King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Beraninya kau mengusik keluargaku!



"Paman, lepaskan aku, aku mau pulang" teriak Aufar kepada beberapa pria yang kembali masuk ke ruangan tersebut.


Lalu disusul oleh seorang wanita berambut panjang dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.


Telp


Seketika suasana ruangan yang mereka sebut gudang untuk menyimpan senjata apinya menjadi terang-benderang bahkan beberapa tikus yang berkeliaran di rak buku usang berlari bersembunyi melihat cahaya terang dalam ruangan tersebut.


"Disini adalah tempatmu, anak kecil" ucap pria yang dipenuhi brewok diwajahnya sembari melangkah menghampiri Aufar.


"Hai anak manis, kau masih mengenaliku bukan?" tanya wanita berambut panjang sambil tersenyum manis kearah Aufar.


Refleks Aufar langsung mengalihkan pandangannya kearah wanita itu hingga mengerutkan keningnya dan tampak berpikir keras untuk mengingat kembali wajah wanita itu.


"Kalau tidak salah kau ibu guru Livina. Ya, kau ibu guru Livina."


Mata sipit Aufar tidak lepas menatap kearah wanita berambut panjang yang diikat tinggi layaknya ekor kuda melambai-lambai di balik punggungnya dan ternyata wanita itu adalah...


"Aaah betul sekali anak manis, ternyata kau masih mengingatku." timpal wanita itu dengan seringai licik diwajahnya. Membuat Aufar tersenyum lebar seolah mendapatkan sebuah harapan besar untuk pulang kerumahnya.


Sial!, wajah anak ini perpaduan antara wajah Ares dan wanita sialan itu. Aku sudah bersumpah tidak akan pernah membiarkan keturunan Ares bersama wanita itu berada di muka bumi ini, keturunannya harus dilenyapkan. Hanya aku yang boleh melahirkan keturunan Ares, bukan wanita sialan itu!. Batinnya dengan amarah menggebu-gebu yang dihinggapi perasaan iri dan dengki melihat wajah Aufar yang terlihat tampan dan menggemaskan.


"Bu guru, aku mau pulang. Tolong bawa aku pulang ke rumahku, Daddy dan mommyku pasti mencariku. Orang-orang yang bersamamu adalah seorang penjahat." ucap Aufar terdengar merengek yang sedang meminta perlindungan kepada wanita yang dia anggap sebagai ibu gurunya.


"Baiklah, apa yang tidak bisa aku lakukan untuk anak manis sepertimu." ucapnya menyeringai sambil mengelus puncak kepala Aufar.


Sontak Aufar langsung memeluk kakinya, karena begitu senang mendengar ucapan dari ibu gurunya, setelah ini ia bisa pergi dari tempat tersebut.


Seorang Kayla tidak akan pernah kalah dari wanita bernama Violet. Aku bukan lagi Kayla yang dulu, sekarang aku adalah Livina Prameswari, wanita tangguh yang akan merebut kembali milikku. Tujuanku sudah didepan mata, melenyapkan anak manis ini, oh sungguh menyenangkan. Batinnya dengan seringai licik diwajahnya sambil menunduk menatap anak kecil yang tampak mencari perlindungan kepadanya.


Kayla melambaikan tangannya kearah pria yang dipenuhi brewok diwajahnya untuk mendekat, lantas pria itu mendekat kearahnya.


Aufar semakin memeluk erat kaki ibu gurunya saat melihat pria itu mendekatinya. Ia bahkan menjadikan kaki Kayla untuk menyembunyikan tubuh mungilnya sembari mencari-cari keberadaan Emma. Ia janji akan membawa teman barunya pergi dari tempat tersebut.


"Tao, aku tidak ingin darah daging Ares berada di muka bumi ini, lenyapkan dia sekarang juga!" titah Kayla kepada pria bernama Tao.


"Tapi...bos besar belum datang, jadi jangan bertindak gegabah. Bos besar akan menjadikan anak ini sebagai umpannya untuk...."


Kayla langsung memotong ucapannya. "Aku tidak peduli dengan rencanamu bersama bosmu. Aku sudah membayar kalian mahal, jadi biarkan aku melakukan keinginanku!" tegasnya tak main-main sambil mengepalkan tangannya.


"Tunggulah sebentar, nona. Bos besar sedang dalam perjalanan kemari" bujuk Tao.


"Tidak bisa, aku tidak suka mengulur-ulur waktu. Aku sudah tak sabaran untuk mengeluarkan isi perutnya lalu melemparnya ke kolam buaya" ucap Kayla dingin dengan sorot mata tajam.


"Bu guru, ayo, kita harus pergi" ucap Aufar antusias sambil menarik tangan Kayla, layaknya sedang menarik tangan ibunya.


Kayla langsung geram melihatnya. Tanpa basa-basi Kayla langsung mendorong tubuh Aufar dengan keras membuat Aufar langsung terjatuh di tanah sambil mengadu kesakitan, karena telapak tangan dan lututnya tergores beling kaca yang bertebaran di tanah.


"Oh astaga, aku minta maaf, nak" Kayla berpura-pura merasa bersalah sudah mendorong tubuh mungil anak kecil tersebut.


"Tidak apa-apa, Bu guru" ucap Aufar dengan bibir bergetar sembari menggeleng pelan, namun sudut matanya sudah berair melihat telapak tangan dan lututnya berdarah. Beling kaca masih tertancap di lutut dan telapak tangannya.


Aufar meringis kesakitan dengan tubuh bergetar, ia bahkan begitu takut melihat darah di telapak tangannya, ia sungguh takut untuk mengeluarkan beling kaca yang masih tertancap di telapak tangannya.


Anak berusia lima tahun itu berusaha untuk tidak menangis, namun air matanya sudah menetes membasahi pipinya yang memerah. Hingga ia tak kuasa memanggil ayah dan ibunya.


"Mommy, Daddy..." lirihnya berderai air mata, dadanya naik turun dan semakin takut melihat darah segar terus mengalir banyak di telapak tangannya bahkan sudah menetes di tanah.


"Aaaaaaa... mommy, Daddy, kakak..hiks ..hiks.." bibir mungilnya terus mengoceh setelah berhasil mengeluarkan beling kaca di telapak tangannya. Air matanya semakin deras membasahi pipinya.


"Dasar cengeng" geram Kayla dan kembali menampar wajah Aufar. Hingga sudut bibir anak kecil itu berdarah.


"Berhenti menangis! kau mau pulang atau tidak hah!" bentak Kayla mengeluarkan sifat iblis nya, membuat Aufar langsung berhenti menangis.


"Aufar mau pulang, Bu guru" ucapnya sesenggukan.


Kayla menyeringai licik dan langsung mencekik leher Aufar. Seketika Aufar memberontak sambil menendang tubuh Kayla yang sedang melakukan perlawanan. Nafasnya sudah tersengal-sengal, seolah sudah kehabisan nafas, namun anak kecil itu masih berusaha untuk melawannya.


"Lepaskan Aufar." ucap Emma yang tiba-tiba datang menyeret tongkatnya.


Tao langsung menghadang anak perempuan itu.


Kayla semakin beringas mencekik leher anak berusia lima tahun tersebut. Ia semakin menggila ingin melenyapkannya.


"Tapi sayangnya, kau harus mati di...."


Brakkkk


Dor


Dor


Peluru melesat sempurna tepat di lengan dan di bagian punggung Kayla, hingga membuat Aufar langsung terlepas dari cengkraman tangan Kayla.


Tubuh mungil anak kecil itu terkulai lemas terjatuh di tanah, ia sudah kehabisan nafas, namun sebelum memejamkan mata sipitnya, ia tersenyum melihat wajah ibunya, hingga matanya tertutup dan tak sadarkan diri.


"Nak, bangun" ucap Violet dengan mata berkaca-kaca, dadanya teramat sesak melihat luka di sekujur tubuh anaknya. Ia lantas menggendongnya dan air matanya seketika mengalir deras membasahi pipinya.


Sementara itu, Ares begitu menggila menembak ketiga pria yang berada di ruangan itu tanpa ampun. Sedangkan Kayla yang mencoba untuk kabur langsung di hadang oleh Yuta.


"Jangan biarkan wanita iblis itu lolos, aku tidak akan mengampuninya! dia harus mendapatkan pelajaran yang setimpal" ucap Ares dengan amarah menggebu-gebu.


"Lepas!" Kayla memberontak ketika Yuta menyeretnya paksa dan membawanya ke hadapan tuannya.


Ares langsung menjambak rambut Kayla dengan sorot mata tajam.


"Beraninya kau mengusik keluargaku!. Banyaknya luka di tubuh anakku, tidak setimpal dengan nyawamu!" geramnya dan semakin kuat mencengkram rambut Kayla hingga membuat urat-urat di wajah dan leher wanita itu bermunculan.


"Aaakkhh.... lepaskan tanganmu, Ares!" teriaknya menjerit kesakitan.


"Kau akan tahu kesakitan yang sesungguhnya!" ucap Ares dingin dengan tatapan tajam.


"Yuta, potong tangan dan kakinya, jangan biarkan dia mati tanpa merasakan kesakitan yang luar biasa." ucap Ares dengan entengnya dan langsung menjauhi Kayla.


"Tidak Ares..." teriak Kayla ketika melihat Yuta membawa mesin gergaji menghampirinya.


Ares melangkah lebar keluar dari gudang tersebut dan tak berselang lama terdengar suara teriakan histeris dari dalam gudang.


Bersambung....


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏