King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Bodyguard



"Ak-aku..."


Ares tergagap dan tak tahu harus menjawab apa.


"Dia suamimu, nak. Kalian menikah sebulan yang lalu." sahut ibunya terus terang dan tak ingin ada kebohongan diantara mereka.


Seketika raut wajah Violet berubah dan tampak berpikir keras untuk mengingat kembali wajah pria itu dalam ingatannya. Namun sayangnya ia tak bisa mengingat apapun, malahan kepalanya kembali berdenyut-denyut jika ia memaksakan diri mengingat-ingat masa lalunya.


"Mommy pasti bercanda kan, sejak kapan aku menikah? lagian selama ini aku tidak pernah menjalin kasih dengan pria manapun. Terus, kenapa sekarang aku memiliki suami, aneh kan, ada-ada saja ucapan mommy." ucap Violet tersenyum tipis dan senyumannya itu mampu menggetarkan hati seorang king Mafia yang berdiri tak jauh dari ranjang pasien.


Ares hanya mampu menunduk lesu sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar ucapan Violet. Dugaannya benar, istrinya tak mengingatnya sama sekali.


Sedang Nyonya Viona dan tuan Keynand saling pandang, mereka juga bingung harus menjelaskan seperti apa tentang Ares yang sudah menjadi suami putrinya.


Kalaupun menjelaskan tentang siapa Ares sebenarnya, tidak mungkin juga putrinya akan percaya begitu saja, malahan akan semakin mengulik lebih dalam tentang Ares.


Dan pada kenyataannya bisa saja Violet shock yang tidak bisa menerima kenyataannya, bahwa dia sudah menikah dengan Ares. Lebih parahnya mereka takut jika kondisi Violet menjadi drop.


Sementara Violet sendiri tidak percaya dengan ucapan ibunya. Untuk itu, ia kembali beralih menatap pria asing yang masih berdiri ditempat semula.


"Hei, kau siapa? kenapa kau masuk ke dalam ruanganku?" tanya Violet dan tampak sewot melihat pria asing itu berada dalam ruangan perawatannya.


Ares mengangkat kepalanya hingga tatapan mata mereka kembali bertemu, namun Violet langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Ares menarik nafas panjang lalu dihembuskan perlahan. Ia siap buka suara dan mengatakan bahwa dirinya memang suami Violet. Tapi, tuan Keynand mampu membaca pikirannya. Pria paruh baya itu langsung buka suara mendahului Ares.


"Sebenarnya aku..."


"Dia itu salah satu bodyguard, Daddy. Tapi, mulai sekarang dia akan menjadi bodyguard mu, sayang." sahut tuan Keynand berbohong. Karena tidak menutup kemungkinan putrinya akan terus bertanya siapa pria asing yang berada di dalam ruangan yang sama dengan dirinya.


Ia tidak ingin putrinya terus berpikir keras hanya untuk mengingat-ingat kembali Ares. Kesehatan putrinya jauh lebih penting dari segalanya, sehingga ia memilih berbohong untuk menutupi status mereka.


Seketika Violet ber O ria mendengar ucapan ayahnya. Ia tidak lagi penasaran dengan pria asing tersebut, karena rupanya pria itu adalah bodyguard ayahnya.


Ares langsung mengalihkan pandangannya ke arah tuan Keynand, membuat tuan Keynand mengedipkan matanya sebagai kode agar menantunya mau mengikuti rencananya.


"Ares, kemarilah" panggil tuan Keynand, meminta Ares mendekat.


Ares menggangguk paham lalu mendekat dan berdiri di samping ranjang pasien, tepatnya di posisi sebelah kiri, karena ayah dan ibu mertuanya berada di posisi sebelah kanan.


"Violet sayang, kenalin ini Ares. Mulai sekarang Ares yang akan menjadi bodyguard mu. Daddy sangat percaya kepada dia untuk menjagamu. Kemanapun kau pergi dia akan selalu menemanimu dan melaporkan apa-apa saja yang kau lakukan selama berada di luar." ucap ayahnya panjang lebar. Hanya itu cara yang bisa ia lakukan untuk mendekatkan Violet dan Ares. Dengan terus bersama, bisa saja putrinya dapat mengingat Ares sebagai suaminya.


"Daddy! kenapa sekarang aku harus memiliki bodyguard, padahal dulu Daddy tidak pernah...."


"Itu dulu, beda lagi sekarang, nak. Daddy tidak ingin kau sampai terluka untuk kedua kalinya, karena Daddy sangat menyayangimu dan tidak ingin kehilanganmu, nak. Begitu banyak penjahat di luar sana dan memiliki motif tersendiri untuk mencelakai kita dan tanpa kita sadari. Meskipun kita semua selalu bersama, tak serta merta Daddy sebagai kepala keluarga bisa menjagamu selama 24 jam. Jadi tolong, terima keputusan Daddy untuk kali ini, karena semua ini juga demi kebaikanmu, nak." ucap tuan Keynand memberikan pengertian kepada putrinya.


"Baik Daddy, aku setuju dengan keputusan Daddy. Aku tidak masalah jika harus memiliki bodyguard." ucap Violet sambil melirik kearah Ares.


"Ya sudah, kalian kenalan dulu biar lebih akrab." ucap Tuan Keynand sembari melirik tajam kearah Ares, membuat sang empunya langsung mengulurkan tangannya kearah Violet sebagai bentuk perkenalan.


"Ares"


"Violet"


Violet memasang wajah galak dan tidak menyalami tangan Ares, membuat Ares tersenyum tipis melihat tingkah Violet. Ia pun menurunkan kembali tangannya yang tidak beruntung bersalaman dengan istrinya.


Kemudian tuan Keynand mengajak Ares duduk bersama di sofa yang tersedia dalam ruangan tersebut. Mereka perlu mengobrol membicarakan perihal apa saja yang akan dilakukan kedepannya.


Selesai minum obat, Violet dibantu oleh ibunya berbaring untuk beristirahat. Mereka sudah terlalu banyak bicara dan pastinya putrinya sangat lelah.


Sementara itu, Ares sesekali mengalihkan pandangannya ke arah ranjang pasien untuk memastikan apakah istrinya sudah tidur atau belum. Tuan Keynand yang melihat tingkahnya hanya mampu tersenyum tipis.


"Beristirahatlah nak, putriku tidak bakalan kabur." goda tuan Keynand.


"Harusnya Daddy yang beristirahat. Aku tidak apa-apa semalaman menjaga Violet." balas Ares, membuat tuan Keynand menepuk pundaknya.


"Daddy akan begadang bersamamu. Ares, semoga kerja kerasmu segera membuahkan hasil." ucap tuan Keynand.


"Iya Daddy. Tapi, Daddy tidak perlu begadang, biar aku saja yang menjaga Violet. Terima kasih sudah mempercayakan aku untuk terus berada di samping Violet. Aku janji, apapun akan kulakukan demi kesembuhan Violet." ucap Ares sungguh-sungguh dan tuan Keynand hanya mampu tersenyum sambil menepuk pundaknya.


*


*


*


Hari terus berlalu dan kondisi Violet semakin membaik. Tepatnya hari ini Violet sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Namun, ia masih perlu check up rutin dua kali seminggu sesuai arahan dari dokter yang menanganinya.


Tampak Violet menggunakan kursi roda dan tuan Keynand dengan senantiasa mendorongnya keluar dari ruangan, diikuti oleh Ares, nyonya Viona dan Victor yang mengekor di belakangnya.


Setibanya di parkiran, Ares bergerak untuk menggendong Violet, namun dengan cepat Violet melontarkan kata-kata protes dan tak mau disentuh oleh bodyguardnya.


Sehingga Violet sendiri yang memilih masuk ke dalam mobil, padahal orang tuanya yang ingin membantunya. Sedang Ares memilih memasukkan kursi roda milik Violet di bagasi mobil.


Dua unit mobil melaju sedang meninggalkan rumah sakit dan bergerak menuju kediaman tuan Keynand. Hanya 30 menit mobil yang membawa mereka tiba di kediaman tuan Keynand. Mereka bergegas turun dari mobil.


Raut wajah Violet tampak berseri dengan mata berbinar menatap suasana rumah yang sangat dirindukannya akhir-akhir ini.


"Mommy, aku mau ke kamar" ucap Violet antusias yang kembali menduduki kursi roda.


"Iya sayang" ucap ibunya tersenyum.


"Ares, tolong antar Violet ke kamar." timpal tuan Keynand dan Ares mengangguk cepat.


"Daddy, aku tidak..." Violet tidak melanjutkan ucapannya karena ayahnya langsung memotongnya cepat.


"Sorry sayang, Daddy ada perlu sama mommy mu." ucap tuan Keynand dan segera membawa istrinya ke kamar.


"Victor!"


"Maaf kak, pekerjaanku masih banyak." tolak Victor mentah-mentah yang sudah mampu menebak keinginan kakaknya.


Sehingga hanya Violet dan Ares yang masih berada di ruang tamu. Violet menatap Ares dengan tatapan tak bersahabat, membuat Ares tersenyum dalam hati dan ingin sekali mengecup bibir ranum istrinya.


"Nona Violet, aku akan mengantarmu ke kamar." ucap Ares dan Violet tidak melakukan penolakan.


*


*


Bersambung...