
Ares dan Violet mulai siap-siap, karena hari ini mereka akan melakukan kencan pertama. Tampak keduanya mengenakan pakaian casual dan terlihat serasi, cantik dan tampan yang patut disematkan untuk mereka.
Ares mengenakan t-shirt hitam dipadukan jaket denim dengan warna senada membungkus tubuh atletisnya. Satu lagi celana jeans hitam melekat di kaki jenjangnya.
Sementara itu, Violet mengenakan blouse berwarna peach di bawah lutut dengan aksen bordir di setiap ujung blouse nya. Rambutnya di kuncir dengan riasan wajah tampak natural namun terkesan manis dan elegan.
Pandangan Ares tidak lepas dari wajah Violet yang sangat cantik jelita. Ia benar-benar terpesona dan mengagumi keindahan wanita yang dicintainya.
"Kenapa bengong, ayo berangkat." ucap Violet sambil memukul kecil lengan Ares.
"Soalnya aku sedang memandangi bidadari cantik di sampingku." ucap Ares tersenyum tipis membuat raut wajah Violet seketika merona memerah.
"Bagaimana kalau aku membatalkan kencan kita? lagian aku tidak ingin membawa istriku yang cantik ini keluar rumah. Aku tidak rela jika pria lain sampai melihatmu dan ikut mengagumi kecantikanmu. Hanya aku seorang yang harus melihatmu. Dan hanya aku seorang yang harus mengagumi kecantikanmu, sayang. Aahh sebaiknya aku kurung saja kau di kamar, kita kencannya di kamar saja" ungkap Ares sembari mencubit gemas hidung mancung istrinya.
"Hufff.. menyebalkan! anda saja aku tahu sikapmu yang terlalu posesif begini, mungkin aku tidak akan menikah denganmu." ucap Violet cemberut, karena Ares mendadak ingin membatalkan kencan mereka, padahal ia sudah selesai bersiap. Kalau seperti ini, ia tidak perlu repot-repot berdandan dan memilih pakaian yang cocok untuk ia kenakan.
"Oh iya, aku semakin curiga kepadamu. Jangan-jangan selama kita menikah kau hanya mengurungku di kamar dan melarang ku keluar, iyakan? dasar pria pencemburu" tambah Violet sembari berkacak pinggang.
"Tidak sayang, jangan salah paham. Sikap posesif ku kepadamu itu hal yang wajar, jadi tolong jangan merusak suasana dengan mengajakku berdebat. Baiklah, sebaiknya kita berangkat sekarang. Aku akan mengajakmu ke tempat yang tidak biasa" ucap Ares dan tak ingin melanjutkan perdebatan mereka. Sungguh ia merutuki kebodohannya yang terlalu posesif kepada sang istri.
"Tunggu, karena dilihat dari sikapmu yang posesif, aku semakin ingin tahu tentang hubungan kita. Coba ceritakan awal-awal pertemuan kita, hingga kau mengajakku menikah." tegas Violet dengan tatapan curiga menatap manik mata sang suami.
"Ceritanya sangat panjang sayang. Nanti aku ceritakan sehabis pulang kencan, kalau aku ceritakan sekarang bisa-bisa kita batal berkencan." timpal Ares lalu menggenggam tangan Violet. Sedang Violet tak melakukan penolakan dan hanya membiarkan Ares menggenggam tangannya.
Mereka berjalan bersama-sama sambil bergandengan tangan menuruni anak tangga, dimana dua pelayan wanita sudah menunggunya di lantai dasar dengan memegang paper bag yang entah apa isinya.
"Nyonya, ini bekal anda." ucap pelayan sembari menyodorkan paper bag kepada istri majikannya.
"Terima kasih." ucap Violet mengambil paper bag tersebut dan akan melihat isinya, namun Ares dengan cepat menghentikannya.
"Itu bekal kita sayang, jangan membukanya sekarang." sahut Ares lalu mengibaskan tangannya menyuruh kedua pelayannya pergi dari hadapannya.
"Loh kenapa? aku hanya ingin melihat isinya. Lagian kita mau berkencan atau piknik sih!." ucap Violet terdengar ketus.
"Dua-duanya, kita berkencan sambil piknik. Bukankah itu sangat menarik." timpal Ares tertawa kecil.
"Ya sudah, ayo" ucap Violet dan berjalan lebih dulu meninggalkan Ares. Sehingga Ares bergerak cepat menyusulnya dan kembali menggenggam erat tangannya.
Mobil yang membawa mereka melaju sedang melewati gerbang. Sepanjang perjalanan tak ada lagi obrolan yang mereka ciptakan. Ares fokus mengemudi dan Violet fokus memandang keluar jalan melihat jalanan yang terasa asing baginya.
"Kita mau kemana?" tanya Violet dan cukup heran mulai melihat keramaian di pinggir jalan yang mereka lewati.
"Ada deh, nanti juga kau bakalan tahu. Anggap saja sebuah kejutan untukmu, sayangku." jawab Ares tersenyum simpul sambil mengusap-usap puncak kepala Violet dengan sebelah tangannya. Membuat Violet hanya mengangguk pasrah.
Ares memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, dengan beberapa mobil sudah terparkir di sana. Kemudian Ares menuntun Violet turun dari mobil.
"Ramai sekali." Violet langsung menggambarkan tempat tersebut melihat banyaknya stand yang berjualan aneka makanan dan minuman di lapangan yang luas tersebut. Sepertinya itu sebuah pameran ataukah bazar, pikirnya.
"Ya sudah pasti, disini sedang mengadakan pameran aneka macam seni, salah satunya lukisan, karikatur, miniatur mainan anak dan lain-lain. Juga mengadakan aneka pameran khusus jajanan pasar dan aku sangat yakin kau akan menyukainya. Kita juga akan disuguhkan live music oleh band ternama dan pastinya tidak akan membuatmu bosan" jelas Ares dan sudah tahu pasti tempat yang mereka datangi untuk berkencan.
"Ayo, kita jajal tempat ini." ucap Ares dan langsung menggandeng tangan Violet, sedang Violet mengangguk cepat dengan mata berbinar.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan berbaur bersama dengan pengunjung lainnya.
"Ares, aku ingin lukisan yang itu." tunjuk Violet dan sengaja berhenti di stand lukisan.
"Iya sayang, pilihlah sesuka hatimu." timpal Ares dan mengabulkan segala keinginan istrinya.
Mereka masih terus menjajal pameran tersebut dan terlihat sangat romantis bersama pasangannya.
Sesekali Violet memakan makanan yang sempat dibelinya berupa sosis goreng dan juga aneka seafood yang di gerong krispi. Bahkan Violet begitu telaten menyuapi Ares yang sedang membawa barang belanjaannya.
"Kita istirahat dulu, sayang." ucap Ares dan merasa kasihan melihat Violet tampak lelah mengitari tempat tersebut.
Kebetulan mereka sedang berdiri di bawah pohon rindang dengan view sebuah danau yang terbentang di depan matanya. Terdapat sebuah kursi kayu panjang dan bisa mereka duduki
"Hemm. Kaki juga sudah pegal berjalan jauh." keluh Violet lalu mendaratkan bokongnya di kursi kayu tersebut.
Ares meletakkan tas belanjaan Violet di atas kursi lalu berjongkok di hadapan Violet.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Violet melihat tingkah Ares yang berjongkok di hadapannya.
"Aku ingin memijit kakimu." jawab Ares.
Dengan hati-hati, Ares mulai menyentuh kaki Violet lalu melepaskan sneaker di kedua kaki sang istri dan perlahan mulai memijitnya.
Violet terhentak melihat tingkah Ares dan langsung menyuruhnya untuk berhenti memijit kakinya, namun Ares begitu kekeh menghiraukannya.
"Ares, tolong hentikan." ucap Violet tidak enak hati.
"Ssstt, jangan banyak protes. Kakimu sampai pegal gara-gara aku." ucap Ares dan begitu telaten memijit kaki Violet. Membuat Violet diam membisu dan tidak ingin lagi melakukan aksi protes.
Ya sejujurnya Violet begitu rileks setelah Ares memijit kakinya. Perlahan rasa pegal yang ia rasakan di kedua kakinya mulai hilang. Violet begitu salut kepada Ares, suaminya benar-benar pria baik dan sangat mencintai dan menyayanginya.
Kurasa dia sangat mencintaiku, namun sampai sekarang aku belum bisa mengingatnya. Apakah aku juga mencintainya?. Batin Violet penuh tanda tanya.
"Emm Ares.. kau belum cerita tentang awal pertemuan kita." ucap Violet sambil menggigit bibir bawahnya.
Sontak Ares langsung mendongak menatapnya.
"Nanti aku ceritakan setelah kita sampai di rumah." ucap Ares kemudian memakaikan kembali sepatu sneaker di kaki Violet. Kemudian duduk di samping Violet.
"Terima kasih." ucap Violet tersenyum manis.
"Untuk?" Ares memicingkan matanya melirik istrinya.
"Kau sudah memijit ku." jawab Violet malu dan Ares menjadi gemes melihat tingkah Violet.
"Itu tidak gratis." ucap Ares menyeringai.
"Maksudmu..."
"Kau harus membayarnya dengan cara lain, salah satunya adalah...." Ares menjeda ucapannya sambil memajukan wajahnya dan langsung mengecup bibir Violet.
Cup
"Yang ini." ucapnya tersenyum tipis.
"Ares!" wajah Violet merona hingga membuat Ares tertawa kecil lalu memeluk tubuh Violet.
"Aku senang dengan kencan pertama kita." ucap Violet jujur.
Bersambung....