King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Rahasia?



"Maaf Mama, aku ada urusan....."


"Ares, tolong dengarkan ucapan mama kali ini. Mama mohon agar kau mau pulang. Jangan membuat Oma menunggu lama." ucap nyonya Laurent di ujung telepon.


Ares menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu mengiyakan ucapan ibunya. Ia bisa kembali ke kediaman Violet setelah urusan dengan keluarganya selesai.


***


Kediaman Nyonya Laurent....


Setelah melakukan perjalanan jauh, akhirnya Ares tiba di kediaman orang tuanya. Tampak dua sosok yang disayanginya sudah menunggunya di ruang keluarga.


Ia tidak tahu pasti hal penting apa yang ingin disampaikan Omanya sampai ibunya begitu kekeh menyuruhnya pulang ke rumah.


"Hai Oma, mama." ucap Ares lalu mencium punggung tangan Oma dan ibunya secara bergantian.


"Duduk dulu nak." ucap Oma Meggy kepada cucunya.


Ares tersenyum hangat lalu mendaratkan bokongnya di samping sang Oma.


"Aku jadi penasaran, hal penting apa yang akan Oma sampaikan kepadaku dan juga kepada Mama." ucap Ares sambil menggenggam tangan Omanya.


Oma Meggy menatap mereka secara bergantian lalu menghela nafas berat.


Ya Tuhan, inikah waktu yang tepat untuk mengatakan kebenarannya? Tapi, mengapa sekarang aku merasa takut jika kebenarannya terbongkar. Batin Oma Meggy.


"Oma, Oma..." panggil Ares karena melihat Oma nya hanya melamun. Nyonya Laurent menjadi khawatir melihat tingkah ibunya dan bergerak mendekatinya.


"Mommy" Nyonya Laurent menyentuh bahu sang ibu, refleks wanita tua itu langsung tersadar dari lamunannya.


"Aaah...iya nak. Oma sudah tua dan akhir-akhir ini mudah capek jika hanya berjalan-jalan di sekitaran sini. Mungkin tidak akan lama lagi Oma akan menyusul Opa mu. Untuk itu, Oma ingin menyampaikan hal penting kepada kalian." ucap Oma Meggy sambil menatap anak dan cucunya secara bergantian.


"Jangan katakan hal seperti itu mom. Kau harus sehat dan kau harus tetap bersama kami selamanya." timpal Nyonya Laurent dengan mata berkaca-kaca.


"Ada saatnya kita berpisah, nak. Karena sesuatu yang bernyawa pastilah akan meninggalkan bumi ini." ucapnya tersenyum sambil membelai wajah putrinya.


"Tidak Mommy." Nyonya Laurent menggeleng dengan mata berkaca-kaca.


Ares menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mendadak perasaannya menjadi tak menentu melihat raut wajah keduanya yang tampak sendu.


"Maafin mommy Laurent, karena selama ini mommy menyimpan rapat-rapat rahasia besar darimu." ucap Oma Meggy sambil menunduk penuh sesal.


"Rahasia?" timpal Ares terkejut mendengar ucapan Omanya, begitu halnya reaksi sang ibu tercinta.


"Mom, jangan selalu bercanda. Mommy selalu saja mengatakan rahasia yang tak masuk akal." ucap Nyonya Laurent gugup dan tak ingin sang ibu menceritakan perihal ayah kandung putranya yang masih hidup.


Nyonya Laurent tidak ingin putra semata wayangnya mengetahui tentang pria yang sangat dibencinya di dunia ini. Sampai kapanpun ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. Karena itu hanya memberikan luka baginya dan juga putranya.


Seketika Oma Meggy mendongakkan wajahnya menatap memelas sang putri. Lewat ekor matanya, nyonya Laurent meminta sang ibu untuk tetap diam. Akan tetapi, ibunya menggeleng cepat dan ingin mengatakan kebenarannya.


"Mengapa mama berkata seperti itu, biarlah Oma menceritakan rahasia yang selama ini ditutup rapat-rapat dari kita." ucap Ares terlihat tenang.


"Ares! kau sama sekali tidak tahu menahu tentang urusan orang tua. Jadi jangan mengajari mama!" ucap Nyonya Laurent marah kepada putranya.


"Tolong jangan bertengkar." timpal Oma Meggy dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak ingin mendengar perdebatan mereka.


"Mommy, Ares tidak perlu tahu...." Nyonya Laurent tidak melanjutkan ucapannya karena Oma Meggy langsung memotong ucapannya cepat.


"Ares, ayahmu masih hidup." ucap Oma Meggy dengan entengnya. Sedangkan Ares hanya diam membisu dengan raut wajah sulit diartikan mendengar penuturan Oma nya.


"Tidak mom, pria itu sudah mati." timpal nyonya Laurent dengan raut wajah penuh kesedihan, marah dan benci semuanya menjadi satu. "Ares, percayalah sayang bahwa ayahmu sudah tiada. Mom, jangan terus mengorek luka lama yang hanya membuat kami tersiksa." tambahnya diiringi isak tangis.


"Laurent, sampai kapan kau ingin menyembunyikan rahasia ini dari Ares, sampai kapan nak. Ares masih memiliki seorang ayah. Bahkan Ares memiliki..." Oma Meggy tak sanggup melanjutkan ucapannya karena Nyonya Laurent langsung berhambur memeluknya.


Bahkan Ares memiliki saudara laki-laki... mereka saudara kembar. Oma Meggy hanya mampu mengucapkannya dalam hati.


"Cukup mommy!" ucap Nyonya Laurent dengan tangis pecah.


Tak ada yang bisa dilakukan Oma Meggy selain diam dan tak meneruskan ucapannya. Hanya air mata yang mengalir deras membasahi wajah wanita tua itu.


"Tak mengapa jika pria itu masih hidup. Karena, bagiku tak ada pentingnya sosok ayah dalam hidupku. Jika memang ayahku masih hidup, tidak mungkin dia akan meninggalkanku bersama mama. Tidak mungkin juga jika dia tidak mencari kami sampai saat ini. Jadi, untuk apa aku mengharapkannya lagi, semuanya pupus sudah. Ayahku sudah tiada!. Hanya mama satu-satunya sosok orang tua tunggal bagiku, kasih sayangnya selalu berlimpah di berikan kepadaku dan kami sangat bahagia hidup bersama." ucap Ares panjang lebar dan sudah tak mengharapkan lagi sosok ayah dalam hidupnya.


"Ares...hiks.... hiks..." Nyonya Laurent melepaskan pelukannya setelah mendengar ucapan putranya. Wajahnya sudah dipenuhi air mata menatap sendu ke arah putranya.


Perlahan Ares mendekati ibunya lalu berjongkok di hadapan ibunya. Tangannya terulur menyentuh kedua tangan ibunya lalu mencium punggung tangan ibunya dengan penuh kasih.


"Aku tidak menginginkan seorang ayah, cukup mama menjadi ayah sekaligus ibu terbaik untukku." ucap Ares dengan mata berkaca-kaca lalu berhambur memeluk ibunya. Mereka hanya mampu menangis dalam pelukan orang yang disayanginya.


Oma Meggy tak bisa berkata-kata, hanya air mata terus mengalir membasahi wajahnya menatap anak dan cucunya.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Batinnya dengan tatapan kosong.


*


*


*


Malam ini menjadi acara pertunangan Violet dengan Evan yang akan digelar di kediaman keluarga tuan Keynand. Acara tersebut hanya dihadiri oleh keluarga inti saja.


Terlihat Violet sudah mengenakan gaun mewah berwarna peach dan aksesoris sudah melekat di tubuhnya. Riasan wajahnya tampak natural dan semakin mempercantik penampilannya.


Tampak wanita hamil sedang menemaninya di dalam kamar. Wanita hamil itu tidak lain adalah Daisy, kakak perempuannya. Sesekali mereka bercanda gurau.


"Kakak, kapan ponakanku akan terlahir di dunia?" tanya Violet sambil menyentuh perut buncit kakaknya.


"Sesuai prediksi dokter Anggita, kemungkinan dua bulan lagi." ucap Daisy tersenyum. " Makanya kau harus cepat-cepat menyusulku, segera lah menikah, jangan lagi menunda-nundanya. Apalagi pria yang akan menjadi calon suamimu pengusaha sukses, kau harus melahirkan penerusnya." ucap Daisy yang kembali menggoda adiknya.


"Iya aku akan segera menikah, kalau perlu malam ini juga, biar kakak puas!" ucap Violet dengan mencibir.


"Jangan asal bicara, bisa saja ucapanmu menjadi kenyataan." sahut Daisy mengingatkan adiknya.


Iih amit-amit, aku bahkan terpaksa menerima pertunangan ini. Batin Violet sambil mencubit kecil telapak tangannya.


Bersambung.....