu sebagai selingkuhan. Akan aku buktikan kalau Jonathan jauh lebih baik darimu."


"Oke ... aku tunggu. Bolehkah aku mendapatkan kecupan sebagai peresmian sebagai selingkuhan?"


Flora merapikan meja, berbicara dengan Liam membuat dirinya bersemangat hingga tidak sadar pekerjaannya sudah selesai. Saatnya untuk kembali ke rumah. Flora menggeleng sambil memasukan smartphone ke tas.


"Ayolah ... sekali saja ... di pipi," rengek Liam menunjuk pipi.


Cup.


Flora mengecup cepat pipi Liam. Kemudian melangkah melewati Liam yang masih membatu.


Nextnya besok pada jam yang samaπŸ˜… \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.