
Ares terus mengawasi gerak-gerik petugas kebersihan yang sedang membersihkan area dapur. Namun ia berpura-pura menyibukkan diri dengan memainkan ponselnya. Padahal nyatanya itu hanya kebohongan belaka.
Sementara petugas kebersihan itu tampak waspada disekitarnya, tapi tetap saja masih menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
Sial! kenapa dia masih berdiri di situ. Apa dia sedang mengawasiku?. Batinnya mulai curiga melihat gerak-gerik Ares yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Apa sudah selesai?" tanya Ares kepada petugas kebersihan itu.
"Belum tuan, sisa sedikit lagi. Saya hanya perlu membersihkan peralatan dapur." jelas petugas kebersihan itu.
"Ya sudah kerjakan cepat. Ingat harus bersih dan rapi." peringat Ares sebelum melangkah menghampiri Violet.
"Baik tuan." ucap petugas kebersihan itu dengan anggukan kepala.
Bersiaplah, akan ku habis kalian berdua. Batinnya menyeringai licik.
Pria itu tidak lain adalah Jacobs Wingston, ketua mafia kelompok W sekaligus musuh bebuyutan kelompok The Vio. Jacobs sengaja menyamar menjadi petugas kebersihan demi bisa memasuki kamar suite yang ditempati oleh Violet.
Jacobs meletakkan peralatan kebersihannya lalu melangkah dengan hati-hati mengikuti Ares. Sedang Ares sesekali menghentikan langkahnya karena sedang memainkan ponselnya.
Tanpa aba-aba, Jacobs langsung melompat menangkap tubuh Ares lalu mengunci leher Ares menggunakan lengan kekarnya, membuat Ares kesulitan bernafas.
Namun Ares tidak tinggal diam. Ia pun langsung memberontak sembari melakukan perlawanan guna melepas kuncian lengan Jacobs di lehernya. Dan benar saja ia berhasil lepas dari kuncian pria itu berkat kemampuan bela dirinya.
Tidak hanya itu, Ares kembali mengayunkan kakinya menendang keras lutut Jacobs lalu memelintir tangan pria itu untuk dipatahkan.
Kretekkk
Terdengar bunyi bagaikan ranting patah dari otot-otot lengan Jacobs. Suaranya terdengar nyaring di indera pendengaran Ares.
"Bodoh! aku sudah menyadari gerak-gerikmu sedarah tadi." ucap Ares serius dan kembali menggoyangkan lengan Jacobs untuk dipelintir lebih keras lagi.
"Akkkkhh"
Jacobs berteriak kesakitan dan terus memberontak untuk lepas, membuat Ares menyeringai dan langsung menendang kedua lutut Jacobs hingga membuat pria itu terduduk di lantai.
Saat itu juga Ares kembali melayangkan tendangannya ke wajah Jacobs, hingga membuat tubuh pria itu terhempas ke lantai. Darah segar langsung mengalir dari mulut pria itu.
Jacobs sungguh tak terima mendapatkan serangan bertubi-tubi dari pria yang kembali menggagalkan rencananya. Ia pun bangkit dan langsung menyeruduk perut Ares menggunakan kepalanya persis banteng mengamuk hingga tubuh Ares terdorong kebelakang.
Namun, Ares tidak tinggal diam, ia pun kembali memegang kedua pinggang Jacobs lalu mengangkatnya dan menggulingkannya ke lantai.
Brukkk
Sementara Violet yang mendengar keributan dari arah dapur hanya mampu mengidihkan bahunya melihat sang suami sedang melakukan duel bersama dengan petugas kebersihan tadi.
"Dugaanku benar, ternyata pria itu adalah musuh yang menyamar menjadi petugas kebersihan. Aku mendukungmu sayang, semoga kau menang dalam duel kali ini." ucap Violet sambil melipat lengannya di depan dada menyaksikan pertarungan sang suami dengan pria tadi.
Jacobs mencoba untuk bangun, akan tetapi ia kalah telak dari Ares sang king mafia The Hunter. Ares menginjak leher Jacobs. Diluar dugaan, Jacobs langsung memegang kaki Ares menggunakan kedua tangannya lalu memelintirnya untuk dipatahkan, hingga membuat tubuh Ares ikut ambruk di lantai.
Mereka kembali saling menyerang dan mengandalkan kekuatannya untuk mengunci tubuh lawannya. Teknik bela diri keduanya sama-sama mumpuni dalam duel yang sedang mereka lakukan. Dapur minimalis itu kembali berantakan akibat aksi mereka.
Diluar dugaan terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar, membuat Violet beranjak dari tempatnya sambil membalut tubuhnya dengan selimut.
Violet meraih mantel hitam milik Ares yang tersampir di sandaran sofa. Ia lalu memakainya dan bergegas membuka pintu kamarnya.
Tampak Hana berdiri di depan pintu kamarnya dengan penampilan sangat berantakan. Wajah Hana terlihat pucat dengan mata sembab. Rambutnya acak-acakan, terdapat lebam di pipi kanan dan kiri serta disudut bibirnya, bahkan bibir Hana juga bengkak.
Tatapan Violet beralih pada leher Hana bagian depan, terdapat beberapa tanda merah dan juga gigitan di sana, Violet sangat tahu betul tanda merah itu akhir-akhir ini.
"Hana! apa yang terjadi? katakan!" tanya Violet dengan raut wajah terkejut melihat penampilan asisten pribadinya. Ia perlahan mendekatinya.
"Miss.... hiks.... hiks." Hana hanya mampu menangis menumpahkan kembali kesedihannya. Ia bersyukur melihat bosnya baik-baik saja.
Untungnya ada petugas kebersihan yang lewat di depan pintu kamarnya dan berbaik hati menolongnya, sehingga ia berhasil sampai di sini.
Violet tak kuasa melihatnya, ia pun berhambur memeluk Hana. Pikirannya sudah tertuju pada hal yang satu itu setelah melihat kondisi Hana saat ini. Apakah Hana habis dilecehkan? pikirnya. Hal itu mulai memenuhi isi pikirannya.
Akan tetapi Violet tidak ingin langsung mencerca Hana dengan berbagai pertanyaan, mengingat kondisi Hana tidak memungkinkan saat ini untuk ditanya apalagi dimintai penjelasan.
"Siapa Hana?" tanya Violet.
"Jacobs, dia...dia pria iblis yang ingin membunuh anda. Dia....juga yang sudah memperko..... huaaaaa...." Hana tidak sanggup mengatakannya jika dia habis diperk*sa. Tangisnya langsung pecah dalam pelukan bosnya.
Violet hanya mampu menghembuskan nafas kasar, sungguh malang nasib asisten pribadinya itu.
Tiba-tiba Jacobs berlarian dengan kakinya yang pincang keluar dari kamar itu hingga hampir menabrak Violet dan Hana yang masih berpelukan.
Violet yang melihatnya langsung menghadangnya dengan kaki jenjangnya hingga membuat tubuh Jacobs langsung terjatuh.
"Shittt!" umpatnya kesal lalu bangkit berdiri. Tampak Jacobs babak belur melawan Ares.
Jacobs langsung mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya kearah Violet dan Hana. Tubuh Hana sudah gemetar ketakutan dalam pelukan Violet setelah melihat pria iblis itu. Dan Violet mulai yakin bahwa pria itulah yang sudah memperk*sa Hana.
Sepuluh anak buah Jacobs langsung berdatangan yang sempat bersembunyi di lorong kamar. Namun diluar dugaan, rombongan anak buah Ares yang berkeliaran di kapal pesiar itu mulai berdatangan dari arah yang berlawanan.
"Cepat bawa dia ke kabin kapal." perintah Jacobs.
Kelima anak buah Jacobs langsung bergerak membawa Violet dan Hana ke kabin kapal. Ares berlari cepat untuk menghentikan mereka. Saat itu pula Violet berbalik badan dan langsung menyerang anak buah Jacobs.
Ares ikut membantunya melawan anak buah Jacobs. Sehingga terjadi lah aksi perkelahian di lorong kamar. Hana hanya mampir meringkuk dengan tubuh gemetar ditengah-tengah perkelahian itu.
Dor
Dor
Suara tembakan kembali terdengar saling beradu, anak buah Jacobs sudah berjatuhan.
"Lepaskan aku!, tolong, tolong miss"
Hana di seret paksa oleh Jacobs ke kabin kapal. Sepertinya ia akan menjadikan Hana umpan untuk melenyapkan ketua The Vio.
"Berhenti!" Violet berlari menyusul Hana yang sudah dibawa ke kabin kapal.
Kini mereka berada di kabin kapal. Terlihat Jacobs menodongkan pistol di kepala Hana.
"Lepaskan dia!" ucap Violet.
"Ha ha ha, akhirnya kita bertemu lagi." ucap Jacobs tertawa. "Kau tahu, aku datang untuk membalaskan dendam atas kematian Pamanku Jared!" ucap Jacobs dingin.
"Hah pamanmu yang penghianat itu? sia-sia saja kau melakukannya, karena kau sendiri yang akan tamat!." ucap Violet dengan tatapan tajam.
Jacobs mengarahkan pistolnya kearah Violet, membuat Violet tak beranjak dari tempatnya.
"Selamat tinggal ketua....."
Dor
Dor
Dua peluru langsung bersarang tepat di jantung Jacobs, Ares lah yang langsung menembaknya lebih dulu.
Seketika darah segar mengalir deras dari perut Jacobs. Hidung, mulut, dan telinganya langsung mengeluarkan darah. Tapi sebelum ambruk ke bawah, ia sempat melepaskan tembakan hingga Hana bergerak cepat melindungi bosnya.
Dor
"Hana!" teriak Violet.
Seketika tubuh Hana yang terkena tembakan, timah panas bersarang di perutnya. Sebelum tubuh Hana ambruk ke lantai, Violet bergerak cepat menangkapnya.
"Kenapa kau lakukan ini, Hana." ucap Violet dengan mata berkaca-kaca sembari memangkunya.
"Aku tidak ingin kau ce-celaka..Miss." ucap Hana hingga menghembuskan nafas terakhirnya.
"Tidak Hana!" lirih Violet dan Ares sudah berada di sampingnya. Air mata Violet menetes dengan sendirinya hingga membuat Ares menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya.
Bersambung.....