King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Koma



Setibanya di rumah sakit, Ares dan Violet langsung ditangani oleh pihak rumah sakit, karena mereka sama-sama korban kecelakaan. Tidak hanya itu, Ares terkena tembakan yang cukup serius, jadi harus segera mendapatkan pertolongan pertama. Sekarang mereka menempati ruang IGD.


Tak berselang lama, keluarga Violet dan keluarga Ares baru saja sampai di rumah sakit, mereka semua tampak khawatir yang sedang menunggu di luar ruangan IGD.


Beberapa menit kemudian, Evan dan Aileen juga baru saja sampai dan bergabung bersama orang tuanya. Ketika mendapatkan kabar tentang saudaranya yang kecelakaan, Evan memutuskan ke rumah sakit dan tak lupa membawa Aileen, karena wanita itu tak ingin ditinggal di apartemen seorang diri.


"Ayah, bagaimana keadaan Ares dan Violet?" tanya Evan dengan raut wajah khawatir.


"Dokter masih memeriksanya, kita hanya perlu mendoakan keselamatannya." jawab tuan Alex sembari menghela nafas berat.


Nyonya Viona dan Nyonya Laurent masih saja menangisi anak-anak mereka. Bagaimana tidak, mereka begitu shock saat mendengar kabar kecelakaan Ares dan Violet. Padahal baru kemarin anak-anak mereka merayakan pesta pernikahan, namun mendadak musibah menimpa keduanya.


"Aku sangat takut mas! kasian Violet di dalam sana, dia pasti....hiks.... hiks"


Nyonya Viona terisak mengucapkannya, mau tak mau tuan Keynand berusaha untuk menenangkan sang istri.


"Dokter pasti melakukan yang terbaik untuk putri kita, sayang. Kita serahkan semuanya kepada Tuhan, apapun yang terjadi selanjutnya, kita hanya bisa terima hasilnya." balas tuan Keynand dengan mata berkaca-kaca sambil mengelus punggung sang istri.


Perasaannya sekarang sama persis yang sedang dialami oleh sang istri. Dadanya begitu sesak saat mengetahui putri tercintanya mengalami kecelakaan. Ia hanya berharap putrinya baik-baik saja.


Sudah hampir tiga jam mereka menunggu di luar ruang IGD. Semua orang terlihat cemas menunggu pintu ruang IGD terbuka. Dan perasaan cemas mereka seketika berlanjut ketika pintu ruang IGD terbuka dan perawat mendorong brankar yang ditutupi kain putih, pertanda bahwa pasien itu tidak selamat.


Nyonya Viona langsung menutup mulutnya melihat perawat mendorong brankar melewatinya. Jantungnya seolah berhenti berdetak melihat pasien di tutupi kain putih.


Kemudian disusul kemunculan dokter diikuti beberapa perawat yang tampak tergesa-gesa mendorong dua brankar yang di tempati oleh pasien secara beriringan menuju ruangan berbeda.


Tampak dokter yang baru saja menangani Ares dan Violet menghampiri keluarga pasien.


"Bagaimana keadaan putriku, dok?" tanya nyonya Viona dengan air mata terus menetes membasahi pipinya.


"Kami sudah melakukan yang terbaik untuk putri anda, tapi... pasien masih dalam keadaan koma. Jadi, mohon doanya agar pasien secepatnya bisa siuman." ucap Dokter menjelaskan.


Sementara untuk Ares sendiri juga belum sadar dari operasinya setelah pengangkatan peluru di punggung dan dada nya. Namun, Ares sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Sedangkan Violet sendiri menempati ruang ICU dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya demi menunjang hidupnya.


Seluruh keluarga begitu sedih dengan keadaan Ares dan Violet. Mereka hanya mampu mendoakan kesembuhan Ares dan Violet.


*


*


*


Seminggu kemudian....


Kondisi Ares sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan sudah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter yang menanganinya. Namun Ares tidak ingin meninggalkan rumah sakit sebelum Violet ikut pulang bersamanya.


Nyonya Laurent dan Tuan Alex begitu sedih melihat putranya sangat terpukul dengan keadaan Violet sekarang. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, selain mendoakan kesembuhan menantunya.


Karena selama tiga hari berturut-turut Ares tidak memperdulikan kondisinya, bahkan jarang makan apalagi minum obat sesuai resep dokter yang dianjurkan untuknya. Padahal kondisinya belum sepenuhnya stabil, namun ia begitu keras kepala.


Untungnya kedua orang tuanya setiap hari selalu mengingatkannya agar menjaga kesehatannya, karena jika dia sakit otomatis akan merepotkan semua orang.


Tidak hanya itu, nyonya Viona dan tuan Keynand sangat sedih dan terpukul dengan kondisi putrinya.


Mereka setiap hari datang ke rumah sakit untuk menjaga putrinya dan terkadang harus bergantian menjaganya, karena tuan Keynand harus bekerja di kantor.


Biasa juga Victor ikut membantu orang tuanya menjaga kakak nya di rumah sakit. Karena mau bagaimana pun, ia sangat menyayangi kakak nya.


***


Setiap hari hingga malam hari, Ares selalu mendatangi ruang perawatan Violet, ia bahkan menginap di ruangan tersebut untuk menjaga istrinya.


Ia selalu berkeluh kesah kepada istrinya agar segera siuman. Namun tidak ada pengaruh sama sekali yang ditunjukkan oleh istrinya walau hanya gerakan tangan.


"Violet, kau harus kuat! aku selalu ada di sampingmu, sayang. Setelah kau sembuh, aku janji akan membawamu ke suatu tempat yang paling indah dan belum pernah kau kunjungi. Disana kita bisa membuat rumah pohon dan kau boleh menginap sepuasnya di sana, aku tidak akan menghalangi mu. Apapun akan kulakukan demi untukmu, sayang" ucap Ares dengan tatapan sendu sambil menggenggam tangan sang istri.


"Maafkan aku sayang, aku tidak becus menjagamu. Harusnya insiden itu tidak pernah terjadi. Aku sungguh bodoh dan tidak berguna menjadi suamimu." ucap Ares dengan mata berkaca-kaca.


Ares begitu menyesal dengan insiden tersebut, kenapa harus istrinya yang harus terluka dan berakhir koma. Ia bersumpah akan membalas orang yang sudah membuat istrinya terluka. Sampai ke ujung dunia sekalipun, ia harus menemukan pelakunya.


Lama Ares memandangi wajah cantik istrinya yang sedang menggunakan alat bantu pernapasan.


Hingga Ares tidak sanggup menahan rasa sesak di dadanya melihat wanita yang dicintainya terbaring lemah. Seketika pertahanannya runtuh, air matanya berhasil lolos membasahi pipinya.


"Violet, aku sangat mencintaimu sayang, tolong bangunlah. Tolong bangun sayang, jangan membuatku khawatir dan terus merasa bersalah dengan kondisimu seperti ini. Aku janji, akan membahagiakanmu dan tak akan membuatmu terluka seperti ini, sayang."


Ares mengusap kasar air matanya dan tidak ingin terlihat sedih di hadapan wanita yang dicintainya. Namun tetap saja air matanya terus menetes dengan sendirinya tanpa bisa ia bendung.


"Violet, kau begitu curang! kenapa harus aku yang lebih dulu mencintaimu. Andai saja waktu bisa diulang kembali, aku ingin kau yang harus lebih dulu mencintaiku. Dan membuatmu tergila-gila kepadaku." ucap Ares tersenyum tipis sambil mengusap air matanya dengan kasar, lalu mencium punggung tangan istrinya berulang kali.


Ares terus mengoceh tak jelas berharap sang istri bisa mendengar keluh kesahnya. Karena separuh jiwanya seolah mati dihantam kerasnya takdir, inilah menjadi titik terendahnya selama hidup. Ia tak bisa berbuat apa-apa untuk wanita yang dicintainya.


*


*


Bersambung......