
Selang beberapa menit kemudian, barulah Aufar sadar setelah tertidur cukup lama, akibat perbuatan si penjahat yang membuatnya jatuh pingsan.
Tubuh mungilnya seketika menggigil merasakan dinginnya lantai hanya dari tanah lembab menggerogoti permukaan kulitnya yang putih. Aufar hanya mampu memeluk lututnya sembari melihat disekelilingnya yang terlihat gelap.
Seketika ia baru teringat saat terakhir kali berada di dalam mobil si penculik. Tubuh Aufar langsung bergetar hebat, rupanya ia sudah berada di tempat asing dan sepertinya tempat itu adalah markas dari penculik.
"Mommy, Daddy, kakak... Aufar takut" ucapnya dengan bibir bergetar dan begitu takut berada di tempat tersebut.
“Aufar takut, tolong bawa Aufar pulang” lirihnya dengan mata berkaca-kaca mengamati disekelilingnya. Sungguh ia begitu takut berada di tempat asing tersebut. Lebih-lebih suasana tampak gelap tanpa adanya pencahayaan dari bohlam lampu.
“Huaaaa, mommy, Daddy...kakak...Aufar mau pulang...” ucapnya dengan tangis pecah. Bahu mungilnya sudah naik turun mengiringi tangisnya yang begitu pilu.
“Hiks…hiks..hikss…Mommy, Daddy, kakak, dimana kalian? Aufar takut di sini.” Ucapnya sesenggukan sembari mengusap air matanya dengan kasar.
Mata sipitnya yang berair kembali melihat disekelilingnya yang begitu gelap, hanya ada pencahayaan minim dari celah-celah dinding kayu yang bocor karena dimakan rayap dan binatang pengerat lainnya.
Bocah berusia lima tahun itu semakin memeluk erat kedua lututnya, dimana tubuhnya semakin bergetar, karena notabenenya ia fobia dengan kegelapan.
Hingga tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki seseorang mendekat kearahnya, suasana yang gelap tak membuatnya mampu melihat dengan jelas siapa sosok gerangan yang juga berada di ruangan gelap yang sama dengannya.
“Si-siapa disana!" ucap Aufar dengan terbata-bata sembari beringsut mundur.
Prangg
Terdengar suara benda jatuh yang tak sengaja di senggol oleh orang itu, membuat Aufar terlonjat kaget dan semakin takut saja.
“Ha-hantu….huhuhuuuu…mommy, daddy, kakak, tolong aku.” Teriaknya histeris memangil-manggil orang-orang yang disayanginya.
“Aku bukan hantu, aku manusia” terdengar suara tegas nan cempreng dari seorang anak perempuan yang kini sudah berdiri di hadapannya.
“Ka-kau siapa? Ke-kenapa kau juga berada di tempat ini?” tanya Aufar takut-takut melihat sekelebat bayangan anak kecil yang tingginya hampir sama dengan tinggi badannya.
"Aku sama sepertimu, aku juga diculik oleh para penjahat yang sangat kejam." ucapnya dengan helaan nafas berat.
"Diculik? berarti kita sama-sama diculik oleh penjahat." ucap Aufar sembari bangkit berdiri.
"Iya. Kita diculik, mungkin selamanya kita akan terus berada di tempat ini kalau tak ada orang yang datang menyelamatkan kita." ucap anak perempuan itu bersungguh-sungguh.
"Aku mau pulang, aku tidak ingin terus berada di tempat ini. Aku sangat yakin, Daddy, mommy dan kakakku pasti akan datang menyelamatkanku" pinta Aufar dan hanya mampu menundukkan kepalanya.
"Semoga ucapanmu benar, aku pun selalu berharap ayahku datang menyelamatkanku, tapi sayang sekali sampai sekarang ayahku tak kunjung datang membawaku pulang. Aku sudah lama tinggal di tempat ini. Selalu mendapatkan siksaan, kadang pula aku tidak diberi makan selama tiga hari. Jadi, kurasa kau hanya bisa bermimpi untuk keluar dari tempat yang menyeramkan ini" ucap anak perempuan itu dan ucapannya terdengar pilu keluar dari mulutnya.
Aufar terkejut sekaligus merasa iba mendengar setiap ucapan anak perempuan tersebut.
"Aku tidak mau seperti dirimu, mommy, Daddy ku dan kakakku pasti akan datang menyelamatkanku. Dan aku sangat begitu yakin mereka pasti datang. Jadi jangan menakut-nakuti dengan ucapanmu barusan. Kalau kau mau ikut bersamaku meninggalkan tempat ini, aku bisa membawamu juga pergi. Biar kau tidak lagi disiksa oleh pencurinya." ucap Aufar dan tidak ingin mempercayai ucapan anak perempuan tersebut.
"Baiklah, aku terhibur dengan kata-katamu yang terdengar omong kosong." ucap anak perempuan itu sambil tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aufar.
"Kenapa kau ketawa? ada yang lucu?"
Aufar menjadi heran mendengar suara anak perempuan yang sama sekali tidak bisa ia lihat wajahnya itu menertawakan dirinya.
"Kata-katamu sungguh lucu dan menghiburku." ucap anak perempuan itu dan perlahan duduk di hadapan Aufar.
Anak perempuan itu tak sengaja memukul kepala Aufar dengan tongkat ditangannya, membuat Aufar mengaduh kesakitan.
"Awwww, kau sengaja ya memukul kepalaku anak cerewet!" marah Aufar tidak terima dengan kelakuan anak perempuan itu.
"Aku minta maaf, karena tongkatku tak sengaja mengenai kepalamu." ucapnya tulus dan tak enak hati kepada anak laki-laki tersebut.
"Tongkat? jadi kau menggunakan tongkat, terus tongkatku mu itu yang sudah memukul kepalaku" ucap Aufar melebarkan matanya sembari menyentuh kepalanya.
"Iya, aku berjalan menggunakan tongkat" ucap anak perempuan itu pelan.
Anak perempuan itu langsung terdiam mendengar pertanyaan dari Aufar.
"Apa kau cacat?" kembali Aufar bertanya ceplas-ceplos. Seketika rasa takutnya tergantikan dengan rasa ingin tahu tinggi pada anak perempuan yang bersamanya.
"Penjahatnya yang sudah membuatku cacat huhuuuu." ucapnya diiringi isak tangis.
"Maaf, aku salah bicara." Aufar merasa bersalah mendengar isak tangis anak perempuan itu.
Aufar kemudian melepaskan tas ransel kecil di balik punggungnya, ia lalu membuka tasnya untuk mengambil mainan dalam tasnya.
"Ambil ini, tolong berhenti menangis." ucap Aufar menyodorkan miniatur dinosaurus kearah anak perempuan itu.
Sontak anak perempuan itu mengangkat kepalanya melihat sebuah mainan tampak menyala-nyala di tangan Aufar.
Dengan ragu anak perempuan itu mengulurkan tangannya untuk mengambil mainan yang diberikan oleh Aufar. Seketika Aufar meletakkannya di punggung tangan anak perempuan itu lewat pencahayaan dari mainannya.
"Itu hadiah untukmu." ucap Aufar tersenyum.
"Te-terima kasih." balasnya ikut tersenyum tipis.
"Siapa namamu?" tanya Aufar.
"Namaku Emma, kalau namamu siapa?" tanya balik anak perempuan itu yang bernama Emma.
"Aufar. Emma, apa kau ingin berteman denganku?"
"Iya, aku mau jadi temanmu." jawab Emma tersenyum lalu menghapus sisa-sisa air matanya.
"Berarti kita sudah berteman." ucap Aufar dengan mata berbinar.
Emma kemudian mengulurkan tangannya kearah Aufar. Membuat Aufar terlonjat kaget melihat tangan Emma yang kurus kerempeng dan terdapat luka lebam dimana-mana.
"Kenapa dengan tanganmu?" Aufar mendadak kasihan kepada Emma.
"Itu..."
Brakkk
Pintu gudang terbuka lebar, tampak beberapa pria berbadan kekar masuk ke dalam gudang tersebut.
Aufar dan Emma terkejut melihat orang-orang berwajah beringas melangkah kearahnya. Mereka langsung berpegangan tangan seolah saling menjaga dari para penjahat tersebut.
"Itu dia anaknya bos." ucap salah satu dari mereka menunjuk kearah Aufar.
"Bagus, bos besar sangat senang dengan kerja kalian." ucap Pria tinggi dengan penuh brewok diwajahnya.
"Hei kau, jauhi anak laki-laki itu" ucap pria berkepala plontos sambil menunjuk kearah Emma.
Sementara Emma tak bergeming di tempatnya, membuat pria itu murka dan langsung menarik kasar tangan Emma bahkan tak segan-segan menarik rambut anak perempuan itu.
"Aaakkhh....ampun tuan." ucap Emma merintih kesakitan bahkan air matanya kembali luruh di pipinya yang tirus. Aufar menelan ludahnya melihat aksi kejam pria itu terhadap temannya.
"Tolong jangan sakiti dia" teriak Aufar tak kenal takut.
Pria berkepala plontos itu kembali menampar wajah anak perempuan itu dengan brutalnya hingga membuat anak perempuan lemah itu terhempas ke tanah.
"Itu akibatnya jika kau menjadi anak pembangkang!" geram pria berkepala plontos itu dan kembali menginjak kaki Emma sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Saat akan menutup pintu, pria itu kembali menatap kearah Aufar. "Dan kau anak kecil, sebentar lagi tubuhmu akan dicincang halus." ucapnya menyeringai licik lalu menutup kembali gudang tersebut.
Bersambung.....