King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Kecelakaan



Keesokan harinya…


Ares dan Violet bersiap untuk pulang ke kediaman orang tua Violet. Mereka sudah berganti pakaian yang disiapkan oleh salah satu anak buah Ares. Kebetulan juga jalanan yang tadi malam sempat tertutup akibat pohon tumbang kembali dilalui kendaraan roda empat.


Mereka berjalan bersama-sama keluar dari tempat penginapan. Ares membukakan pintu mobil untuk Violet, kemudian mempersilahkannya masuk.


Dengan canggung Violet masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping kemudi, lalu disusul oleh Ares yang juga bergerak masuk ke dalam mobil dan menempati kursi kemudi. Ares melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


Sepanjang perjalanan kembali ke rumah orang tua Violet, hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil. Violet hanya diam dan tak banyak bicara, sedangkan Ares fokus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


“Apa kau masih marah kepadaku?” tanya Ares melihat gelagat Violet hanya diam dengan wajah ditekuk.


Violet langsung menoleh kearahnya dan menggeleng cepat sebagai jawabannya.


“Maaf soal tadi pagi, aku tidak bermaksud memarahimu karena sikapmu yang keras kepala.” Ucap Ares dengan pandangan lurus ke depan. Ia harus meminta maaf soal kejadian tadi pagi, dimana ia sendiri turun tangan memandikan Violet dengan cara memaksanya.


“Lupakan saja, soal itu” ucap Violet menunduk dan tak ingin membahasnya. Ia merasa malu jika ares kembali membahas kejadian tadi pagi, karena hal itu sangat memalukan baginya.


Bagaimana tidak, Ares memandikannya layaknya anak kecil dan sudah pasti seluruh tubuhnya menjadi tontonan gratis bagi sang suami. Walaupun ya sepenuhnya dirinya sudah menjadi istri Ares, tetap saja ia sangat malu ketika tubuh polosnya di lihat oleh Ares.


Di tengah perjalanan, Ares merasa gelisah saat mobil yang dikendarainya sedang bermasalah dan terus melaju kencang, sedang rem mobilnya sama sekali tidak berfungsi.


"Ares, di depan ada mobil!" tegur Violet ketika melihat cara berkendara Ares tampak ugal-ugalan.


Cieeeett


Ares langsung membanting setir dan berusaha tetap tenang mengemudikan mobilnya sembari terus melewati jalan yang tidak dipadati kendaraan.


"Apa ada masalah?" tanya Violet dengan kening berkerut.


"Rem mobilku belong, sepertinya ada orang yang sengaja mensabotase nya." jawab Ares sambil membuang nafas kasar.


"Apa! sebaiknya kita segera turun dari mobil ini. Lihat di depan sana terlihat beberapa truk berhenti di jalan." ucap Violet panik.


Sementara Ares tampak lihai mengemudikan mobilnya dan menghindari beberapa mobil di jalan. Untungnya jalanan tampak lenggang pagi ini akibat badai semalam.


Mobil melaju semakin cepat, Ares berkali-kali menyalip mobil di depannya takutnya terjadi tabrakan. Namun diluar dugaan, tiba-tiba sebuah truk pengangkut barang melaju dari arah berlawanan dan juga seolah hilang kendali saat berbelok di persimpangan jalan.


Mau tak mau Ares banting setir dan langsung menabrak pembatas jalan dengan sangat keras hingga posisi mobil terbalik dan terseret beberapa meter di jalan.


Tampak darah segar bercucuran di kepala Violet akibat terkena benturan keras dari kaca jendela mobil hingga membuatnya tak sadarkan diri. Tidak hanya itu, banyaknya luka-luka di tubuh Violet termasuk wajahnya yang terkena goresan pecahan kaca mobil. Hingga membuat wajah dan tubuh Violet dipenuhi darah.


Sementara Ares sendiri kakinya terhimpit pada bagian depan mobilnya yang ringsek akibat tabrakan tersebut. Lengannya pun tampak terluka.


Ares berusaha menarik pergelangan kakinya yang terhimpit benda besi, hingga beberapa menit kemudian akhirnya ia berhasil dengan usaha dan kerja kerasnya, walau kakinya berdarah-darah.


"Violet, bangun" ucap Ares dengan mata berkaca-kaca sembari mengguncang lengan Violet untuk membangunkannya. Akan tetapi tak ada tanda-tanda akan bangunnya sang istri.


"Violet, kau harus bangun, jangan tinggalkan aku sayang..hiks...hiks." ucap Ares menangis melihat kondisi istrinya. Seumur-umur baru kali ini ia menangis melihat orang yang dicintainya terluka.


Ares semakin panik dan segera membuka seat belt yang membelit tubuh Violet. Setelah itu ia bergegas turun dari mobil sambil menggendong tubuh Violet.


Namun tiba-tiba sekelompok orang berdatangan dan langsung menyerang Ares.


Dor


Dor


Ares semakin terintimidasi ketika banyaknya orang berseragam lengkap berdatangan mengepungnya dan masing-masing membawa pistol di tangannya. Namun ia tidak akan gentar menghadapi mereka.


Dengan terpaksa Ares menurunkan Violet dari gendongannya di atas rumput, lalu bergerak melawan mereka. Semuanya terus memberondong tembakan kearah Ares yang terlihat melompat ke sisi mobil untuk menghindari peluru yang terus melesat kearahnya.


Sementara salah satu pria berseragam lengkap melangkah mendekati Violet, namun secepat kilat Ares menembak pria itu hingga terkapar di samping istrinya.


Tidak bisa dipungkiri Ares begitu ahli dalam hal menembak, jadi mudah baginya untuk melumpuhkan mereka. Bahkan sekarang pria berseragam lengkap satu persatu mulai berjatuhan di jalan. Sementara yang tersisa memilih mundur dan bergegas meninggalkan tempat tersebut.


Kemudian Ares kembali menghampiri Violet, ia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan istrinya. Namun, tiba-tiba seseorang melepaskan tembakan hingga mengenai dada nya.


Saat orang itu akan melepaskan tembakan untuk kedua kalinya, dengan cepat Ares menembaknya balik hingga orang yang berdiri diatas tower terjatuh dengan ketinggian sekitar 40 meter dengan luka tembak pada bagian kepalanya.


Dengan langkah tertatih-tatih sambil memegangi dadanya yang terluka, Ares menghampiri Violet dan kembali menggendongnya.


Ketika melihat sebuah mobil melintas ke arahnya, dengan cepat Ares memberhentikan mobil tersebut untuk meminta tolong supaya si pengemudi bersedia membawanya ke rumah sakit.


Untungnya sang pengemudi mobil berbaik hati membawanya ke rumah sakit. Tak lupa Ares mengabari keluarganya perihal insiden kecelakaan yang sedang menimpanya.


*


*


*


"Bagaimana pekerjaanmu Darko!" tanya seorang pria bertopeng yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Aku tak berhasil membunuhnya, master! seorang pria berhasil membantunya. Bahkan sebelum kecelakaan terjadi, mobil yang sudah aku sabotase berhasil di kemudikan dengan baik oleh pria itu. Tapi, tetap saja kecelakaan beruntung itu masih terjadi sesuai rencana ku. Master, pria yang membantu ketua The Vio bukanlah orang sembarangan, dia bahkan sampai melawan puluhan anak buah master dalam hitungan menit dan kemampuan menembaknya tidak di ragukan lagi. Selama pria itu terus bersama ketua The Vio, sulit bagi kita untuk membunuhnya." ucap pria bernama Darko.


"Bodoh, bagaimana pun caranya ketua The Vio harus mati. Hanya aku yang harus menjadi penguasa di negeri ini! informasi mu sama sekali tidak menarik" ucap pria bertopeng itu sambil menyeringai, lalu menendang wajah anak buahnya itu dengan begitu kerasnya hingga tubuh anak buah malang itu terjengkang ke belakang.


Tidak hanya sekali tendangan, sang master kembali melayangkan tendangan di perut anak buahnya dengan brutal lalu menginjaknya layaknya botol plastik bekas yang harus di hancurkan.


"Aaaaaaa, ampuni aku tuan. Tolong, beri aku kesempatan untuk membunuhnya" sang anak buah yang malang hanya mampu berteriak histeris dan terus memohon-mohon pengampunan.


Sementara pria bertopeng itu menyeringai licik lalu mengeluarkan pistolnya dari saku jasnya dan langsung menembak kepala anak buahnya sampai tiga kali tembakan hingga terpampang jelas kening anak buahnya bocor dan darah segar bercucuran dengan deras, ibarat air pancur.


"Dasar tidak berguna!." ucapnya sinis memandangi wajah anak buahnya yang sudah tewas di tangannya.


"Hei kalian, bereskan dia." dengan cepat kedua pria berkepala plontos langsung membereskan pria itu dan lainnya bertugas membersihkan kekacauan yang dilakukan oleh masternya.


*


*


*


Bersambung....