King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Oh rupanya mereka



"Syukurlah, kau sudah siuman mas." ucap Nyonya Laurent dengan mata berkaca-kaca dan berharap pria itu segera membuka matanya untuk melihatnya


Evan hanya mampu diam membisu mendengar ucapan Nyonya Laurent. Ada rasa bersalah yang muncul di lubuk hatinya ketika menghiraukan wanita paruh baya itu yang ternyata adalah ibu kandungnya.


***


Selama tiga hari tuan Alex dirawat di rumah sakit pasca operasi. Dan selama itu juga Nyonya Laurent hampir setiap hari datang menjenguknya bersama Violet.


Semua itu nyonya Laurent lakukan untuk menebus kesalahan putranya Ares yang sudah melukai pria dari masa lalunya. Dan entah mengapa perlahan rasa bencinya kepada pria itu sedikit memudar seiring kebersamaannya selama tiga hari ini.


Sedangkan Tuan Keynand dan Victor sudah pulang ke negaranya dua hari yang lalu akibat masalah yang terjadi di perusahaan nya. Mereka sempat membujuk Violet untuk pulang bersamanya, namun Violet menolaknya karena bermaksud ingin menjaga Paman Alex.


Akan tetapi, lagi-lagi ayahnya menyangkut-pautkan keputusan putrinya ada kaitannya dengan pria yang bernama Ares. Mereka yakin bahwa pria itu lah yang mengancam putrinya untuk tidak pulang bersamanya.


Sementara Ares sendiri sudah disibukkan dengan pekerjaan kantor. Ares begitu enggan untuk menjenguk tuan Alex yang ternyata adalah ayah kandungnya. Ia hanya membiarkan Violet menemani ibunya menjenguk pria yang sudah ia tembak tempo hari.


Bukan tanpa alasan Ares membiarkan Violet berkeliaran bebas, namun bujukan ibu nya tak bisa ia bantah. Apalagi ibu nya sempat mengancamnya akan melanjutkan pertunangan antara dirinya dengan Kayla. Padahal jelas-jelas dia sudah menikahi Violet. Sehingga mau tak mau Ares menuruti perintah sekaligus ancaman dari ibunya.


Tepatnya hari ini tuan Alex sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya, mengingat kondisinya semakin membaik. Walaupun lukanya belum sepenuhnya kering, namun tuan Alex terlihat lebih fit tanpa memiliki luka sedikitpun.


Selama ayahnya di rawat di rumah sakit, Evan senantiasa berada di samping ayahnya dan begitu fokus menjaganya. Untungnya kedatangan Violet dan Nyonya Laurent setiap harinya sedikit membantunya menjaga ayahnya.


"Semua perlengkapan ayah sudah aku masukkan ke dalam tas." ucap Evan memberikan tahu Nyonya Laurent yang tengah berdiri di samping ranjang pasien.


Sementara tuan Alex duduk di kursi roda, dimana Violet berdiri di belakangnya dan siap mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan tersebut.


"Ya sudah, kalau begitu kita pulang sekarang." ucap Nyonya Laurent tampak antusias.


"Iya mama" ucap Evan tanpa sadar menyebut nyonya Laurent sebagai ibunya.


Karena selama tiga hari ini, perlahan Evan mulai akrab dengan nyonya Laurent yang notabenenya adalah ibu kandungnya. Mungkin karena ikatan batin keduanya membuat Evan dan Nyonya Laurent langsung akrab dengan sendirinya.


Apalagi nyonya Laurent selalu menunjukkan sikap tulusnya dan tatapan hangat selama menjaga ayahnya. Jadi mudah baginya menerima wanita itu sebagai ibunya. Ia tidak ingin menyalahkan ayah ataupun ibunya yang memutuskan berpisah, namun sekarang mereka kembali dipertemukan dengan cara tak wajar oleh sebuah takdir.


Sontak Nyonya Laurent dan tuan Alex yang mendengar ucapan Evan tampak kompak mengalihkan pandangannya ke arah Evan.


"Maaf, aku..." Evan refleks memegang tengkuknya karena menyadari ucapannya. Ia langsung melirik ke arah ayahnya untuk segera membantunya. Namun sang ayah tampak cuek dengan mengedipkan sebelah matanya, seolah hadapilah sendiri tanpa membawa-bawa dirinya.


"Tidak apa-apa, justru mama senang jika kamu memanggil mama dengan sebutan seperti itu, daripada tante rasanya mama hanya lah orang lain." sahut Nyonya Laurent tersenyum tipis.


"Kalau begitu saatnya kita pulang." ucap Violet dengan antusiasnya.


"Tunggu Violet, aku sedang menunggu supir yang akan mengantar kami ke hotel."


"Apa maksudmu, Evan?" tanya Violet dengan kening berkerut.


"Aku akan membawa ayah ku pulang ke hotel, karena rencananya nanti malam kami akan berangkat ke bandara untuk pulang ke negara xxx." jawab Evan dengan santainya.


"Tidak bisa, nak! kalian harus pulang ke rumah Mama. Karena demi membalas perbuatan Ares kepada ayah mu....mama akan bersedia merawatnya sampai sembuh." timpal Nyonya Laurent


"Tapi mama..."


"Aku setuju yang dikatakan oleh mama Laurent." sahut Violet cepat dan tuan Alex terus mengedipkan sebelah matanya agar Evan mau menuruti ucapan kedua wanita itu.


Mau tak mau Evan mengiyakan ucapan Violet. Entah rencana apa yang akan dijalankan oleh ayahnya untuk memperbaiki hubungannya dengan ibunya, pikir Evan.


Kemudian mereka berjalan bersama-sama keluar dari rumah sakit tersebut. Dua unit mobil sudah siap mengantar mereka pulang ke kediaman nyonya Laurent.


Sekitar 30 menit perjalanan, mobil yang membawa mereka sampai di kediaman nyonya Laurent. Violet dan Nyonya Laurent bergegas turun dari mobil.


Sementara Evan kembali membantu ayahnya turun dari mobil lalu memapahnya untuk duduk di kursi roda yang memang dipersiapkan untuk ayahnya.


Nyonya Laurent lalu mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Sepanjang melangkah ke arah pintu, entah mengapa jantung Nyonya Laurent dan tuan Alex terus memompa lebih cepat.


Hingga kedatangan mereka langsung di sambut hangat oleh Oma Meggy.


"Akhirnya kalian pulang." ucap Oma Meggy dengan mata berkaca-kaca melihat kedatangan mereka, lebih tepatnya kedatangan cucunya. Pasalnya ia sudah mengetahuinya dari putrinya.


"Ayo masuk" ajak Oma Meggy dengan antusiasnya.


Evan tersenyum tipis dengan anggukan kepala melihat tangannya digandeng oleh wanita tua dan tak lain adalah neneknya. Evan sudah banyak tahu tentang siapa saja anggota keluarga di kediaman ibunya.


"Evan, sebaiknya bawa ayahmu ke kamar untuk beristirahat." ucap Nyonya Laurent.


"Baik Mama " ucap Evan dengan anggukan kepala. Kemudian mendorong kursi roda ayahnya ke salah satu kamar tamu yang sudah di persiapkan untuk ditempati oleh ayahnya ketika pulang dari rumah sakit.


Salah satu pelayan sempat menunjukkan kamar tamu yang akan ditempati oleh tamu majikannya. Setelah itu, si pelayan pamit undur diri.


****


Malam harinya....


Tepat pukul 8 malam Ares sampai di kediamannya. Ia melangkah tergesa-gesa memasuki rumah hingga raut wajahnya berubah saat mendengar suara tawa dari dalam rumah.


Langkahnya semakin lebar untuk melihat langsung suara kehebohan yang sepertinya diciptakan oleh tamu yang berkunjung di rumah nya.


Ares membulatkan kedua matanya melihat langsung dua pria berbeda usia sedang bercanda gurau bersama keluarganya.


Oh rupanya mereka. Pandai sekali mereka mengambil hati keluargaku. Batin Ares.


"Ehemm" Ares berdehem keras untuk mengusik kegembiraan mereka. Dan benar saja aksinya itu berhasil membuat semua orang memandang ke arahnya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Ares memutuskan melangkah menuju kamarnya. Sementara semua orang yang berkumpul di ruang keluarga terkejut melihat kepulangan Ares, termasuk Violet.


"Sana temui Ares, aku tidak ingin dia marah melihat kita berkumpul seperti ini." bisik nyonya Laurent kepada Violet dan Violet menggangguk cepat menanggapi ucapan ibu mertuanya.


Violet bergegas menyusul Ares ke lantai dua, dimana kamar mereka berada. Namun mendadak raut wajah Evan berubah ketika melihat kepergian Violet yang sepertinya menyusul Ares.


"Sudah waktunya ayah beristirahat. Kalau begitu kami permisi ke kamar." ucap Evan lalu segera membawa ayahnya ke kamar yang akan mereka tempati.


Oma Meggy dan Nyonya Laurent masih setia duduk di tempatnya.


"Mommy merasakan perasaan lega setelah rahasia itu terbongkar. Dan sekarang mommy merasa lebih baik lagi setelah meminta maaf kepada Alex." ucap Oma Meggy tersenyum dengan perasaan haru.


"Jangan terlalu dipikirkan Mom, intinya semuanya sudah jelas." sahut Nyonya Laurent.


"Tapi, Ares belum bisa menerima Alex sebagai ayahnya." ucap Oma Meggy sambil menghela nafas berat.


Membuat Nyonya Laurent diam membisu. Pasalnya dirinya pun belum bisa memaafkan mantan suaminya.


Bersambung....