King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Aku bersamamu



Selesai mengobati lengan Violet yang terluka akibat terkena tembakan, Ares kemudian memapah Violet masuk ke dalam mobil. Lalu disusul dirinya yang menempati kursi kemudi.


"Kau mau membawaku pulang?" tanya Violet melirik ke arah Ares.


"Ya" jawab Ares singkat dan padat.


"Lalu bagaimana dengan anggota..."


"Aku sudah mengerahkan anak buahku untuk membantu anggota kelompokmu. Bahkan aku menyuruh mereka untuk membawa anggota The Vio yang terluka parah ke rumah sakit guna menjalani perawatan. Dan jangan khawatir mengenai biasanya, karena semua biaya pengobatannya aku sendiri yang menanggungnya." jelas Ares sembari menyalakan mesin mobilnya, setelah itu melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


"Terima kasih atas bantuan mu, lagi-lagi aku berhutang budi kepadamu." ucap Violet tulus dengan tatapan sendu menatap wajah Ares.


Ares hanya mampu menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Violet. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil.


Setelah setengah perjalanan menuju hotel tempat diselenggarakannya pesta pernikahan, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya sampai-sampai membuat jarak pandang Ares selama berkendara terganggu.


Ares memutuskan menepi di jalan mengingat derasnya hujan membuatnya enggan untuk mengemudikan mobilnya, apalagi ia kesulitan menatap jalanan di depan, takutnya menimbulkan kecelakaan.


"Kenapa berhenti?"


Violet melirik ke arah Ares, karena tiba-tiba saja Ares menghentikan laju mobil di pinggir jalan.


"Hujannya sangat deras dan jalanan begitu licin, akan begitu rawan terjadi kecelakaan di jalan jika cuaca seperti ini dan aku tidak ingin mengambil resiko." ucap Ares, lalu menyentuh bahu Violet, ia pun merasakan permukaan kulit Violet terasa dingin.


Untuk itu, ia segera membuka jasnya lalu menyampirkannya di tubuh Violet.


"Kuharap jas ku bisa menghangatkan tubuhmu." ucap Ares dengan tatapan hangat sambil mengelus puncak kepala Violet.


Seketika membuat wajah Violet bersemu merah hanya mendapatkan perlakuan baik dari Ares, pria yang sudah sah menjadi suaminya.


Saat pasangan suami istri itu tengah asyik mengobrol di dalam mobil, tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelar membuat Violet terlonjat kaget bahkan sampai berhambur memeluk tubuh Ares.


Tidak hanya itu, akibat petir yang menggelegar di tempat tersebut, mampu menumbangkan sebuah pohon besar depan sana hingga menimpa salah satu mobil yang melintas. Akibatnya lalu lintas menjadi lumpuh total.


"Tenang Violet, aku bersamamu." ucap Ares menenangkan Violet yang tampak ketakutan, ia bahkan merasakan tubuh Violet bergetar dalam dekapannya.


Ares sangat yakin bahwa istrinya begitu ketakutan saat mendengar suara petir. Mungkin itulah menjadi kelemahan istrinya. Dengan penuh kasih sayang, perlahan Ares mengelus punggung Violet, mencurahkan segala perasaannya lewat sebuah sentuhan lembut dibalik punggung sang istri.


Sementara Violet hanya mampu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ares, ia begitu nyaman menghirup aroma maskulin dari tubuh sang suami.


"Violet" panggil Ares sambil menatap keluar jendela mobil melihat suasana di luar yang masih di guyur hujan deras, bahkan suasana langit sudah gelap.


"Hemm" sahut Violet dengan mata terpejam dan sedang dilanda kantuk.


"Sebaiknya kita cari tempat penginapan disekitaran sini. Lagian hujannya semakin deras dan di depan sana jalanan sudah ditutup akibat pohon tumbang." ucap Ares sambil menunduk menatap wajah cantik istrinya.


Sehingga mereka memutuskan mencari tempat penginapan di sekitaran daerah tersebut. Tapi sebelumnya, Ares sempat menghubungi orang tua mereka bahwa mereka baik-baik saja jadi tak usah mengkhawatirkannya. Ares juga berkata tidak bisa pulang ke hotel mengingat terjadi badai di tempat yang mereka singgahi.


"Tak perlu mengkhawatirkan anak-anak, karena mereka baik-baik saja. Ayah begitu yakin bahwa mereka sengaja menghindari kita semua." ucap tuan Alex sehabis bertelepon dengan putranya.


Keluarga Ares dan Keluarga Violet merasa lega setelah mengetahui tentang kabar Ares dan Violet. Pasalnya mendadak pasangan pengantin baru itu meninggalkan pesta pernikahannya di saat memasuki puncak acara dan beberapa tamu undangan belum sempat memberikan selamat untuk mereka.


Tampak Nyonya Laurent menghampiri Evan dan Aileen yang tengah duduk di sofa dalam ruangan yang mereka tempati. Mereka terlihat duduk berdampingan.


"Nak, sebaiknya bawa istrimu beristirahat di kamar. Nanti Mama akan menyuruh pegawai hotel untuk membawakan makan malam kalian di kamar." ucap Nyonya Laurent dengan tatapan hangat menatap anak dan menantunya.


"Baik, mama." ucap Evan sembari bangkit berdiri dan tak lupa menarik tangan Aileen, refleks Aileen ikut bangkit dan berdiri di samping Evan.


Lalu Evan kembali menarik tangan Aileen untuk mengikuti langkahnya menuju ke sebuah kamar hotel yang sudah di persiapkan untuk mereka.


"Masuk" perintah Evan setelah berhasil membuka pintu kamarnya.


Dengan ragu plus gugup Aileen melangkah masuk ke dalam kamar tersebut, hingga terdengar suara pintu tertutup rapat. Refleks Aileen menoleh ke arah pintu dan terlihat Evan sedang mengunci pintu kamar yang ditempatinya.


Mendadak suasana terasa dingin dan begitu mencekam ketika Aileen berada di dalam kamar hanya berdua dengan Evan.


Aileen mengedarkan pandangannya dan terkejut melihat kamar yang mereka tempati sudah dihias ala-ala kamar pengantin. Tampak kelopak bunga mawar merah berbentuk love menghiasi ranjang pengantin berukuran king size.


"Aku akan mandi." ucap Evan lalu melangkah masuk ke kamar mandi meninggalkan Aileen yang tampak mematung mengamati suasana kamar yang ditempatinya.


"Ya sudah, mandi sana. Lagian tak perlu melapor kepadaku" ucap Aileen dengan bibir mencebik.


Ia memilih duduk di pinggir ranjang sambil menyentuh kelopak bunga mawar yang wanginya harum semerbak memenuhi kamar tersebut.


Andai saja ia menikah pada pria yang sangat dicintainya mungkin suasana kamar ini menjadi saksi bisu untuk perayaan malam pengantinnya.


Tapi, semuanya tidak sesuai dengan harapannya. Ia terpaksa menikah pada pria yang sama sekali tidak diharapkan menjadi pendampingnya, namun semuanya sudah terjadi sesuai garis takdir.


"Hanya dua bulan pernikahan, kami akan memutuskan berpisah." gumam Aileen yang masih mengingat perkataan Evan kemarin sore.


Tak berselang lama, Evan keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian. Pria itu melangkah mendekati sofa lalu duduk di sana.


"Besok pagi-pagi kita harus meninggalkan hotel, karena aku akan membawamu ke apartemenku. Selama kau tinggal di apartemenku, kau harus selalu mematuhi aturan yang sudah ku buat dan jangan sekali-kali melanggar aturan ku. Dan satu lagi kita akan tinggal bersama di apartemen selama dua bulan lamanya." ucap Evan panjang lebar tanpa mengalihkan pandangannya ke arah ranjang, dimana Aileen sedang melamun di sana.


"Eemm...iya. Aku mengerti. Tapi, aku hanya ingin menanyakan satu hal kepadamu. Apa kau benar-benar yakin ingin mengakhiri pernikahan kita? bagaimana jadinya jika sampai terjadi masalah dalam pernikahan kita. Misalnya saja, salah satu diantara kita tiba-tiba menyukai pasangannya." ucap Aileen.


"Itu tidak akan pernah terjadi, jadi jangan khawatir. Sebisa mungkin kau tidak boleh menyukaiku dan sebaliknya aku tidak akan pernah menyukaimu sampai kita memutuskan berpisah." ucap Evan dengan entengnya. Tak pernah terpikirkan ia akan menikahi wanita pencuri itu.


Bersambung....